Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JARAK YANG MERENTANG
Tak ada panas yang menggoda kulit, tak ada hujan yang menyiram bumi. Langit sore di atas taman kota yang pernah menjadi tempat pelariannya tampak begitu datar dan tenang, seperti kain biru tua yang disebarkan rata tanpa sedikit pun kerutan. Murni sedang duduk di bangku yang sama di sudut taman itu, tangan kanannya menahan ponsel yang sedikit menggigil di pangkuannya—layarnya menunjukkan notifikasi yang belum pernah ia duga akan datang sepanjang waktu.
"Nomor tidak dikenal" — tulisan itu muncul dengan huruf-huruf yang begitu biasa, namun bagi Murni, setiap hurufnya seperti guntur yang menerobos kedalaman malam yang paling sunyi. Ia menghela napas dalam-dalam, jari jemari yang masih sedikit tipis bergerak pelan untuk menyentuh tombol jawab. Suara yang keluar dari ujung earphone itu begitu akrab, seolah tidak pernah hilang dari ingatannya—suara Khem yang dulu sering mengirimkan candaan dan bisikan cinta di malam hari.
"Murni... apa kamu mendengar?"
Suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya, mungkin karena sinyal yang kurang jelas, atau mungkin karena beban yang ia bawa dalam hatinya. Murni hanya bisa menggigit bibir bawahnya, tidak mampu mengeluarkan satu kata pun. Di sekelilingnya, dunia seolah berhenti berputar—anak-anak yang bermain seolah hanya bayangan tanpa suara, angin yang menerbangkan daun-daun kering seolah hanya gerakan tanpa makna. Semua hanya berfokus pada suara yang datang dari ujung kabel kecil itu.
"Aku tahu kamu marah padaku... aku tahu kamu punya hak untuk tidak mau melihat wajahku lagi. Tapi aku harus bilang ini... aku minta maaf, Murni. Sejujurnya, maaf atas semua yang kulakukan padamu."
Kata-kata permintaan maaf itu keluar dengan lambat, seperti aliran air yang perlahan menembus batu bata yang sudah lama menutupi jalan. Murni merasakan bagaimana hati yang sudah mulai mengering seperti tanah musim kemarau tiba-tiba terasa basah kembali—bukan karena air mata yang ingin mengalir, melainkan karena kebenaran yang tiba-tiba menghantam dirinya bahwa orang yang dulu membuatnya terluka kini sedang berdiri di sisi lain jarak yang begitu jauh, dengan hati yang sama-sama terluka.
Khem mulai bercerita dengan suara yang kadang terhenti karena sesak napas. Ia menjelaskan bahwa saat itu ia harus pergi dengan terpaksa, karena ada masalah keluarga yang harus ia atasi di kampung halamannya—masalah yang terlalu berat untuk dibagi dengan siapa pun, bahkan dengan orang yang dicintainya. Ia menceritakan bagaimana ia harus menghadapi badai kehidupan sendirian, tanpa bisa memberikan kabar karena kondisi yang tidak memungkinkan. Ia bahkan harus membuat akun media sosial baru setelah lama tidak bisa mengakses yang lama, dan ketika akhirnya bisa kembali, yang pertama kali ia cari adalah jejak Murni di dunia maya.
"Aku melihat kamu sudah mulai aktif lagi di akunmu, Murni. Kamu tampak lebih baik dari sebelumnya... itu membuatku lega, tapi juga membuatku merasa lebih bersalah."
Kemudian ia menyebutkan nama-nama yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya—Moning dan Dias, teman-teman baiknya yang juga kini mengikuti akun media sosial baru Murni. Ia bilang bahwa mereka sudah tahu tentang apa yang terjadi, dan bahkan mereka yang menyuruhnya untuk menghubungi Murni lagi, untuk memiliki keberanian untuk meminta maaf dan mengatakan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.
"Aku tidak ingin memaksakan diri padamu, Murni. Aku tahu bahwa waktu telah membuat jarak di antara kita—jarak yang bukan hanya soal tempat tinggal atau kedudukan geografis, tapi juga soal apa yang telah kita alami masing-masing selama ini." Khem terdengar semakin tenang, seolah sudah menemukan kata-kata yang tepat setelah lama mencari: "Tapi aku ingin mencoba lagi... ingin membangun hubungan baru denganmu, meskipun kita harus menjalaninya dalam jarak yang jauh. LDR seperti yang orang bilang—tidak mudah, penuh dengan rintangan yang tidak bisa kita tebak sebelumnya."
Murni akhirnya bisa mengeluarkan suara, meskipun hanya bisikan yang lembut: "Kamu bilang hubungan baru... tapi bagaimana bisa kita mulai yang baru jika masa lalu masih ada di sana?"
"Karena masa lalu adalah bagian dari kita, Murni," jawab Khem dengan nada yang penuh keyakinan. "Ia bukanlah batu sandungan yang harus kita pindahkan, melainkan fondasi yang bisa kita gunakan untuk membangun sesuatu yang lebih kokoh. Aku tidak bisa menjamin bahwa aku akan segera datang padamu—hidup memiliki rencana sendiri yang kadang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tapi aku berjanji padamu, jika Tuhan menghendaki, jika alam semesta mengizinkan, kita pasti akan bertemu lagi. Tidak sebagai orang yang dulu saling menyakiti, melainkan sebagai orang yang sudah belajar dari kesalahan dan siap untuk memberikan cinta yang lebih dalam."
