Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nana dan mama Haruna
Setelah selesai melakukan pembayaran, bunda Anara pamit pada Fransiska. Dia juga berterimakasih karena Fransiska bersedia meluangkan waktu untuk sahabat mamanya tersebut, bahkan Fransiska memberikan potongan harga yang cukup lumayan. Padahal bunda Anara sudah bilang pada putri sahabatnya tersebut untuk memperlakukan dia sama dengan pelanggan pada umumnya. Namun Fransiska tetap kekeh memberikan potongan harga dengan alasan sebagai hadiah untuk pernikahan Alvin.
“Terimakasih Siska, jangan lupa datang bersama keluargamu! Tante menantikan ke hadiran kalian,” pinta bunda Anara.
“Siap tante,” jawabnya.
Rombongan bunda Anara kemudian pamit pulang setelah selesai dengan urusan mereka, selanjutnya mereka pergi makan siang karena ada dua boil yang dalam masa pertumbuhan dan tidka boleh terlambat untuk makan.
Nana ikut di mobil mama Haruna, karena sudah lama mereka tidak bertemu dan gadis itu merindukan bibinya. Terlebih Nana juga ingin berbincang dengan bibinya, bagi Nana setelah sang mama tiada. Bibinya akan selalu menjadi tempat Nana datang di setiap kondisi apapun.
Mobil mereka melaju meninggalkan studio bridal milik Fransiska, mereka menuju rumah makan sunda. Mama Haruna merindukan masakan khas sunda, jadi bunda Anara membawa mereka ke rumah makan sunda yang terkenal di Bandung.
Nana duduk di bangku penumpang tengah bersama mama Haruna, dia bersandar manja pada bibinya. Mama Haruna mengusap puncak kepala keponakan perempuan satu-satunya tersebut, hanya Nana yang memang mama Haruna akui sebagai keponakan. Meskipun Nana punya dua saudara sambung, tapi mama Haruna tidak yakin kalau salah satunya adalah saudara satu ayah dengan Nana.
“Bagaimana perasaanmu, sayang? Kamu yakin mau menikah dengan Alvin?” tanya mama Haruna.
Nana mengangguk. “Bukankah dengan begini Nana juga bisa keluar dari rumah yang tidak terlihat seperti rumah itu, bibi? Di sini Nana menemukan rumah yang sebenarnya adalah rumah, sejak awal Nana datang. Bunda Anara menyambutku dengan sangat baik, abang juga baik. Meskipun dingin dan kadang rese,” jawabnya.
Mama Haruna, dia tahu kalau Nana tidak pernah mempunyai hubungan dengan pria manapun kecuali hanya sebatas teman. Tidak sedikit pria yang berusaha mendekati Nana, namun mereka semua mundur karena melihat Nana yang tangguh dan mandiri. Namun sebenarnya di balik sempurnanya Nana, keponakannya tersebut sedang insecure pada dirinya sendiri. Dia takut untuk memulai sebuah hubungan, karena Nana sadar dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Mama Haruna memeluk Nana dengan erat. “Bibi harap kamu tidak salah langkah, Nana. Meskipun bibi tahu siapa keluarga Devran, tapi bibi tetaplah seorang ibu untukmu. Bibi ingin yang terbaik untuk Nana,”
Nana kembali mengangguk. “Nana janji akan bahagia, Nana juga janji akan sembuh. Mbak Zeze akan selalu menemani setiap proses Nana,” ucapnya mengurai pelukan dari mama Haruna.
“Bibi bahagia jika Nana juga bahagia,”
“Oh ya, sayang. Ada yang ingin bibi tanyakan padamu,”
“Bibi mau bertanya apa?”
“Soal kakak iparmu. Naira,”
Deg
Nana menelan salivanya dengan susah, dia tahu lambat laun bibinya pasti menanyakan perihal Naira yang tidak lain adalah istri Kim Roan dan juga sahabat baik Ayzel. Naira juga adalah kakak kandung Grace, mendiang sahabat Nana yang meninggal akibat kelainan jantung yang dia alami.
Nana tidak tahu harus menjawab apa pada bibinya tersebut, kalau saja mama Altezza dan Haziel ada di sana bersamanya. Tentu Nana tidak akan kesulitan, karena Ayzel ternyata juga sudah tahu di mana Naira berada.
