Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part Tiga Puluh
Tangan Axel terangkat, telunjuknya lurus mengarah pada pada satu orang. Mikhasa.
“Kamu," ucapnya.
Suasana di dalam lift langsung membeku. Ernest dan Mia saling pandang sekilas, lalu menoleh ke arah Mikhasa.
“Ikut aku,” lanjut Axel singkat, nadanya dingin dan tak memberi ruang bantahan.
Mikhasa segera mengangguk kecil agar tidak semakin membuat Ernest dan Mia berpikir lebih banyak tentang dia.
"Baik, Tuan," jawab Mikhasa. Dia pamit pada Ernest dan Mia. "Maaf, aku duluan ya."
Ia melangkah keluar mengikuti Axel, meninggalkan Ernest dan Mia yang hanya bisa terpaku menatap punggungnya dengan banyak pertanyaan.
Mikhasa melangkah pelan di belakang Axel. Diam menatap punggung itu dengan sebal, kenapa harus datang sekarang? Kenapa nggak besok lagi aja ketemunya.
"Jalanku yang terlalu cepat atau jalanmu yang kayak siput, Mikha?" Kata Axel menghentikan langkah. Mikha berdiri diam di belakangnya.
"Jalan saya yang kayak siput, Tuan," jawab Mikhasa mengalah agar tidak terjadi perdebatan panjang.
Axel mengangguk. "Baiklah, Nona siput, naiklah ke punggungku. Kugendong agar mempercepat jalanmu."
Mikhasa mendelik mendengar jawaban itu. Hatinya mulai kesal. “Tidak usah, Tuan,” sahutnya cepat. “Saya masih bisa jalan sendiri. Kedua kaki saya masih berfungsi dengan sangat baik.”
Axel menoleh setengah badan, sudut bibirnya terangkat tipis, senyum yang jelas-jelas menyebalkan. “Sayang sekali. Padahal aku sudah niat membantu.”
“Bantuan versi Tuan biasanya berujung bencana,” balas Mikhasa, tetap menjaga nada sopan meski matanya tajam.
Axel berdehem pelan, lalu kembali melangkah. “Kalau begitu, percepat.”
Mikhasa mendengus kecil, lalu mempercepat langkahnya agar sejajar.
Axel meliriknya sekilas, langkahnya tetap mantap.
“Begini lebih baik,” ujar Axel singkat.
“Saya yang merasa tidak baik,” sahut Mikhasa datar.
Axel terkekeh pelan. “Perasaanmu tidak termasuk dalam pertimbanganku.”
“Wah, kejam sekali,” balas Mikhasa ringan. “Untung saya sudah kebal sejak pertama bertemu."
Axel menoleh lagi, “Kalau begitu, bertahanlah.”
Mikhasa mengangguk kecil, "Realistis saja. Lebih baik saya bertahan di sini daripada capek nyari kerja,” jawab Mikhasa jujur.
“Pertimbangan yang bagus, Sweetheart,” balas Axel.
Lift eksklusif terbuka. Mereka masuk. Pintu menutup perlahan, menyisakan dengung mesin yang halus.
“Bagaimana dengan Maura?” tanya Axel tiba-tiba.
Mikhasa menatap panel angka yang bergerak turun, seolah lebih tertarik pada lampu kecil itu daripada pada pria di sampingnya.
“Tes untuk jadi asisten Tuan ternyata rumit juga ya,” ujarnya akhirnya.
Axel menoleh. "Rumit? Rasanya biasa saja."
Mikhasa menoleh membalas tatapannya. "Kalau saya bilang rumit ya rumit, nggak boleh nggak rumit, pokoknya rumit."
Axel terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa keras. "Hahaaa. Baiklah, Sweetheart. Kau menang."
"Hmm."
“Sweetheart, Kamu sadar nggak, kalau hari ini kamu cerewetnya beda.”
Mikhasa mendengus kecil. “Saya selalu cerewet.”
“Tidak,” sanggah Axel. “Biasanya nyebelin. Hari ini… menghibur.”
“Oh, terima kasih,” jawab Mikhasa datar. “Pujian setengah hati sekali.”
Axel tersenyum. “Aku jarang memuji. Jadi anggap itu istimewa.”
"Saya tidak tahu apakah harus sedih atau bahagia mendapatkan keistimewaan ini," jawab Mikhasa.