Di taman kota yang semakin sunyi, Murni menatap ke arah langit yang sudah mulai dipenuhi oleh bintang-bintang yang satu per satu muncul seperti permata yang tersebar di kain malam. Ia berpikir tentang semua yang telah terjadi—tentang luka yang pernah membuatnya tidak bisa berdiri, tentang kebaikan Lilu yang selalu menyertai dirinya, tentang taman yang telah menjadi tempat di mana ia belajar untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Kini, datanglah suara dari masa lalu yang membawa dengannya harapan baru—seperti hujan gerimis yang tiba-tiba jatuh di tengah musim kemarau, memberi kehidupan pada segala sesuatu yang sudah mulai layu.
"Aku percaya padamu, Khem," ucapnya dengan suara yang sudah mulai lebih mantap. "Tidak karena aku lupa dengan apa yang telah terjadi, tapi karena aku percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Kita bisa mencoba lagi, menjalani hubungan jarak jauh ini dengan hati yang terbuka. Kita tidak perlu memaksakan apa-apa—biarkan saja semuanya berjalan sesuai dengan yang terbaik untuk kita berdua."
Setelah itu, mereka berbicara lama-lama—menceritakan apa yang telah mereka alami selama waktu yang tidak saling bertemu, berbagi cerita tentang teman-teman yang masih ada di sekitar mereka, bahkan tertawa bersama seperti dulu ketika mengingat momen-momen lucu yang pernah mereka lalui bersama. Murni merasa seperti menemukan bagian dari dirinya yang sudah lama hilang, bagian yang dulu berpikir bahwa cinta hanya bisa ada jika berada di dekatnya. Tapi kini ia menyadari bahwa cinta sejati tidak mengenal jarak—ia bisa merentang seperti benang sutra yang kuat, menghubungkan dua hati yang berada di ujung dunia yang berbeda.
Ketika obrolan akhirnya harus berakhir karena sinyal yang mulai lemah, Khem mengucapkan kata terakhirnya dengan suara yang penuh harapan: "Setiap pagi dan setiap malam, aku akan mengirimkan doa untukmu, Murni. Biarkan kita jadikan jarak ini sebagai ujian yang akan membuat cinta kita semakin kuat."
Murni menutup ponselnya dengan hati-hati, menyimpannya di dalam tasnya. Ia berdiri dari bangku taman, merentangkan kedua lengannya untuk merasakan angin malam yang semakin segar. Di sekelilingnya, lampu-lampu taman sudah menyala dengan cahaya yang hangat, menerangi jalur jalan yang akan ia tempuh pulang ke kosnya. Ia berjalan dengan langkah yang ringan dan penuh makna—setiap langkahnya seolah mengukir janji baru untuk dirinya sendiri dan untuk hubungan yang baru saja mereka mulai.
Saat melewati gerbang taman, petugas keamanan yang sudah mengenalnya dengan baik tersenyum dan berkata, "Bu Murni terlihat lebih bahagia ya malam ini?"
Murni mengangguk dengan senyum yang tulus dan dalam, menjawab dengan suara yang penuh rasa syukur: "Ya, Pak. Aku merasa seperti menemukan sesuatu yang sudah lama kuhilang... dan sekarang aku tahu bahwa jarak bukanlah penghalang untuk cinta yang sejati."
Di jalan pulang, ia melihat bulan yang sudah mulai muncul di antara rerumputan awan tipis. Bulan itu tampak begitu indah dan jauh, namun cahayanya tetap bisa menerangi jalan yang dilaluinya. Ia berpikir bahwa cinta itu seperti bulan—meskipun berada di tempat yang begitu jauh, ia tetap bisa memberikan penerangan dan kehangatan pada hati yang membutuhkannya.
Ketika sampai di depan pintu kosnya, Murni melihat pesan masuk di akun media sosial barunya—pesan dari Moning dan Dias yang mengucapkan selamat, menyatakan bahwa mereka sudah tahu bahwa Khem telah menghubunginya. Mereka bahkan mengirimkan foto dari tempat di mana mereka sedang berkumpul dengan Khem, dengan senyum yang penuh kebahagiaan di wajah mereka. Di bawah foto itu tertulis caption yang singkat namun penuh makna: "Jarak hanya angka, cinta adalah hati yang terhubung."
Murni tersenyum sambil menekan tombol suka pada foto itu. Ia masuk ke dalam kamar kosnya, membuka jendela lebar-lebar agar cahaya bulan bisa masuk dan menerangi kamar yang sederhana itu. Ia mengambil buku catatan yang pernah ia gunakan untuk menulis cerita tentang dirinya dan Khem, membukanya di halaman yang sudah lama tertutup rapat. Dengan pena yang ia pegang erat, ia mulai menulis kata-kata baru di halaman kosong:
"Hari ini, aku belajar bahwa cinta tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya bersembunyi di balik tirai waktu dan jarak, menunggu saat yang tepat untuk kembali dengan wajah yang lebih baik. Kita akan menjalani hubungan jarak jauh ini dengan harapan yang tak pernah padam, karena kita tahu bahwa jika Tuhan menghendaki, semua yang baik pasti akan datang pada waktunya sendiri."
