Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
perjalanan pulang
Malam semakin larut. Suara debur ombak terdengar samar dari balik dinding kamar hotel, berpadu dengan desau angin laut yang masuk melalui celah balkon. Seluruh rombongan sudah terlelap, kelelahan setelah rangkaian kegiatan seharian penuh. api unggun, tawa, barbeque, dan perjalanan panjang yang menguras tenaga. Besok pagi mereka akan kembali ke Jakarta, kembali ke ritme hidup masing-masing.
Namun tidak dengan Rayya dan Devan.
Di kamarnya, Rayya berbaring miring, menatap langit-langit yang gelap. Lampu kamar sudah lama ia matikan, tapi matanya tetap terbuka. Kakinya yang masih sedikit ngilu sudah ia posisikan senyaman mungkin dengan bantal penyangga, namun rasa tidak nyaman itu kalah oleh riuh pikirannya sendiri.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan itu datang lagi.
Punggung Devan. Hangat. Kokoh. Aman.
Rayya menghela napas pelan, kesal pada dirinya sendiri. Ia mengubah posisi tidur, menarik selimut hingga sebatas dada, lalu memejamkan mata lebih kuat seolah dengan begitu pikirannya akan patuh. Tapi tidak. Justru ingatan lain menyeruak.
Cara Devan berlari menghampirinya di pink beach. Wajahnya yang fokus saat menghalau ular. Tangannya yang cekatan namun hati-hati saat memeriksa pergelangan kakinya. Nada suaranya yang tenang, seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan yang paling membuat Rayya gelisah adalah perasaan aman itu.
Rayya membuka mata lagi. Dadanya naik turun tidak beraturan.
“Ini cuma karena terlalu capek,” gumamnya pelan. “Dan karena terlalu sering bareng hari ini.”
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ia punya Tommy. Ia baru saja menerima Tommy di depan banyak orang. Tommy yang berusaha datang jauh-jauh, yang menembaknya dengan penuh keyakinan, yang berjanji akan melakukan apa pun untuknya.
Rayya memalingkan wajah ke arah jendela. Di luar, cahaya bulan memantul di permukaan laut, tenang dan dingin.
“Ini cuma efek kebersamaan,” ucapnya lagi, lebih tegas, seolah berbicara pada hati yang membangkang.
Di kamar Rayya, jam dinding berdetak pelan. Rayya menarik napas panjang, lalu perlahan menghembuskannya. Ia mencoba mengingat semua hal yang membuatnya yakin bahwa perasaannya baik-baik saja.
Tommy. Senyum Tommy. Janji Tommy.
Namun entah mengapa, setiap kali ia memikirkan Tommy, yang muncul bukan rasa hangat seperti seharusnya, melainkan rasa aman yang… datar. Berbeda dengan sensasi aneh yang muncul tanpa diminta ketika ia mengingat Devan.
Rayya menutup mata, kali ini lebih pelan.
“Besok pulang,” katanya dalam hati.
“Semua akan normal lagi.”
sementara itu, Di kamar lain, disebelah kamar Rayya, Devan duduk bersandar di kepala ranjang. Lampu meja kecil di samping tempat tidurnya masih menyala redup. Jas tipis yang tadi ia kenakan sudah tergantung rapi, tapi ia sendiri belum beranjak untuk tidur.
Devan menatap kosong ke arah lantai.
Ia sudah mencoba memejamkan mata sejak satu jam lalu. Sudah menarik napas panjang, sudah memaksa pikirannya untuk fokus pada hal-hal rasional: laporan proyek, timeline kerja sama dengan Hariaksa Group, agenda kantor minggu depan. Namun setiap kali pikirannya mulai tenang, satu wajah muncul tanpa izin.
Rayya.
Devan mengusap wajahnya pelan, lalu bersandar lebih dalam. Ada rasa jengkel pada dirinya sendiri. Selama ini ia selalu bisa mengontrol pikirannya, memisahkan urusan pribadi dan profesional dengan rapi. Ia sudah terbiasa hidup sendiri, menutup hati sejak kehilangan tunangannya bertahun-tahun lalu.
Namun malam ini, pertahanan itu terasa rapuh.
Ia teringat Rayya yang tertidur di punggungnya, napasnya yang teratur, rambutnya yang sesekali menyentuh lehernya saat ia menuruni anak tangga. Devan ingat betul bagaimana ia menahan diri agar langkahnya tetap stabil, agar Rayya tidak terbangun, agar kakinya tidak semakin sakit.
Dan tatapan Rayya.
Tatapan yang ia tangkap beberapa kali, di bukit, di kapal, di balkon malam ini. Tatapan yang bukan marah, bukan sinis, melainkan… bingung.
Devan menghembuskan napas berat.
“Kamu ini kenapa, Dev?” gumamnya lirih.
Ia tahu posisinya. Rayya adalah putri direktur utama. Rayya adalah direktur operasional. Rayya adalah kekasih Tommy atau setidaknya sekarang sudah jelas status mereka di depan semua orang.
Dan Devan? Ia hanya pengawas. Rekan kerja. Masa lalu yang seharusnya sudah lama selesai.
Ia mematikan lampu meja, lalu berbaring telentang. Gelap menyelimuti ruangan, tapi bayangan Rayya justru terasa semakin jelas.
