Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setengah Hati
Setelah merundingkan tanggal pernikahan, akhirnya keluarga Johan pamit undur diri. Mia dan keluarganya mengantarkan mereka hingga di halaman depan. Udara sore yang hangat terasa sedikit ringan ketika rombongan itu pergi, meninggalkan Mia dan keluarganya di depan rumah.
Di ruang tengah, ibunya Mia membuka percakapan ringan sambil menepuk bahunya. “Bah… tu kok calon besan teu aya senyumna pisan, jadi hariwang Umi téh lamun kitu,” ujarnya dengan nada bercampur khawatir dan kesal. Suami Mia menatap istrinya sambil menggeleng pelan.
“Tidak baik, Umi itu namanya ghibah. Do’akan saja yang terbaik mungkin memang sudah karakternya seperti itu,” nasehatnya dengan bijak.
“Ya semoga aja, Bah… kesel aja, Umi. Senyum itu kan teu mayar,” sahut ibunya sambil tersenyum tipis, mencoba melepas kekhawatirannya. Mia hanya terdiam, tidak menanggapi, tapi dalam hati kecilnya ia juga merasa khawatir.
Jelas terlihat bahwa ibu Johan seperti setengah hati menerima dirinya, dan hal itu membuatnya berpikir keras tentang tantangan yang akan datang.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Semakin dekat hari pernikahan, Mia dan Johan semakin sering bertemu untuk mengurus segala persiapan. Setiap pertemuan membawa campuran rasa cemas dan bahagia bagi Mia; ia sadar, perjalanan menuju hari besar mereka akan menguji kesabaran, keteguhan, dan keberanian mereka berdua.
Hari-hari menjelang pernikahan membuat Mia merasa campur aduk. Setiap kali bertemu keluarga Johan, ia merasakan tatapan dingin yang sulit diartikan. Terutama ibu Johan, yang selalu menatapnya dengan ekspresi setengah hati.
Mia tahu, senyum yang jarang muncul dari calon mertuanya tanda ia tidak diterima sepenuh hati, dan hal itu membuatnya gelisah.
Suatu sore, saat Mia berbincang ringan dengan ibunya di rumah, ia menghela napas panjang.
“Umi…waktu Umi nikah dulu deg degan tidak? ” ujarnya, suara kecil tapi jujur. Ibunya Mia menepuk tangannya, lembut.
“Sama aja atuh Neng tengah ya” kata ibunya, mencoba menenangkan.
Mia mengangguk pelan, menahan rasa cemasnya. Ia sadar bahwa selain persiapan pernikahan, yang paling berat adalah menghadapi sikap ibu Johan. Ia mulai menyadari bahwa perjalanan mereka tidak hanya soal cinta, tapi juga budaya, adat, dan harapan keluarga besar.
Setiap kali Johan datang menemui Mia, ia selalu memberi semangat.
“Tenang, Sayang. Kita hadapi semuanya bersama,” bisiknya. Mia menggenggam tangannya erat, merasa sedikit lega. Meski ketegangan terasa nyata, tekadnya untuk membela dan menjaga hubungan dengan Johan tetap kuat. Ia tahu, ujian sebenarnya baru akan dimulai setelah hari pernikahan.
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Mia berdiri di pelaminan, mengenakan kebaya Sunda lengkap dengan Siger, Kain batik dan songket yang melingkari tubuhnya berpadu indah dengan warna kebaya hijau sage, menonjolkan keanggunannya. Johan berdiri di sampingnya, rapi mengenakan beskap hitam dengan blangkon khas pria Sunda. Suasana resepsi dipenuhi aroma bunga melati dan kembang setaman, menambah kehangatan di tengah mata tamu yang menyapu setiap gerak mereka.
Meski berdebar, Mia berusaha tersenyum tulus, menyambut ucapan selamat dari para tamu. Namun setiap kali pandangannya bertemu ibu Johan, ketegangan halus terasa nyata. Senyum tipis dari calon mertuanya seolah menahan penilaian, membuat Mia menelan ludah dan sedikit gemetar di balik Siger yang megah itu.
Di sisi lain, ibunya menepuk pundaknya lembut sambil berbisik,
“Neng, geulis pisan, euleh euleh anak Umi jadi pengantin” Goda Ibunya suaranya menenangkan hati Mia. Mia menarik napas panjang, sedikit lega. Kehadiran orang tuanya memberi kekuatan untuk menghadapi tekanan dari pihak Johan.
