Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Arkan mendengus kasar, akhirnya benar-benar mencapai batas kesabarannya. Ia melepaskan earphone yang tadi ditarik Naura, lalu memutar tubuhnya menghadap gadis itu sepenuhnya. Tatapannya tidak lagi dingin, melainkan tajam dan penuh tantangan.
"Puas ketawanya, Naura?" tanya Arkan dengan suara rendah yang mengintimidasi.
Naura bukannya takut, malah menaikkan alisnya. "Belum sih. Masih lucu aja bayangin 'om-om' umur dua puluh empat tahun harus akting jadi anak SMA jaim demi misi. Lo nggak capek apa pura-pura terus?"
"Yang pura-pura di sini bukan cuma gue,"
balas Arkan sengit. "Lo sendiri? Akting jadi cewek populer yang manja, padahal tangan lo lebih terbiasa pegang pisau lipat daripada lip gloss. Apa itu nggak melelahkan, 'Dek' Naura?"
Naura tersenyum miring, matanya berkilat. "Bedanya, akting gue sempurna. Nggak kayak lo yang gampang kepancing cuma gara-gara kursi bus. Profesionalitas lo mana, Komandan? Masa kalah sama perasaan cemburu?"
"Gue nggak cemburu!" seru Arkan sedikit terlalu keras, membuat beberapa murid di barisan belakang menoleh. Ia segera merendahkan suaranya lagi. "Gue cuma nggak mau lo kehilangan fokus. Gibran itu variabel yang nggak terduga. Kalau lo terlalu dekat sama dia, lo bisa bikin misi ini berantakan."
"Alasan klasik," goda Naura lagi, kini jarinya memainkan tali tas gunungnya. "Bilang aja lo takut kalah saing sama pesona ketua OSIS. Dia lebih muda, lebih ramah, dan yang pasti... nggak setua lo."
Arkan mengeritkan giginya. Kata 'tua' benar-benar menjadi pemicu emosinya hari ini. "Dengar ya, di dunia kita, usia itu artinya pengalaman. Dua puluh empat tahun itu usia produktif, bukan usia kakek-kakek. Dan kalau soal 'saingan', gue nggak perlu bersaing sama anak SMA yang hobi bikin pantun di mading."
"Tapi lo baru aja debat sama anak mading itu gara-gara bangku, Arkan," Naura tertawa kecil, menusuk tepat di ulu hati harga diri Arkan. "Aksi lo tadi itu... kekanak-kanakan banget buat ukuran orang yang katanya 'berpengalaman'."
Arkan terdiam sejenak, wajahnya mengeras. "Gue cuma mastiin keamanan lo."
"Keamanan gue, atau ego lo?"
"Dua-duanya," jawab Arkan cepat, tidak mau kalah lagi. "Dan mulai sekarang, berhenti panggil gue pakai umur. Satu kata lagi soal angka itu, gue bakal pastiin laporan misi lo kali ini dapet nilai merah karena 'gangguan perilaku' terhadap rekan kerja."
Naura menjulurkan lidahnya tipis. "Dih, mainnya ngancem lewat laporan. Benar-benar tipikal pria dewasa yang kaku."
"Naura..." Arkan memperingatkan dengan nada dalam.
"Oke, oke, 'Kakak' Arkan yang galak. Tapi jangan salahin gue kalau nanti di perkemahan Kak Gibran makin gencar deketin gue ya. Lo kan cuma 'teman sebangku', bukan bodyguard pribadi gue," pungkas Naura sambil kembali menyandarkan kepalanya, meninggalkan Arkan yang kini merenung kesal dengan rahang yang mengeras.
Di depan mereka, Raisa hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perdebatan itu lewat pantulan kaca spion bus, sementara Gibran terus melirik ke belakang dengan perasaan was-was. Perjalanan menuju kaki Gunung Salak baru saja dimulai, namun perang urat syaraf di dalam bus XI-A sudah mencapai puncaknya.
Gibran dan Raisa terjebak dalam keheningan yang menyesakkan.
Gibran berulang kali memperbaiki posisi duduknya. Ia merasa tidak enak hati. Sebagai ketua pelaksana yang dikenal ramah dan gentleman, duduk di sebelah Raisa gadis paling tertutup dan dingin seantero sekolah adalah sebuah tantangan besar.
"Ehm, Raisa," Gibran akhirnya membuka suara, mencoba mencairkan suasana. "Maaf ya, gara-gara keributan Arkan tadi, kamu jadi harus pindah ke sini. Kalau kamu merasa kurang nyaman, aku bisa coba bicara sama Pak Danu buat cari kursi lain."
Raisa tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada buku tebal berjudul Advanced Cryptography yang ia pegang. "Nggak perlu. Di sini lebih tenang daripada dengerin dua orang di belakang yang IQ-nya mendadak jongkok kalau sudah berdua."
Gibran tersenyum kaku. "Ah, mereka memang unik. Arkan sepertinya sangat protektif sama Naura, ya? Kamu kan sepupunya, apa Arkan memang seserius itu kalau soal teman dekat?"
