Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Keluarga Adiputra
Maggie cemburu pada kakaknya.
Saat ini kakaknya sedang mengobrak-abrik lemari, mencari baju untuk undangan pesta pernikahan.
“Kamu kan punya banyak gaun elegan waktu sering tampil di talk show?” bisik Maggie.
Biann tertidur di bahunya. Bayi itu baru enam minggu dan sudah menyusahkan Maggie karena suka sekali tidur sambil berdiri tegak di pelukan sang mama. Tapi ada bonusnya juga, otot bahu Maggie jadi mulai terbentuk karena harus menopang Biann berjam-jam setiap hari.
Maggie masih tidak paham bagaimana bisa sekitar dua ratus galon air bisa keluar dari tubuhnya di restoran waktu lalu, lalu disusul dengan empat kilo bayi, tapi berat badannya hampir sama persis seperti saat pemeriksaan kehamilan terakhir.
Jennie baru menjawab setelah berdiri cukup dekat di sebelahnya. “Kebanyakan gaun itu pinjaman dari desainer dan harus dikembalikan. Aku butuh gaun yang belum pernah dilihat Davis."
Dia tidak bisa membantah itu. Jennie memang dikenal selalu membeli gaun baru setiap akhir pekan, saat sedang pacaran dengan pria yang benar-benar dia suka, jadi pria itu tidak pernah melihatnya pakai baju yang sama dua kali..
“Kamu sebaiknya ambil aja semuanya,” kata Maggie. “Lagian badanku udah badan emak-emak.”
Jennie berjongkok dan mencium kepala Biann. “Iya, sih.” Dia berdiri lagi. “Tapi kebanyakan orang malah suka punya badan emak-emak kayak kamu.”
“Kamu belum lihat aja stretch mark-nya.”
Jennie kembali ke lemari dan mengeluarkan gaun merah dengan potongan leher asimetris. Waktu Maggie memakainya dulu, orang-orang membandingkannya dengan Alexis dari Schitt’s Creek.
Jennie mengangkat gaun itu, rambut pirangnya jatuh di bahu. “Jujur sama aku. Aku cocok pakai ini, enggak?”
Tentu saja cocok. Jennie kelihatan luar biasa.
“Kamu bakal bikin semua orang terpukau,” jawab Maggie.
Jennie menoleh ke cermin besar di belakang pintu lemari. “Aku deg-degan. Katanya pernikahan ini bakal dihadiri empat ratus tamu.”
“Wow.”
Jennie bertunangan dengan Davis Adiputra, anak bungsu keluarga Adiputra, dan kakaknya, Haikal Adiputra akan menikah dengan Salifa, akhir pekan depan di Jogjakarta.
Mereka menyewa keraton.
Semua orang akan ikut berangkat ke Jogja. Jennie, tunangannya, tentu saja. Mereka akan menjadi pengiring mempelai. Bahkan Mama dan Papanya juga ikut terbang, sekalian liburan dan menghabiskan waktu dengan calon besan.
Cuma Neneknya yang akan tinggal untuk membantu Maggie mengurus Biann, meski rutinitas mereka sudah cukup rapi. Nenek juga mengurus Toko. Energinya sempat meningkat sedikit sejak Jennie dan Davis dapat banyak sorotan tahun lalu, dan mereka membuka Toko kedua.
Nenek antusias dengan kebangkitan kembali waralabanya. Alih-alih berkegiatan di komunitas pensiunan, dia malah sibuk menyapa pelanggan, bergantian berjaga di dua Toko.
Untungnya, mereka punya tim yang solid dan manajer hebat di kedua lokasi. Keluarga menganggap perjalanan ini sebagai uji coba untuk saat Jennie dan Davis menggelar pernikahan mereka sendiri.
Tanggal dan tempatnya belum ditentukan, tapi jelas akan jadi acara besar yang menyedot perhatian semua orang.
Maggie pasti akan terlibat, begitu juga Nenek. Toko Sweety Summer dan Sweety Spring harus berjalan sendiri selama beberapa hari.
Jennie mengeluarkan gaun berwarna kuning pucat. “Ini lucu banget. Rasanya kayak di Jogjakarta.”
Jennie terus saja bilang begitu. Jogjakarta, Jogjakarta, Jogjakarta. Maggie belum pernah ke luar kota. Bahkan jarang keluar dari rumah. Maggie pun menahan rasa cemburunya. “Iya. Ambil aja. Barang bagus tuh!”
Jennie meletakkannya di tumpukan di ujung tempat tidur. “Makasih, Maggie. Kamu yakin enggak mau ikut?”
“Naik pesawat dengan bayi yang baru lahir? Aku enggak seberani itu.”
Jennie duduk di dekat mereka di ranjang, mengusap rambut halus bayi itu dengan punggung jarinya. “Aku bakal kangen bocah kecil ini.”
“Kami bakal baik-baik aja.”