Setelah selesai menulis, ia menutup buku catatannya dan meletakkannya di atas meja yang penuh dengan buku dan barang-barang kecilnya. Ia berbaring di atas kasurnya, menatap langit malam yang terlihat dari jendela kamar itu. Bintang-bintang bersinar dengan kilau yang indah, seolah menyaksikan setiap kata yang ia tulis dan setiap janji yang ia buat.
Murni menghela napas dalam-dalam, merasakan kedamaian yang mengalir di dalam dirinya seperti sungai yang tenang. Ia tahu bahwa perjalanan yang akan datang tidak akan mudah—hubungan jarak jauh selalu penuh dengan tantangan yang tidak bisa diprediksi, mulai dari kesulitan komunikasi hingga rasa rindu yang kadang tak tertahankan. Tapi ia juga tahu bahwa kini ia memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi segala sesuatu—kekuatan dari cinta yang sudah melalui ujian waktu, kekuatan dari harapan yang tidak pernah padam, dan kekuatan dari keyakinan bahwa setiap jarak memiliki tujuan tersendiri dalam kehidupan yang sedang ia jalani.
Di dalam kegelapan kamar yang diterangi oleh cahaya bulan dan bintang, Murni tertidur dengan senyum di wajahnya—mimpi tentang hari esok yang penuh dengan harapan, tentang hubungan yang tumbuh kuat meskipun jauh, dan tentang pertemuan yang akan datang jika alam semesta mengizinkan.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Sejak malam itu, kehidupan Murni mulai bergerak dengan ritme baru—ritme yang diatur oleh zona waktu yang berbeda, oleh nada dering ponsel yang datang di jam-jam tertentu, dan oleh pesan-pesan yang penuh dengan cinta yang mengisi layar gadgetnya. Meskipun jarak antara mereka masih terasa begitu jauh—Khem berada di kota kecil yang terletak di ujung pulau, sementara Murni tetap tinggal di kota yang penuh dengan kenangan dan harapan baru—mereka belajar untuk menjadikan jarak itu sebagai bagian dari cerita cinta mereka yang semakin dalam.
Setiap pagi, ketika matahari baru mulai menyingsing di atas atap kos Murni, jam di tempat Khem baru menunjukkan tengah malam. Tapi itu tidak menjadi penghalang. Khem selalu mengirim pesan suara sebelum ia tidur—suaranya yang sedikit mengantuk namun penuh kehangatan berbisik tentang apa yang ia lakukan seharian, tentang bagaimana cuaca di kota tempatnya tinggal, bahkan tentang cerita kecil tentang kucing peliharaan tetangganya yang suka menginjak-injak keyboard laptopnya saat ia sedang bekerja. Murni akan mendengarkan pesan itu sambil menyiram tanaman hias di balkon kosnya, senyum tersipu di wajahnya setiap kali mendengar candaan yang sudah ia kenal begitu baik.
"Hai sayangku Murni... paginya sudah datang ya di sana? Di sini malamnya masih begitu panjang, seperti jalan yang harus kita tempuh bersama. Tapi tenang saja, setiap malam yang lewat adalah satu hari lebih dekat dengan hari kita bertemu."
Begitulah awal dari setiap hari mereka. Murni akan menghadiri pekerjaannya di pabrik makanan ringan dengan hati yang lebih ringan. Rekannya mulai melihat perubahan yang nyata padanya—wajahnya yang dulu sering pucat kini tampak lebih berseri, tangannya yang dulu sering gemetar saat menangani adonan kini bekerja dengan lancar dan penuh kepercayaan. Bahkan kepala bagian produksi yang dikenal tegas pun mengeluarkan pujian padanya: "Murni, kerjaanmu semakin baik ya. Sepertinya kamu menemukan semangat baru ya?"
Murni hanya akan tersenyum dan mengangguk. Ia tidak mengatakan banyak tentang hubungan barunya dengan Khem kepada rekan kerja selain Lilu—dan bahkan kepada Lilu, ia hanya menjelaskan dengan singkat bahwa mereka sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan hati yang terbuka. Lilu sendiri sangat mendukungnya, bahkan sering membantu Murni untuk memilih foto yang akan ia posting di media sosial agar bisa dilihat oleh Khem dan teman-teman mereka seperti Moning dan Dias.
"Lihat ini, Murni—foto kamu saat sedang makan bakso sore kemarin itu sangat bagus! Mata kamu tampak begitu bahagia," ujar Lilu sambil menggesek layar ponsel Murni. "Kamu harus posting ini dengan caption yang baik-baik ya."
Murni mengikuti saran sahabatnya. Ia menulis caption yang singkat namun penuh makna: "Setiap hidangan yang lezat rasanya lebih manis ketika ada seseorang yang selalu menanyakan bagaimana hariku berlalu. Jarak bukanlah penghalang untuk berbagi kebahagiaan kecil." Tak butuh waktu lama, komentar mulai datang—Moning yang memberikan emoji hati berwarna merah, Dias yang menulis "Semoga selalu bahagia ya kedua orang baik!", dan tentu saja Khem yang memberikan suka dan menulis pesan pribadi: "Sayang, aku juga ingin makan bakso bareng kamu. Nanti kalau bertemu, aku akan ajak kamu makan bakso sampai kenyang ya."
