Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
siji (1)
Keheningan di Sektor 7 bukan berarti ketiadaan suara. Bagi Elena, keheningan adalah simfoni dari dengung konstan mesin pendingin nitrogen, detak jarum jam digital yang tidak pernah sinkron, dan suara gesekan ujung pulpennya di atas kertas kalkir. Di dalam laboratorium bawah tanah yang terletak tiga puluh meter di bawah permukaan kota yang sibuk ini, Elena adalah seorang ratu yang tidak peduli pada matahari.
Sudah hari ketujuh. Atau kedelapan ya? Elena tidak lagi repot-repot menghitung rotasi bumi. Baginya, waktu hanyalah variabel yang bisa dimanipulasi di dalam tabung reaksi.
Ia berdiri tegak di depan meja laboratorium berbahan baja nirkarat. Matanya yang tajam, terbingkai oleh kacamata pelindung polikarbonat, menatap sebuah bejana kaca berisi cairan berwarna ungu ultraviolet. Cairan itu berputar lambat, menciptakan pusaran kecil yang tampak seperti galaksi mini yang terperangkap dalam botol.
"Elena, kamu harus makan."
Suara itu datang dari interkom. Itu adalah suara Dr. Aris, asisten senior yang sudah menyerah mencoba masuk ke dalam ruangan itu karena Elena telah mengunci akses pintu secara biometrik dari dalam.
Elena tidak menjawab. Jemarinya yang ramping, terbungkus sarung tangan lateks hitam, tetap stabil saat memegang mikropipet. Ia sedang melakukan titrasi pada larutan Ammonium-Nitrate yang telah dimodifikasi dengan isotop radioaktif.
"Elena! Direktur Utama mencarimu. Mereka menuntut laporan tentang Project Genesis. Dana hibah tiga puluh juta dolar itu bukan untuk kamu pakai bermain-main dengan lubang hitam!" suara di interkom terdengar makin panik.
Elena akhirnya mendengus. Sebuah seringai tipis, hampir tak terlihat, muncul di bibirnya yang kering. "Katakan pada mereka, Aris... kemajuan tidak bisa dijadwalkan seperti jam makan siang mereka yang membosankan. Jika mereka ingin laporan, mereka bisa membacanya di surat kabar setelah aku berhasil mengubah sejarah umat manusia."
Klik.
Elena mematikan interkom. Sekarang, hanya ada dia dan ambisinya.
Ia kembali fokus pada layar monitor yang menampilkan grafik fluktuasi energi. Project Genesis bukan sekadar proyek medis. Elena ingin menciptakan 'Katalis Absolut' sebuah zat yang bisa memicu pembelahan sel tanpa batas tanpa menyebabkan mutasi kanker.
Secara teori, zat ini bisa menyembuhkan luka apapun dalam hitungan detik, bahkan menghidupkan kembali jaringan yang telah mati.
Namun, Elena tahu ada ambang batas yang belum terpecahkan. Ada titik di mana kimia bertemu dengan fisika kuantum, sebuah wilayah abu-abu yang ditakuti oleh para ilmuwan konservatif. Dan di sanalah Elena berdiri sekarang. Di tepi jurang kegilaan intelektual.
"Hera," panggil Elena pelan.
"Iya, Profesor Elena?" suara AI laboratorium yang tenang menyahut.
"Naikkan suhu pada reaktor termal ke angka 2.400 Kelvin. Masukkan katalis Cobalt-60 ke dalam inti reaksi sekarang."
"Peringatan, Profesor. Suhu tersebut melampaui titik leleh bejana penampung. Risiko ledakan termonuklir skala kecil mencapai 74%."
Elena menyesap kopi dinginnya yang terasa pahit dan asam, lalu meletakkan cangkirnya dengan kasar. "Kehidupan itu sendiri adalah hasil dari ledakan besar, Hera. Jangan ajari aku tentang probabilitas. Lakukan saja."
