Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lahirnya Kuadran Presisi : Siasat Di Balik Prahara
Misca menerjang Nanda dengan kecepatan yang tidak terduga. Tatapan matanya kosong, gerakannya brutal—ini bukan lagi Misca yang tenang dan terkendali. Sesuatu dalam dirinya telah berubah. Ia tidak lagi mencari kuncian yang rapi atau efisien; ia mencari kehancuran.
Nanda, si raksasa dari Selatan, menerima setiap pukulan telak ke rusuknya, ke bahunya. Ia membalas dengan pukulan lurus yang bertujuan menciptakan knockout seketika. Pertarungan berubah menjadi tarian brutal—Misca mencoba menghancurkan, Nanda berusaha bertahan dengan tubuh baja miliknya.
Di sisi arena, kepanikan mulai melanda.
"Apa yang terjadi pada Misca?!" Jeka berteriak tajam. "Gerakannya... itu bukan Misca yang kita kenal! Dia terlalu brutal!"
Raka menoleh ke Vino dengan wajah cemas. "Vino! Ada apa dengannya? Dia terlihat seperti... binatang kelaparan!"
Vino, yang masih dilalap amarah terhadap Dian, hanya menatap dengan mata berkilat penuh kebencian. "Misca sedang marah! Dia akan menghabisi Nanda bagaimanapun caranya. Fokusku sekarang hanya pada pengkhianat itu!"
Vino menolak mengakui bahwa Misca, jangkar logis mereka, sedang kehilangan kendali.
Tino, yang baru siuman dengan kepala berat, terhuyung-huyung dibantu anak buahnya. Ia melihat pertarungan brutal itu dan wajahnya memucat. "Apa... yang sebenarnya terjadi? Kenapa Misca bisa berubah seperti itu?" Tino mencatat ini sebagai informasi berharga untuk masa depan.
Di barisan Selatan, Kala menatap Dian dengan curiga. Dian terlihat tegang—bukan karena cemas pada Nanda, tapi karena hal lain. Insting tajam Kala mengatakan ada yang sangat salah dengan Dian. Seharusnya ia berteriak menyemangati Nanda, tapi ia hanya diam membisu, matanya terpaku pada Misca yang mengamuk.
Waktu terus berlalu. Pertarungan sudah berlangsung dua puluh menit penuh. Keduanya kini berdarah, lelah, terengah-engah. Lantai arena penuh debu berterbangan.
Nanda, meski hancur dihajar habis-habisan, akhirnya mengakui kekalahan mentalnya.
"Kamu... Misca," Nanda terbatuk, darah menetes dari hidungnya. "Kamu memang pantas jadi pemimpin kami. Kekuatanmu bukan cuma soal otak. Kamu benar-benar gila!"
Pertahanan Nanda mulai goyah. Misca melihat celah besar itu, bersiap melancarkan pukulan knockout yang dirancang menghancurkan tulang rusuk Nanda.
Namun, tepat di tengah amukan itu, memori samar tiba-tiba muncul di benak Misca. Kilasan masa kecil yang sangat jauh: seorang anak laki-laki kecil dan seorang gadis yang tertawa riang. Gambarnya buram, penuh rasa sakit—memori yang selama ini disembunyikan rapat di balik dinding logika Misca.
Misca berhenti tiba-tiba. Ia terhuyung di tempat.
Siapa gadis itu? Kenapa memori ini terasa begitu menyakitkan?
Memori itu terus berjuang melawan dorongan untuk menghancurkan Nanda. Tiba-tiba, gambaran itu digantikan oleh yang lebih jelas: air mata Raya saat mereka di atas bukit, pelukan hangatnya yang canggung—sentuhan yang pernah Misca deskripsikan sebagai “penyimpangan yang disengaja dan dibutuhkan”
Misca tersentak hebat. Ia teringat janjinya. Ia harus membangun ketenangan, bukan kehancuran. Raya adalah jangkar yang menariknya kembali dari jurang gelap.
Misca mulai bertarung melawan dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam, mengendalikan setiap serat ototnya, memaksa gerakannya kembali ke jalur logis. Perjuangan menyakitkan—perang melawan dirinya sendiri.
Akhirnya ia berhasil. Sisi gelap itu mundur, terkunci kembali di balik benteng logikanya. Misca, kini telah menguasai kesadarannya penuh, melihat Nanda terhuyung tanpa daya.
Misca melancarkan serangan terakhir: pukulan cepat ke ulu hati Nanda, diikuti tendangan sapuan ke kakinya. Ia mengakhiri duel ini dengan keunggulan teknik, bukan lagi kekuatan kasar.
