NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Perjaka

Dinikahi Duda Perjaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Amalia

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mobil BMW XM

“Naik grab, gak apa-apa ‘kan?” tanya Reynan pada Zara.

“Gak apa-apa,” jawabnya.

“Ya udah, yuk. Itu mobilnya,” ujar Reynan seraya menunjuk pada mobil yang terparkir di bawah pohon rambutan.

Zara menganggukan kepalanya. Keduanya pun melangkahkan kaki menuju mobil itu.

Saat ini mereka akan pergi ke restoran, setelahnya baru pergi ke tempat yang dimaksud Reynan.

Sebelumnya, Reynan dan Zara sudah izin lebih dulu pada Budi dan Lia, bahwa mereka akan pulang duluan.

“Makan di sini?” tanya Zara kala mobil itu berhenti tepat di depan restoran Jepang.

“Iya. Kenapa? Kamu gak suka makanan Jepang?” tanya Reynan.

“S-suka …” jawab Zara terbata.

“Ya udah kalo suka. Ayo masuk,” ajaknya.

Dengan ragu, Zara pun menganggukan kepalanya.

Keduanya pun masuk, lalu mencari tempat duduk, setelahnya memanggil pelayan.

“Mau makan apa?” tanya Reynan pada Zara, seraya memberikan buku menu.

“Kamu mau apa?” Zara berbalik tanya.

“Wagyu Ribeye Steak and Truffle Mashed Potato, em- Dessert Matcha Ice Cream,” kata Reynan. “Kamu apa?” tanyanya pada Zara.

“Eh, minumnya Ramune aja, Mbak,” tambahnya.

“Baik, Mas.” Pelayan pun langsung mencatat pesanan Reynan.

“Em Sushi Maki, Otoro dan Ikura Salmon Roe,” kata Zara seraya menatap pada buku menu di depannya.

“Minumnya apa, Kak?” tanya pelayan pada Zara.

“Green Tea PUMA, aja.” Zara menjawab seraya melirik pada Reynan.

Namun ia tidak melihat wajah Reynan yang keberatan. Wajahnya tampak biasa saja.

Atau mungkin, tidak mendengar karena sedang sibuk dengan ponselnya?!

“Baik, Kak. Ditunggu ya,” kata pelayan.

“Iya,” jawab Zara dengan anggukan dan senyum tipis.

“Kamu tau saya pesan apa saja?” tanya Zara.

“Tau,” jawab Reynan.

“Apa aja?” Zara kembali bertanya.

Reynan menaruh ponselnya lalu menoleh pada Zara dan menjawabnya. “Sushi Maki, Otoro, Ikura Salmon Roe, minumnya Green Tea PUMA,” jawab Reynan seraya mengangkat alisnya satu. “Itu ‘kan?” tanyanya.

“I-iya … itu …”

“Lalu?” tanya Reynan.

“Ah enggak,” jawab Zara.

Reynan pun menganggukan kepalanya. Ia pun kembali mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, karena ada pesan yang masuk.

Sedangkan dengan Zara, ia ingin melihat bagaimana reaksi Reynan kala ia memesan makanan yang harganya cukup tinggi.

Namun Reynan biasa saja. Seolah-olah itu hal biasa.

Apa Reynan memang begitu kaya? Sehingga ia memesan minum yang harganya selangit. Jika dihitung, sampai bisa membeli beras tiga puluh kilo, bahkan lebih.

Ah gila … demi ingin melihat reaksi seseorang, sampai melakukan hal seperti ini.

Setelah menunggu, pesanan pun datang. Keduanya pun mulai memakannya.

“Boleh minta gak?” tanya Reynan pada Zara.

“Ambil aja,” kata Zara.

Reynan pun langsung mengambil Sushi dan memakannya. “Enak,” ucapnya seraya menganggukan kepalanya.

Setelah beberapa saat, Reynan lebih dulu selesai. “mau gak?” Reynan menyodorkan es krim matcha pada Zara.

“Kenapa gak di makan?” tanya Zara.

“Kenyang,” jawab Reynan.

Tanpa menolak, Zara pun mengambilnya dan ia taruh di meja, tepat di hadapannya.

Reynan hanya tersenyum kecil seraya menggelengkan pelan kepalanya.

Badanya kecil, tapi makannya banyak juga. Begitu kira-kira isi pikiran dan hati Reynan.

“Udah?” tanya Reynan.

“Udah,” jawab Zara.

“Ya udah. ayo,” ajaknya.

Setelah membayarnya, mereka pun keluar dari restoran itu.

Zara cukup kagum pada Reynan. Pasalnya Reynan langsung membayar tagihan makannya, tanpa bilang apa-apa.

Misal: bayarnya masing-masing ya.

Tidak.

Reynan tidak begitu.

Berbeda dengan … ah, jadi keinget lagi ‘kan lelaki bajingan itu.

Zara pun segera menggelengkan kepalanya. Dengan begitu, siapa tahu isi otaknya kembali normal.

“Mobilnya belum datang. Kita tunggu dulu,” kata Reynan. “Duduk dulu di sana, ya,” lanjutnya.

Zara pun menurut.

“Saya ngerokok, boleh?” tanya Reynan lagi.

Zara menanggapinya dengan memutar malas bola matanya.

Namun begitu, Reynan tidak melakukannya. Ia malah mengambil ponselnya lalu mengotak atiknya.

“Kenapa?” tanya Zara.

“Kenapa apanya?” Reynan kembali bertanya.

“Katanya tadi mau ngerokok,” ujar Zara.

“Kamu responnya tadi seperti itu,” ucapnya.

“Lalu?”

“Ya, saya kira … dengan respon kamu seperti itu. Kamu keberatan saya merokok,” kata Reynan.

Zara berhem kecil dan … entah … kenapa tiba-tiba pipinya terasa panas.

Bibirnya mengulum senyum, lalu ia pun menggigit pipi dalamnya.

Keduanya pun, kembali terdiam.

Zara dengan perasaan yang … entah seperti apa.

Sedangkan Reynan sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang sedang dibahasnya itu, tapi terlihat cukup serius. Terbukti dengan mimik wajahnya.

Klakson mobil terdengar. Reynan pun mengangkat kepalanya, sedangkan Zara menoleh pada sumber suara.

Zara mengerutkan dahinya. Namun tidak dengan Reynan, ia beranjak dari duduknya. “Ayo,” ajaknya pada Zara.

“I-ini grab-nya?” tanya Zara terbata. Karena ia cukup heran, mana ada orang nge-grab dengan mobil BMW XM.

Namun, sebelum Reynan menjawabnya, seseorang keluar dari balik kemudi dan memberikan kunci mobil itu pada Reynan.

“Ini. Pak,” ucapnya pada Reynan.

“Makasih, ya.” Reynan mengambil kunci itu.

“Iya, Pak.”

“Uang buat ongkos kamu, sudah saya transfer.”

“Terima kasih, Pak.”

“Semuanya, aman ‘kan?”

“Aman, insya Allah.”

“Bagus kalo begitu. Materi untuk lusa, nanti saya kirim ke email kamu. Kamu pelajari lebih dulu, jika ada yang belum paham, tanyakan.”

“Siap, Pak.”

“Ya sudah, saya pergi dulu.”

“Iya, Pak. Silahkan. Hati-hati,” ucapnya.

“Iya,” jawab Reynan. “Ayo,” lanjutnya pada Zara.

Namun Zara masih shock, ia mematung.

“Za … ayo,” ajak Reynan lagi seraya menepuk pelan bahu Zara.

“Ah, ya.”

“Ayo. Nanti keburu siang,” ucapnya.

“Ah, ya ya.” Lekas Zara pun masuk ke dalam mobil, setelah Reynan membukakan pintunya.

“Hati-hati, Pak.” Pria yang tadi membawa mobil itu, kembali bicara.

Reynan menganggukan kepalanya.

Pria itu menatap kepergian mobil Reynan dengan senyumnya. “Pacarnya Pak Reynan mungkin,” gumamnya.

***

“Anaknya Pak Reza sedang dalam perjalanan ke sini. Semuanya sambut dengan baik. Ingat, dia adalah anak dari pemilik perusahaan ini.”

“Siap, Pak.” para pekerja menjawab bersamaan.

“Jangan ada yang bicara aneh-aneh atau mengadukan apapun.”

“Jika bertanya, baru jawab. Itu pun harus sesuai dengan arahan saya tadi,” sambungnya.

“Iya. Pak,” sahutnya lagi.

“Data-data bagaimana?”

“Semuanya sudah aman.” Amir yang menjawab.

“Bagus.”

“Kantor sudah dibersihkan?”

“Sudah.” Amir kembali menjawab.

“Ya bagus. Kita tunggu, mungkin sebentar lagi datang,” ucapnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!