Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Dalam keheningan malam di vila Puncak yang dingin, Swari meringis menahan nyeri yang kian mencekam.
Dengan tangan gemetar, ia membuka kancing blazernya dan menanggalkan pakaian dalamnya di depan cermin besar di kamar mandi.
Matanya membelalak ketakutan saat melihat pantulan dirinya.
Ia melihat area di dada kirinya tampak memerah, bengkak, dan terasa keras saat disentuh.
Rasa sakit itu bukan lagi sekadar denyutan serangan panik, melainkan rasa panas yang menjalar hingga ke punggung.
Swari mencoba menekan pelan bagian yang bengkak itu, namun rasa sakit yang tajam seperti ditusuk ribuan jarum membuatnya memekik tertahan.
Ia pun memutuskan untuk menahan rasa sakitnya dan kembali tidur.
Keesokan paginya Swari membuka matanya dan berjalan menuju ke kamar Alex dan Alexandria.
Langkah kaki Swari terasa berat saat menyusuri lorong vila yang sunyi.
Rasa nyeri di dada kirinya pagi ini tidak berkurang, justru terasa seperti ada besi panas yang menempel di balik kulitnya. Namun, ia memaksakan diri untuk tegak.
Ia harus terlihat kuat di depan anak-anaknya dan Baskara.
Begitu pintu kamar si kembar terbuka, pemandangan di dalamnya kembali menghantam perasaan Swari.
Baskara sudah berada di sana, masih mengenakan kemeja yang sama dengan semalam namun lengannya digulung hingga siku.
Ia sedang membantu Alex memakai kaus kaki, sementara Alexandria duduk di pangkuannya sambil menyisir rambut boneka.
"Mama sudah bangun!" seru Alexandria ceria.
Baskara menoleh ke arah Swari yang berjalan ke arahnya.
Matanya yang tajam langsung menangkap gurat pucat di wajah Swari dan cara wanita itu sedikit membungkuk, seolah sedang melindungi bagian tubuh tertentu.
"Kamu pucat sekali, Swari. Apa obat dari Dokter Ramdani semalam tidak bekerja?" tanya Baskara sambil berdiri.
"Aku hanya kurang tidur, Bas." jawab Swari singkat, menghindari kontak mata.
Ia beralih ke anak-anak yang sudah siap menyambut kedatangan Ratri dan Navy yang akan datang.
"Ayo, cuci muka dan sarapan. Budhe Ratri dan Pakde Navy akan datang sebentar lagi."
Sementara itu di lantai bawah, suasana vila sudah berubah total. Yudha dan tim pelayan dari kediaman utama keluarga Surya sibuk menata meja panjang dengan taplak linen putih dan rangkaian bunga lili yang segar.
Aroma kopi mahal dan roti panggang memenuhi udara.
"Tuan, Nyonya Widya Surya sudah dalam perjalanan. Mobil Tuan Navy juga sudah memasuki gerbang kawasan Puncak," lapor Gandi dengan nada formal.
Baskara menganggukkan kepalanya dan menatap Swari yang sedang membantu Alexandria duduk di kursi makan.
"Swari, dengarkan aku. Ibuku datang bukan hanya untuk makan siang. Dia membawa draf kesepakatan pernikahan. Jika kamu keberatan dengan poin mana pun, katakan padaku, bukan padanya."
"Apakah suaraku benar-benar didengar di sini, Bas? Kamu sudah mengatur segalanya seolah aku adalah pion dalam papan caturmu."
"Aku tidak menjadikanmu pion. Aku menjadikanmu ratu untuk melindungi raja-raja kecilmu itu, Swa. Lekaslah mandi dan pakai gaun yang sudah aku siapkan." balas Baskara dingin namun penuh penekanan.
Swari menghela nafas panjang dan ia keluar dari kamar anak-anak.
Ia berjalan menuju ke kamarnya dan melihat pelayan sudah menyiapkan gaun.
Swari menatap gaun yang tergeletak di atas ranjang dengan tatapan kosong.
Gaun berbahan sutra berwarna champagne itu terlihat sangat elegan, namun di matanya, kain itu tampak seperti kain kafan yang akan mengubur kebebasannya.
Rasa nyeri di dada kirinya tiba-tiba berdenyut kembali, kali ini lebih tajam hingga ia harus berpegangan pada pinggiran lemari.
"Jangan sekarang, kumohon. Jangan sekarang," bisiknya parau.