Di sisi lain jarak yang begitu jauh, Khem juga menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Ia bekerja sebagai pekerja konstruksi di sebuah proyek pembangunan sekolah di kampung halamannya, dan setiap sore ia akan menyempatkan diri untuk menghubungi Murni ketika waktu izin tiba. Ia sering mengirim foto dari tempat kerjanya—foto gedung sekolah yang mulai terbentuk dengan kokoh, foto anak-anak kampung yang sering datang melihat proses pembangunan, bahkan foto pemandangan matahari terbenam yang begitu indah di atas perbukitan hijau.
"Murni, lihat ini—matahari terbenam di sini sangat berbeda dengan yang kamu lihat di kota kamu. Di sini warnanya lebih hangat, seperti pelukan yang ingin kita berbagi. Aku selalu membayangkan kamu berdiri di sisiku setiap kali melihat pemandangan seperti ini."
Mereka juga sering melakukan panggilan video pada hari-hari tertentu—biasanya pada hari Minggu ketika kedua-duanya memiliki waktu luang lebih banyak. Murni akan memasang ponselnya di atas meja kamar kosnya, sementara Khem akan mencari tempat yang memiliki sinyal yang baik—kadang di depan warung makan kecil yang memiliki WiFi gratis, kadang di balkon rumah saudaranya yang terletak di atas bukit. Meskipun sinyal terkadang tidak stabil, membuat gambarnya pecah-pecah atau suaranya putus-putus, mereka tidak pernah merasa kesal. Bisa melihat wajah satu sama lain saja sudah cukup membuat hari mereka menjadi lebih berarti.
Pada salah satu malam Minggu yang penuh dengan bintang, Khem menunjukkan sesuatu yang membuat Murni menangis haru. Di belakangnya, ada sebuah papan tulis kecil yang ia buat sendiri dari kayu bekas proyek pembangunan sekolah. Di atasnya tertulis kata-kata yang dituliskan dengan cat tembok berwarna putih: "Murni—Cinta kita tidak mengenal jarak, karena ia hidup di dalam hati kita yang selalu terhubung."
"Aku membuatnya sendiri, sayang," ujar Khem dengan suara yang penuh bangga. "Saat ini ia berdiri di halaman sekolah yang sedang kita bangun. Setiap anak yang datang kesini akan melihatnya, dan aku akan cerita pada mereka bahwa cinta sejati bisa merentang jauh-jauh jika kita memiliki keyakinan yang kuat."
Murni merasakan bagaimana air mata bahagia mengalir di pipinya. Ia mengambil tisu dari meja dan menyeka matanya dengan lembut, sambil berkata dengan suara yang sedikit bergetar: "Terima kasih, Khem. Ini adalah hal paling indah yang pernah kudapatkan dalam hidupku. Aku akan selalu menyimpan kata-katamu di dalam hatiku."
Namun, bukan saja kebahagiaan yang mereka alami bersama. Ada hari-hari di mana rasa rindu menjadi begitu kuat hingga membuat mereka sulit bernapas. Pada suatu hari, Murni dan Khem harus menghadapi hari anniversary mereka dari jauh Saat itu, ia sedang makan makan malam sederhana di kamar kosnya ketika panggilan video dari Khem datang.
"Hari anniversary yang keberapa ya sayang?" tanya Khem dengan suara yang penuh perhatian. "Maaf ya aku tidak bisa datang untuk merayakannya bersamamu. Aku sangat ingin bisa memberikan kamu kue ulang tahun dan memukul lilinnya bersama kamu."
Murni tersenyum lembut meskipun hatinya sedikit terasa sakit karena rasa rindu: "Tidak apa-apa, Khem. Yang penting kamu mengingatnya sudah cukup buatku. Aku hanya berharap tahun ini bisa membawa kita lebih dekat dengan pertemuan yang kita nantikan."
Tak lama setelah itu, ada bunyi ketukan di pintu kos Murni. Ia merasa heran karena tidak ada yang tahu bahwa hari itu adalah anniversary mereka selain Lilu dan Khem. Ketika membuka pintu, ia terkejut melihat kurir yang membawa paket berukuran sedang. Di atas paket tertulis nama Murni dengan jelas, dan alamat pengirim adalah dari kota tempat Khem tinggal.
"Ini dari siapa ya?" tanya Murni pada kurir.
"Kirimannya dari Bapak Khem, Bu," jawab kurir sambil memberikan bukti penerimaan.