Nanda terkapar, kehabisan napas, tubuh lemas. Tapi ia tidak pingsan dan tidak cedera permanen. Ia menatap Misca dengan hormat mendalam.
Nanda menyerah. Misca menang.
Keheningan mencekam melanda stadion tua. Semua mata tertuju pada Misca yang berdiri tegak berlumuran darah dan keringat sebagai pemenang mutlak. Jeka dan Vino bersorak lega. Raka menghela napas panjang, puas bahwa pemimpin kuat telah muncul.
Namun Vino tidak mau buang waktu. Kemenangan Misca berarti duel antar wilayah telah berakhir—saatnya pembalasan pribadi.
Vino berjalan cepat penuh amarah, melewati Misca, menuju barisan Wilayah Selatan. Ia berdiri tegak di depan Dian, matanya menyala-nyala.
"Dian! Sekarang giliranku menyelesaikan urusan kita!" raung Vino. "Kamu pengkhianat! Kamu sudah menghina Misca dan ibunya! Duel kita dimulai sekarang!"
Dian tidak menunjukkan rasa takut. Sebaliknya, ia tersenyum licik dan menyeramkan.
Dian menoleh ke kegelapan di belakang barisan Wilayah Barat dan Utara, lalu berteriak lantang.
"KELUARLAH KALIAN SEMUA YANG SEDANG BERSEMBUNYI! PERTUNJUKAN YANG SEBENARNYA BARU SAJA DIMULAI!"
Detik berikutnya, keributan besar terjadi serentak. Pintu-pintu layanan dan lorong gelap di seluruh stadion terbuka bersamaan dengan dentuman keras.
Dari kegelapan, muncul Pria A dan Gus dengan wajah menyeringai penuh kemenangan. Mereka tidak sendirian—mereka memimpin sekitar seratus orang anggota The Phantom mengenakan seragam gelap, bersenjata ringan, sangat terorganisir. Mereka bergerak cepat mengepung seluruh area pertarungan.
Keempat Wilayah—Utara, Selatan, Timur, dan Barat—kini terjebak di tengah kepungan musuh.
Kala menoleh ke Dian dengan tatapan tajam penuh penyesalan. "Dian!" teriaknya terkejut. "Kamu... ternyata benar-benar pengkhianat!"
Dian hanya tersenyum licik, berdiri tenang di tengah kepungan anggota The Phantom.
Misca, yang baru saja memenangkan takhta sebagai pemimpin, menoleh ke Vino. Ia menyadari satu hal fatal: Vino tidak hanya memprovokasi Dian—melalui tindakannya, Vino secara tidak sengaja telah mengungkapkan sifat asli Dian sebagai pengkhianat yang bekerja sama dengan pihak luar.
Kemenangan Misca di duel wilayah itu seketika terasa tidak berarti dibandingkan ancaman di depan mata. Nanda hanya bisa terdiam membisu, tidak percaya di dalam wilayahnya terdapat pengkhianat sebesar itu. Raka menatap Nanda dengan tajam, seakan berkata bahwa otak dan kewaspadaan sangat diperlukan untuk menjadi ketua, bukan hanya otot.
Misca kini harus segera menggunakan seluruh ketajaman pikirannya untuk memimpin aliansi yang baru terbentuk ini melawan ancaman The Phantom yang jauh lebih besar dan terorganisir.
Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimula
Dian, sang pengkhianat, menyeringai puas setelah memanggil pasukan The Phantom. Ia menatap Misca dengan tatapan meremehkan, mengharapkan raut wajah panik dari sang jenius yang baru saja kelelahan. Namun, seringai Dian membeku seketika saat matanya bertemu dengan Raka.
Raka, si Ketua Barat yang biasanya terlihat paranoid dan penuh kecemasan, kini justru tampak sangat tenang. Ia tersenyum—sebuah senyum licik dan dingin, mengarah tepat ke arah Dian. Senyum Raka saat itu jauh lebih menakutkan daripada amukan Nanda.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu, Raka?" tanya Dian, mulai merasa ada yang salah.
Raka tertawa keras, tawanya menggema di tengah kepungan yang mencekam. "Kenapa aku tersenyum? Karena kamu adalah pengkhianat yang sangat mudah ditebak, Dian! Kamu terlalu jelas dalam bermain intrik."
Raka berbicara dengan suara lantang, ditujukan kepada semua orang di stadion, termasuk Gus dan Pria A yang memimpin The Phantom.