“Aku cuma terlalu lama berinteraksi dengannya,” bisiknya pada diri sendiri.
“Itu saja.”
Di kamar Devan, ia memutar tubuh ke samping, menghadap dinding. Tangannya mengepal di bawah bantal.
“Besok kita pulang,” pikirnya.
“Dan semuanya akan kembali seperti biasa.”
Di dua kamar yang terpisah, dengan jarak hanya beberapa langkah, Rayya dan Devan sama-sama terjaga dalam keheningan malam. Keduanya menolak mengakui satu hal yang sama, bahwa apa yang mereka rasakan bukan sekadar lelah, bukan sekadar kebersamaan, dan bukan sesuatu yang bisa dengan mudah diabaikan begitu saja.
keesokan paginya setelah rombongan selesai sarapan, mereka menlanjutkan perjalanan ke bandara. Perjalanan pulang ke Jakarta berlangsung lebih sunyi dibanding saat keberangkatan. Rombongan tampak kelelahan, sebagian memilih memejamkan mata, sebagian lagi sibuk dengan ponsel masing-masing. Di dalam pesawat, Rayya duduk di dekat jendela, kakinya sudah tidak terlalu nyeri meski masih dibalut perban tipis.
Tommy duduk di sampingnya.
Sejak mereka berangkat dari hotel hingga kini berada di udara, Tommy nyaris tidak pernah menjauh. Ia memastikan Rayya berjalan pelan, menanyakan apakah kakinya masih sakit, bahkan menawarkan untuk membawakan tas kecil Rayya meski isinya tidak seberapa. Di dalam pesawat pun, perhatian Tommy terasa nyaris berlebihan.
“Kakinya nggak nyeri lagi?” tanya Tommy untuk kesekian kalinya.
Rayya tersenyum tipis.
“Udah jauh lebih baik, Tom. Dokter bilang aku boleh jalan normal, asal nggak dipaksain.”
Tommy mengangguk, tapi tetap terlihat waspada. Tangannya sesekali terulur, seolah siap menahan Rayya jika tiba-tiba ia merasa tidak nyaman. Setiap kali ada awak kabin lewat atau penumpang berdiri, Tommy refleks sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Rayya, seakan menjadi tameng.
Di satu sisi, Rayya tahu Tommy sedang berusaha menunjukkan kepeduliannya. Ia bahkan sempat merasa bersalah karena sempat meragukan kesungguhan pria itu. Namun di sisi lain, ada perasaan aneh yang membuatnya tidak sepenuhnya nyaman.
Ia merasa… dikekang.
Rayya menggeser kakinya sedikit, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman. Tommy langsung menyadarinya.
“Kenapa? Sakit?”
“Nggak,” jawab Rayya cepat.
“Aku cuma mau ganti posisi duduk.”
Tommy tersenyum, tapi sorot matanya tetap siaga. Seolah setiap gerakan Rayya perlu berada dalam jangkauannya.
Di barisan kursi lain, beberapa deret dari mereka, Devan duduk tenang dengan laptop tertutup di pangkuannya. Sejak lepas landas, ia memilih memandang keluar jendela atau menunduk, tidak ikut terlibat dalam percakapan siapa pun. Namun tanpa sengaja, pandangannya beberapa kali tertuju ke arah Rayya.
Ia melihat Tommy yang nyaris tidak memberi jarak. Melihat cara Tommy mencondongkan tubuhnya, cara ia menatap Rayya seolah takut kehilangan.
Devan tidak bereaksi apa-apa. Wajahnya tetap datar. Namun di dalam hatinya, ia paham satu hal: perhatian Tommy bukan sepenuhnya tentang Rayya.
Itu tentang dirinya.
Tommy sesekali melirik ke arah lain, memastikan posisi Devan, memastikan tidak ada celah. Dan setiap kali mata mereka hampir bertemu, Tommy akan sedikit mendekat ke Rayya. gerakan kecil, tapi penuh makna.
Rayya merasakannya.
Ia menghela napas pelan, menatap awan di luar jendela. Ada bagian dari dirinya yang ingin ruang, ingin bernapas tanpa selalu diawasi. Namun ia kembali menenangkan diri.
Dia hanya khawatir, pikir Rayya. Wajar, setelah semua yang terjadi.
Ia tidak ingin memulai hubungan dengan kecurigaan. Tidak ingin bersikap dingin pada seseorang yang sudah berusaha sekeras itu untuknya. Jadi Rayya membiarkan Tommy tetap di sisinya, meski ada rasa tidak nyaman yang pelan-pelan tumbuh.
Sementara itu, Tommy sendiri menyandarkan punggungnya ke kursi, satu tangannya tetap berada dekat Rayya. Di balik wajah perhatian dan senyum hangatnya, pikirannya bekerja cepat.
Ia mengingat momen-momen di Labuan Bajo, Rayya digendong, Rayya diselamatkan, Rayya terlihat begitu bergantung pada pria lain. Ia tidak suka itu. Sama sekali tidak suka.
Tommy tidak akan membiarkan Devan mengambil apa pun darinya.
Dan Rayya, yang masih meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah bentuk perhatian,