Murni dengan tergesa-gesa membuka paket itu setelah kurir pergi. Di dalamnya ada sebuah kotak kue kecil yang masih dibungkus rapi, sebuah boneka beruang kecil yang mengenakan kaos dengan tulisan "Cinta kita melampaui jarak", dan surat panjang yang ditulis dengan tangan Khem. Murni membaca surat itu dengan hati yang penuh kehangatan:
"Sayangku Murni,
Aku tahu aku tidak bisa ada di sana untuk merayakan anniversary kita. Tapi aku tidak ingin kamu merayakannya sendirian. Kue itu aku pesan dari toko kue terbaik di kota ini—semoga rasanya bisa membawa sedikit kehangatan padamu seperti aku yang ada di sana bersamamu. Boneka itu aku beli sebagai temanmu ketika aku tidak bisa ada di sisimu. Setiap malam kamu tidur, peluklah dia dan bayangkan bahwa itu adalah aku yang sedang membungkamimu dengan cinta.
Aku mencintaimu lebih dari kata-kata bisa ungkapkan. Semoga tahun baru dalam hidupmu membawa lebih banyak kebahagiaan, kesehatan, dan keberuntungan. Dan semoga Tuhan segera memberikan kesempatan agar kita bisa bertemu dan merayakan banyak momen indah bersama.
Dengan cinta yang tak pernah padam,
Khem"
Murni menangis sambil memeluk boneka beruang itu erat-erat. Ia segera menghubungi Khem melalui panggilan video, dan ketika wajah Khem muncul di layar, ia bisa melihat senyum yang penuh cinta di wajahnya.
"Kamu suka kan hadiahnya?" tanya Khem dengan suara yang lembut.
"Suka sekali, Khem. Ini adalah anniversary terbaik yang pernah kulalui," jawab Murni dengan suara yang penuh haru. "Terima kasih sudah selalu membuatku merasa diperhatikan dan dicintai, meskipun kita berada jauh."
Seiring berjalannya waktu, mereka semakin mahir dalam menjaga hubungan jarak jauh mereka. Mereka belajar untuk menghargai setiap momen kecil yang bisa mereka bagikan—mulai dari berbagi foto makanan yang mereka makan, cerita tentang hal-hal lucu yang terjadi pada hari itu, hingga doa yang mereka kirimkan satu sama lain sebelum tidur. Mereka juga membuat janji untuk selalu jujur satu sama lain—tidak menyembunyikan apa pun, baik itu kesusahan maupun kebahagiaan, karena mereka tahu bahwa kepercayaan adalah pondasi terkuat dalam hubungan apa pun, terutama hubungan jarak jauh.
Moning dan Dias sering menjadi jembatan bagi mereka berdua ketika ada sesuatu yang ingin dikirimkan secara langsung. Moning yang bekerja sebagai supir angkutan antar kota pernah membantu mengirimkan bungkusan makanan khas dari kota Murni ke Khem, sementara Dias yang memiliki saudara yang bekerja di perusahaan kurir sering membantu mempercepat pengiriman paket dari Khem ke Murni.
"Kalian adalah contoh bagi kita semua tentang bagaimana cinta bisa bertahan meskipun harus menghadapi jarak yang begitu jauh," ujar Dias ketika bertemu dengan Murni di warung makan dekat pabriknya. "Jangan pernah menyerah ya, Murni. Semoga kalian segera bisa bertemu lagi."
Murni hanya tersenyum dan mengangguk. Ia melihat ke arah langit yang mulai gelap, membayangkan bahwa di sisi lain langit yang sama, Khem juga sedang melihat ke arah langit yang sama, memikirkan dirinya. Ia tahu bahwa jalan yang mereka tempuh masih panjang, bahwa masih banyak tantangan yang harus mereka hadapi bersama. Tapi ia juga tahu bahwa cinta yang mereka miliki adalah cinta yang kuat dan tulus—cinta yang bisa merentang jauh-jauh seperti benang sutra yang tidak mudah putus, cinta yang bisa menerangi jalan mereka menuju masa depan yang penuh harapan.
Pada malam hari yang penuh dengan bintang, Murni sedang duduk di balkon kosnya sambil memegang boneka beruang yang diberikan Khem. Ia melihat ke arah taman kota yang sudah mulai diterangi oleh lampu-lampu kecil yang berkilau seperti bintang jatuh ke bumi. Di sana, di bangku yang pernah menjadi tempat di mana ia belajar untuk berdamai dengan dirinya sendiri, ia membayangkan bahwa Khem sedang berada di sisinya, mereka berdua duduk bersama sambil melihat pemandangan malam yang indah.
Ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Khem: "Hai sayangku... malam ini langitnya sangat indah. Aku merindukanmu begitu banyak. Tapi aku tahu bahwa setiap malam yang lewat adalah satu hari lebih dekat dengan hari kita bertemu. Cintaku padamu tidak pernah berubah, tidak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan kita."
Tak butuh waktu lama, balasan datang dari Khem: "Aku juga merindukanmu sayang... sangat banyak. Semoga Tuhan mengizinkan kita bisa bertemu segera. Cintaku padamu lebih dari apa pun di dunia ini."
Murni tersenyum sambil melihat pesan itu berulang-ulang. Ia menutup matanya sebentar, menyampaikan doa yang paling dalam dari hatinya: "Ya Tuhan, berikanlah kesempatan bagi kami untuk bisa bertemu lagi. Berikanlah kekuatan kepada kami untuk selalu menjaga cinta yang kami miliki, meskipun harus menjalani hidup dalam jarak yang jauh. Dan berikanlah kebaikan kepada semua orang yang telah membantu kami dalam perjalanan cinta ini. Amin."