Dengan sisa tenaga, ia mandi secepat mungkin, menghindari melihat pantulan dirinya yang memerah di cermin karena hanya akan menambah ketakutannya.
Setelah bersiap, Swari turun ke ruang utama. Di sana, suasana sudah sangat formal.
Baskara berdiri tegak di pangkal tangga, matanya tak berkedip saat melihat Swari menuruni anak tangga terakhir.
Gaun sutra champagne itu membalut tubuhnya dengan sempurna, namun Baskara bisa melihat jemari Swari yang sedikit gemetar saat menggenggam clutch.
Baskara melangkah maju, meraih tangan Swari dan menggenggamnya dengan erat.
Sentuhan itu tidak hanya bersifat posesif, tapi juga upaya untuk mentransfer ketenangan.
"Dingin sekali," gumam Baskara pelan saat merasakan suhu tangan Swari.
Ia tidak melepaskannya, justru membawa tangan wanita itu untuk bertumpu di lengan kekarnya.
Tepat saat itu, deru tiga mobil mewah terdengar berhenti di pelataran vila secara bergantian.
Pintu utama terbuka. Gandi menyambut mereka dengan hormat.
Nyonya Widya Surya masuk ke dalam dengan aura kebangsawanan yang kental, diikuti oleh Navy dan Ratri yang tampak cemas sekaligus takjub melihat kemewahan vila tersebut.
"Swari!" Ratri langsung berlari kecil memeluk adiknya.
Matanya berkaca-kaca melihat perban di tangan Swari dan raut wajah adiknya yang pucat.
"Kamu tidak apa-apa? Mas Navy cerita semuanya, kami hampir gila memikirkan kalian."
Navy berdiri di samping Ratri, matanya menatap tajam ke arah Baskara.
"Terima kasih sudah menjaga adik saya dan anak-anak, Tuan Baskara. Tapi saya butuh penjelasan kenapa mereka harus dibawa ke Puncak secara mendadak."
Baskara memberikan isyarat agar semua orang duduk di ruang tamu utama yang luas.
Nyonya Widya duduk di kursi tunggal yang paling megah, menatap Swari dengan pandangan menilai namun tidak bermusuhan.
"Silakan duduk, Tuan Navy, Nyonya Ratri," ucap Baskara tenang.
"Penjelasan itu akan segera saya berikan. Namun, sebelum itu, ada yang ingin bertemu dengan kalian."
Baskara menoleh ke arah koridor lantai atas. Alex dan Alexandria berlari kecil.
"Budhe! Pakde!" teriak Alexandria.
Ratri terkesiap melihat bekas memar di sudut bibir Alexandria.
"Ya Tuhan, Alexandria! Kenapa ini?"
"Ada orang nakal semalam, Budhe. Tapi Papa Baskara pukul mereka semua! Papa pahlawan!" seru Alex dengan bangga, ia langsung berdiri di samping kursi Baskara dan memegang lengan jas pria itu.
Suasana ruangan mendadak hening. Panggilan 'Papa' yang meluncur dari mulut Alex membuat Navy dan Ratri tertegun kaku, sementara Nyonya Widya tersenyum tipis penuh kemenangan.
"Sepertinya, anak-anak sudah memberikan restu yang lebih jujur daripada kita orang dewasa. Tuan Navy, kedatangan saya ke sini adalah untuk meresmikan apa yang sudah dimulai oleh putra saya. Kita tidak hanya bicara soal bisnis Grand Mahameru, tapi soal masa depan Swari dan cucu-cucu saya."
"Ma, lebih baik kita makan dulu. Sebelum membahasnya lebih jauh."
Widya menganggukkan kepalanya dan memanggil pelayan untuk menyiapkan semua.
"Ayo, silahkan kalian nikmati." ucap Widya.
Swari menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah Baskara.
Baru satu suapan Swari merasakan ada minyak kacang di saus steak.
Ia merasakan nafasnya yang tiba-tiba sesak karena alerginya.
"Bas, aku ke kamar mandi dulu." ucap Swari yang segera ke kamar mandi.
Swari merasakan nafasnya yang tersengal-sengal karena alergi dan ditambah dengan dadanya yang nyeri
Baru sampai di kamar mandi, ia langsung jatuh pingsan.
Di meja makan Ratri baru menyadarinya kalau ada rasa kacang di saus itu.
"Baskara, lekas susul Swari ke kamar mandi. Dia alergi kacang!"
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor