NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:154
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Rahasia di Balik Jas Putih yang Wangi

Keesokan paginya, Adrian terbangun oleh suara alarm yang sangat berisik dan saat ia membuka pintu rumahnya, ia menemukan sebuah kotak besar yang sangat harum. Aroma vanila bercampur dengan pewangi pakaian yang sangat kuat seketika menyerang indra penciumannya hingga ia harus menutup hidung sejenak. Di atas kotak itu terdapat sebuah kartu ucapan berwarna kuning terang dengan hiasan gambar hati yang digambar secara serampangan namun sangat penuh dengan niat.

"Selamat pagi calon guru lesku yang paling kaku, ini adalah jas putih Dokter yang kemarin terkena tumpahan cairan pembersih kuman," tulis Lala dalam kartu tersebut.

"Bagaimana anak itu bisa mengambil jas kotor ini dari keranjang rumah sakit tanpa ketahuan oleh petugas keamanan?" gumam Adrian dengan raut wajah yang sangat keheranan.

Adrian membawa kotak itu masuk ke dalam ruang tamu lalu perlahan lahan membukanya dengan rasa was was yang sangat besar. Di dalam kotak tersebut, jas putih miliknya sudah terlipat sangat rapi dan mengeluarkan wangi yang sangat semerbak seolah baru saja direndam dalam cairan parfum selama berhari hari. Namun, saat ia mengangkat jas tersebut, Adrian menemukan sesuatu yang tersembunyi di balik lipatan kain bagian dalam yang sangat halus.

"Ini bukan sekadar jas yang sudah bersih, kenapa ada sulaman benang berwarna merah muda di bagian kerah belakang?" tanya Adrian pada dirinya sendiri.

"Itu adalah tanda pengenal agar Dokter tidak tertukar dengan dokter lain yang kurang tampan," sahut sebuah suara yang tiba tiba muncul dari arah jendela.

Adrian hampir saja menjatuhkan jas putihnya karena terkejut melihat Lala sudah nangkring di balik pagar rumahnya sambil membawa sebuah tas sekolah yang sangat besar. Gadis itu mengenakan seragam abu abu yang rapi namun wajahnya tampak sangat pucat seolah ia baru saja melakukan lari maraton sejauh sepuluh kilometer. Adrian segera meletakkan jas tersebut dan berjalan menghampiri pagar dengan langkah kaki yang dihentakkan sangat keras karena merasa sangat kesal.

"Lala! Apa yang kamu lakukan di sini sepagi ini? Bukankah kontrak kita mengatakan bahwa saya yang akan datang ke rumah kamu?" bentak Adrian.

"Ayah sedang dinas luar kota dan Kak Danu sedang pergi ke bengkel, jadi aku memutuskan untuk memberikan kejutan sarapan sehat untuk Dokter," jawab Lala sambil menyodorkan sebuah bungkusan plastik.

Adrian menatap bungkusan plastik itu dengan curiga sebelum akhirnya ia membukakan pintu pagar agar Lala bisa masuk ke dalam halaman rumahnya yang asri. Ia menyadari bahwa tindakan Lala yang nekat mencuci jas putihnya sendiri adalah bentuk perhatian ugal ugalan yang sangat berisiko bagi reputasi medisnya. Jika rekan sejawatnya di rumah sakit melihat sulaman nama Lala di kerah jasnya, tamatlah riwayat kewibawaan yang selama ini ia bangun dengan sangat susah payah.

"Kamu tidak boleh menyentuh peralatan medis atau pakaian kerja saya tanpa izin, ini adalah aturan dasar profesionalisme!" tegas Adrian.

"Tapi jas itu sekarang sangat wangi kan? Aku bahkan menggunakan pelembut pakaian paling mahal milik Kak Danu secara diam diam," bela Lala dengan bangga.

Lala melangkah masuk ke dalam rumah Adrian dengan tatapan mata yang sangat antusias menyapu setiap sudut ruangan yang tertata sangat rapi dan sangat minimalis. Ia kemudian duduk di kursi makan dan mulai membongkar isi bungkusan plastik yang ternyata berisi bubur ayam dengan taburan kacang yang sangat banyak. Adrian hanya bisa berdiri mematung sambil melihat bagaimana rumahnya yang biasanya sangat sepi kini berubah menjadi sangat berisik karena kehadiran sang gadis kompor.

"Duduklah Dokter, jangan menatapku seolah aku adalah bakteri jahat yang baru saja menginvasi laboratorium pribadi Dokter," ajak Lala sambil menyodorkan sendok plastik.