Suasana semakin hidup ketika tamu mulai memberi ucapan selamat. Mia membalas satu per satu dengan senyum yang dipaksakan tetap hangat, merasakan campuran bahagia dan gugup. Di balik itu, ia sadar bahwa hari ini bukan sekadar pesta, tetapi ujian pertama untuk diterima di keluarga Johan dan setiap langkahnya di pelaminan adalah bagian dari perjalanan yang akan menguji keteguhan cinta mereka.
Malam itu, suasana di rumah Mia terasa lebih tenang. Para tamu telah pulang, dan udara hangat dari lampu gantung masih menerangi ruang tamu yang kini dipenuhi kadi dan amplop dari para undangan. Mia duduk di samping Johan, membantu membuka satu per satu dengan hati-hati, sambil sesekali tersenyum lega melihat banyak ucapan selamat tertulis di kartu-kartu itu.
Namun ketenangan itu sempat pecah ketika ibu Johan menoleh tajam, nada suaranya datar tapi jelas mengandung kritik,
“Uang sumbangan itu di tabung Perjalanan kalian masih panjang, … jangan boros-boros.” Johan menghela napas, menatap ibunya sebentar sebelum menanggapi dengan lembut, berusaha tidak menimbulkan ketegangan lebih besar.
Mia menunduk, sedikit gelisah, . Di dalam hatinya, ia menyadari betul bahwa sikap ibu Johan bukan hanya soal uang, tetapi juga mencerminkan ekspektasi dan pengawasan yang akan terus muncul dalam hidupnya bersama Johan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, dan menatap Johan yang tetap fokus membantu membuka amplop.
“Bu, sebaiknya kita tidak ikut campur. Mereka kan sudah dewasa, pastinya tahu apa yang harus diprioritaskan,” ujar ibunya Mia.
Ibu Johan mendengus,
“Kan saya cuma mengingatkan, emangnya salah?”
Johan mengusap wajahnya, baru saja selesai resepsi, sudah ada perdebatan di antara ibu dan mertuanya.
“Ma, kami tahu kok. Sudah, tolong jangan berdebat untuk hal seperti ini,” ujar Johan dengan tegas.
Beberapa hari setelah resepsi, Mia mulai merasakan ketegangan yang lebih nyata dari ibu Johan. Setiap kali mereka bertemu, pandangan dingin dan komentar yang terselip membuatnya menelan ludah, merasa harus selalu waspada. Bahkan hal-hal kecil, seperti cara ia duduk atau berbicara, terasa diperhatikan dengan seksama.
Hal itu membuat keduanya memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua Johan. Hal ini memancing reaksi keras dari ibu Johan.
“Kenapa ingin tinggal terpisah? Apakah rumah ini kurang besar?” tanyanya dengan nada kesal.
“Bukan begitu, Ma tapi kami sudah punya keluarga sendiri,” jawab Johan tegas.
" Alasan! Jo kamu itu kepala rumah tangga jangan mau diatur istrimu. "
" Mia tidak mengatur Ma, keputusan kami untuk pindah, itu hasil kesepakatan kami berdua. "
Ibunya tidak menanggapi , tapi raut mukanya tidak bisa membohongi kalau ada kemarahan di sana.
Sementara itu, ayahnya hanya diam dan memilih tidak ikut campur. Ia tahu betul sifat istrinya, yang dari awal memang tidak menyukai menantunya.
Hari-hari Mia dan Johan kini lebih mandiri. Setelah memutuskan tinggal terpisah dari orang tua Johan, mereka mulai menata rumah mereka sendiri. Setiap pagi, Mia sibuk menyiapkan sarapan sementara Johan menata dokumen pekerjaan. Kehidupan baru ini memberi mereka kebebasan, namun Mia tetap merasakan tekanan yang halus dari keluarga Johan.
Sesekali, ibu Johan datang ke rumah mereka dengan alasan berbagai hal, mulai dari menanyakan hal kecil sampai memberi saran yang terdengar seperti kritik. Tatapan dingin dan komentar yang terselip membuat Mia menelan ludah, berusaha tetap tenang. Ia menyadari bahwa sikap ibu Johan bukanlah kebencian terbuka, tapi bentuk pengawasan yang terus terasa.
Di sisi lain, setiap kali ketegangan muncul, Johan selalu memberi semangat.
“Tenang, Sayang aku disini ,” katanya sambil menggenggam tangan Mia. Mia menarik napas, sedikit lega. Kehadiran Johan menjadi penguat di tengah tekanan yang ia rasakan.