NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Uluwatu – Rendang vs Sambal Matah

​Pesawat komersial menuju Denpasar pagi itu terasa lebih penuh dari biasanya, namun di barisan kursi nomor 12, atmosfernya jauh lebih dingin daripada AC kabin. The Justice Widows dan Arka duduk dengan formasi yang sudah diatur Arka dan Bella di kursi window dan middle, sementara Siska dan Maya di seberang lorong.

​Maya mengenakan kacamata hitam selebar piring kue dan daster model The Island Queen motif bunga kamboja bali yang jika ditekan kancing kerahnya akan memancarkan sinyal pengacak WiFi. "Aduh, Bel, aku nggak nyangka misi terakhir kita bakal se-estetik ini. Uluwatu! Tebing! Sunset! Coba aja kalau kita nggak bawa sutil sama alat pelacak, pasti aku udah sibuk cari angle buat konten," bisik Maya sambil mengoleskan tabir surya di tangannya.

​Bella Damayanti tidak menyahut. Ia sedang menatap layar tablet yang diletakkan di paha Arka. "Data terakhir menunjukkan mereka menyewa sebuah villa privat yang bertengger persis di ujung tebing. Hanya ada satu akses masuk lewat darat, dan sisanya adalah jurang sedalam seratus meter menuju laut."

​Arka mengangguk, jari-jarinya yang kuat mengetik beberapa baris kode untuk memperdalam enkripsi komunikasi mereka. "Pertemuan ini disebut 'The Final Stitch'. Sisa-sisa petinggi Benang Hitam dari tiga benua kumpul buat milih Grand Master baru. Mereka bawa teknologi terbaru The Neural Silk, benang yang kalau sudah dijahit ke pakaian, bisa memanipulasi emosi pemakainya secara instan."

​Siska Paramita yang sejak tadi sibuk memeriksa tas jinjingnya (yang isinya penuh dengan botol bumbu berlabel khusus) menoleh. "Jadi kalau gue pakai baju itu, gue bisa tiba-tiba nangis atau marah tanpa sebab?"

​"Lebih parah, Siska," jawab Arka serius. "Mereka bisa bikin satu stadion penuh orang saling serang karena merasa benci satu sama lain, atau bikin satu batalyon tentara menyerah karena tiba-tiba merasa depresi berat."

​Begitu mendarat, mereka langsung menuju sebuah gudang logistik milik kenalan lama Arka di daerah Jimbaran. Di sana, mereka bertukar kostum. Penyamaran kali ini Arka dan Bella sebagai pasangan konglomerat dari Singapura yang ingin berinvestasi di teknologi tekstil, Siska sebagai koki privat yang dibawa khusus, dan Maya sebagai asisten pribadi merangkap penata gaya.

​"Kenapa gue selalu jadi asisten sih?!" gerutu Maya, meski ia tetap memakai seragam chic putihnya dengan penuh percaya diri.

​"Karena cuma lo yang bisa masuk-keluar kamar para tamu buat 'merapikan baju' padahal lo lagi pasang penyadap, May," jawab Bella sambil mengenakan gaun malam berbahan sutra antipeluru.

​Villa tersebut, The Infinity Nest, berdiri megah dengan arsitektur terbuka yang mengekspos pemandangan Samudra Hindia. Musik lounge bergema pelan, aroma dupa bali bercampur dengan aroma sampanye mahal. Namun, di balik keindahan itu, Bella bisa melihat para penjaga yang berdiri kaku di setiap sudut, tangan mereka selalu berada di dekat pinggang.

​Siska langsung menuju area dapur terbuka. Di sana, ia disambut oleh kepala koki villa yang tampak curiga. "Kami tidak butuh bantuan tambahan untuk makan malam ini," ujar koki itu dengan nada tinggi.

​Siska memberikan senyum paling manisnya senyum yang biasanya berarti "lo dalam masalah besar". "Oh, Tuan Haris sang pemilik villa ingin sentuhan nusantara yang otentik. Saya bawa rendang yang dagingnya dimasak selama 24 jam. Anda mau saya yang menyajikannya, atau Anda mau menanggung risiko kalau Tuan Haris kecewa?"