"Pertarungan ini seharusnya terjadi di Gudang Utama Utara, kan? Lalu kenapa lokasinya tiba-tiba berubah ke stadion mati ini, Dian? Itu karena aku sudah tahu kamu akan membocorkan lokasi kami kepada The Phantom!" teriak Raka penuh kemenangan.
Raka menunjuk ke arah Misca. "Duel ini sebenarnya hanyalah umpan! Aku tahu The Phantom hanya akan bergerak jika mereka melihat semua pemimpin wilayah berkumpul dan dalam keadaan terluka. Kami sengaja mengubah lokasi hanya dua jam sebelum duel dimulai, dan memastikan hanya kamu, Dian, yang memegang koordinat pastinya!"
Dian terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. Raka tidak hanya menyiapkan jalur pelarian—Raka telah menjadikan Dian sebagai umpan hidup untuk menarik musuh ke dalam perangkap yang mereka buat sendiri. Gus dan Pria A saling pandang, tawa mengejek mereka hilang, digantikan kerutan bingung. Strategi mereka untuk menyergap para pemimpin yang lelah telah dibaca dan dibalikkan sepenuhnya.
Misca, yang masih terengah-engah dan berlumuran darah setelah mengalahkan Nanda, menoleh ke mantan lawannya itu. Nanda menatap Misca dengan rasa tidak percaya yang mendalam.
"Dia benar, Misca? Semua ini sudah direncanakan?" tanya Nanda.
Misca, yang kini telah kembali sepenuhnya ke ketajaman berpikirnya, menjawab dengan tenang. "Raka tidak akan pernah bergerak tanpa strategi cadangan. Gejolak emosi Dian jauh lebih besar dari yang aku duga. Aku tahu ancaman ini akan datang, dan Raka adalah orang yang tepat untuk menanganinya."
Raka tidak menyia-nyiakan momen krisis ini. Ia melangkah maju dan menunjuk Misca dengan tangan terentang lebar di hadapan semua anggota wilayah.
"Peraturan duel telah dilaksanakan sepenuhnya! Misca dari Utara menang dua kali, Nanda dari Selatan menang dua kali, tetapi secara langsung, Misca mengalahkan Nanda! Dan Misca adalah satu-satunya orang yang memiliki kapasitas untuk menghadapi ancaman besar di depan kita saat ini!" teriak Raka lantang. "Misca sudah membuktikan ketajamannya! Mulai malam ini, Misca adalah pemimpin dari Empat Wilayah!"
Nanda, setelah menyadari betapa naifnya dia dan betapa berbahayanya pengkhianatan Dian, mengangguk mantap. "Aku setuju! Misca, pimpin kami! Sekarang saatnya kita membereskan sampah-sampah ini!"
Tino, yang wajahnya masih memar dan memegang rusuknya, juga memberikan anggukan setuju. "Utara dan Timur resmi bersekutu! Misca, tunjukkan pada mereka apa itu strategi yang sebenarnya!"
Misca, sang pemimpin yang awalnya enggan, kini menerima takdirnya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan energi dan kepercayaan dari ketiga pemimpin wilayah lainnya mengalir ke arahnya.
Misca berteriak kepada Jeka, suaranya tajam memotong ketegangan. "Jeka! Berikan nama pada aliansi besar ini! Kita adalah satu! Kita adalah jawaban mutlak untuk mengakhiri kekacauan ini!"
Jeka mengangkat tinjunya tinggi-tinggi ke udara dan berteriak sekuat tenaga hingga suaranya menggema ke seluruh stadion:
"KUADRAN PRESISI!"
Nama itu, yang merujuk pada penyatuan empat wilayah di bawah prinsip keteraturan Misca, seketika membekukan kebingungan anggota The Phantom. Gus dan Pria A hanya bisa cengengesan bingung. "Kuadran Presisi? Apa-apaan nama itu? Kalian pikir kita sedang di ruang kelas?!" ejek Gus.
Vino, yang melihat Nanda kini berdiri berdampingan sebagai sekutu Misca, berjalan cepat menuju barisan Selatan. Ia berdiri di depan Dian dengan mata menyala penuh amarah yang tertahan.
"Nanda! Sekarang kita sudah satu aliansi. Aku minta izinmu, sebagai pemimpin Selatan atau sekarang sebagai Wakil Pemimpin, untuk menghabisi pengkhianat ini! Dia sudah menghina Ibu Misca, menghina Raya, dan meremehkan seluruh prinsip kita!" Vino menunjuk Dian dengan tangan gemetar karena emosi.
Nanda menatap Dian dengan rasa kecewa dan jijik yang sangat dalam. "Dia bukan lagi bagian dari Selatan! Dia adalah sampah yang tidak berguna! Hancurkan dia, Vino!"