"Saya tidak biasa sarapan dengan bubur yang memiliki banyak hiasan alay seperti ini," tolak Adrian namun perutnya justru berbunyi dengan sangat nyaring.

Wajah Adrian mendadak memerah karena merasa sangat malu akibat pengkhianatan dari sistem pencernaannya sendiri di depan sang murid les. Ia akhirnya menyerah dan duduk di hadapan Lala untuk mulai menyantap bubur tersebut dengan gerakan yang sangat kaku dan sangat perlahan lahan. Keheningan yang cukup canggung sempat terjadi sebelum akhirnya Lala mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening dari dalam tas sekolahnya yang berat.

"Apa lagi itu? Kamu tidak sedang mencoba meracuni saya dengan ramuan cinta dari internet kan?" tanya Adrian dengan nada penuh selidik.

"Ini adalah minyak aromaterapi yang aku buat sendiri untuk dioleskan di balik jas putih Dokter agar Dokter tetap tenang saat menangani pasien cerewet," jelas Lala.

Adrian terdiam saat menyadari bahwa di balik segala tingkah laku yang sangat mengganggu, Lala ternyata memiliki perhatian yang sangat mendalam terhadap tingkat stres yang ia alami. Ia mengambil botol kecil itu dan mencium aromanya yang ternyata sangat menenangkan dan sangat berbeda dengan bau rumah sakit yang biasanya sangat membosankan. Perasaan hangat kembali menjalar di hati sang dokter kulkas saat ia melihat Lala yang kini sedang asyik membetulkan letak pita rambutnya di cermin ruang tamu.

"Terima kasih untuk jas dan aromaterapi ini, tapi tetap saja kamu harus segera berangkat ke sekolah agar tidak terlambat lagi," ucap Adrian dengan nada yang sedikit lebih lembut.

"Dokter mau mengantarku kan? Mobil Dokter jauh lebih keren daripada angkutan umum yang sering telat itu," pinta Lala dengan binar mata yang memohon sangat dalam.

Adrian melihat jam tangannya dan menyadari bahwa ia masih memiliki waktu tiga puluh menit sebelum jadwal kunjungan pasien di bangsal saraf dimulai. Ia menghela napas panjang dan memberikan isyarat agar Lala segera merapikan tasnya untuk masuk ke dalam mobil pribadinya yang sangat bersih. Perjalanan menuju sekolah Lala pagi itu terasa sangat berbeda karena aroma vanila dari jas putih yang baru dicuci terus mengikuti pergerakan udara di dalam kabin mobil.

"Kenapa Dokter terus diam? Apa Dokter sedang memikirkan cara untuk menyatakan cinta kepadaku setelah melihat pengabdianku pagi ini?" tanya Lala dengan ugal ugalan yang tidak ada habisnya.

"Saya sedang memikirkan bagaimana cara menghilangkan sulaman nama kamu di kerah jas ini tanpa merusak serat kainnya," jawab Adrian dengan wajah yang sangat datar.

Mobil Adrian akhirnya berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang sudah mulai dipenuhi oleh para siswa yang berlarian masuk karena bel masuk hampir berbunyi. Lala turun dari mobil dengan senyum yang sangat lebar hingga menarik perhatian banyak orang termasuk beberapa guru yang sedang berjaga di depan gerbang. Sebelum menutup pintu mobil, Lala kembali mendekatkan wajahnya ke arah jendela dan membisikkan sesuatu yang membuat jantung Adrian berdegup berulang ulang sangat kencang.

"Ada rahasia lain di balik saku jas itu, jangan dibuka kalau Dokter belum siap untuk jatuh cinta sedalam dalamnya kepadaku," bisik Lala lalu berlari menjauh dengan riang.

Adrian segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan merogoh saku jas putih yang ia bawa di kursi samping pengemudi dengan perasaan yang sangat penasaran. Di dalam saku tersebut, ia menemukan sebuah foto kecil berukuran pas foto yang menunjukkan wajah Lala sedang tersenyum manis dengan latar belakang koridor rumah sakit. Di balik foto itu terdapat tulisan tangan yang menyatakan bahwa Lala sengaja menjadi relawan gadungan hanya agar bisa melihat wajah Adrian setiap hari tanpa harus berpura pura pingsan.

Baru saja Adrian hendak memasukkan kembali foto itu ke dalam saku, ia melihat sosok Dokter Siska yang sedang berdiri di seberang jalan sambil menatap ke arah mobilnya dengan pandangan yang sangat dingin dan penuh dengan api cemburu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!