“Apa abang sudah bertemu dengannya, bi?” tanya Nana.
Mama Haruna mengeleng. “Belum, sayang. Justru bibi ingin bertanya padamu,” ucapnya. “Bibi yakin kalau kamu atau Zeze sebenarnya tahu di mana Naira, kan?” lanjut mama Haruna bertanya.
Nana menghela napas, dia tidak tega melihat sang bibi seperti itu. Nana mengangguk lemas. “Nana tidak bisa mengatakan di mana mbak Naira tinggal, bi. Jika sudah waktunya, Nana yakin sebentar lagi abang, bibi dan paman pasti bertemu degan dia. Mbak Zeze juga tidak mengusik mbak Naira meskipun dia tahu di mana mbak Naira. Dia hanya memantau dari jauh,” jawab Nana.
“Bibi mengerti, sayang. Bibi hanya ingin tahu bagaimana kabar menantu kesayanganku," ucap mama Haruna menatap sendu jalanan.
Nana mengeluarkan ponselnya dari dalam sling bag, dia lantas membuka galeri. “Dia baik-baik saja, bi. Putrinya mirip sekali dengan abang,” Nana menunjukkan photo Naira yang sedang menggendong putrinya yang mungkin berusia tujuh atau delapan bulan.
Mama haruna terkejut. “Jadi saat pergi hari itu Naira hamil?”
Nana mengangguk. “Mbak Zeze bilang, saat itu mungkin usia kandunga mbak Naira sekitar dua atau tiga bulan.”
Mama Haruna mengusap layar ponsel Nana, air matanya menetes begitu saja. “Bisa kamu kirim photo mereka pada bibi, sayang?”
“Tentu saja,” Nana mengambil ponselnya dari sang bibi, dia kemudian mengirimnya pada mama Haruna.
Ting
Notifikasi pesan masuk pada ponsel mama Haruna. “Terimakasih sayang,”
“Sama-sama bibi,”
Mama Haruna tak henti-hentinya memandang photo cucu dan menantunya tersebut, dia merindukan sang menantu. Dan semakin merindukan Naira begitu tahu kalau menanti tercintanya melahirkan cucu yang cantik.
“Apa kamu tahu nama cucu bibi, sayang?”
Nana menggeleng. “Mungkin mbak Zeze tahu, bi. Kita tanyakan nanti,” ujar Nana diangguki mama Haruna.
Ada satu harapan terselip di hati mama Haruna, semoga saja Kim Roan segera bertemu dengan Naira. Hanya dengan cara itu putranya bisa segera minta maaf, tidak akan dia biarkan siapapun kembali menganggu rumah tangga putranya. Mama Haruna sudah menyiapkan banyak amunisinya kali ini, tidak akan dia biarkan masa lalu mengusik atau menggoyahkan putranya.
***
Lima belas menit kemudian mobil bunda Anara dan mobil mama Haruna sampai di rumah makan sunda, mereka semua turun dari mobil beserta supir pribadi yang memang bunda minta untuk ikut makan bersama mereka.
Mereka semua masuk ke dalam dan mengantri untuk mengambil prasmanan makanan yang mereka inginkan, Altezza girang bukan main saat melihat banyak makanan dan lauk yang berjejer tersaji diatas meja prasmanan. Begitu juga dengan Haziel, meskipun asupan jenis makanan bocah itu masih di batasi. Namun melihat berbagai jenis makanan asing, terutama lalapan hijau yang menggoda selera tersebut membuat balita satu tahun tersebut menatap keheranan.
“Adek baru pertama kali ya lihat yang begini?” Ayzel menggemas-gemas tangan Haziel, dia meng3cup gemas tangan gemoy bocah itu.
“Eheek...aa...ta ta ta,” Haziel heboh sendiri, ke dua kakinya yang menggantung dalam gendongan sang mama bergerak-gerak hingga membuat Ayzel terkekeh.
“Mama-mama, abang juga balu peltama kecini. Abang mau makan banak,” sahut Altezza yang tak mau kalah.
