Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Ancaman
Keisya sedang malas keluar rumah. Dia berada di dalam kamar seharian, dengan melakukan banyak hal. Dia merapikan lemari, memilah pakaian yang tidak akan dia gunakan lagi.
Beberapa kotak kardus sudah terisi, membuat lemarinya terasa jauh lebih lega dari sebelumnya.
Bukan hanya pakaian, tapi beberapa barang lainnya ikut dia rapikan.
Setelah selesai, dia memanggil bibi untuk melihat barang barang tersebut.
"Semuanya masih bagus, bibi liat liat aja dulu. Kalau ada yang kepake, bibi boleh bawa"
Wanita paruh baya itu tampak senang. "Semuanya mbak?"
Keisya mengangguk.
Sebelumnya saat mereka tengah membereskan kamar Kayla dan Kaivan, bibi meminta izin darinya untuk membawa semua barang yang tidak lagi di gunakan oleh kedua adiknya.
Katanya di kampung halamannya banyak tetangganya yang sering meminta pakaian atau apapun untuk anak-anak mereka. Keisya sempat tidak setuju karena menurutnya sangat tidak sopan.
Entahlah, pikirnya itu adalah barang bekas pakai, tapi justru di berikan kepada orang lain.
Namun bibi mengatakan tidak apa-apa. Lagipula jika di sumbangkan pun, hasil akhirnya akan sama saja.
Merasa masuk akal, Keisya pun mengizinkan, bahkan menawarkan barang serta pakaian miliknya. Tentu setelah mendapatkan izin juga dari Papa-nya.
"Ayo, aku bantu bawain ke bawah"
Bibi menghalangi anak majikannya, "Engga usah mbak, bibi aja sendiri"
"Ga usah gimana, ini banyak loh" Keisya bersikeras. Dia tetap mengangkat satu kardus berukuran sedang. "Ayo, biar cepet"
Bibi tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Dia sendiri langsung menumpuk dua kardus dan mengangkatnya sekaligus. Mereka berjalan bersama sambil berbincang ringan.
"Akhir akhir ini Bibi sering lihat Pak Bastian datang jemput Mbak Keisya. Mobil mbak rusak lagi yah?" Bibi memberanikan diri bertanya. Dia sangat ingin memulai pembicaraan tentang hal ini sekalipun dia sempat ragu.
Keisya tidak tahu harus menjawab apa. Dia orang yang tidak pandai membuat alasan. Bahkan saat pertanyaan ini terlontar dari Papanya, dia kebingungan. Tapi anehnya, kondisi itu tidak akan berlangsung lama, setelah Bastian yang turun tangan.
Seolah tahu apa yang terjadi, pria itu selalu tepat waktu mengatasinya.
Dia terkadang heran, apakah Bastian memiliki indra ke-enam?
"Lagi ada urusan di kampus katanya Bi. Karena searah, jadi sekalian" Kalimat itu adalah jurus pamungkas andalannya.
Bibi tampak mengangguk kecil. Matanya melirik anak majikannya dengan ragu. "Mbak?'
"Iya Bi?"
Mulutnya ternyata tidak sejalan dengan hatinya. Lidahnya kelu, keberaniannya mendadak lenyap setelah mengingat satu peringatan yang membelenggunya.
"Ada apa Bi?" tanya Keisya cemas. Ekspresi bibi seperti sedang kebingungan. "Bilang aja, gapapa." dia membujuk. Takutnya Bibi ada masalah dengan keluarganya, tapi sungkan untuk berbicara.
Mereka sudah ada di kamar bibi, dan meletakkan barang bawaan mereka di sudut ruangan. Keisya maupun Bibi sudah sepenuhnya berhadapan dan fokus pada masing-masing.
Bibi masih ragu, namun berusaha berbicara, "Soal Pak Bastian"
Raut wajah Keisya berubah kebingungan, "Om Bastian?"
"Itu,, waktu Pak Bastian menginap, dia..." kalimatnya yang terbata itu harus terputus setelah mendengar suara bel rumah berbunyi.
Keisya menoleh, sedangkan Bibi beraksi lebih parah. Dia nampak terkejut seolah tertangkap tangan sedang melakukan tindakan kejahatan. Tangannya sampai gemetar dan segera pergi berpamitan pada Keisya yang semakin kebingungan untuk melihat siapa yang datang.
Keyakinannya kembali hilang.
Tidak bisa, dia tidak bisa mengatakan apapun. Sekalipun keluarga ini sangat baik padanya. tapi ketenangan seluruh anggota keluarganya tetap yang utama.
Saat dia membuka gerbang, betapa terkejutnya begitu melihat orang yang sebelumnya sedang dibicarakan, muncul di hadapannya.
