NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Pengasuh
Popularitas:28k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 CURHAT.

Malam turun perlahan, membawa kesunyian yang terasa lebih pekat dari biasanya.

Di dalam kamarnya, Sari merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lampu tidur menyala redup, memantulkan bayangan lembut di dinding. Tubuhnya memang lelah, namun pikirannya tak pernah benar-benar bisa beristirahat.

Bayangan Queen yang tersenyum, Ammar yang terlihat lebih hangat akhir-akhir ini, serta kabar tentang kepulangan ke rumah orang tua Ammar terus berputar di kepalanya.

Sari menarik selimut hingga sebatas dada dan mencoba memejamkan mata. Namun belum sempat ia terlelap

Ceklek.

Suara pintu terbuka membuatnya tersentak.

Sari langsung duduk. Matanya membelalak saat melihat sosok Ammar berdiri di ambang pintu kamarnya.

“T-Tuan…” ucapnya gugup. “Ada apa Anda ke sini?”

Ammar menutup pintu pelan, langkahnya tenang namun raut wajahnya tampak lelah. Tidak dingin, tidak tegas melainkan kosong. Ia tersenyum tipis.

“Temani aku ngobrol,” katanya pelan. “Aku sedang tidak ingin sendirian.”

Sari terdiam. Ia meremas ujung selimut, hatinya berdebar tak menentu. “Tapi, Tuan… ini sudah malam.”

Ammar melangkah mendekat, lalu duduk di sisi ranjang dengan jarak yang masih sopan. “Hanya sebentar,” bujuknya lembut. “Aku hanya ingin bicara.”

Tatapan Ammar berbeda malam ini. Tidak menuntut. Tidak memaksa. Hanya… meminta.

Sari menghela napas pelan, lalu mengangguk kecil.

“Baik, Tuan.”

Ammar menatap ke depan, bukan pada Sari. Suaranya terdengar berat saat ia mulai berbicara.

“Hidupku sedang tidak baik-baik saja,” ucapnya jujur. “Aku pikir setelah semuanya selesai… setelah Sabrina pergi… aku akan merasa lega.” Ia tertawa kecil, pahit.

“Ternyata tidak.”

Sari menunduk, mendengarkan.

“Perceraian bukan hal mudah,” lanjut Ammar. “Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Aku membangun hidupku bersamanya, bermimpi bersamanya.” Tangannya mengepal pelan.

“Dan sekarang semuanya runtuh begitu saja.”

Sari merasakan sesuatu mencubit dadanya. Ia ingin berkata sesuatu menghibur, menenangkan namun lidahnya kelu.

Ammar menghembuskan napas panjang. “Aku gagal sebagai suami,” katanya lirih. “Dan hampir gagal sebagai ayah.”

Sari menggeleng kecil tanpa sadar. “Tidak, Tuan… Queen sangat menyayangi Anda.”

Ammar menoleh, menatapnya. “Itu karena kamu.”

Sari tersentak. “Saya hanya....”

“Kamu yang selalu ada untuknya,” potong Ammar pelan.

“Saat aku sibuk, saat ibunya pergi, kamu yang memeluknya ketika ia sakit. Kamu yang mendengarkan ceritanya.” Tatapan Ammar begitu lekat hingga membuat napas Sari terasa pendek.

Hatinya berbisik, getir.

Apa yang sedang aku pikirkan…

Tentu saja Tuan Ammar sangat mencintai Nyonya Sabrina.

Tidak mungkin ia memiliki perasaan kepada seorang pengasuh seperti aku.

Sari menunduk lebih dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Namun Ammar mengangkat dagunya perlahan, membuatnya terpaksa menatap wajah pria itu. “Aku tidak ingin sendirian lagi,” bisik Ammar. “Dan untuk pertama kalinya… aku tidak merasa kosong saat bersamamu.”

Jantung Sari berdetak kencang. “Tuan…” suaranya bergetar. “Ini tidak benar.”

Ammar mendekat sedikit. “Mungkin,” katanya pelan.

“Tapi ini nyata.” Ia menatap bibir Sari sejenak, seolah meminta izin. Tidak ada paksaan di matanya hanya keraguan dan kebutuhan akan kehangatan.

Sari ingin menolak. Namun tubuh dan hatinya tak sekuat tekadnya. Saat bibir Ammar menyentuh bibirnya lembut, hati-hati Sari menutup mata. Tidak ada gairah yang membara, hanya perasaan campur aduk antara takut, sedih, dan… diterima.

Ammar memeluknya, bukan dengan nafsu, melainkan dengan kelelahan seorang pria yang kehilangan arah.

“Aku akan mencoba melupakan Sabrina,” bisik Ammar di sela napas. “Dan mencoba menerima kehadiranmu di sisiku.”

Kalimat itu membuat dada Sari sesak. Ia tahu… ini bukan awal yang sempurna. Ini bukan cinta yang tumbuh perlahan dan indah. Ini lahir dari luka.

Namun malam itu, dalam pelukan Ammar, Sari merasa untuk sesaat ia tidak sendirian.

Lampu kamar tetap menyala redup. Di luar, malam terus berjalan.

Ammar dan sari saling memadu kasih di atas tempat tidur. yang awalnya hanya mengobrol namun akhirnya menjadi pergelutan dua manusia.

Keringat saling bercucuran. mereka saling mengatur nafas.. gerakan ammar membuat sari tidak bisa berkata apa-apa bahkan sari sangat sulit untuk menolak.

sari tidak menginginkan ini tapi tubuh nya tidak bisa menolak.

#SKIP

PAGI HARI.