Di dalam kegelapan malam yang diterangi oleh cahaya bulan dan bintang, Murni merasakan kedamaian yang begitu dalam di dalam hatinya. Ia tahu bahwa hari esok akan membawa banyak hal baru—bisa jadi kesusahan, bisa jadi kebahagiaan. Tapi ia sudah siap menghadapinya semua, karena ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki seseorang yang selalu ada di hati dan pikirannya, seseorang yang membuat setiap hari hidupnya menjadi lebih berarti.
Hubungan jarak jauh memang tidak mudah. Ada hari-hari di mana rasa rindu menjadi begitu kuat hingga membuat mereka ingin menyerah, ada saat-saat di mana komunikasi menjadi sulit karena sinyal yang buruk atau kesibukan yang berbeda. Tapi mereka memilih untuk tidak menyerah—mereka memilih untuk melihat jarak bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai bukti bahwa cinta mereka kuat dan mampu menghadapi segala rintangan.
Dan di tengah semua itu, harapan selalu ada—harapan bahwa suatu hari nanti, jarak yang merentang di antara mereka akan hilang, dan mereka bisa akhirnya bertemu dengan orang yang dicintai dengan hati yang penuh cinta dan rasa syukur.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Kehangatan dari pesan Khem masih terasa hangat di hati Murni ketika notifikasi baru muncul di layar ponselnya. Ia mengira itu adalah balasan lagi dari Khem atau pesan dari Lilu yang sudah kembali dari kampung halamannya. Tapi ketika layar menyala, nama yang muncul membuat hatinya tiba-tiba terasa seperti dicubit oleh es—"Aksa".
Ia sudah lama menghapus nomornya dari daftar kontak, tapi pria itu ternyata masih bisa menemukan cara untuk menghubunginya—kali ini melalui pesan pribadi di media sosial. Murni menatap layar dengan mata yang mulai menyipit, membaca setiap kata yang muncul dengan hati yang semakin erat.
"Hai cantik Murni... sudah lama tidak berbicara ya? Aku melihat kamu sudah balikan lagi ya? Sayangnya itu cuma cowok yang tinggal jauh-jauh aja kan? Gimana bisa kamu percaya sama cowok yang tidak bisa ada di sisimu kapan kamu butuh?"
Kata-kata itu seperti jarum yang menusuk perlahan ke dalam hati yang baru saja mulai sembuh. Murni ingin langsung menutup pesan itu dan melaporkan akun Aksa sebagai pengganggu. Tapi jari-jemarinya hanya terasa beku ketika ingin menyentuh layar. Pesan berikutnya datang dengan cepat, tanpa memberi waktu bagi Murni untuk bernapas.
"Kan aku bilang dari dulu kan, kamu terlalu baik untuk dipermainkan sama cowok yang cuma bisa ngomong manis dari jauh. Daripada kamu disakiti lagi sama cowok yang tidak bisa diandalkan kayak itu, mending kamu pacaran aja sama aku dong. Aku kan ada di sini kan? Selalu bisa membantu kamu kapanpun kamu butuh..."
Murni merasakan bagaimana denyut jantungnya mulai meningkat. Ia segera menutup aplikasi media sosial dan melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan suara yang pelan namun jelas. Tubuhnya mulai merasa sedikit gemetar—bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa frustrasi yang muncul kembali. Bagaimana bisa pria yang satu ini tidak pernah merasa lelah untuk mengganggunya? Bagaimana bisa ia terus menganggap bahwa dirinya adalah seseorang yang bisa dipermainkan sesuka hati?
Ia berdiri dengan tergesa-gesa dan pergi ke balkon kosnya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Udara malam yang segar sedikit membantu menenangkan napas yang sudah mulai sesak. Di kejauhan, lampu-lampu taman kota masih berkilau seperti biasa, tapi malam ini mereka terlihat seperti mata yang sedang menatapnya dengan penuh rasa kasihan.
Tak lama kemudian, ponselnya mulai berbunyi berulang kali—suara dering yang tajam dan terus menerus seperti ingin menerobos kedamaian malam itu. Murni tahu itu pasti dari Aksa. Ia tidak ingin menjawab, tapi suara dering yang terus datang membuatnya semakin tidak nyaman. Akhirnya, ia mengambil ponselnya dan membuka pesan-pesan yang masuk dengan cepat.
"Murni jawab dong! Aku sedang serius mau bicara sama kamu!"
"Kamu kan tau kan kalau aku benar-benar menyukaimu kan? Jangan sia-siakan kesempatan kamu sama aku!"
"Kalau kamu tetap mau sama cowok jauh itu, jangan salahkan aku kalau nanti ada kabar buruk tentang dia ya!"
Kalimat terakhir itu membuat darah Murni mendidih. Ia merasa seperti ada bara api kecil yang mulai menyala di dalam dirinya—tidak karena rasa takut, melainkan karena rasa marah yang muncul karena orang lain berani mengancam orang yang dicintainya. Tanpa berpikir dua kali, ia mengetik balasan dengan jari yang sudah tidak lagi gemetar.
