NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Bulan "Rumah Tangga" Intelijen

​Tiga bulan telah berlalu sejak insiden lompatan balkon yang gagal total itu. Kehidupan di Apartemen Puri Kencana lantai tiga berubah menjadi sebuah harmoni yang aneh. Arka, pria misterius dengan tato benang putus itu, kini bukan lagi sekadar tetangga misterius, melainkan bagian dari rutinitas harian The Justice Widows.

​Aliansi mereka terbentuk bukan lewat sumpah darah, melainkan lewat kesepakatan logistik: Arka menyediakan data intelijen dari laptop militer miliknya, Siska menyediakan asupan gizi tingkat tinggi, Bella mengurus strategi keamanan fisik, dan Maya... Maya memastikan semua orang tampil modis dan tidak stres.

​Setiap pukul enam pagi, koridor lantai tiga sudah riuh. Arka biasanya keluar dari unit 304 dengan kaos lari, berpapasan dengan Bella yang baru saja selesai melakukan push-up seratus kali di ruang tamunya.

​"Peta satelit menunjukkan pergerakan logistik di pelabuhan Tanjung Priok stabil, Bel. Belum ada tanda-tanda pengiriman serat sintetis baru," ujar Arka sambil melakukan peregangan di depan pintu unit Bella.

​"Bagus. Tapi jangan lengah. Gue dapet info dari tukang sayur keliling kalau ada mobil box hitam yang sering parkir di gang belakang dua hari terakhir," balas Bella sambil menyeka keringat.

​Interaksi "profesional" mereka biasanya terputus oleh suara pintu unit 301 yang terbuka lebar.

​"Woy, Agen! Arka! Masuk sini! Sarapan sudah siap! Kalau dingin rasanya kayak sepatu bot!" teriak Siska dari dalam.

​Meja makan Siska kini selalu diset untuk empat orang. Selama tiga bulan ini, Arka telah belajar bahwa tidak ada misi yang lebih berbahaya daripada menghadapi Siska saat masakannya tidak dihabiskan. Di meja itu, rencana besar disusun di antara suapan nasi uduk dan kerupuk.

​"Mas Arka," ujar Maya sambil mengoleskan selai ke rotinya, "itu laptopnya nggak bisa ya dipake buat nyari diskon daster di marketplace? Masa cuma buat liat pergerakan mafia terus? Bosan tau."

​Arka terkekeh, sebuah ekspresi yang kini lebih sering muncul di wajahnya. "Maya, kalau saya pake server agensi buat nyari diskon daster, besok pagi kita semua bakal digerebek Interpol karena dikira lagi nyuci uang lewat kain batik."

​Bulan Kedua, Penyamaran "Keluarga Bahagia"

​Memasuki bulan kedua, aliansi mereka diuji dalam misi kecil namun krusial. Ada laporan bahwa salah satu kurir sisa Benang Hitam sering mengunjungi sebuah taman bermain di Jakarta Barat. Untuk mengintai tanpa dicurigai, mereka harus melakukan penyamaran paling ekstrem "Keluarga yang sedang berlibur".

​"Gue nggak mau jadi asisten rumah tangga!" protes Maya saat pembagian peran.

​"Oke, oke. Maya jadi adik ipar yang hobi belanja. Siska jadi kakak tertua. Gue dan Arka... jadi pasangan suami istri yang lagi bawa 'anak'," Bella menjelaskan dengan wajah datar, meski telinganya sedikit memerah.

​"Anaknya siapa?" tanya Arka ragu.

​"Itu," Bella menunjuk sebuah boneka reborn yang sudah dimodifikasi dengan kamera 360 derajat di bagian matanya.

​Selama akhir pekan itu, mereka berkeliling taman bermain. Arka menggendong "anak" tersebut dengan sangat kaku seperti memegang bom yang siap meledak sementara Bella menggandeng lengannya dengan canggung.

​"Rileks, Arka. Kita ini lagi pura-pura bahagia, bukan lagi nunggu eksekusi mati," bisik Bella tajam.

​"Gue lebih milih dikepung sepuluh ninja daripada harus pura-pura mesra di depan bianglala, Bel," balas Arka pelan.

​Di belakang mereka, Siska dan Maya sibuk memakan kembang gula sambil memantau layar ponsel yang terhubung ke kamera boneka. "Liat tuh, Bel! Arka mesem-mesem dikit kek! Masa mukanya kayak robot kehabisan baterai," ejek Maya lewat earpiece.

​Misi itu berhasil. Mereka mendapatkan data wajah sang kurir. Tapi yang lebih penting, selama tiga bulan itu, tembok pertahanan Bella perlahan mulai runtuh. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran Arka yang selalu memeriksa kunci pintunya setiap malam atau membantu Siska mengangkat galon air tanpa diminta.

