NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Aku menatap monitor. Anak-anak yang tadi arogan kini terlihat ketakutan. Wajah mereka pucat, mata tak lagi berani menantang. Kematian yang disiarkan langsung barusan benar-benar menghantam kondisi psikologis mereka. Tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi sikap meremehkan. Yang tersisa hanya rasa takut menunggu giliran.

Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi. Mataku terasa sangat berat, kelopak hampir menutup sendiri. Namun tidur adalah hal yang mustahil. Tiga belas orang sudah meninggal. Jika pola teror ini benar, seharusnya pukul empat tiga puluh akan ada korban berikutnya. Siapa, aku tidak tahu. Ketidakpastian itu justru membuat dadaku semakin sesak.

Pembunuhan dilakukan terang-terangan, tanpa upaya sembunyi. Metodenya selalu berbeda, seolah pelaku ingin menunjukkan kekuasaan. Kami hanya bisa menyaksikan semuanya dari balik layar, merasa tertinggal satu langkah setiap waktu.

Proses interogasi kembali berjalan. Layar lebar menampilkan petugas berdiri di hadapan para pelaku.

“Katakan di mana kalian membuang Nirmala,” ucap petugas dengan suara tegas.

Tak satu pun langsung menjawab. Sebagian menunduk, sebagian masih berusaha bertahan dengan wajah keras, meski jelas ketakutan.

“Sesuai instruksi atasan kami, kalian akan kami lepaskan,” lanjut petugas. “Artinya, tidak ada lagi yang menjamin keselamatan nyawa kalian.”

Aku melihat seorang anak bertubuh tambun mengangkat tangan dengan ragu. Tangannya gemetar.

“Saya dan Leo yang membuang mayat Nirmala,” katanya pelan.

Pandangan matanya sempat mengarah ke seorang anak perempuan. Dari data yang kami miliki, anak itu bernama Riska. Ia diduga menjadi otak perundungan terhadap Nirmala.

“Di mana kalian membuangnya?” tanya petugas.

Pengakuan barusan sudah cukup membuktikan bahwa mereka memang pelaku perundungan itu.

“Kami membuangnya di hutan larangan, daerah Purwakarta,” jawab anak itu.

“Apakah kalian yakin saat itu Nirmala sudah tidak bernyawa?” tanya petugas lagi.

“Kami memastikan dia sudah tidak bernapas,” jawabnya cepat.

“Bagaimana kondisi korban saat itu?” suara petugas terdengar lebih pelan, tapi tekanannya terasa jelas.

“Kondisi fisiknya sudah tidak bisa dikenali,” ucap anak itu.

“Maksudmu tidak bisa dikenali?” tanya petugas.

Anak itu ragu. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya berbicara.

“Waktu itu wajah Nirmala disiram air keras. Sebagian wajahnya sudah hancur.”

Aku menelan ludah. Dadaku terasa perih. Penyiksaan itu jauh melampaui batas kemanusiaan.

“Mengapa kalian menyiksanya?” tanya petugas.

Pertanyaan itu juga mewakili isi kepalaku.

“Aku hanya mengikuti perintah Riska,” jawab anak itu. “Saya disuruh.”

Petugas menoleh ke arah Riska. Dari penampilannya, ia terlihat seperti anak baik-baik. Wajahnya manis, rapi, dan cerdas. Tidak ada yang menyangka dialah dalang di balik semua ini.

“Dia memang pantas mati,” teriak Riska tiba-tiba.

Petugas mendekatinya. Napasnya terdengar berat.

“Kenapa kamu menyiksa Nirmala?” tanya petugas dengan suara yang jelas tertahan emosi.

“Dia cuma anak PSK,” jawab Riska lantang. “Dia mengganggu hidupku. Aku juara, tapi harus kalah dari anak pelacur. Yang paling menyakitkan, dia merebut calon pacarku. Dia memang pantas mati.”

“Apakah kamu menyesal telah melakukan perundungan?” tanya petugas.

Riska tertawa kecil. Senyumnya dingin dan menyeringai.

“Aku tidak pernah menyesal,” katanya. “Dan aku tidak percaya anak haram itu bisa membalas dendam.”

Petugas menatapnya tajam. “Sayangnya keyakinanmu salah. Tiga belas korban semuanya berkaitan dengan perundungan terhadap Nirmala.”

Petugas lalu menjauh, meninggalkan Riska yang masih duduk dengan wajah keras.

Anak bertubuh tambun itu kembali dipanggil.

“Tuliskan alamat lengkap lokasi kamu membuang Nirmala,” perintah petugas.

Petugas tampak menuliskan lokasi pembuangan Nirmala dengan sangat rinci. Bukan sekadar titik di peta, tetapi lengkap dengan rute perjalanan. Masuk tol dari mana, keluar tol di mana, belokan apa saja yang dilewati, hingga ciri-ciri lingkungan sekitar. Semua dicatat tanpa ada yang terlewat, seolah satu kesalahan kecil saja bisa menghapus jejak yang tersisa.

Setelah dicocokkan dengan peta dan data satelit, lokasi itu mengarah ke sekitar hutan di kawasan Waduk Jatiluhur. Tempat yang sunyi, luas, dan jarang dilewati orang. Lokasi yang masuk akal untuk membuang mayat. Tidak terlalu jauh dari ibu kota, cukup cepat dijangkau. Aku menduga mereka panik saat itu. Usia mereka masih sekitar tiga belas tahun. Anak-anak yang seharusnya masih diantar ke sekolah, bukan mengatur kejahatan.

