"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Pertarungan di lorong gelap
Bau besi tua dan debu yang menyesakkan menusuk indra penciuman Meylie saat ia melangkah ke lorong sempit yang memisahkan dua bangunan kosong. Malam itu pekat, hanya diterangi oleh lampu jalan yang berkedip di ujung jauh, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari seperti hantu. Ia tahu tempat ini adalah jebakan. Ia merasakannya di ujung jarinya, di setiap saraf yang kini tegang. Setelah insiden mobil hitam pekat semalam, ia tahu mereka tidak akan lagi bermain-main dengan intimidasi psikologis. Mereka akan meningkatkan tekanan, beralih ke fisik.
Ia telah memarkir mobilnya beberapa blok jauhnya, di area yang lebih terang, untuk mengecoh mereka. Lalu, ia berjalan kaki, menyusup ke labirin gang-gang dan lorong-lorong gelap ini, berharap bisa mencapai tempat persembunyian barunya yang lebih aman. Tetapi, ketika ia berbelok ke lorong ini, ia merasakan hawa dingin yang berbeda. Bukan hanya dinginnya malam, melainkan dinginnya kehadiran yang mengancam.
Di ujung lorong, di balik bayangan yang lebih pekat, dua siluet muncul. Dua pria berjas, bergerak perlahan, tanpa suara, seolah-olah mereka adalah bagian dari kegelapan itu sendiri. Mata Meylie menyipit. Ini adalah agen-agen yang sama yang membuntutinya, mungkin juga yang ada di mobil hitam semalam. Mereka tidak lagi menyembunyikan diri. Mereka datang untuknya.
"Nona Ling," salah satu pria itu berkata, suaranya rendah dan serak, memecah keheningan yang mencekam. Ia melangkah maju, tangannya sedikit terangkat, seolah memberi isyarat. "Kami hanya ingin bicara."
Meylie tidak menjawab. Ia tahu "bicara" mereka berarti menyerahkan buku catatan Yu, atau berakhir seperti Yu. Ia membiarkan mereka mendekat, mengukur jarak, mengamati postur tubuh mereka. Mereka tampak terlatih, setiap gerakan mereka terukur.
"Tidak perlu ada kekerasan, Nona," pria kedua menambahkan, suaranya lebih lembut, namun Meylie bisa merasakan ancaman yang tersembunyi di baliknya. "Serahkan saja apa yang bukan milikmu, dan kau bisa pergi dengan damai."
Damai? Setelah apa yang mereka lakukan pada Yu? Setelah semua yang ia saksikan? Meylie merasakan gelombang amarah membakar dalam dirinya, sebuah api dingin yang menekan rasa takutnya. Xiao Fei yang pasif telah mati. Ling yang dingin telah lahir. Dan Ling ini, tidak akan tunduk.
"Aku tidak punya apa-apa untuk kalian," Meylie membalas, suaranya tenang, meskipun jantungnya berdebar kencang. Ia mengamati lingkungan sekitar. Lorong itu sempit, dengan dinding bata di satu sisi dan tumpukan sampah serta pipa-pipa berkarat di sisi lain. Tidak ada banyak ruang untuk bergerak, tetapi itu juga berarti mereka tidak bisa menyerangnya dari berbagai arah.
Kedua pria itu saling pandang, lalu tersenyum tipis. Senyum predator yang yakin akan kemenangan.
"Jangan mempersulit diri, Nona," pria pertama berkata, langkahnya semakin cepat. "Kami tidak punya banyak waktu untuk bermain-main."
Mereka menyerang. Secara bersamaan. Pria pertama mencoba meraih pergelangan tangan Meylie, sementara pria kedua berusaha memotong jalur pelariannya. Meylie telah mengantisipasi ini. Dalam sepersekian detik, ia bereaksi.
Ia menggunakan teknik bela diri dasar yang ia latih berulang kali. Saat pria pertama mencoba meraihnya, Meylie memutar tubuhnya, menggunakan momentum serangan pria itu untuk melepaskan diri dari cengkeraman. Sikutnya menyambar ke arah wajah pria itu, sebuah pukulan yang tidak terlalu kuat namun cukup untuk mengejutkannya.
Pria itu terhuyung mundur sesaat. Ini adalah jeda yang Meylie butuhkan.
Ia segera menendang tumpukan kaleng-kaleng bekas di dekatnya, menciptakan suara bising yang memekakkan telinga dan menyebarkan kaleng-kaleng itu ke lantai. Pria kedua, yang lengannya baru saja ia hindari, terkejut oleh suara itu, pandangannya teralih sesaat.
Itu adalah kesalahan fatal.
Meylie tidak menunggu. Ia meraih pipa berkarat yang menempel di dinding, sebuah objek yang selama ini ia amati. Dengan kekuatan yang ia kumpulkan dari latihan kerasnya, ia menarik pipa itu, lalu mengayunkannya ke arah kepala pria pertama yang masih terhuyung.
DUG!
Suara benturan itu menggema di lorong. Pria pertama jatuh tersungkur, tidak sadarkan diri, kepalanya membentur dinding bata dengan suara yang mengerikan. Meylie merasakan gelombang mual, namun ia menekannya. Ini adalah pertarungan hidup dan mati. Ia harus kejam.
Pria kedua, yang kini sendirian, menatap Meylie dengan mata marah. "Kau akan menyesalinya, jalang!"
Ia menerjang Meylie, jauh lebih agresif daripada sebelumnya. Meylie tidak punya waktu untuk menarik napas. Pria itu adalah lawan yang lebih kuat, lebih cepat. Ia menghindar dari pukulan pertama, merasakan angin yang menyapu wajahnya. Pria itu mencoba menangkapnya, mencengkeram lengannya dengan kekuatan yang mengerikan.
"Lepaskan aku!" Meylie berteriak, mencoba melepaskan diri. Namun cengkeraman pria itu terlalu kuat. Ia merasakan rasa sakit yang menusuk di lengannya, sebuah cengkeraman yang mengancam untuk mematahkan tulangnya. Ia mencoba menendang selangkangan pria itu, tetapi pria itu mengantisipasinya, memblokir tendangannya dengan lutut.
Meylie menyadari bahwa ia tidak bisa melawan kekuatan murni pria ini. Ia harus lebih pintar. Ia harus menggunakan kelemahan pria itu: keinginannya untuk tidak menarik perhatian.
Ia melihat sebuah tong sampah plastik di dekatnya. Dengan sisa tenaganya, ia menarik tong sampah itu, menjatuhkannya ke lantai. Isinya, sampah basah dan sumpah serapah, berhamburan di kaki mereka. Bau busuk menyeruak.
Pria itu teralihkan sesaat oleh bau dan kekacauan itu. Cengkeramannya sedikit melonggar.
Itu adalah kesempatannya.
Meylie mendorong pria itu dengan sekuat tenaga, lalu menyambar segenggam debu dan kotoran dari tumpukan sampah di lantai. Dengan gerakan cepat, ia melemparkan debu itu ke mata pria tersebut.
"ARGH!" pria itu menjerit, matanya terpejam, tangannya mengusap-usap wajahnya.
Meylie tidak menunggu. Rasa sakit di lengannya membakar, tetapi ia mengabaikannya. Ia melihat sebuah kotak kayu yang tergeletak di dekatnya. Dengan tendangan keras, ia menendang kotak itu, membuatnya terlempar dan membentur kaki pria tersebut. Pria itu kehilangan keseimbangan, terhuyung, dan Meylie segera menyikut perutnya dengan keras.
Pria itu terbatuk, lalu membungkuk kesakitan. Meylie menggunakan kesempatan itu. Ia meraih kepala pria itu, lalu membenturkannya ke dinding bata. Tidak sekeras yang pertama, tetapi cukup untuk membuatnya limbung.
Pria itu jatuh ke lututnya, terengah-engah. Ia mencoba bangkit, tetapi Meylie sudah bergerak. Ia melihat sebuah botol kaca kosong tergeletak di tanah. Ia mengambilnya, lalu mengayunkannya ke arah kepala pria itu.
PRANG!
Botol itu pecah berkeping-keping. Pria itu jatuh pingsan, tidak bergerak.
Meylie terengah-engah, bersandar pada dinding, tubuhnya gemetar. Adrenalin memompa kencang di nadinya. Lengannya terasa sakit, dan ia bisa merasakan ada luka goresan panjang di sana, mungkin terkena pecahan botol atau kawat. Darah mulai merembes, membasahi pakaiannya. Namun ia berhasil. Ia berhasil mengalahkan dua agen terlatih.
Konflik fisik ini adalah titik balik. Meylie melihat tangannya yang gemetar, mendengar napasnya yang terengah-engah. Ia baru saja menggunakan kekerasan, melukai orang lain, bahkan mungkin membuatnya cedera serius. Ini adalah sisi dirinya yang ia tidak pernah bayangkan akan muncul. Xiao Fei yang lembut akan terkejut dan ketakutan. Tapi Ling, sang pemburu, tahu ini adalah keharusan.
"Aku harus menjadi lebih kejam," bisiknya, suaranya serak. "Untuk bertahan hidup. Untuk Yu."
Ia melirik ke arah dua agen yang tergeletak tak berdaya. Mereka adalah musuh. Mereka adalah bagian dari jaringan yang membunuh Yu. Dan mereka mungkin memiliki informasi.
Meylie mendekati pria kedua yang baru saja ia lumpuhkan. Ia menggeledah saku jasnya. Dompet, kunci mobil, dan... sebuah ponsel. Ponsel pintar, model terbaru, tampak sangat mahal.
Ia mengambil ponsel itu. Layarnya terkunci. Meylie mencoba beberapa kombinasi angka yang umum, lalu mencoba sidik jari pria itu. Tidak berhasil. Ia menghela napas.
Namun, ia teringat pelajaran Yu tentang keamanan digital. Ponsel-ponsel semacam ini sering memiliki fitur 'panggilan darurat' atau 'kontak cepat' yang bisa diakses tanpa membuka kunci penuh. Ia mencari opsi itu.
Akhirnya, ia menemukan daftar 'panggilan terakhir'. Ada beberapa nomor yang baru saja dihubungi. Sebagian besar nomor tidak dikenal, namun ada satu yang menarik perhatiannya. Sebuah nomor yang sering dihubungi, dengan nama kontak yang tertera jelas:
"Chen."
Tuan Chen. Mantan manajer Yu.
Darah Meylie kembali berdesir. Ini dia. Bukti konkret. Tuan Chen bukan hanya sekadar manajer yang munafik. Dia adalah bagian dari jaringan ini. Dia adalah kaki tangan.
Meylie mengambil foto nomor itu dengan ponselnya sendiri, lalu menyalinnya ke buku catatan kecilnya. Ini adalah petunjuk yang sangat berharga. Ini mengubah segalanya.
Ia melirik ke arah agen yang pingsan. Ia tidak bisa membawa ponsel ini. Itu akan menjadi bukti yang terlalu jelas. Ia harus menghancurkannya. Dengan satu sentakan keras, Meylie membanting ponsel itu ke lantai, lalu menginjaknya dengan tumitnya berkali-kali, menghancurkan layarnya, baterainya, dan semua sirkuit di dalamnya.
Ponsel itu kini hanyalah tumpukan pecahan plastik dan logam.
Meylie melihat ke lengannya yang terluka. Darah terus merembes. Rasa sakitnya nyata, sebuah pengingat akan bahaya yang ia hadapi. Tapi ia tidak peduli. Ia telah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada keselamatan sementara.
Ia meninggalkan kedua agen itu tergeletak di lorong yang gelap, lalu berjalan pergi, langkahnya kini lebih pincang, namun tekadnya lebih kuat. Ia telah lolos. Ia telah melawan. Dan ia telah mendapatkan informasi penting.
Transisi Fei dari pelacak menjadi pejuang telah selesai. Ia telah menghadapi musuhnya secara langsung, menggunakan kekerasan untuk bertahan hidup. Ia telah melewati batas yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lewati. Dan ia menyadari, bahwa untuk menjatuhkan jaringan kekejaman ini, ia harus menjadi lebih kejam, lebih licik, dan lebih berani dari siapa pun.
Tuan Chen. Nama itu kini terukir di benaknya, bukan lagi sebagai target pengamatan, melainkan sebagai bagian dari jaring laba-laba yang harus ia hancurkan. Ia tahu, Chen hanyalah lapisan tengah, pion yang dimainkan oleh dalang yang lebih besar. Tetapi pion ini telah memberikan akses ke permainan yang lebih besar.
Fei berjalan keluar dari lorong gelap itu, menuju cahaya lampu jalan yang redup. Ia terluka, lelah, dan penuh amarah. Namun, ia juga merasa lebih kuat dari sebelumnya. Ia adalah Meylie/Ling, dan ia tidak akan berhenti sampai keadilan untuk Yu kekasihnya terpenuhi. Perburuan ini baru saja memasuki fase yang paling berbahaya.