Ayzel mengusap kepala putra sulungnya dengan lembut. “Abang suka di sini?”
Altezza mengangguk. “Suka. Becok kita ajak papa ke cini,” jawabnya membalas sang mama.
“Boleh,”
“Ini makanan banyak banget, mba. Kan aku jadi bingung mau yang mana,” sahut Nana yang berdiri di belakang Ayzel yang sedang sibuk dengan ke dua toddlernya.
Ayzel menoleh. “Pilih yang kira-kira kamu suka, Na. Itu oncom leunca enak juga lho, kamu harus coba!” tunjuk Ayzel pada salah satu makanan khas sunda tersebut.
"Kalau yang itu apa mbak?" tanya Nana pada bungkusan daun pisang dan wadah yang ada di sekitarnya.
“Ekheee...onty, Ezza juga mau lihat.” Kepo Altezza, bocah itu merentangkan ke dua tangannya keatas tanda minta di gendong. “Maaf ya, Na. Kamu jadi baby sitter Altezza kalau papanya gak ikut,” ucap Ayzel.
“Tidak apa-apa, mbak. Sebelum dia launching mbak Zeze malah selalu ada buatku, sekarang gantian aku yang bantu mbak sama kak Alvaro. Lagi pula kalau tidak ada ini bocah satu sepi,” Nana langsung mengangkat Altezza dan menggendong bocah tiga tahun itu.
Ayzel lantas memberitahu Nana nama makanan apa saja yang tadi dia tunjuk. “Itu yang di bungkus daun pisang namanya nasi timbel, aromanya tu khas banget. Mbak paling suka sama itu, apalagi sama ayam bakar. Enak banget,” ucap Ayzel.
Altezza dan Nana memperhatikan Ayzel yang menggambarkan rasa lezat makanan tersebut, mereka berdua seolah ikut merasakan enaknya nasi timbel. “Kalau yang itu nasi tutug oncom, nasi campur oncom yang sudah diolah. Di sebelahnya karedok atau bisa di bilang salad sayur mentah dengan bumbu kacang,” lanjut Ayzel.
“Ezza mau yang itu!” tunjuknya pada nasi timbel. “Yang itu, itu juga onty. Mau yang banak,” bocah itu kembali menunjuk ayam bakar, tempe goreng adalah kesuakaan bocah keturunan Indo-Korea-Turki-China tersebut.
“Banyak banget. Abang bisa habisin semua?” tanya Nana diangguki Altezza.
Nana mengambilkan makanan yang di minta Altezza, setelah itu barulah dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Ayzel lebih dulu mengurus putra ke duanya sebelum dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Untuk Haziel dia memesan ikan kukus, selebihnya dia sudah menyiapkan camilan dan MPASI untuk putranya tersebut. Mereka menikmati makan siang dengan penuh hangat, bersama ke dua supir pribadi mereka duduk di meja seberang tidak jauh dari mereka. Nana dan mama Haruna begitu menikmati makanan sunda yang mereka ambil, terutama mama Haruna. Dia memang sangat merindukan makanan khas tempat kelahirannya tersebut.
“Abang! Boleh adek minta tempenya satu?” tanya Ayzel saat Haziel terlihat tertarik dengan tempe goreng punya sang kakak.
“Adek cedikit caja!” Altezza memberikan satu potong tempe pada sang adik.
“Terimakasih abang,” ucap Ayzel.
Melihat keakraban Ayzel dan putra-putranya membuat mama Haruna menoleh kearah Nana. “Bibi harap kamu juga akan mendapatkan bahagiamu setelah ini, Nana. Kamu berhak bahagia,” batin mama Haruna.
aku kalau baca bocil candel gumusss bnggt suka suka ❤️
punya nada dan author Kenz ketawa sendiri,pada di luar Nurul kata" mereka
menyakiti istri sama anak dan suatu saat paham ,ada gitu yah
ga ngeh aku
secar mereka hampir gagal
kejutan untuk Nana?
Hanya Author yg tau
kaya lagi viral lakinya menggatal ma LC 🤭
berperang sama masalalu tuh capek karena apa saraf"nya yg lembut kaya lelembut jadi terganggu alias oleng tapi bentar doang sih ya kan Thor
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