Detik berikutnya, laboratorium itu mulai bergetar. Lampu-lampu mulai meredup, mengalihkan seluruh daya listrik gedung ke dalam ruangan Elena. Di dalam tabung reaksi, cairan ungu itu mulai bereaksi. Warnanya berubah drastis, dari ungu ke merah darah, lalu tiba-tiba kehilangan semua warnanya menjadi bening sempurna begitu bening hingga seolah-olah tabung itu kosong.
Namun, Elena tahu tabung itu tidak kosong. Massa jenis di dalamnya meningkat drastis. Jarum indikator tekanan di dinding laboratorium berputar gila-gilaan, menabrak batas maksimal hingga patah.
"Indah..." bisik Elena.
Ia bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, tapi karena muatan statis di udara yang mendadak meningkat. Oksigen di ruangan itu mulai terasa berat, seolah molekul udara sedang dipadatkan oleh kekuatan tak terlihat.
Elena melangkah mendekat, mengabaikan protokol keamanan yang mewajibkan jarak minimal lima meter. Ia ingin melihatnya. Ia ingin menjadi saksi saat materi berubah menjadi sesuatu yang lebih tinggi.
"Profesor! Tekanan mencapai batas kritis! Prosedur shutdown otomatis gagal!" teriak Hera melalui pengeras suara yang mulai pecah suaranya.
Elena tertawa. Tawa yang kecil, namun terdengar sangat puas. "Siapa yang butuh prosedur shutdown saat kita sedang melihat kelahiran sebuah keajaiban?"
Elena tidak pernah menganggap dirinya sebagai bagian dari masyarakat. Baginya, manusia di luar sana hanyalah kumpulan karbon, hidrogen, dan oksigen yang bergerak tanpa arah, terikat oleh emosi-emosi dangkal yang tidak logis. Baginya, satu-satunya bahasa yang jujur di alam semesta ini adalah reaksi kimia. Reaksi tidak pernah berbohong; jika kau mencampurkan A dan B dengan dosis yang tepat, hasilnya akan selalu C. Pasti. Mutlak.
Ia teringat tiga bulan lalu, ketika Dewan Direktur mencoba menghentikan pendanaannya.
"Anda menghabiskan lebih banyak biaya daripada departemen pertahanan, Dr. Elena," kata seorang pria berjas mahal dengan nada sombong saat itu. "Apa yang kami dapatkan? Sejauh ini hanya laporan tentang kegagalan molekuler."
Elena hanya menatap pria itu dengan pandangan merendahkan. "Kalian mencari keuntungan jangka pendek, sementara aku mencari kunci keabadian. Jika kalian ingin laporan yang memuaskan, pergilah ke departemen pemasaran. Di laboratorium ini, kegagalan adalah bahan bakar menuju kebenaran."
Kini, di bawah siraman cahaya dari bejana reaksi yang kian memutih, Elena merasa kebenaran itu sudah di depan mata.
"Hera, laporkan kepadatan massa di dalam inti," perintah Elena. Suaranya tetap stabil meski getaran di bawah kakinya kini cukup kuat untuk menjatuhkan botol-botol kimia dari rak.
"Massa jenis meningkat secara eksponensial, Profesor. Molekul-molekul di dalam bejana tidak lagi berperilaku sesuai hukum kimia organik. Mereka mulai... menyusut."
"Menyusut?" Elena mengerutkan kening. "Maksudmu kompresi atom?"
"Lebih dari itu. Ruang di dalam bejana seolah-olah sedang dilipat."
Mata Elena membelalak. Ini bukan lagi sekadar katalis medis. Ia baru saja menciptakan sesuatu yang melampaui biologi. Ia telah menyentuh mekanika kuantum pada level yang paling mentah. Tangannya yang mengenakan sarung tangan lateks mulai berkeringat. Sensor di pergelangan tangannya menunjukkan detak jantungnya mencapai 130 denyut per menit.
Bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang membanjiri sistem sarafnya—sebuah reaksi kimia alami yang saat ini sangat ia nikmati.
Tiba-tiba, interkom kembali menyala dengan suara berisik. "Elena! Buka pintunya sekarang! Keamanan gedung mendeteksi lonjakan radiasi gamma dari sektormu! Seluruh gedung sedang dievakuasi!" itu suara Dr. Aris lagi, kali ini terdengar sangat ketakutan.