Mendengar kata 'sepupu' dan 'serius', Raisa menutup bukunya pelan. Ia melirik Gibran dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu persis bahwa Gibran sedang berusaha mengorek informasi tentang hubungan Arkan dan Naura.
"Dia nggak suka kalau ada variabel luar yang mengganggu jadwalnya. Jadi, saran gue, mending lo fokus sama tugas lo sebagai ketua pelaksana daripada ngurusin urusan pribadi mereka."
Gibran sedikit tersentak dengan jawaban blak-blakan itu. "Aku cuma peduli sebagai teman, Raisa. Dan sebagai ketua, aku ingin memastikan semua peserta kemah merasa nyaman, termasuk Naura."
"Nyaman?" Raisa mendengus tipis, hampir tak terdengar. "Naura bukan tipe cewek yang butuh 'kenyamanan' dari lo, Gibran. Dia lebih tangguh dari kelihatannya."
Gibran terdiam, mencerna kata-kata misterius Raisa. Ia menoleh ke arah jendela, melihat bayangan bus yang melaju di aspal. Kalimat Raisa bukannya membuatnya mundur, justru malah memicu rasa penasaran yang lebih besar dalam dirinya.
Sementara itu, Raisa kembali bersandar. Di balik musik yang sebenarnya tidak ia putar di headset-nya, ia bisa mendengar bisik-bisik Naura dan Arkan di belakang. Ia membatin dalam hati, "Dua puluh empat tahun dan masih bertingkah seperti bocah. Kenapa gue harus terjebak jadi pengasuh mereka di misi ini?"
......................
Setelah perdebatan sengit dan saling lempar sindiran, keheningan perlahan mengambil alih. Suasana bus yang sejuk karena AC, ditambah guncangan ritmis kendaraan di jalan tol yang mulus, akhirnya membuat pertahanan Naura runtuh.
Awalnya, ia masih sempat mengecek layar ponselnya memantau titik-titik koordinat alat pelacak yang ia pasang. Namun, kelopak matanya terasa semakin berat. Suara ocehan Bimo di barisan belakang perlahan memudar menjadi suara latar yang jauh.
Perlahan, kepala Naura mulai miring ke samping. Tanpa sadar, kepalanya mendarat tepat di bahu kokoh Arkan.
Arkan, yang sedari tadi masih membuang muka ke arah jendela dengan sisa kekesalan, tersentak kecil. Ia menoleh dan mendapati Naura sudah memejamkan mata sepenuhnya. Napas gadis itu terdengar teratur dan tenang sangat kontras dengan lidah tajamnya yang baru saja menguliti harga diri Arkan beberapa menit lalu.
"Ra?" bisik Arkan pelan.
Tidak ada jawaban. Hanya helaan napas halus.
Arkan menghela napas panjang, namun kali ini bukan karena kesal. Wajahnya yang semula kaku perlahan melunak. Ia menatap wajah Naura dari jarak dekat; tanpa topeng keceriaan palsu atau tatapan provokatif, Naura terlihat... lelah. Arkan tahu persis bahwa di balik usia ia ejek tadi, Naura memikul beban misi yang sama beratnya dengan dirinya.
Ia sempat ragu, hendak menegakkan kembali posisi kepala Naura agar ia tidak pegal.
Namun, setiap kali bus berbelok, kepala Naura justru semakin merosot dan mencari posisi nyaman di ceruk lehernya.
Akhirnya, Arkan menyerah. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah sedang menjinakkan bom, Arkan menyesuaikan posisi duduknya agar bahunya bisa menjadi sandaran yang lebih stabil. Ia bahkan menarik sedikit jaket yang tersampir di pangkuannya untuk menutupi lengan Naura yang terekspos udara dingin AC.
Dari barisan depan, Raisa yang sedang membenarkan posisi spion kecil di tangannya, melihat pemandangan itu. Ia hanya menarik sudut bibirnya tipis, sebuah senyum langka yang hanya bertahan satu detik, sebelum kembali bersikap acuh tak acuh.
Sementara itu, Gibran yang sesekali menoleh ke belakang, merasakan dadanya sedikit sesak. Melihat bagaimana Arkan membiarkan Naura tidur di bahunya dengan ekspresi protektif membuat Gibran sadar bahwa dinding yang dibangun Arkan di sekeliling gadis itu jauh lebih tinggi dari yang ia duga.
"Tidur yang nyenyak, 'Dek' Naura," gumam Arkan sangat pelan, hampir tertelan deru mesin bus. "Seenggaknya kalau lo tidur, telinga gue aman dari hinaan soal umur."
Arkan pun akhirnya menyandarkan kepalanya sendiri di atas kepala Naura, ikut memejamkan mata, membiarkan ego dan persaingan mereka beristirahat sejenak sebelum badai misi yang sesungguhnya dimulai di kaki Gunung Salak.