​Bulan Ketiga: Drama Sambal dan Rahasia Masa Lalu

​Bulan ketiga membawa kedekatan yang lebih personal. Suatu malam, saat hujan deras mengguyur Jakarta, listrik apartemen padam. Mereka berkumpul di unit Siska dengan penerangan lilin.

​Arka akhirnya bercerita. "Dulu, gue adalah 'tukang beresin' di The Needleless. Gue yang jahit rencana mereka. Tapi saat gue sadar mereka mau ngeracunin air minum satu kota hanya untuk tes efektivitas serat, gue mutusin buat berhenti. Gue hancurin laboratorium mereka dan kabur."

​"Kenapa pindah ke Puri Kencana?" tanya Siska lembut.

​"Karena gue tahu di sini ada tiga wanita yang sanggup nangkep Don Toro dan menghancurkan satelit Fiona," Arka menatap mereka bertiga bergantian. "Gue butuh sekutu yang punya hati, bukan cuma punya senjata."

​Maya terharu, matanya berkaca-kaca. "Mas Arka... jadi selama ini Mas ngefans sama kita?"

​Arka tersenyum tulus. "Bisa dibilang begitu."

​Namun, kehangatan itu terusik saat Bella menyadari sesuatu dari foto peta terbaru yang sedang diproses laptop Arka. "Tunggu... titik merah ini. Ini bukan di Jakarta lagi."

​"Dimana?" tanya Siska.

​"Bali," jawab Bella dan Arka serempak. "Ada pertemuan besar seluruh sisa pemimpin Benang Hitam di sebuah villa terpencil di Uluwatu. Mereka mau milih pemimpin baru."

​Arka menutup laptopnya. "Tiga bulan latihan dan hidup bareng ini sudah cukup buat kita jadi tim yang solid. Gimana? Mau jalan-jalan ke Bali? Kali ini bukan buat liburan, tapi buat mutusin benang mereka selamanya."

​Siska berdiri dan mengambil sutil titaniumnya yang berkilau di bawah cahaya lilin. "Gue sudah kangen masak pakai sambal matah yang beneran."

​Maya melompat berdiri, "Bali! Pantai! Aku harus pesen daster motif tropical yang antipeluru dan bisa dipake berenang!"

​Bella menatap Arka, lalu mengulurkan tangannya. "Satu misi terakhir, Arka. Sebagai tim."

​Arka menyambut tangan Bella, menjabatnya dengan erat. "Sebagai keluarga, Bella."

​Malam itu, di Apartemen Puri Kencana, tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Tiga janda dan satu agen pembelot telah bertransformasi menjadi unit paling mematikan yang pernah ada. Persiapan untuk misi Bali dimulai, dan dunia Benang Hitam tidak akan pernah menyangka bahwa kehancuran mereka akan datang dari tangan seorang pria misterius dan tiga wanita berisik yang sangat mencintai daster mereka.

Namun, di balik persiapan taktis yang intens, tiga bulan kebersamaan itu juga menyisakan momen-momen "domestik" yang menggelitik. Arka, yang dulunya hidup bagaikan hantu tanpa jejak, kini harus terbiasa dengan jadwal "Piket Jemuran" yang dibuat oleh Maya. Tidak jarang Bella mendapati sang agen elit itu sedang serius melipat daster macan milik Maya sambil tetap mengenakan headset taktis di telinganya.

​"Arka, itu lipatannya jangan terlalu kaku, nanti serat mikronya stres!" teriak Maya dari ruang tengah, sementara Arka hanya bisa menghela napas pasrah, menyadari bahwa mengalahkan sindikat internasional jauh lebih mudah daripada menyenangkan selera fasyen seorang Maya Adinda.

​Siska juga sering melibatkan Arka dalam eksperimen kulinernya. Arka menjadi "kelinci percobaan" utama untuk saus-saus baru yang tingkat kepedasannya sanggup melumpuhkan gajah. "Gimana, Ka? Ada rasa besi-besinya nggak?" tanya Siska antusias. Arka hanya bisa mengangguk sambil bermandi keringat, lidahnya kelu namun hatinya merasa hangat. Bagi mereka, apartemen ini bukan lagi sekadar tempat persembunyian, melainkan pelabuhan terakhir di mana luka masa lalu dijahit kembali dengan benang persaudaraan yang baru. Di antara tawa di meja makan dan strategi perang di layar monitor, mereka menyadari bahwa misi ke Bali bukan sekadar tentang tugas, melainkan tentang melindungi "rumah" yang baru saja mereka bangun bersama.

1
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!