​Siska berhasil masuk. Sambil mulai memanaskan kualinya, ia diam-diam mengeluarkan alat pemindai dari balik talenan. Di ruang bawah tanah villa, sensornya menangkap aktivitas energi yang sangat besar. "Bel, Arka... mesin tenun utamanya ada di bawah dapur. Gue bisa ngerasain getarannya lewat lantai."

​Sementara itu, Maya sedang beraksi di lantai atas. Dengan membawa keranjang handuk kecil, ia menyelinap ke kamar utama tempat sang kandidat kuat Grand Master, seorang pria Jerman bernama Hans Von Stitch, menginap.

​"Aduh, permisi... Housekeeping!" seru Maya dengan suara cempreng yang dibuat-buat.

​Di dalam kamar, Hans sedang mandi. Maya bergerak secepat kilat. Ia tidak mencari dompet, tapi mencari dasi yang tergeletak di atas tempat tidur. Dasi itu bukan dasi biasa itu adalah prototipe Neural Silk. Maya mengeluarkan alat pembedah mikro dari dalam lipstiknya, mengambil satu helai benang perak dari dalam dasi tersebut, dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi kecil.

​"Satu helai benang untuk Maya, satu langkah besar untuk janda," bisiknya bangga.

​Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Hans keluar dengan hanya mengenakan jubah mandi, matanya langsung menatap Maya dengan tajam. "Siapa kamu? Saya tidak memanggil pelayan."

​Maya terdiam sejenak, lalu dengan insting luar biasanya, ia pura-pura menangis histeris. "Tuan! Maafkan saya! Saya baru saja diputusin pacar saya lewat WhatsApp! Saya... saya nggak fokus kerja! Saya cuma mau cari tempat buat nangis!"

​Hans yang sombong itu tampak muak. "Keluar! Pergi menangis di tempat lain, dasar pelayan emosional!"

​Maya lari keluar kamar sambil tetap pura-pura sesenggukan, namun begitu pintu tertutup, ia langsung menyeringai. "Emosional matamu! Gue dapet benangnya, Bel!"

​Puncak acara dimulai saat matahari mulai terbenam, menciptakan warna merah darah di cakrawala Uluwatu. Para petinggi berkumpul di area pool deck. Arka dan Bella berdiri di dekooat pagar pembatas, memantau situasi.

​"Mereka mau melakukan demonstrasi," bisik Arka. "Liat manekin di tengah itu. Begitu sinyal dinyalakan, semua orang di radius 100 meter yang memakai pakaian sintetis akan terkena efeknya.

​Tiba-tiba, suara Siska terdengar lewat earpiece. "Bel! Gue ketahuan! Koki di sini ternyata agen Benang Hitam yang menyamar! Mereka lagi ngepung gue di da☺pur!"

​"Siska, tahan posisi! Maya, bantu Siska! Arka, kita habisi mesin pusatnya!" perintah Bella.

​Di dapur, Siska menghadapi lima orang pria berbadan besar. Ia tidak panik. Ia mengambil kuali rendangnya yang sudah mendidih.

"Kalian mau tahu kenapa rendang gue disebut mematikan?"

​Siska menyiramkan minyak rendang yang panas dan penuh rempah ke lantai. Saat para penjaga itu terpeleset, Siska mengayunkan sutil titaniumnya yang sudah disetel ke mode "Suhu Matahari". BZZZT! Sutil itu menghantam dada salah satu penjaga, membuat pakaian sintetisnya meleleh dan menyengat kulitnya sendiri.

​Maya muncul dari pintu belakang, membawa nampan berisi kerupuk yang sebenarnya adalah cakram peledak mini. "Makan nih kerupuk pedas!" Maya melempar cakram-cakram itu ke arah mesin pendingin dapur, menciptakan ledakan asap yang membutakan lawan.

​Di luar, Arka dan Bella harus berhadapan dengan Hans Von Stitch yang sudah mengenakan jubah Neural Silk. Hans menekan sebuah tombol di jam tangannya, dan tiba-tiba Bella merasakan gelombang kesedihan yang luar biasa hebat menghantam dadanya.

​"Bella... gue... gue merasa gagal," gumam Bella, air mata mulai mengalir di pipinya. "Semua orang yang gue sayangi pergi... Ayah gue... agensi..."