"P-pak Bastian?"
Bastian tampak dingin seperti biasanya. Namun ada riak curiga begitu melihat sikap wanita tua di depannya. Matanya sedikit menyipit, semakin membuat Bibi merasa terintimidasi.
Bahkan untuk sekadar mengangkat pandangannya saja dia tidak berani.
Semakin curiga lah Bastian dibuatnya.
"Dimana Keisya? Dia ada di dalam kan?"
Bibi mengangguk kaku. "Ada, Pak"
Bastian menatapnya sebentar sebelum melangkah maju melewati Bibi begitu saja.
Bibi langsung menghela napasnya.
Tapi,
"Soal peringatan saya malam itu," napasnya kembali tercekat saat suara Bastian kembali terdengar. Bibi tidak bergerak dari posisinya, dengan tangannya yang mulai keriput masih mencengkram besi pagar.
"Saya tidak main-main. Jangan berani mencari masalah dengan saya. Paham?" Bastian melanjutkan ucapannya yang terjeda tanpa membalikkan badannya.
"B-baik Pak" jawabnya dengan cepat.
"Bibi, siapa? Loh Om?" Keisya tiba-tiba muncul sambil berteriak. Dia menyusul karena Bibi tak kunjung kembali. Dan juga dia penasaran siapa tamu yang datang, yang ternyata adalah Bastian.
Mau apa lagi sekarang?
Bastian mengubah ekspresinya dalam sekejap. Ada senyum kecil begitu melihat gadisnya itu muncul dari balik pintu. Wajahnya yang tanpa riasan sangat sangat manis.
"Om ngapain disini?" tanya Keisya lagi.
Bastian berjalan mendekat, "Ayo ikut saya"
Keisya mengerutkan keningnya, "Mau apa?" tatapannya waspada begitu jarak mereka semakin dekat. Bahkan belum sempat dia melangkah mundur, tangan pria itu sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya. "Eh, tunggu dulu. Om belum bilang mau kemana"
"Belanja" Bastian menarik Keisya, namun gadis itu tidak bergerak.
"Belanja apa? Kenapa tiba-tiba? Ini lepasin dulu" tangan Keisya bergerak mencoba melepaskan diri.
"Nanti kamu akan tahu. Ayo"
"Enggak"
Bastian berbalik, matanya berkilat tidak senang. "Apa saya harus bicara sama Papa kamu?"
Keisya berdecak. Sekarang dia sudah berada di tahap tidak takut dan sungkan lagi seperti dulu. Sudah dia bilang kan, Bastian itu sangat sangat menyebalkan. Bisa-bisanya pria dewasa itu memanfaatkan dirinya untuk kesalahan yang ia sendiri tidak bisa kendalikan, untuk kepentingan dirinya sendiri.
"Setidaknya kasih aku waktu ganti baju, atau ngambil ponsel dulu. Ga mungkin kan aku pergi pakai pakaian begini?" Hanya celana pendek putih serta baju berlengan pendek berwana baby pink yang dia pakai saat ini. Belum lagi kakinya yang hanya di alasi oleh sandal jepit.
Sedangkan Bastian, sangat modis meski dengan setelan santainya.
Bastian memperhatikan sebentar, lalu kembali menatap gadis tersebut. "Tidak masalah. kamu tetap cantik pakai apapun"
Bibir atas Keisya terangkat sebagian. Dia menyeringai aneh mendengar kalimat gombalan yang keluar dari pria tembok ini.
Sangat kontras dengan wajah datarnya saat mengatakan kalimat tersebut.
Tanpa peduli akan reaksi Keisya, Bastian langsung menarik tangan gadis itu, yang kali ini tidak lagi mendapatkan penolakan.
Mereka berdua melewati Bibi. Keisya sempat berpamitan dan menitipkan kedua adiknya yang sedang tidur. Tidak lupa berpesan untuk mengatakan pada Papanya jika dia tidak akan lama, sebelum akhirnya benar-benar memasuki mobil Bastian.
Bibi masih tidak mengatakan apapun sampai mobil tersebut hilang dari pandangannya.
Entah dia harus mendeskripsikan apa atas keadaan yang di alami anak majikannya sekarang.
Bersyukur, atau justru sial?
Disukai oleh seorang pria seusia Papanya sendiri, dengan caranya yang licik dan manipulatif. Dan itu tanpa di sadari oleh siapapun, bahkan Keisya sendiri.
Jika saja malam itu dia tidak memergoki Bastian, dia pasti masih salah satu dari ketidaktahuan itu.
Sangat disayangkan. Karena posisinya sekarang menjadi sulit dan serba salah.