NovelToon NovelToon
Legenda Sang Bayangan

Legenda Sang Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: kansszy

sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Aku berumur dua puluh delapan tahun ketika akhirnya berani membuka buku itu.

Tiga tahun telah berlalu sejak Desa Scarlet jatuh, sejak keluarga Lin hancur oleh strategi yang bahkan kini masih membuatku terbangun di tengah malam. Aku kini duduk di kursi Tauke Besar keluarga Tong—kursi yang seharusnya diwariskan lewat kebijaksanaan, bukan darah. Ayahku mati di atas tangga aula. Pamanku mati melindungi anak-anak. Dan aku… aku hidup cukup lama untuk memimpin, tapi tidak cukup lama untuk lupa.

Buku catatan itu kusimpan dalam peti besi pribadi. Tidak pernah kubuka. Tidak pernah kubaca. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa masa lalu tidak perlu digali. Tapi kenyataannya sederhana: aku takut.

Catatan itu milik Hanzo.

Pengkhianat.

Musuh.

Dan… seseorang yang dulu memanggilku saudara.

Aku membukanya di malam yang sunyi. Hujan turun pelan, seperti dunia sengaja menurunkan suaranya agar aku bisa mendengar isi kepalaku sendiri.

Halaman pertama ditulis dengan tinta yang sudah memudar.

“Jika kau membaca ini, Kenzy, berarti aku sudah mati. Dan mungkin… aku pantas.”

Dadaku terasa ditekan sesuatu yang berat. Aku lanjut membaca.

Hanzo menulis tentang malam kehancuran desa kami. Tentang api yang menjilat atap rumah. Tentang teriakan yang tidak sempat menjadi doa. Ia menulis dengan bahasa yang dingin, hampir seperti laporan—seolah jika ia menulis tanpa emosi, kenangan itu tidak akan melukainya.

Ia ditangkap malam itu. Bukan sebagai tawanan perang, tapi sebagai bahan uji.

Desa Scarlet tidak membunuh anak-anak yang berbakat. Mereka memelihara mereka. Membentuk ulang. Menghapus nama lama, mengganti dengan fungsi baru.

“Mereka tidak memintaku setia,” tulis Hanzo.

“Mereka hanya mengajarkanku bahwa melawan berarti melihat orang lain mati.”

Aku berhenti sejenak. Ingatanku melayang ke wajah Hanzo kecil—keras kepala, selalu ingin jadi yang terdepan, selalu bilang bahwa ia akan melindungiku. Ironis, bukan?

Ia menulis tentang pelatihan di Scarlet. Tentang bagaimana rasa sakit dijadikan bahasa. Tentang bagaimana empati dianggap kelemahan. Tentang bagaimana setiap kali ia menyebut keluarga Tong, ia dihukum bukan dengan cambukan—tapi dengan keheningan. Dibiarkan hidup, tapi dipisahkan dari siapa pun.

“Aku bertahan bukan karena berani,” tulisnya.

“Aku bertahan karena takut mati tanpa arti.”

Aku mengepalkan tangan. Selama bertahun-tahun aku menyimpan kebencian pada Hanzo karena ia hidup. Karena ia memilih bertahan. Tapi sekarang aku sadar—bertahan kadang adalah bentuk penderitaan yang paling lama.

Halaman demi halaman berubah dari laporan menjadi pengakuan.

Hanzo menulis tentang misinya ke desa-desa kecil. Tentang bagaimana ia mulai sengaja gagal. Terlambat datang. Memberi jalan kabur. Mengubah rute pasukan. Semua dilakukan diam-diam, dengan risiko kematian jika ketahuan.

“Setiap nyawa yang selamat,” tulisnya,

“adalah caraku mengingat siapa diriku dulu.”

Lalu aku menemukan bagian tentangku.

Namaku tertulis berkali-kali.

Ia mendengar tentang “Ninja Bayangan keluarga Tong” dari desas-desus. Tentang seorang pemuda yang menghancurkan gudang senjata Scarlet sendirian. Tentang seorang ahli strategi yang membuat keluarga Lin saling mencurigai.

“Aku tahu itu kau, Kenzy,” tulisnya.

“Dan sejak saat itu, aku tahu hidupku sudah punya akhir.”

Aku menghela napas panjang. Pertarungan kami terlintas jelas di kepalaku. Malam itu hujan deras. Pedang kami beradu bukan karena dendam semata, tapi karena dua masa lalu yang tidak bisa berdamai. Ia bertarung serius. Terlalu serius. Seolah ia ingin aku tidak ragu.

Kini aku mengerti kenapa.

Hanzo menulis bahwa ia sengaja membiarkan dirinya terlihat. Sengaja meninggalkan jejak. Sengaja menantangku. Karena satu-satunya kematian yang ia terima hanyalah kematian oleh tangan keluarga Tong.

“Jika aku mati oleh musuh lain,” tulisnya,

“aku hanya korban perang. Tapi jika aku mati olehmu, aku adalah dosa yang diselesaikan.”

Mataku panas. Aku menutup buku sejenak, menekan dahi ke meja. Sebagai pemimpin, aku terbiasa membuat keputusan besar tanpa ragu. Tapi sebagai manusia, membaca ini terasa seperti diiris perlahan.

Halaman terakhir pendek. Tulisan tangannya goyah.

“Aku tidak minta dimaafkan.”

“Aku hanya ingin kau tahu: aku tidak pernah berhenti menjadi Tong.”

Air mata jatuh tanpa izin.

Selama ini aku hidup dengan keyakinan bahwa dunia terbagi jelas: kawan dan lawan, setia dan pengkhianat. Tapi Hanzo meruntuhkan semua itu. Ia hidup di antara abu-abu, di ruang sempit antara rasa bersalah dan keinginan menebus.

Aku menguburkan Hanzo tanpa upacara besar. Tidak dengan bendera Scarlet. Tidak dengan simbol Tong. Hanya tanah, hujan, dan aku.

Kini, tiga tahun setelahnya, sebagai Tauke Besar keluarga Tong, aku sering bertanya pada diriku sendiri: apakah aku pemimpin yang lebih baik karena menang? Atau hanya seseorang yang selamat lebih lama?

Catatan Hanzo kusimpan kembali. Bukan sebagai pengingat pengkhianatan—tapi sebagai peringatan.

Bahwa tidak semua yang terlihat mengkhianat benar-benar memilih jalan itu.

Bahwa perang tidak hanya membunuh tubuh, tapi juga pilihan.

Dan bahwa terkadang, musuh terberat bukan yang berdiri di depan kita…

melainkan yang mati sambil membawa kebenaran yang terlambat kita pahami.

1
Adi Arkan Imani
bagus
KanKaaan!!!
cocok buat orang yang lagi mencari cerita dan inspirasi
Adi Arkan Imani
lumayan
kansszy: heeheeee maksih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!