"Jangan masuk, Aris," sahut Elena pelan, meskipun ia tahu suaranya mungkin tidak terdengar di tengah kebisingan alarm. "Jika kau masuk sekarang, struktur atommu akan terurai sebelum kau sempat menyapa."
Ia berjalan ke arah meja kerjanya yang berantakan, mengambil sebuah buku catatan bersampul kulit hitam yang selalu ia bawa. Di dalamnya terdapat ribuan rumus, sketsa sel, dan catatan gila yang tidak akan dipahami oleh ilmuwan manapun di abad ini. Ia menuliskan satu baris terakhir dengan tinta hitam yang tebal:
Variabel ke-9: Energi gelap bukan hanya katalis, tapi jembatan.
Krak!
Kaca pelindung setebal sepuluh sentimeter yang mengelilingi reaktor itu mulai menampakkan retakan halus, seperti jaring laba-laba. Cahaya dari dalamnya bukan lagi putih, melainkan hitam sebuah warna yang begitu gelap hingga ia seolah-olah menghisap penglihatan siapapun yang menatapnya.
"Peringatan! Integritas struktural bejana reaksi: 5%," suara Hera mulai terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik. "Profesor... Anda... harus... lari..."
Elena meletakkan buku catatannya. Lari? Ke mana? Kembali ke dunia yang membosankan? Kembali ke birokrasi yang mencekik dan manusia-manusia yang hanya peduli pada uang?
"Tidak, Hera," bisik Elena. "Aku ingin melihat apa yang ada di balik lubang ini."
Gelombang kejut pertama menghantam. Itu bukan ledakan api. Itu adalah gelombang kejut murni yang melumpuhkan semua alat elektronik di laboratorium dalam satu detik.
Lampu padam total. Namun, ruangan itu tidak gelap. Titik hitam di tengah reaktor kini dikelilingi oleh aura berwarna biru elektrik yang menyakitkan mata.
Elena merasakan tubuhnya menjadi ringan. Ia bisa merasakan setiap elektron di tubuhnya mulai bergetar dalam frekuensi yang tidak wajar. Rasa sakitnya luar biasa seolah-olah setiap helai sarafnya ditarik keluar dan dipilin namun kesadarannya tetap tajam. Sebagai seorang ilmuwan, ia bahkan mulai menganalisis rasa sakitnya sendiri.
Saraf sensorik mengirimkan sinyal kelebihan beban ke talamus... dekomposisi molekuler dimulai dari ujung jari... menarik, pikirnya dalam kegilaan yang tenang.
Lantai laboratorium mulai terangkat. Meja-meja besi hancur berkeping-keping, terhisap menuju titik hitam di tengah ruangan. Elena sendiri merasa tubuhnya mulai terangkat dari lantai.
"Jadi ini akhirnya," gumamnya. Darah merembes dari matanya, mengaburkan pandangannya yang terakhir.
Di detik-detik terakhir itu, ia tidak memikirkan orang tuanya yang sudah lama ia lupakan, atau teman-teman yang tidak pernah ia miliki. Ia hanya memikirkan formulanya. Ia menyesal tidak bisa membagikan hasil eksperimen ini.
Namun, ada satu perasaan lain yang muncul di sela-sela rasa sakit yang menghancurkan itu: rasa penasaran yang tak terhingga.
Jika hukum kimia di dunia ini baru saja ia hancurkan, apa yang ada di sisi lain?
Bzzzt—
Ledakan itu akhirnya terjadi. Bukan suara dentuman yang memekakkan telinga, melainkan sebuah denyutan sunyi yang menyebar ke seluruh kota. Dalam radius satu kilometer, semua jam berhenti berdetak. Dan di pusat laboratorium bawah tanah itu, Elena sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah udara yang berbau ozon dan kekosongan yang mutlak.
Elena, sang scientist gila, telah berhasil melakukan eksperimen terakhirnya: ia baru saja membuktikan bahwa kematian hanyalah reaksi kimia lain yang belum sempat ia pelajari.