Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 PAGI YANG CANGGUNG.
Bukan karena suasananya matahari tetap masuk lewat jendela besar, aroma sarapan masih sama melainkan karena tiga orang yang duduk di sana membawa perasaan yang tidak lagi sesederhana kemarin.
Sari turun dari tangga sambil menggandeng Queen. Langkahnya tenang, senyumnya tetap lembut seperti biasa, namun hanya ia yang tahu betapa jantungnya berdetak tidak beraturan. Semalam masih terlalu dekat untuk dilupakan begitu saja.
Queen naik ke kursinya dengan ceria. “Kak Sari duduk sini,” pintanya sambil menunjuk kursi di sampingnya.
“Iya, nona,” jawab Sari lembut.
Di seberang meja, Ammar sudah duduk lebih dulu. Ia menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkir dengan gerakan sedikit kaku. Tatapannya sempat terangkat dan bertemu dengan mata Sari.
Hanya sedetik. Namun cukup untuk membuat keduanya sama-sama mengalihkan pandangan.
Canggung.
Sunyi kecil menyelinap di antara suara sendok dan piring.
Queen, yang sama sekali tak menyadari apa pun, memecah keheningan dengan suara cerianya.
“Pah,” katanya sambil menyuap nasi. “Kapan kita ke rumah Opa dan Oma?”
Ammar tersenyum kecil, lalu menoleh ke arah putrinya.
“Nanti siang,” jawabnya tenang.
Queen bersorak kecil. “Yeay!”
Ammar kemudian melirik Sari sekilas hampir ragu-lalu berkata, “Nanti perlengkapan Queen akan disiapkan oleh Kak Sari.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang dibuat biasa saja, “Iya, kan, Kak Sari?”
Sari tersentak kecil, lalu segera menunduk sopan. “Baik, Tuan.” Jawaban itu formal. Terlalu formal.
Ammar menangkapnya.
Ada sedikit perih yang menyelinap di dadanya, namun ia tidak menunjukkan apa-apa. Ia tahu, jarak itu perlu setidaknya untuk saat ini.
Queen menatap mereka bergantian, alisnya sedikit berkerut. “Kenapa Papah sama Kak Sari kayak malu-malu?” tanyanya polos.
Sari tersedak kecil. “Eh...tidak, nona,” jawabnya cepat.
“Kak Sari cuma belum minum teh.”
Ammar tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Queen.
“Papah juga masih ngantuk,” katanya.
Queen mengangguk puas, lalu kembali fokus pada makanannya.
Sari menghela napas pelan, berusaha menenangkan diri. Ia menyuapi Queen dengan hati-hati, memastikan setiap suapan rapi. Tangannya sedikit gemetar, namun ia memaksa diri untuk tetap terlihat normal.
Ammar diam-diam memperhatikannya. Ada keinginan untuk berkata banyak meminta maaf, menjelaskan, atau sekadar menanyakan apakah Sari baik-baik saja. Namun semua kata itu terasa salah untuk diucapkan di meja makan, di hadapan Queen.
“Aku ke kantor sebentar,” ucap Ammar akhirnya.
“Tidak lama. Siang kita berangkat.”
“Baik, Tuan,” jawab Sari lagi.
Ammar berdiri, mengambil jasnya. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh pada Sari. Tatapannya lembut, penuh makna namun tetap dijaga.
“Tolong jaga Queen,” katanya.
“Selalu,” jawab Sari lirih.
Ammar mengangguk, lalu pergi.
Queen menoleh ke arah Sari. “Kak Sari…”
“Iya, nona?”
“Kak Sari ikut ke rumah Opa dan Oma, kan?”
Sari tersenyum kecil. “Iya, Kak Sari ikut.”
Queen tersenyum lebar, lalu memeluk lengan Sari.
“Queen senang.”
Pelukan kecil itu membuat dada Sari menghangat dan sekaligus menguatkannya.
Apa pun yang terjadi antara dirinya dan Ammar, satu hal yang pasti. ia akan selalu ada untuk Queen. Dan pagi itu, di tengah kecanggungan dan rahasia yang belum terucap, perjalanan menuju masa depan pun perlahan dimulai.
Sari berada di kamar Queen, berlutut di depan koper kecil berwarna pastel. Tangannya cekatan melipat baju-baju Queen, sementara gadis kecil itu berdiri di atas ranjang, meloncat kecil penuh semangat.
“Kak Sariii… Queen mau pakai baju yang ini!” Queen mengangkat gaun kecil berwarna krem dengan pita di pinggangnya.
“Yang ini?” Sari tersenyum, matanya berbinar melihat antusiasme Queen.
“Iya, cantik sekali. Cocok buat ketemu Oma dan Opa.”
Queen terkikik senang.
“Queen pengen Oma bilang Queen cantik.” Sari terdiam sesaat.
Ada perasaan hangat sekaligus perih yang menyelusup ke dadanya. Ia bangkit, lalu duduk di sisi ranjang, merapikan rambut Queen yang sedikit berantakan.
“Pasti,” ucap Sari lembut.
“Oma dan Opa pasti sayang sama Queen.” Queen menatap Sari dengan mata polosnya. “Oma sama Opa baik, kan, Kak?”
Sari tersenyum, meski hatinya berdoa keras. “Baik. Dan Kak Sari yakin… mereka akan senang sekali akhirnya bisa bertemu Queen.”
Queen tersenyum lebar, lalu memeluk Sari tiba-tiba.
“Queen juga senang Kak Sari ikut.”
Pelukan kecil itu membuat Sari menutup mata sejenak. Hatinya menghangat. Melihat Queen bahagia seperti ini selalu membuatnya lupa akan posisinya sendiri seorang pengasuh, orang luar, yang hanya bisa mencintai dari batas yang tidak boleh dilanggar.
Namun tetap saja, harapan itu ada.
Sari kembali melipat pakaian sambil sesekali melirik Queen yang kini sibuk memilih sepatu. Dalam diam, pikirannya melayang.
Ya Tuhan… Jika boleh, aku hanya ingin mereka memaafkan Tuan Ammar. Ia sudah cukup kehilangan.
Dan Queen… ia tidak pernah salah apa pun.
Sari tahu sedikit tentang hubungan Ammar dengan kedua orang tuanya. Tentang penolakan, pertengkaran, dan jarak yang tercipta sejak pernikahan Ammar dengan Sabrina. Ia juga tahu Queen belum pernah sekalipun bertemu dengan Oma dan Opanya.
Itu yang membuat dadanya terasa sesak. Bagaimana jika mereka menolak Queen? Bagaimana jika luka lama belum sembuh?
Sari menepis pikiran itu, lalu menarik napas dalam-dalam. Ia menatap Queen yang kini sedang bercermin sambil tersenyum pada bayangannya sendiri.
“Queen cantik?” tanya gadis kecil itu.
“Cantik sekali,” jawab Sari tanpa ragu.
“Queen adalah hadiah terindah untuk Papah, dan… untuk semua orang yang nanti mengenal Queen.”
Queen tersenyum bangga.
Sari menutup koper kecil itu, lalu berdiri. Tangannya terulur, merapikan pita di rambut Queen dengan penuh kasih.
Di dalam hatinya, Sari kembali berdoa. Semoga hari ini menjadi awal yang baik.
Untuk Tuan Ammar.
Untuk Queen.
Dan… semoga keluarga yang sempat retak itu perlahan menemukan jalannya pulang.
Queen menggenggam tangan Sari. “Kak Sari, kita berangkat sekarang?”
Sari tersenyum lembut. “Sebentar lagi, nona.” Dan di kamar itu di antara koper kecil, tawa polos, dan doa yang tak terucap harapan pun tumbuh diam-diam.
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.
kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍
Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