Orang tua mereka terlalu memanjakan. Di usia semuda itu, mereka sudah bisa mengendarai mobil. Kekuasaan dan uang membuat semuanya terasa mungkin. Secara teori, anak yang memberi pengakuan bisa saja dibawa langsung ke lokasi untuk menunjukkan titik pasti. Namun pertanyaannya sederhana dan menakutkan. Siapa yang bisa menjamin keselamatannya.

Pelaku teror ini seperti bayangan. Ia dekat, sangat dekat, tapi tidak terlihat. Ia tahu setiap langkah kami, sementara kami bergerak dalam gelap. Dalam hati aku mulai curiga, jangan-jangan ada penyusup di antara kami.

Aku melirik ke arah Pak Romi. Tatapan kami bertemu. Seolah kami memikirkan hal yang sama, tanpa perlu kata-kata.

Pak Anton segera memberi instruksi kepada Polres Purwakarta dan Jatiluhur untuk mengecek lokasi yang disebutkan. Perintahnya singkat, tegas, tanpa basa-basi.

“Yang mau istirahat, silakan,” ucap Pak Anton.

Aku mengangguk pelan. Semua terlihat kelelahan. Aku berdiri, mencari sofa kosong, lalu menjatuhkan diri. Tubuhku benar-benar lelah, tapi pikiranku masih terjaga.

Aku dan Andika berjalan santai di sebuah taman yang sepi. Pepohonan berdiri kaku, rumput tampak basah oleh embun. Di tengah langkah kami, seorang anak gadis lusuh mendekat. Bajunya kotor, wajahnya pucat, matanya menatap Andika tanpa berkedip. Ia menyodorkan sesuatu ke tangan Andika. Sebuah benda kecil, bulat, mirip kelereng kusam.

“Tolong bantu aku,” ucap anak itu lirih.

Andika yang memang berhati lembut menerimanya tanpa curiga. Aku sempat menoleh ke belakang, tapi anak perempuan itu sudah berdiri diam, menatap kami menjauh. Kami terus berjalan, hingga tiba-tiba kelereng di tangan Andika terlepas dan jatuh ke tanah.

Sesaat semuanya sunyi.

Lalu ledakan terdengar keras.

“Boom!”

“Andika!” teriakku histeris.

Aku terperanjat dan tersentak bangun. Dadaku naik turun, napasku memburu. Ternyata aku hanya bermimpi. Ruangan terasa dingin dan gelap. Ada sesuatu jatuh dari pangkuanku. Ponselku rupanya meluncur ke lantai.

“Hei, kalau tidur berdoa dulu,” gumam Zaki yang tidur di sampingku.

“Kenapa sih kamu tidur dekat-dekat aku?” balasku kesal.

“Terus aku harus tidur di mana?” sahutnya santai. Zaki bangkit berdiri, menguap lebar, lalu melangkah pergi. Dari caranya berjalan, sepertinya dia menuju toilet di ujung lorong.

Aku mengabaikannya dan meraih ponselku yang terjatuh ke bawah meja. Tanganku meraba lantai dingin. Selain ponsel, jariku menyentuh satu benda lain. Kecil, keras, dan terasa asing. Aku mengangkatnya perlahan. Sebuah kancing baju. Aku terdiam. Rasa dingin menjalar dari tengkuk hingga punggung.

Aku duduk di tepi sofa, menatap benda itu lama. Kancing ini terasa terlalu berat untuk ukurannya. Permukaannya halus, tidak seperti kancing biasa. Dengan tangan sedikit gemetar, aku memotretnya lalu melakukan pencarian dengan bantuan AI di ponselku.

Hasilnya membuat napasku tercekat.

Benda itu adalah kamera pengintai mini yang disamarkan menyerupai kancing baju.

“Siapa yang memasang kamera ini di bajuku?” gumamku pelan. Kepalaku langsung dipenuhi kemungkinan buruk. Sejak kapan aku diawasi. Siapa yang melihat. Apa saja yang sudah terekam.

“Hei, bengong saja, kenapa kamu?” suara Zaki tiba-tiba muncul dari belakang, membuatku tersentak.

Aku buru-buru menggenggam benda itu dan memasukkannya ke saku celana. “Tidak apa-apa,” jawabku singkat, berusaha terdengar normal.

Belum sempat Zaki berkata apa-apa, Pak Cipto datang menghampiri dengan wajah tegang. Langkahnya cepat, matanya merah seperti kurang tidur.

“Korban jatuh lagi,” katanya lirih.

Aku tercengang. “Siapa, Pak?”

“Ibu Salsa,” jawabnya berat. “Orang tua Riska.”

Aku terdiam. Seingatku, keluarga Riska dijaga ketat. Mereka bahkan terus menekan agar Riska dibebaskan. Namun markas intelijen berada langsung di bawah kendali presiden. Tidak sembarang orang bisa masuk dan mengatur.

“Di mana meninggalnya?” tanyaku.

“Di hotel bintang lima. Bersama seorang anak muda,” ujar Pak Cipto. “Jelas bukan suaminya.”

“Apakah semuanya meninggal?” suaraku nyaris berbisik.

“Tidak. Pasangannya selamat, tapi mengalami trauma berat.”

Aku menelan ludah. Pembunuh ini benar-benar disiplin. Tepat waktu, tepat sasaran. Semua yang berhubungan dengan Nirmala satu per satu tumbang. Dan sekarang, aku sadar, kami semua sedang diawasi.

1
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
Nurr Tika
makin seru lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!