​Arka juga tampak terpengaruh, wajahnya mengeras menahan amarah yang meledak-ledak. "Ini cuma pengaruh benang itu, Bel! Jangan dengerin!"

​Hans tertawa. "Kalian adalah tikus percobaan yang sempurna. Rasakan penderitaan kalian sendiri!"

​Namun, Arka melakukan sesuatu yang tidak ada dalam buku strategi mana pun. Ia menarik Bella ke dalam pelukannya, menempelkan dahi mereka. "Bel, fokus ke suara gue. Inget tiga bulan di apartemen. Inget bau rendang Siska yang gosong. Inget daster macan Maya yang konyol. Itu nyata! Benang ini cuma ilusi!"

​Sentuhan Arka dan kata-katanya menciptakan jangkar emosi yang kuat. Bella menarik napas panjang, dan perlahan-lahan kesedihannya berganti menjadi kemarahan taktis yang dingin. "Lo salah, Hans. Lo nggak bisa manipulasi hati yang udah pernah hancur lalu dijahit lagi pakai persahabatan."

​Bella menarik payung titaniumnya, membukanya untuk memantulkan sinyal frekuensi kembali ke arah Hans. Arka melesat maju, melakukan tendangan putar yang menghancurkan modul kontrol di bahu Hans.

​KRAKK!

​Jubah emas Hans korsleting, mengeluarkan percikan listrik yang menyengat pemiliknya sendiri. Hans terlempar ke arah kolam renang infinity, pingsan seketika.

​Siska dan Maya berhasil menghancurkan server utama di bawah dapur dengan bantuan cairan kimia "Pembersih Noda" yang sangat korosif. Ledakan kecil terjadi di ruang bawah tanah, mematikan seluruh sistem energi di villa tersebut.

​Malam telah jatuh sepenuhnya. Suara deburan ombak di bawah tebing kembali terdengar dominan. Para petinggi Benang Hitam yang tersisa sudah diringkus oleh tim taktis agensi yang masuk lewat helikopter.

​Bella, Arka, Siska, dan Maya berdiri di tepi tebing, menatap laut lepas. Maya sudah melepas kacamata hitamnya, daster kamboja-nya kini ternoda jelaga, tapi ia tampak bahagia.

​"Jadi... ini beneran berakhir?" tanya Maya pelan.

​"Pabrik terakhir hancur, semua pemimpin ditangkap, dan teknologinya sudah kita amankan," jawab Arka sambil melirik Bella. "Benang Hitam sudah putus sepenuhnya."

​Siska menghela napas panjang, lalu menyerahkan kotak bekal berisi rendang yang tersisa kepada Arka. "Nih, makan. Lo butuh asupan biar nggak gampang galau lagi kena benang setan itu."

​Arka tertawa, mengambil sepotong daging dan memakannya dengan lahap. "Enak. Jauh lebih enak daripada kemenangan mana pun."

​Bella menatap Arka, lalu ke arah sahabat-sahabatnya. "Kita pulang ke Jakarta?"

​"Pulang," jawab Siska dan Maya serempak.

​"Tapi Bel," potong Maya, "boleh nggak kita mampir di Krisna dulu buat beli oleh-oleh? Daster Bali motif barong lagi diskon lho!"

​Bella hanya bisa menggelengkan kepala, sementara Arka tertawa lepas. Mereka berjalan meninggalkan tebing Uluwatu bukan sebagai agen rahasia yang terasing, melainkan sebagai sebuah keluarga yang baru saja menyelesaikan jahitan terbesar dalam hidup mereka.

​Misi selesai. Tapi bagi The Justice Widows dan Arka, petualangan hidup sehari-hari di Apartemen Puri Kencana dengan segala drama daster dan rendangnya, baru saja dimulai.

1
yumin kwan
ish.... kak author keren bingitz.....
semangat kakak 💪
yumin kwan
ide ceritanya unik, lain daripada yang lain. kocak, sangat menghibur....
Talita Rafifah artanti
bagus ceritanya, menghibur, menarik untuk dibaca
yumin kwan
jadi... bakal tamat nih??!
Ayu Arsila: gak kokk... amann. 🤭
total 1 replies
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!