Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Mantan istrinya Kim Taehyung, bangun. Bentar lagi mertuamu datang.” ibu berbisik sangat dekat di telingaku.
Aku pun terpaksa membuka mata karena merinding. Efek dari obat dan juga tidak boleh banyak tingkah, Aku lebih baik tidur kata mas dokter.
Ish!
“Ayo pipis dulu, nanti ibu antar.” kata ibu lagi.
Ibu membantuku untuk turun dari ranjang. Efek dari cekikan ternyata luar biasa, Aku bahkan seperti orang lumpuh. Mamanya Bagas menekan leherku sangatlah brutal. Kata dokterku, jika terlambat sedikit lagi bisa saja terjadi penyumbatan pembuluh darah di otak atau pembengkakan otak. Yang bisa membuat tubuh lumpuh atau koma.
“Sini ibu pakaikan bedak.” ujar ibu setelah Aku keluar dari kamar mandi.
“Pakai liptint aja, Bu.” Aku menolak, sebab luka di pipiku masih basah.
“Oh, iya. Sebentar—”
Aku hanya menunggu di atas ranjang.
“Yang mana, Din?” ibu mencari-cari di pouch kosmetik yang baru ibu bawa dari rumah. Semua lipstik dan liptint ku ibu bawa sampai yang sudah habis pun ikut masuk ke dalam pouch kosmetik itu, membuatku menghela napas.
Kata ibu ketemu mertua harus tampil cantik. Memangnya Aku menikah sama anaknya apa sama bapaknya sih?
Dah lah!
“Yang warna nude aja, Bu.” jawabku lesu, karena menunggu ibu begitu lama hanya untuk mencari yang sesuai keinginannya.
“Nude itu warna apa, Din? Yang mana sih?” kesabaran ibu sudah mulai menipis.
Aku hanya mampu membatin, sudah tahu kalau tidak tahu, kenapa ibu tidak menyuruhku mencari sendiri? Padahal tanganku nganggur dan sehat. “Itu yang warnanya seperti warna kulit.” jawabku.
Ibu menghentikan gerakan tangannya yang lincah, “Maksudnya?”
“Seperti warna alami, warna bibir. Jadi nggak terlalu kentara kalau pakai liptint.” jelasku.
Ibu mencibirku, “Nggak nggak, jadi buat apa pakai liptint kalau sama aja kayak nggak pakai? Nggak, ibu nggak setuju.”
Kini wanita yang melahirkanku itu mencari-cari lagi yang sesuai keinginannya. Dan Aku hanya bisa pasrah, karena belum punya tenaga untuk mendebat ibu.
“Nah! Ini dia, warna ini nih. Kok ibu nggak pernah lihat kamu pakai lipstik ini, Din?” seru ibu.
Kuhembuskan napas pelan-pelan. Padahal ibu menyadari kenapa Aku nggak pernah memakainya, itu berarti Aku nggak mau. Lipstik itu yang ibu pilih adalah hadiah dari beli sabun cuci muka.
“Lipstik itu mengandung celeng, Bu.” Aku memberitahu.
Ibu pun langsung melempar asal lipstik itu, “Kenapa masih kamu simpan, Dinda?”
Aku hanya mengedikkan bahu.
“Ini lipstik sama liptint warnanya sama semua?” tanya ibu heran.
Aku menyengir, memang begitu. Semua warna hampir sama, tapi hanya beda merk.
“Kalau begitu pakai yang ibu saja.” putus ibu, membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
mataku melebar ketika ibu mengeluarkan lipstik-nya dari dalam tas kecil ibu. Warna merah menyala, yang kalau dipakai makan gorengan pun tidak akan hilang. Seperti cintaku kepada Kim Taehyung asli. Eaa...
Ibu pun mau memakaikanku lipstik-nya, namun dengan cepat Aku menahan. “Bu, kalau warnanya ngejreng gitu, yang ada mertua Dinda nggak percaya kalau Dinda sakit.”
Ibu mundur, sepertinya kali ini sependapat dengan usulku, “Lah iya juga.” katanya.
“Assalamu'alaikum?” ucap suara serentak setelah membuka pintu.
Ayah datang bersama pria paruh baya yang masih terlihat ganteng. Tapi tetap ganteng Ayahku kok! Tenang, Aku anak Ayah banget soalnya.
Aku menunggu seseorang lagi yang barangkali masih ada berjalan di belakang kedua pria paruh baya itu, tapi nihil.
“Jawab, Din.” bisik ibu menegur.
“Eh iya, wa'alaikumussalam.” jawabku berdebar, ‘kenapa seperti pernah melihatnya?’ batinku.
“Dinda, ini Abi Hamzah, mertua kamu.” kata Ayah, dan mengedipkan sebelah matanya.