"Aksa, sudah cukup! Aku sudah bilang padamu sekali lagi—aku tidak ingin ada hubungan apapun denganmu. Kamu tidak punya hak untuk mencaci atau mengancam orang yang kusayangi. Jangan pernah lagi mengirim pesan apapun padaku, kalau tidak aku akan melaporkanmu ke pihak berwajib dan meminta bantuan untuk menghentikan semua gangguan yang kamu lakukan padaku!"
Setelah mengirim pesan itu, Murni segera membatasi akses akun media sosialnya agar Aksa tidak bisa lagi menghubunginya. Ia juga memblokir semua cara yang bisa digunakan oleh pria itu untuk menghubunginya—mulai dari nomor telepon hingga akun media sosial yang mungkin dimiliki Aksa. Namun, meskipun sudah melakukan semua itu, ia masih merasa tidak nyaman. Pikirannya mulai terganggu dengan kata-kata ancaman yang terakhir dikirimkan Aksa.
"Apa yang dia maksud dengan 'kabar buruk tentang dia'?" bisik Murni sendiri sambil melihat ke arah langit yang sudah mulai tampak sedikit pucat karena akan datangnya fajar. "Apakah dia akan melakukan sesuatu pada Khem?"
Perasaan khawatir mulai menyelimuti dirinya. Ia ingin segera menghubungi Khem untuk memberitahukan apa yang terjadi, tapi melihat jam di ponselnya—di tempat Khem, jam masih menunjukkan tengah malam. Ia tidak ingin mengganggu tidurnya hanya karena khawatir yang belum tentu benar. Namun, hati dan pikirannya tidak bisa tenang. Ia akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan singkat untuk Khem.
"Sayangku Khem... maaf ya kalau mengganggumu. Ada sesuatu yang terjadi padaku malam ini—Aksa yang pernah menggangguku datang lagi dan mengirim pesan yang tidak menyenangkan. Dia bahkan mengancam akan membuat kabar buruk tentangmu. Aku sudah memblokir dia dan akan melaporkannya jika dia masih terus menggangguku. Jangan khawatir ya sayang... aku akan baik-baik saja. Cintaku padamu tidak akan pernah berubah karena omongan orang yang tidak bertanggung jawab."
Setelah mengirim pesan itu, Murni mencoba untuk tidur kembali. Tapi mata dan hatinya tidak bisa tenang. Ia terus berpikir tentang apa yang mungkin dilakukan oleh Aksa, tentang bagaimana hal itu bisa mempengaruhi hubungan mereka dengan Khem, tentang apakah jarak yang ada di antara mereka akan membuatnya tidak bisa melindungi orang yang dicintainya.
Hanya beberapa jam kemudian, ketika matahari baru mulai menyingsing di atas langit kota, ponselnya berbunyi. Murni dengan tergesa-gesa mengambilnya dan melihat bahwa itu adalah panggilan video dari Khem. Ia segera menjawabnya, dan wajah Khem yang masih mengantuk namun penuh perhatian muncul di layar.
"Sayang... aku baru saja bangun dan melihat pesanmu. Kok bisa begini ya? Kenapa dia masih berani mengganggumu?" suara Khem terdengar sedikit marah namun penuh perhatian. "Aku sangat khawatir padamu. Apakah kamu baik-baik saja? Apakah dia melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar mengirim pesan?"
Murni menjelaskan semua yang terjadi dengan detail—mulai dari pesan yang pertama kali datang hingga ancaman yang terakhir dikirimkan Aksa. Saat bercerita, ia merasakan bagaimana mata air matanya mulai menggenang. Khem melihatnya dengan penuh rasa sayang, mengucapkan kata-kata penenang melalui layar ponsel.
"Jangan menangis ya sayang... kamu tidak salah apa-apa. Semua ini karena dia yang tidak bisa menerima penolakanmu dengan lapang dada. Kamu sudah melakukan yang terbaik dengan memblokir dia dan akan melaporkannya. Jangan khawatir tentang apa yang dia katakan tentangku ya. Aku tidak peduli dengan omong kosongnya. Yang penting adalah kita saling percaya dan mencintai satu sama lain."
Kemudian Khem memberitahukan bahwa ia sudah menghubungi Moning dan Dias untuk memberitahukan apa yang terjadi. Mereka berdua sangat marah dan menawarkan untuk membantu Murni jika Aksa masih terus mengganggunya. Moning bahkan menawarkan untuk mengantar Murni pulang dari kerja setiap hari hingga situasi menjadi aman kembali.
"Kamu tidak sendirian dalam hal ini, Murni," ujar Khem dengan suara yang penuh keyakinan. "Kita punya teman-teman baik yang akan selalu membantu kita. Dan meskipun aku berada jauh darimu, aku akan selalu menemukan cara untuk melindungimu dan menjagamu. Jangan pernah merasa bahwa jarak membuatku tidak bisa ada untukmu."
Murni merasakan bagaimana rasa khawatir yang selama ini mengganggunya mulai berkurang. Suara Khem yang penuh cinta dan dukungan membuatnya merasa lebih kuat. Ia menyadari bahwa meskipun mereka berada jauh, mereka tidak sendirian—mereka memiliki orang-orang baik di sekitar mereka yang akan selalu siap membantu.