Vino menyeringai puas. Namun, Raka bergerak lebih cepat untuk menjaga kesiapan tempur. "Vino, tunggu! Kita harus menunjukkan pada The Phantom bahwa kita tidak takut! Jeka! Laksanakan Strategi Kontra-Ambush sekarang juga!"
Jeka berteriak menembus pengepungan musuh: "KELUARLAH ANGGOTA UTARA DAN BARAT! KITA ADALAH KUADRAN PRESISI!"
Tiba-tiba, dari balik deretan kursi tinggi yang gelap dan lorong-lorong tersembunyi, muncul tiga puluh anggota inti Wilayah Utara yang dipimpin oleh Bima. Mereka adalah pasukan terlatih yang siap bertarung dalam kondisi apa pun. Dari sisi lain, muncul dua puluh anggota intelijen Wilayah Barat yang dipersenjatai lengkap dengan tongkat pertahanan.
Total lima puluh anggota aliansi tiba-tiba muncul di belakang barisan The Phantom, membalikkan posisi pengepungan menjadi sebuah perangkap balik yang mematikan. Gus dan Pria A panik.
"Sialan! Mereka menyiapkan pasukan cadangan?!"
Perang terbuka pecah seketika.
Kala, anggota Selatan yang jujur, tidak menunggu perintah lagi. Ia melompat maju menyerang Dian dengan pukulan lurus yang sangat kuat. "Dian! Kamu sudah menjual kami semua!" teriak Kala. Dian terkejut namun berhasil menangkis, meskipun ia tidak bisa menghindari tatapan kebencian dari rekannya sendiri.
Misca berdiri tegak di tengah arena, memindai seluruh medan perang dengan mata tajamnya. "Raka! Tino! Nanda! Prioritas utama adalah mengeliminasi Gus dan Pria A! Hancurkan kepalanya, maka tubuhnya akan mati!" teriak Misca dengan otoritas penuh.
Di dalam stadion, pertarungan semakin intens. Dian berhasil melarikan diri dari Kala berkat bantuan tiga anggota The Phantom dan berlari menuju pintu keluar. Nanda dan Raka pun mulai bergerak. Nanda menerjang Gus, sementara Raka mengincar Pria A dengan kalkulasi cerdasnya.
Misca menoleh ke Jeka. "Jeka! Tetap di posisi kontrol taktis bersama Tino! Beri laporan langsung kepada Nanda dan Raka!"
Tiba-tiba, mata Misca menangkap pergerakan asing di lorong layanan yang gelap di ujung stadion. Ia melihat dua siluet misterius yang bergerak sangat cepat dan senyap. Teknik gerak mereka menunjukkan tingkat keahlian yang jauh lebih tinggi.
Logika Misca langsung bekerja: Dua orang ini adalah keberadaan yang tidak diketahui. Mereka adalah ancaman yang paling berbahaya karena tidak terdeteksi oleh kita.
"Nanda! Raka! Aku melihat dua orang misterius! Sepertinya mereka bagian dari The Phantom! Mereka adalah ancaman terbesar yang harus aku netralkan sekarang juga! Kalian berdua ambil alih pertarungan di sini!"
Tanpa menunggu jawaban, Misca berbalik dan berlari kencang mengejar kedua siluet tersebut ke dalam kegelapan lorong, meninggalkan pertempuran besar yang baru saja ia pimpin. Ia merasa harus menghadapi ancaman yang tidak jelas itu sendirian.
Sementara itu, Dian berhasil mencapai luar stadion. Namun, di bawah lampu jalan yang redup, jalannya terhenti. Vino berdiri tegak di sana dengan napas memburu dan tatapan mata yang bisa membunuh.
"Kamu tidak bisa lari lagi, Dian," ujar Vino dengan suara rendah yang penuh ancaman. "Kamu sudah menghina Raya, kamu sudah meremehkan Misca, dan kamu mengkhianati kami semua. Malam ini, kamu akan membayar semua kebutaan emosimu itu dengan harga yang sangat mahal."
Dian menyeringai, mencoba menutupi ketakutannya. "Kalau begitu, mari kita lihat, Vino. Siapa yang lebih kuat: emosiku atau kebodohanmu!"
Vino dan Dian kini saling berhadapan dalam duel pribadi yang tak terhindarkan, sementara di dalam stadion, Kuadran Presisi bertarung habis-habisan melawan pengepungan The Phantom. Misca kini sedang memburu bayangan yang jauh lebih berbahaya di tengah kegelapan malam yang dingin.