cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepalsuan
Suasana yang cukup hangat antara Rohita dan Arga tiba-tiba terputus ketika mereka mendengar suara Devi yang sedang memanggil Dewi untuk pergi bersama Bintang dan Devan. “Kita pergi dulu ya, Rohita! Mau jalan-jalan ke tempat makan baru yang buka kemarin!” teriak Devi dengan suara riang, kemudian dia dan Dewi berjalan menyusul Bintang dan Devan yang sudah menunggu di luar gerbang kost. Rohita melihat mereka pergi dengan tangan yang saling gandengan, wajah mereka penuh dengan senyum bahagia.
Segera setelah sosok mereka hilang dari pandangan, ekspresi wajah Rohita berubah drastis. Dia dengan cepat melepaskan tangan Arga yang masih dia pegang, kemudian berdiri dengan cepat dan mengambil kunci motor yang ada di mejanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Rohita berjalan cepat menuju motornya yang parkir di depan kost. Arga yang masih terkejut segera berdiri dan mengejarnya. “Rohita, tunggu! Kamu kenapa tiba-tiba?” tanya Arga dengan suara khawatir.
Namun Rohita tidak menjawabnya. Dia langsung menaikkan motornya, menyalakan mesin dengan cepat, dan tanpa melihat ke belakang lagi mengendarainya pergi meninggalkan Arga sendirian di depan pintu kost. Angin menerpa wajah Rohita saat dia mengendarai motornya dengan cepat, mata nya sedikit merah karena rasa emosi yang bercampur di dalam hatinya—rasa iri, kesedihan, dan juga rasa marah pada dirinya sendiri yang merasa terpengaruh oleh kondisi Devi dan Dewi. Dia tidak tahu harus kemana, hanya ingin pergi jauh-jauh dari kost dan dari semua yang membuat dia merasa tidak nyaman saat ini.
Setelah meninggalkan Arga, Rohita mengendarai motornya tanpa tujuan tertentu. Dia mulai berkendara keliling kampung sekitar, melewati jalan-jalan yang sudah dia kenal dengan baik. Udara malam yang sejuk menerpa wajahnya, membuatnya sedikit merasa lebih tenang. Dia melihat beberapa rumah dengan lampu yang masih menyala, keluarga yang sedang berkumpul di halaman rumah, dan anak-anak yang masih bermain dengan riang. Setiap kali melihat hal itu, rasa kesepian yang ada di dalam hatinya semakin terasa.
Setelah beberapa saat berkendara keliling kampung, Rohita memutuskan untuk pergi ke alun-alun kota yang terletak tidak terlalu jauh dari kostnya. Ketika dia tiba di sana, alun-alun masih cukup ramai dengan pengunjung yang sedang bersantai, berjualan makanan ringan, atau hanya berjalan-jalan bersama keluarga dan teman. Rohita memarkir motornya di tepi jalan, kemudian berjalan kaki mengelilingi alun-alun. Dia membeli satu gelas es buah dari pedagang kaki lima, lalu duduk di salah satu bangku yang ada di tengah alun-alun, menyaksikan keramaian di sekelilingnya.
Waktu terus berlalu, dan pengunjung alun-alun mulai berkurang satu per satu. Pedagang juga mulai membongkar dagangannya, dan lampu-lampu di alun-alun mulai dimatikan satu per satu. Namun Rohita tetap tidak berniat untuk pulang. Dia masih duduk di bangku itu, memegang gelas kosong yang sudah dia habiskan, mata menatap ke arah langit yang sudah penuh dengan bintang-bintang. Suasana sepi alun-alun membuat pikirannya semakin berlarut-larut. Dia mulai berpikir tentang kehidupan dirinya sendiri—usia sudah dua puluh tahun, namun belum ada seorang pun yang bisa membuat dia merasa seperti Devi dan Dewi saat bersama pasangan mereka. Rasa kerinduan akan kehangatan hubungan yang tulus mulai muncul di dalam hatinya, sesuatu yang dia selama ini sembunyikan di balik sifat pemarah dan dinginnya.
Jam menunjukkan sudah hampir tengah malam seketika Rohita akhirnya memutuskan untuk pulang. Dia berdiri perlahan, merenggangkan tubuhnya yang sudah merasa kaku karena duduk terlalu lama. Saat mengendarai motor kembali ke arah kost, jalanan sudah sangat sepi. Hanya sedikit lampu jalan yang masih menyala, menerangi jalanan yang kosong. Rohita mengendarai motornya dengan kecepatan yang lebih lambat dari tadi, pikirannya masih penuh dengan berbagai pemikiran yang membuat hatinya terasa berat. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan perasaan yang muncul saat ini, dan rasa bingung itu semakin membuatnya merasa tertekan.
Ketika Rohita sampai di depan kost, semua lampu sudah padam kecuali satu lampu kecil yang masih menyala di depan pintu utama. Dia memarkir motornya dengan hati-hati, kemudian berjalan perlahan menuju kamar nya. Saat melewati halaman kost yang sunyi, dia tiba-tiba merasa seolah ada orang yang sedang memanggil namanya. Rohita mengerutkan dahi dan melihat ke sekeliling, namun tidak ada seorang pun yang terlihat.
Namun saat dia melangkah lagi, dia melihat sosok Devi dan Dewi yang sedang duduk di bangku di halaman belakang kost. Kedua gadis itu sedang saling berbicara dengan suara riang, wajah mereka penuh dengan senyum bahagia. “Rohita, kamu sudah pulang? Ayo duduk sini sama kita!” panggil Devi dengan suara ceria, lalu menunjukkan tempat duduk di sebelahnya. Rohita merasa sedikit bingung—dia yakin tadi malam Devi dan Dewi sudah pergi bersama pacarnya dan belum pulang. Namun tanpa berpikir panjang, dia mengikuti dan duduk di sebelah mereka.
“Kamu terlihat sedih ya, Rohita,” ujar Dewi dengan suara lembut, tangan nya menyentuh bahu Rohita dengan penuh perhatian. “Kita tahu kamu merasa kesepian… Kamu tidak sendirian kok,” tambah Devi, lalu memberikan senyuman hangat. Rohita merasa hangat di dalam hatinya, dan tanpa sadar air mata mulai mengucur dari matanya.
Namun saat Rohita ingin menjawab kata-kata mereka, dia tiba-tiba merasa kepalanya sedikit pusing. Ketika dia menggosok matanya dan melihat lagi ke depan, sosok Devi dan Dewi sudah tidak ada lagi. Hanya ada bangku kosong dan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya. Rohita berdiri dengan terkejut, menyadari bahwa apa yang dia lihat dan dengar hanyalah khayalan semata. Dia merasa sedikit malu dan juga sedih, lalu berjalan cepat ke kamar nya dan segera menutup pintu rapat, menyembunyikan diri dari dunia luar yang membuatnya merasa semakin kesepian.
Keesokan paginya, Rohita bangun dengan wajah yang masih tampak lesu. Dia memutuskan untuk menyiram tanaman di halaman kost agar bisa sedikit mengalihkan pikiran dari halusinasi yang dia alami tadi malam. Dia mengambil selang air dan mulai menyiram tanaman-tanaman kecil yang dia tanam sendiri di sekitar halaman—ada tomat, bayam, dan beberapa jenis bunga yang membuat kost terlihat lebih hidup.
Saat dia sedang fokus menyiram tanaman, tiba-tiba suara Arga terdengar dari belakangnya. “Halo, Rohita… Kamu baik-baik saja kan?” tanya Arga dengan suara khawatir. Rohita mengenali suaranya namun tidak berbalik melihatnya, tetap fokus menyiram tanaman dengan gerakan yang mekanis. Arga mendekatinya dengan perlahan, membawa sebuah tas kecil yang berisi makanan. “Aku bawa sarapan untuk kamu… Aku tahu kamu mungkin belum makan pagi,” ujarnya sambil menempatkan tas di atas meja kecil yang ada di dekatnya.
Namun Rohita tetap tidak memberikan tanggapan apapun. Dia bahkan mempercepat gerakan menyiram tanamannya, seolah ingin menunjukkan bahwa dia tidak ingin diganggu. Arga tidak menyerah begitu saja. Dia mulai berbicara tentang hal-hal yang mungkin bisa membuat Rohita merasa lebih baik—cerita tentang pekerjaannya, cerita lucu yang dia alami saat bepergian, bahkan mencoba untuk bernyanyi lagu yang dia tahu disukai Rohita. Namun semua itu tidak mendapatkan respon apapun dari Rohita. Dia tetap diam, dan setelah selesai menyiram tanaman, dia langsung mengambil ember yang kosong dan berjalan masuk ke kamar nya tanpa melihat ke arah Arga sama sekali. Arga hanya menatap pintu kamar yang tertutup rapat, wajahnya penuh dengan rasa kecewa dan khawatir terhadap kondisi Rohita.
Beberapa saat setelah Rohita masuk ke kamar, dia keluar lagi untuk mengambil sesuatu dari dalam motornya. Saat dia sedang berada di depan pintu kost, Devi dan Dewi datang bersama Bintang dan Devan. Kedua gadis itu sedang gandengan tangan dengan pasangan mereka, wajah mereka penuh dengan senyum bahagia. “Halo Rohita! Kamu sudah sarapan belum?” tanya Devi dengan suara riang, sementara Dewi memberikan senyuman lembut padanya.
Saat melihat mereka berdua yang tampak begitu bahagia bersama pasangan mereka, rasa iri kembali muncul di dalam hati Rohita. Tanpa berpikir panjang, dia melihat ke arah Arga yang masih berada di halaman dan dengan cepat berjalan mendekatinya. Rohita kemudian memeluk tubuh Arga dengan erat, wajahnya menyematkan di bahunya seolah sangat dekat dengan dia. Arga terkejut sekali dengan tindakan tersebut, namun tidak berani menggerakkan tubuhnya dan hanya diam dengan wajah yang memerah.
Devi dan Dewi yang melihatnya sedikit terkejut namun langsung memberikan senyuman pemahaman. Mereka berempat kemudian melanjutkan langkah mereka untuk pergi keluar, menyapa Rohita dan Arga sebentar sebelum pergi. Setelah sosok mereka sudah cukup jauh dan tidak bisa melihatnya lagi, Rohita dengan cepat melepaskan pelukan nya dari Arga. Dia menjauh sedikit dengan wajah yang kembali dingin dan tidak bersahabat. “Maaf ya, aku hanya perlu itu saja,” ujar Rohita dengan nada yang sangat dingin, kemudian berjalan masuk ke kamar nya lagi dan menutup pintu dengan keras, menyisakan Arga yang bingung dan merasa tersisih di halaman kosong.
Arga berdiri di depan pintu kamar Rohita selama beberapa saat, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Setelah merasa cukup tenang, dia menghentak pintu kamar tersebut dengan lembut. “Rohita, bolehkah aku masuk sebentar?” tanya Arga dengan suara lembut. Namun tidak ada tanggapan dari dalam kamar. Arga menghela napas dan memutuskan untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya dari luar pintu.
“Rohita… Aku tahu kamu mungkin sedang mengalami masa-masa sulit sekarang. Aku tidak tahu apa yang membuat kamu merasa seperti itu, tapi aku ingin membantu kamu. Aku punya tiket untuk pergi ke pantai hari ini—tempat yang pernah kamu bilang kamu suka karena suasana nya yang tenang. Ayo kita pergi bersama saja ya? Bisa jadi kamu akan merasa lebih baik setelah melihat laut,” ujar Arga dengan penuh harapan, berharap Rohita akan menerima ajakannya.
Setelah beberapa saat diam, pintu kamar sedikit terbuka. Rohita muncul dengan wajah yang tetap dingin dan tanpa ekspresi. Dia melihat langsung ke mata Arga dan menggeleng perlahan. “Tidak usah, Arga. Aku tidak punya waktu untuk pergi kemana-mana, apalagi bersama kamu,” ujar Rohita dengan nada yang sangat dingin, membuat hati Arga terasa seperti tertusuk jarum. Tanpa memberikan kesempatan untuk Arga menjawab, Rohita langsung menutup pintu kamar dengan keras dan mengunci nya dari dalam. Arga hanya bisa berdiri di sana dengan wajah yang penuh kecewa dan kesedihan. Setelah beberapa saat, dia mengambil tas yang masih berisi sarapan yang dia bawa dan berjalan perlahan keluar dari kost, meninggalkan Rohita sendirian di dalam kamar yang sunyi dan sepi.