Ding. Lift terbuka. Axel melangkah lebih dulu, lalu diikuti Mikhasa yang berjalan di belakangnya namun tak lama, gadis itu menyusul di sampingnya. Berjalan beriringan.
Mereka lalu masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya. Mobil melaju tenang meninggalkan gedung kantor.
Mikhasa duduk rapi dengan tas yang dipangkunya, seolah di dalamnya tersimpan benda rapuh yang tak boleh terguncang sedikit pun. Ia menoleh ke samping, menatap deretan lampu jalan dan bayangan senja yang mulai turun perlahan.
'Ternyata hari semakin sore dan aku belum mempunyai uang seratus juta itu.'
Ia merogoh saku, mengambil ponsel, lalu membuka percakapan dengan Ruby. Jarinya sempat menggantung di layar, ragu untuk mengetik apa pun. Seratus juta. Angka yang terlalu besar untuk disebut sebagai “pinjaman biasa”.
Meminjam Ruby atau teman-teman yang lain? Pikiran itu membuat kepalanya terasa berdenyut. Hutang kecil saja sudah cukup membuatnya sulit tidur, apalagi sebanyak itu.
Mikhasa menunduk, jemarinya tanpa sadar mengencang di tali tas. 'Lucu ya,' batinnya pahit. 'Di dalam tas ini ada benda bernilai miliaran… tapi aku justru pusing mencari seratus juta.'
Mobil terus melaju, sementara di dada Mikhasa, kecemasan ikut berlari, tanpa tahu harus berhenti di mana. Dia benar-benar tidak memiliki jalan keluar kali ini. Atau... Pilihan terakhir adalah nyonya besar Mercier. Tidak. Lebih baik mencairkan cek satu miliar itu.
Kepala Mikhasa terasa mau meledak memikirkan ini.
Di sisi lain, Axel juga diam menatap jalanan. 'Apakah aku terlalu ikut campur urusan pribadinya.' gumamnya.
Saat ia menyadari ada hal yang tidak beres dari amarah Mikhasa. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Itulah sebabnya ia menghubungi Maura. Bukan untuk menginterogasi, bukan pula untuk menguji, melainkan karena ia sungguh cemas pada kesehatan jiwa gadis itu. Pada kehidupan yang telah membentuknya sebelum hari ini.
Di sisi lain, rasa penasarannya tak kalah besar. Kemiripan Mikhasa dengan Liora terlalu nyata untuk diabaikan. Hingga akhirnya ia mengirim orang ke satu-satunya alamat keluarga Mikhasa yang tersisa.
Dan yang ia temukan adalah bahwa Mikhasa yatim piatu sejak kecil. Dibesarkan oleh sang bibi. Dan kini… memikul hutang seratus juta yang bukan miliknya.
Axel mengeratkan rahangnya. 'Ternyata seberat itu beban yang kau bawa, Mikha,' batinnya.
Tantang Liora dan Mikhasa ternyata mereka memang bukan saudara kembar. Atau mungkin ada kisah lain dari sisi keluarga Liora? Axel sedang menunggu mereka berkunjung ke negara ini. Karena sepeninggal Liora, keluarganya memutuskan pindah ke luar negeri.
TUK. Kepala Mikhasa jatuh pelan di bahu Axel.
Axel refleks menoleh. Mendapati gadis itu telah terlelap, napasnya teratur, wajahnya jauh lebih damai dibanding saat terjaga. Seolah semua beban yang ia pikul seharian akhirnya runtuh, meski hanya sementara.
Axel terdiam. Tidak menyingkir sama sekali. Ada kelembutan di matanya saat menatap Mikhasa.
“Mulai sekarang, kamu nggak perlu mencemaskan apa pun, Mikha. Ada aku.”
Ia menahan diri untuk tidak bergerak sedikit pun. Membiarkan bahunya menjadi sandaran. Membiarkan gadis itu beristirahat, untuk pertama kalinya di bahunya.
"ocehanmu, kecerewetanmu, bahkan pukulanmu😁 menjadi moodbooster untukku😄😄🎶🎶🎵🎵( Axel )
🎶🎶🥰💃💃💃🥰🎶🎶pokoknya selamat menikmati pasilitas sekertaris CEO ya Mikha🥰🥰🥰
nnti juga dia klepek-klepek sma km ko🤭.
pas di tnya gitu susah jawab ya xel.
krna km manfaatin Mikha blum sadar bhwa rasa itu tlah tumbuh