Aku pun mengerti maksud Ayah, Aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengan pria paruh baya itu. “Aku Dinda, Om.”
Ibu menyenggol lenganku, “Panggil Abi, Din.” bisik ibu.
“Oh, maaf. Maksudnya Om Abi.” Aku mengulang.
Mertuaku itu sontak tertawa kecil, membuatku mengerutkan dahi.
“Lucu sekali menantuku.” katanya, mertuaku lalu mengusap lembut kepalaku.
Aku hanya tersenyum simpul untuk menanggapinya.
“Bagaimana kabarnya sekarang?” tanyanya, suaranya lembut.
“Alhamdulillah sedikit mendingan, Om Abi.” ibu menyenggol lenganku lagi.
Ibu kenapa sih?
“Silahkan duduk, Ham.” ujar Ayah, beliau mengambilkan kursi untuk mertuaku itu.
Ah, kalau mertuaku yang sudah berumur saja masih ganteng, apalagi anaknya ya?
“Sebelumnya Abi minta maaf sama Dinda. Mungkin lamaran Abi, dan akad nikah yang tiba-tiba atas permintaan putra Abi, membuat Dinda terkejut,” ujar Om Abi yang membuatku memang terkejut.
Akad nikah atas permintaan putranya? Bagaimana maksudnya?
“Itu semua kita lakukan untuk kebaikan bersama.” lanjut mertuaku.
Kebaikan bersama? Kebaikan yang mana?
Otakku sudah penuh dengan berbagai pertanyaan, tapi seperti yang sudah diajarkan oleh ayah dan ibu; Aku tidak boleh menyela jika orang tua sedang berbicara.
”Kata dokter, penyembuhan secara total butuh waktu ya, Dan?” tanyanya kepada Dan.
Siapa Dan? Oh Danu, Ayahku. Sebab mas Kim Taehyung kw juga dipanggil ‘Dan’ kan? Hampir saja Aku mau mencari keberadaan lelaki itu.
“Iya, Ham. Mungkin kita harus mundurkan acara pernikahannya sampai putriku benar-benar sembuh.” sahut Ayah.
Mertuaku itu mengangguk, kini atensinya fokus padaku, “Sebenarnya Abi dan suamimu sudah membicarakan ini. Dia ingin pernikahan kalian ditunda lima minggu lagi sampai kamu sehat dan bisa melaksanakan acara dengan sukacita. Karena dia ingin mengadakan pesta yang mewah untukmu.”
Aku tertegun sesaat, sweet sekali suami antah berantahku itu. Diriku saja tidak pernah menginginkan pesta pernikahan mewah, kalau menurutku yang penting sah aja gitu. Sayang duitnya, mending buat nonton konser.
Tapi tunggu sebentar, lima minggu lagi?
Itu adalah tanggal yang sama dengan tanggal konser BTS!
Omo! Gawat!
“Om Abi, apa nggak bisa dimundurkan tujuh minggu lagi aja? Maksud Dinda, ditanggal segitu Dinda ada janji?” Aku mencoba bernego.
Ayah dan mertuaku saling pandang.
“Dinda, bukannya Abi nggak mau menerima saran Dinda, tapi suami kamu sudah sepakat di tanggal itu, dan—” mertuaku itu menjeda untuk menghela, “Dan suamimu sudah memesan undangannya.”
Apa?
Kekehan berasal dari ibu terdengar, beliau merangkul pundakku, “Nggak masalah, Bes—”
Bes? Ibu memanggil mertuaku Bes? Besti?
“Besan nggak usah nggak enakan. Dinda juga hanya menyampaikan yang ada dalam pikirannya, Dinda ini anak yang penurut kok.” lanjut ibu.
Oh... Besan.
“Alhamdulillah kalau begitu. Abi yakin putra Abi pasti akan membahagiakan kamu Dinda.” katanya membuatku menolak untuk tersipu.
Maaf beribu maaf ya Om mertua, bagaimana mau membahagiakanku? Belum apa-apa dia sudah merenggut kebahagiaanku. Nonton konser BTS adalah cita-citaku, bahagiaku. Tapi dia menghancurkan kebahagiaanku dengan mengadakan acara pernikahan di hari yang sama dengan konser BTS.
Aku putuskan tidak akan menerima pernikahan ini dengan ikhlas!
Huh!!!
Tok... Tok... Tok...
“Permisi, Pak—” ucap seseorang yang memakai jaket gofood, “Ini pesanannya.”
Mertuaku itu mengangguk, dan segera mengambil plastik berisi kotak persegi dari abang itu.
“Ini martabak manis yang lagi viral, kesukaan menantu Abi.” katanya saat sudah kembali dan mendekatiku.
***
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