Jam dinding di kamar menunjukkan pukul empat tepat ketika Ammar perlahan bangkit dari sisi ranjang.

Langkahnya sangat hati-hati, seolah takut membangunkan Sari yang tertidur lelap di sampingnya. Napas Sari teratur, wajahnya tampak damai kontras dengan isi kepala Ammar yang justru berisik dan penuh pertanyaan.

Ammar menatapnya sejenak. Ada rasa bersalah yang menyelinap, bercampur dengan tekad yang belum sepenuhnya matang. Ia menarik selimut Sari lebih rapat, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa suara.

Lorong rumah masih sunyi. Lampu-lampu temaram menyala setengah, menyisakan bayangan panjang di lantai marmer. Saat Ammar menuruni beberapa anak tangga, langkahnya terhenti.

Kepala pelayan berdiri di ujung lorong.

Tatapan mereka bertemu. Hanya sepersekian detik cukup untuk saling memahami apa yang baru saja terjadi.

Ammar mendekat, wajahnya dingin namun tenang.

“Kamu tidak melihat apa pun,” ucapnya rendah.

Kepala pelayan membuka mulut, namun Ammar lebih cepat. Ia menyelipkan amplop tebal ke tangan pria itu.

“Bonus dobel,” lanjut Ammar singkat. “Dan aku harap kamu tetap profesional.”

Kepala pelayan menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “Baik, Tuan.”

Ammar tidak menoleh lagi. Ia melangkah pergi, meninggalkan lorong yang kembali sunyi namun menyisakan sesuatu yang tak kasatmata: rahasia.

Beberapa saat kemudian, Sari terbangun. Ia mengerjap pelan, meraba sisi ranjang yang kosong. Dingin. Tidak ada siapa-siapa. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat bukan panik, melainkan perasaan ganjil yang sulit ia namai.

Sari duduk, menarik napas dalam. Ia tidak ingin larut. Ia tidak ingin memikirkan terlalu jauh. Dengan langkah pelan, ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Air mengalir menenangkan, membasuh wajah dan pikirannya yang masih kabur.

Usai berganti pakaian, Sari melangkah keluar kamar. Tujuannya jelas: kamar Queen.

Di tangga, ia berpapasan dengan kepala pelayan.

Pria itu berhenti sejenak, lalu tersenyum senyum yang aneh, sinis, dan membuat Sari merasa ada yang tidak beres. Namun Sari tidak curiga. Ia membalas dengan anggukan sopan, seperti biasa.

“Pagi,” ucap Sari lembut.

“Pagi,” jawab kepala pelayan singkat, senyumnya tak berubah.

Sari melanjutkan langkahnya, tidak tahu apa pun tentang pandangan itu atau tentang rahasia yang baru saja dititipkan dengan amplop tebal.

Di kamar Queen, suasana hangat menyambutnya. Queen masih tertidur, memeluk boneka kesayangannya. Sari tersenyum kecil, lalu duduk di tepi ranjang, mengusap rambut halus itu dengan penuh kasih.

“Pagi, nona kecil,” bisiknya.

Queen menggeliat pelan, lalu membuka mata setengah. “Kak Sari…” gumamnya.

“Iya, Kakak di sini,” jawab Sari lembut.

Queen tersenyum, lalu kembali terlelap. Sari tetap duduk, menemani. Ia tidak tahu bahwa pagi itu akan menjadi awal dari bisik-bisik, tatapan, dan konsekuensi yang tak terhindarkan.

Di luar kamar, rumah besar itu kembali bergerak.

Dan di balik dinding-dindingnya, sebuah rahasia mulai berakar diam, namun berbahaya.

1
💗 AR Althafunisa 💗
Kaya-kaya koq bisa dimanfaatkan begitu, kagak ada ketenangan, kagak ada kehangatan. Sepi seakan tak punya istri kalau begitu, kenapa ga cerai aja sih 😬
ollyooliver🍌🥒🍆
saranku sih pangggil mama aja, soalnya kalau anak sari lahir, trus panggil ammar papa dan sari bunda jatohnya kek.. anaknya sari juga anak tiri/anak angkat karna mengikuti panggilan queen.
Yatiek Widhodho
lanjut thorr
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
selamat ya Sari..
Felycia R. Fernandez
jadi ingat nge liwet dengan teman2 kerja🤍
Felycia R. Fernandez
aku laper jadinya 🤤😆😆😆
Felycia R. Fernandez
mas Ammar donk,masa panggil nama aja
Felycia R. Fernandez
Tetiba membuat nya berdua,eeeh yang salah cuma Ammar sendiri 🤣🤣🤣🤣
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤦‍♀️😭😭😭😭
Reni Anjarwani
makin seru thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Queen kamu akan punya bunda🥰🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yeaaayyy queen punya bunda🥰🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Felycia R. Fernandez
biang kerok,gak bisa nahan nafsu🤬
Felycia R. Fernandez
ikutan 😭😭😭😭😭😭😭
Felycia R. Fernandez
ini datang karena Queen rindu atau sekaligus melamar Sari
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
😥😥😥😥😥😥
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semoga keluarga Ammar benar² menerima Sari..
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yang kuat ya Sari...
Sweetie blue
Sejauh ini yang aku baca ada pesan yang di taman dalam cerita ini.

jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.

kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍

Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍
Felycia R. Fernandez: Sebenarnya gak gtu juga kk,
istri bole bekerja,aku juga bekerja.cuma kita juga harus ingat kewajiban kita sebagai istri dan ibu.
Sabrina diijinkan Ammar kerja tapi dia kebablasan,malah mentingin kerjaaan dari suami dan anak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!