Sepertinya Jennie ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi dia hanya mengatupkan bibir. Dia hampir bangkit ketika Maggie mengulurkan tangan untuk menahannya. “Udah bilang aja.”
Jennie melipat tangan di pangkuannya. “Kael ikut datang. Dia, Joann, Monica, dan Sierra," katanya sambil menggigit bibir.
“Aku tahu. Dia jadwalin beberapa pertemuan bisnis sekalian dengan acara pernikahan itu.”
“Jadi kamu masih ngobrol sama dia?” Jennie bergeser duduk di sampingnya, bersandar di sandaran kepala ranjang. “Kamu udah beberapa minggu enggak pernah cerita.”
“Enggak banyak yang bisa diceritain.”
Dan memang begitu. Sesekali ada pesan masuk berisi foto awan dari jendela pesawat. Dia juga suka mengirim foto makanan. Kadang ada selfie dengan foto seksi.
“Dia sering banget traveling.”
“Iya.” Biann bergerak, jadi dia berhenti bicara untuk memastikan bayi itu tidak terbangun. Biann kembali tenang.
“Kamu bakal ketemu dia lagi?” Jennie tidak pernah bisa menyembunyikan perasaannya. Kekhawatiran jelas terlihat dari dahi yang berkerut.
“Aku enggak tahu. Dengar ya, dia bukan pacar atau semacamnya. Lagian kami cuma sesekali kirim pesan.”
“Tapi kamu pingin dia jadi pacar?”
“Tentu!” kata Maggie terlalu keras, sampai Biann mengeluarkan erangan pelan. Dia menepuk punggung bayi itu. “Dia ganteng dan perhatian.”
“Dan kaya.”
Maggie menepuk bahu Jennie, “Davis juga!”
“Enggak juga. Enggak selevel Kael dan Joann. Mereka punya jet pribadi!”
“Aku tahu.” Dia memejamkan mata dan menengadahkan kepala ke langit-langit. “Aku sering melamun soal itu. Aku dan Kael naik tangga pesawat, syalku berkibar. Terbang ke Italia atau Paris atau minimal ... Swiss.”
“Bisa aja. Dia jelas enggak lagi pacaran sama siapa pun sekarang.”
Maggie pura-pura tidak paham. “Benaran?”
Jennie menyipitkan mata penuh curiga. “Jadi kamu enggak pernah cari nama dia di Google?”
Maggie merosot ke bantal. “Aku enggak punya waktu.”
Jennie menatapnya beberapa detik, “Yah, minggu lalu ada artikel gosip.” Dia mengeluarkan HP dari saku. “Nih, lihat.”
“Isinya apa?” tanya Maggie, pura-pura tidak tahu.
Jennie membacakan.
...────୨ৎ────...
Kael Brawangsa kembali mengisi di berbagai acara amal bergengsi, seperti biasa. Namun alih-alih hadir, dia menyumbangkan 980 Miliar kepada para relawan yang bekerja di dapur umum, penampungan tunawisma, dan rumah pengungsi di Sumatra Utara.
Miliarder flamboyan ini dikenal lewat hubungannya dengan para perempuan berpengaruh, termasuk aktris Audy Malinda, jaksa Devina Mirlani, serta deretan sosialita dan pewaris keluarga ternama.
Namun tahun ini, kehadirannya yang biasanya mencolok bersama perempuan cantik tampak menghilang, bahkan untuk kegiatan yang selama ini dia dukung secara pribadi. Di mana Kael Brawangsa sekarang, dan apakah ada perempuan beruntung yang akhirnya membawa bujangan favorit ini keluar dari peradaban?
...────୨ৎ────...
Maggie hampir bisa ikut menghafal. Artikel itu sudah dibacanya berkali-kali, tanpa berani berharap bahwa absennya Kael dari acara-acara besar ada hubungannya dengan dirinya.
“Dia lagi suka traveling aja,” kata Maggie.
Jennie mematikan layar. “Mungkin. Tapi menarik juga, karena sebelumnya dia selalu punya waktu.”
Dia mengangkat bahu sambil tetap menopang punggung Biann agar tidak terganggu. Jennie mulai melepas hanger dari gaun-gaun pilihannya.
“Jam berapa penerbanganmu?” tanya Maggie.
“Jam delapan. Aneh banget pergi malam-malam.”
“Mungkin supaya bisa tidur di pesawat.”
“Kita lihat saja.” Mata Jennie berbinar sambil memeluk tumpukan gaun. “Kayaknya aku harus mulai beres-beres. Tinggal beberapa jam lagi sebelum ke bandara.”
Setelah Jennie pergi, Maggie meluncur turun di sandaran ranjang hingga berbaring, Biann tetap di lengannya. Kalau dia akan sendirian mengurus bayi selama seminggu, lebih baik dia tidur sebentar, selagi masih bisa.
...𓂃✍︎...
...Kalau kita berdua adalah bunga matahari 🌼, aku akan menghadapmu, bukan matahari 🌞....
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .