Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
"Halo, Kang? Kenapa?"
"Aduh, Bos... Ini pelanggan yang mau modif moge custom itu sudah datang. Dia mau konsepnya diubah total, saya sama anak-anak bingung ini bagian sasisnya mau dilarikan ke mana. Harus Bos yang turun tangan langsung ini mah," suara Kang Rian terdengar agak panik di seberang sana.
Rangga menghela napas, ia melirik Ayu yang masih sibuk di balik etalase. "Oke, sepuluh menit lagi saya sampai."
Rangga menghampiri Ayu yang sedang sibuk mengelap meja. "Yu, saya ke bengkel dulu ya."
"Ya sudah, sana pergi! Dari tadi juga disuruh pergi malah asik jadi pelayan," sahut Ayu ketus, tapi ada sedikit nada lega karena akhirnya pria itu kembali bekerja.
Sesampainya di bengkel, suasana memang sudah ramai. Sebuah motor besar berkapasitas mesin 600cc sudah terlanjur dipreteli. Kang Rian dan beberapa rekan mekanik lainnya tampak sedang berdiskusi sengit di depan sketsa desain.
"Nah, ini dia Bosnya datang!" seru Kang Rian lega.
"Mana masalahnya, Kang? Sasis belakang?" tanya Rangga sambil berjongkok di samping motor tersebut, matanya langsung fokus ke arah kerangka.
"Iya, Ngga. Kalau mau dibuat gaya cafe racer tapi tetap nyaman buat boncengan, sudutnya harus diubah. Tapi gue takut kalau dipaksain nanti malah nggak stabil pas dibawa lari kencang," jelas Kang Rian sambil menunjukkan titik tumpuan beban.
Selama beberapa jam, Rangga benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya. Peluh mulai membasahi dahinya, dan tangannya kini penuh dengan noda oli hitam.
Sekitar jam dua siang, saat matahari Bandung sedang terik-teriknya. Sebuah motor berhenti di depan pagar. Sosok wanita dengan hijab instan berwarna gelap. Sambil menenteng dua bungkusan plastik.
"Loh, Ayu?" Rangga langsung meletakkan kunci pasnya dan berjalan menghampiri dengan senyum yang sangat lebar.
"Ya ampun, kamu perhatian banget sampai nganterin makan siang ke sini. Tahu aja kalau saya lagi lapar."
Ayu mendengus keras, wajahnya terlihat jengkel mendengar kepedean Rangga yang sudah setinggi langit. Ia langsung menyodorkan bungkusan plastik itu dengan kasar ke arah dada Rangga.
"Nggak usah kegeeran ya, Mas!" potong Ayu cepat.
"Ini gara-gara Nenek! Nenek maksa aku ke sini, katanya kasihan Mas Rangga sama teman-temannya belum makan dari pagi. Kalau bukan karena dipaksa Nenek, aku juga nggak akan mau datang ke sini panas-panas begini!"
Senyum Rangga sedikit menciut, "Halah, alasan saja itu. Bilang saja memang kangen mau lihat saya kan."
"Mas! Sekali lagi ngomong gitu, ini nasi aku bawa balik lagi ya!" ancam Ayu sambil melotot tajam. "Nih, ambil! Aku mau langsung pulang, masih banyak kerjaan di kedai."
Kang Rian yang melihat dari kejauhan hanya bisa tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Udah, Ngga, jangan dipancing terus. Makasih ya, Neng Ayu, sudah repot-repot. Si Rangga emang mulutnya perlu diservis berkala."
Ayu hanya mengangguk sopan pada Kang Rian, lalu tanpa sepatah kata lagi pada Rangga, ia langsung berbalik menuju motornya.
Rangga terkekeh melihat wajah jengkel Ayu. Bukannya kapok, ia justru semakin menjadi-jadi menggoda wanita itu di depan rekan-rekan mekaniknya. Begitu Ayu hendak membalikkan badan untuk naik ke motornya, Rangga sengaja melangkah maju satu langkah.
"Aduh, sudah capek-capek nganterin, masa langsung pergi? Sun dulu dong sebagai tanda terima kasih," ucap Rangga sambil memajukan pipinya dengan wajah tanpa dosa.
Ayu langsung berhenti dan berbalik dengan mata melotot sempurna. "Mas Rangga! Mau aku gampar yaa"
"Loh, Yu! Kok langsung pulang? Nggak mau nemenin saya makan dulu?" teriak Rangga sambil memperhatikan punggung Ayu.
"Makan saja sendiri sama oli!" sahut Ayu tanpa menoleh, langsung menyalakan mesin motornya dan pergi.
Setelah debu motor Ayu menghilang di tikungan jalan, suasana bengkel kembali sedikit tenang. Rangga masih berdiri di sana sambil menatap ke arah perginya Ayu, senyumnya belum hilang sedikit pun.
Kang Rian mendekat, menepuk bahu Rangga dengan cukup keras hingga pria itu tersadar dari lamunannya. Kang Rian yang memang sudah tahu seluruh sejarah hubungan Rangga dan Ayu sejak tujuh tahun lalu, menggeleng-gelengkan kepala.
"Ngga, Ngga... gaya lo selangit," ucap Kang Rian sambil mengambil satu bungkus nasi dari plastik.
"Dulu siapa ya yang mabuk kerja tiap hari gara-gara diputusin? Katanya sudah move on, nggak bakal mau lihat mukanya lagi, eh sekarang malah minta sun."
Rangga terdiam sejenak, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia mengambil nasi miliknya dan duduk di atas kursi plastik bersama rekan lainnya.
"Ya namanya juga usaha, Kang. Dulu kan saya masih muda, emosinya masih labil. Sekarang sudah beda cerita," bela Rangga sambil mulai membuka bungkus nasinya.
"Halah, alasan lo," sahut Kang Rian sambil tertawa kecil.
Setelah seharian bergulat dengan oli dan mesin di bengkel, Rangga merasa tubuhnya jauh lebih segar setelah mandi air hangat. Rambutnya masih sedikit basah saat ia merebahkan diri di tempat tidur, lalu meraih ponselnya. Tanpa ragu, ia menekan nama Ayu.
Butuh beberapa kali nada sambung sebelum akhirnya suara ketus yang sangat ia kenali terdengar di seberang sana.
"Halo? Apa lagi sih, Mas? Ini sudah jam delapan malam!" sahut Ayu. Di layar ponsel, tampak Ayu masih mengenakan hijab instan rumahan berwarna abu-abu, wajahnya terlihat lelah namun tetap manis di mata Rangga.
Rangga terkekeh, ia sengaja menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sambil menatap wajah Ayu di layar. "Galak amat, Yu. Baru juga dihubungi calon suami."
"Mas Rangga! Kalau cuma mau ngomong nggak jelas, aku tutup ya!" ancam Ayu, tangannya sudah bersiap menekan tombol merah.
"Eh, eh! Jangan dulu!" cegah Rangga cepat. "Kedai sudah tutup belum? Bandung lagi cerah nih, nggak hujan. Temani keluar yuk, kita jalan-jalan sebentar. Cari angin."
Ayu mendengus, ia tampak menjauhkan ponselnya sebentar untuk merapikan sisa-sisa gelas di meja dapur kedai. "Nggak mau. Aku capek, seharian di kedai, terus tadi harus antar makan siang buat om-om yang banyak maunya."
"Yah, padahal saya mau kasih reward buat kurir makanan yang paling cantik se-Bandung," bujuk Rangga dengan nada suara yang mulai melembut.
"Sebentar saja, Yu. Kita cari martabak atau sekadar keliling naik motor. Saya jemput sekarang ya?"
"Nggak usah jemput. Aku nggak bilang mau," jawab Ayu.
"Oke, sepuluh menit lagi saya sampai depan gerbang. Jangan lupa pakai jaket, udara Bandung malam ini lagi dingin-dinginnya," ucap Rangga final, lalu langsung mematikan sambungan telepon sebelum Ayu sempat memprotes lebih jauh.
Di kedai, Ayu hanya bisa menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan perasaan campur aduk.
"Benar-benar ya, itu orang nggak pernah berubah. Selalu saja maksa!" gerutunya, namun anehnya, kakinya justru melangkah menuju kamar untuk mengganti hijabnya dengan yang lebih rapi dan mengambil jaket kesayangannya.
Suara deru mesin Honda CB klasik milik Rangga berhenti di depan kedai milik ayu. Ia sengaja membawa motor ini karena joknya yang datar memungkinkan mereka duduk lebih dekat,
Ayu keluar dengan jaket denim dan hijab instan senada, wajahnya masih ditekuk masam meski matanya sempat mengagumi motor tersebut. "Kenapa pakai motor beginian, Mas? Berisik tahu."
"Ini namanya seni, Yu. Lagian kalau pakai motor ini, kita bisa lebih dekat," sahut Rangga sambil turun dari motor dan melangkah mantap menuju pintu rumah.
"Ayo, saya mau izin dulu sama Nenek."
Nenek Tari yang sedang bersantai di ruang tengah hanya senyum-senyum melihat kedatangan Rangga yang sudah rapi dan wangi.
"Nek, izin bawa cucunya keluar sebentar ya. Mau cari angin biar nggak galak terus di rumah," pamit Rangga sambil menyalami tangan Nenek.
"Iya, Den. Tapi jangan lama-lama ya, kasihan Ayu besok harus bangun subuh buat ke pasar," pesan Nenek Tari sambil melirik Ayu yang berdiri cemberut di belakang Rangga.
"Siap, jam sepuluh sudah saya balikin dalam keadaan utuh tanpa lecet, Nek!"
Setelah mendapat restu, mereka akhirnya membelah jalanan Bandung yang mulai mendingin. Ayu terpaksa memegang pinggang jaket Rangga karena tarikan motor CB itu cukup kuat di setiap operan giginya. Udara malam merayap masuk ke celah-celah jaket mereka.
Saat melewati area jalanan yang dipenuhi lampu-lampu estetik dan bangunan tua di sepanjang Jalan Asia Afrika, Rangga sengaja melambatkan laju motornya. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma parfum kayu manis dari tubuh Rangga.
"Tahu nggak, Yu? Orang-orang bilang Bandung itu diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum," ucap Rangga dengan suara bariton yang terdengar jelas meski tertutup helm.
"Bagi saya, Bandung itu kota cinta. Kota yang selalu punya cara buat mempertemukan kembali orang yang harusnya barengan, walaupun jalannya berliku kayak jalan ke Lembang."
"Gombal terus! Bandung itu kota macet sama kota dingin, Mas"
"Dingin kan biar kamu ada alasan buat pegangan lebih erat ke saya, Yu," balas Rangga sambil tertawa kecil, sengaja memutar gas sedikit lebih dalam agar motornya sedikit menghentak, membuat Ayu refleks memeluk pinggangnya lebih kencang.
"Mas Rangga! Sengaja ya!" seru Ayu sambil mencubit pinggang Rangga keras-keras, membuat pria itu tergelak di sepanjang jalanan kota Bandung.