Keesokan harinya, Murni datang ke kantor polisi terdekat untuk melaporkan gangguan yang dilakukan oleh Aksa. Petugas polisi yang menangani kasusnya sangat profesional dan memberikan kepastian bahwa mereka akan mengambil tindakan yang sesuai jika Aksa masih terus mengganggunya. Mereka juga memberikan beberapa saran tentang cara melindungi diri di dunia maya dan bagaimana harus bertindak jika ada ancaman yang lebih serius.
Setelah dari kantor polisi, Murni pergi ke pabrik seperti biasa. Lilu sudah menunggu di gerbang pabrik dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Saat melihat Murni datang dengan aman, ia segera berlari mendekatinya dan memeluknya erat-erat.
"Aku sudah dengar dari kamu kan, Murni? Gimana kabarmu? Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Lilu dengan suara yang penuh perhatian.
"Aku baik-baik saja, Lu," jawab Murni dengan senyum lembut. "Aku sudah melaporkannya ke polisi. Mereka bilang akan membantu aku."
Tak lama kemudian, Moning dan Dias juga datang ke pabrik untuk mengecek kondisi Murni. Mereka membawa makanan ringan dan minuman untuknya, dan mereka berempat duduk di area istirahat pabrik sambil berbicara tentang apa yang terjadi.
"Jangan khawatir ya Murni," ujar Moning dengan suara yang tegas. "Kalau dia berani datang ke pabrik atau mengganggumu di mana saja, aku dan Dias akan segera membantu kamu. Kita tidak akan biarkan orang yang tidak bertanggung jawab itu menyakiti kamu lagi."
Dias juga menambahkan, "Kita juga sudah memberi tahu beberapa teman kita di sekitar sini tentang situasimu. Semua orang siap membantu kamu jika ada yang tidak beres. Kamu tidak sendirian ya Murni."
Perhatian dan dukungan dari teman-teman baiknya membuat Murni merasa sangat bersyukur. Ia menyadari bahwa meskipun hubungan dengan Khem harus melalui jarak yang jauh, ia memiliki orang-orang baik di sekitarnya yang selalu siap membantu dan menjaganya.
Di malam hari itu, ketika Murni sedang duduk di balkon kosnya sambil menghadiri panggilan video dengan Khem, mereka membicarakan tentang apa yang terjadi dengan tenang dan penuh pemahaman. Khem memberitahukan bahwa ia sudah berbicara dengan keluarganya tentang situasi ini, dan mereka juga sangat mendukung hubungan mereka dan siap membantu jika ada yang tidak beres.
"Sayang, aku tahu bahwa ini adalah tantangan baru bagi kita berdua," ujar Khem dengan suara yang lembut. "Tapi aku yakin bahwa cinta kita kuat untuk menghadapinya. Jarak mungkin membuat kita tidak bisa berada satu sama lain secara fisik, tapi itu tidak bisa menghalangi kita untuk saling melindungi dan mencintai satu sama lain."
Murni mengangguk dengan penuh keyakinan. Ia melihat wajah Khem yang penuh cinta di layar ponselnya, merasakan bagaimana cinta mereka tumbuh lebih kuat dengan setiap tantangan yang mereka hadapi bersama. Ia tahu bahwa jalan yang mereka tempuh masih tidak mudah—ada masih banyak hal yang bisa terjadi, ada masih banyak tantangan yang mungkin muncul di depan mereka. Tapi ia juga tahu bahwa dengan cinta yang mereka miliki dan dukungan dari orang-orang baik di sekitar mereka, mereka akan mampu menghadapi segala sesuatu dengan kuat dan penuh harapan.
"Aku mencintaimu, Khem," ujar Murni dengan suara yang penuh rasa syukur. "Terima kasih sudah selalu ada untukku, meskipun kita berada jauh."
"Aku juga mencintaimu, Murni," jawab Khem dengan senyum yang hangat. "Selalu dan sampai kapanpun. Jangan pernah lupa itu ya sayang."
Di dalam kegelapan malam yang diterangi oleh cahaya bulan dan bintang, Murni merasakan kedamaian yang begitu dalam di dalam hatinya. Ia tahu bahwa tantangan yang datang dari Aksa mungkin tidak akan segera hilang, tapi ia sudah siap menghadapinya dengan kuat dan penuh keyakinan. Ia memiliki seseorang yang selalu mencintainya dengan tulus, memiliki teman-teman baik yang selalu siap membantu, dan memiliki hati yang sudah belajar untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Hubungan jarak jauh memang penuh dengan tantangan—mulai dari rasa rindu yang tak tertahankan hingga gangguan dari orang-orang yang tidak menginginkan kebahagiaan kita. Tapi mereka memilih untuk tidak menyerah—mereka memilih untuk melihat setiap tantangan sebagai kesempatan untuk membuat cinta mereka semakin kuat dan kokoh.
Dan di tengah semua itu, harapan selalu ada—harapan bahwa suatu hari nanti, semua tantangan akan berlalu, dan mereka bisa akhirnya bertemu dengan orang yang dicintai dengan hati yang penuh cinta dan rasa syukur.
...