Rama dan Ayana dulunya adalah sahabat sejak kecil. Namun karena insiden kecelakaan yang menewaskan Kakaknya-Arsayd, membuat Rama pada saat itu memutuskan untuk membenci keluarga Ayana, karena kesalahpahaman.
Dalih membenci, rupanya Rama malah di jodohkan sang Ayah dengan Ayana sendiri.
Sering mendapat perlakuan buruk, bahkan tidak di akui, membuat Ayana harus menerima getirnya hidup, ketika sang buah hati lahir kedunia.
"Ibu... Dimana Ayah Zeva? Kenapa Zeva tidak pelnah beltemu Ayah?"
Zeva Arfana-bocah kecil berusia 3 tahun itu tidak pernah tahu siapa Ayah kandungnya sendiri. Bahkan, Rama selalu menunjukan sikap dinginya pada sang buah hati.
Ayana yang sudah lelah karena tahu suaminya secara terbuka menjalin hubungan dengan Mawar, justru memutuskan menerima tawaran Devan-untuk menjadi pacar sewaan Dokter tampan itu.
"Kamu berkhianat-aku juga bisa berkhianat, Mas! Jadi kita impas!"
Mampukah Ayana melewati prahara rumah tangganya? Atau dia dihadapkan pada pilihan sulit nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Beberapa menit itu, keduanya hanya saling diam larut dalam pikiranya sendiri. Rama duduk diatas sofa, dan Ayana masih terdiam diatas ranjang sambil mengeratkan selimutnya.
Rama menatapnya begitu dalam, sambil mengusap bibirnya sejak tadi.
Tok!
Tok!
Rama bangkit, dan membukakan pintu hotel itu.
"Permisi, Pak... Saya mau mengantarkan makan malam Anda," ucap staff sambil membawa nampan besar.
Rama hanya menganguk dingin.
Ia lalu berjalan masuk kedalam lagi untuk mengajak Istrinya makan. Ayana rupanya sedikit ketiduran, mungkin karena terbawa suasana dingin tubuhnya.
"Aya... Ayo makan dulu!" Rama mengusap-usap bahu lengan Ayana dengan lembut.
Ayana mengerjabkan matanya kembali. Dan reflek saja ia terperanjat, "Ini jam berapa? Mas, aku harus pulang! Zeva bagaimana kalau nyariin aku?!" Seketika cemasnya muncul. "Lalu... Ta-tasku... Tasku masih tertinggal di kolam pasti," gumamnya kembali sembari turun dari ranjang.
Rama menatapnya dengan tarikan nafas dalam. "Tasmu sudah dibawa pihak staff kesini! Tuh!" dagu Rama terangkat kearah meja di sudut ruang.
Ayana segera mengambil tas itu, dan langsung mengeluarkan gawainya, sebab masih ada sedikit air yang tersisa.
"Rencananya sih... Aku mau buang aja sekalian sama ponselmu. Itu palingan ponsel buat kamu hubungan dengan Devan 'kan?"
Ayana meliriknya begitu sengit. "Mas Rama nggak usah sok tahu deh! Ini ada data-data penting tentang desain gambar saya," kesalnya sambil mengelap-lap gawai itu dengan selimut.
"Sejak kapan kamu punya bakat mendesain?" Rama memicingkan mata.
Ayana hanya menatapnya jengah. "Mungkin saja jika rumah tangga kita nggak toxic kaya gini, pasti aku udah cerita banyak sama Mas Rama."
Rama terdiam kembali.
Setelah gawai itu di aktifkan, beberapa pesan dari Devan dan Bik Sumi bermunculan masuk.
Ada perasaan lega, melihat foto Zeva sudah terlelap yang di kirimkan Bik Sumi.
"Mas, aku mau pulang sekarang!" pekik Ayana.
"Nggak! Kamu harus makan dulu, Ayana!"
Rama menarik lengan Istrinya, dan diajaknya ke sofa untuk menikmati hidangan yang sudah tersaji itu.
"Kita pulang setelah makan! Saya sudah menelfon Bik Sumi tadi. Dan Zeva... Dia sudah tidur," gumam Rama sambil duduk.
Sebab kedinginan, rupanya membuat cacing-cacing dalam perutnya berdemo. Aya segera menyendokan makanan itu dalam mulutnya.
"Saya minta, hentikan hubunganmu dengan Devan! Jika tidak...."
"Jika tidak apa? Mas Rama mengancam saya?" sela Ayana dengan mulut yang masih penuh makanan.
Rama hanya mengangkat sebelah alisnya, "Jika tidak, saya akan bilang jika kamu adalah ISTRI SAYA!" Tekan Rama mencondongkan sedikit badannya.
Ayana menyeringai.
"Baik! Saya juga akan bilang sama Mbak Mawar, kalau saya ini ISTRI SAHnya Mas Rama! Bagaimana?" senyum itu begitu licik, dengan tatapan menusuk.
Rama tidak mampu menjawab. Ia begitu kesulitan menelan ludahnya sendiri, hingga bibirnya hanya mampu mengatup.
"Nggak bisa milih 'kan, Mas? Sikap Mas Rama seperti ini yang membuat saya ragu melanjutkan pernikahan dengan Mas Rama!" timpal Ayana tersenyum getir.
"Tapi hubunganku dengan Mawar, jauh sebelum kamu menjadi Istriku, Ayana!"
Heh! Aya mendesah dalam.
"Dan itu sudah menjasi resiko kamu menerima perjodohan ini!" Tekan Rama kembali.
"Jika Mas Rama menganggap itu resiko... Maka saya menganggapnya sebagai sebuah pilihan. Dan saya memilih bercerai, daripada di POLIGAMI! DEMI ALLAH, SAYA NGGAK SUDI, MAS!" Aya tak kalah menekan kalimatnya.
*** ***
Sementara di lain tempat, Mawar terpaksa pulang dengan taxi online setelah tadi mencari-cari Rama tidak ketemu juga.
Wanita cantik itu terdiam dengan beberapa pertanyaan bersarang dalam pikirnya.
"Bagaimana bisa Ayana kenal sama Devan? Dan... Waktu lalu, dia bilang jika suaminya pergi merantau? Tapi disatu sisi... Rama bisa secemas itu, jika status diantara mereka hanyalah sebatas Pelayan dan Majikan? Apa yang sebenarnya terjadi? Rama rela basah, demi menyelamatkan Ayana? Nggak, nggak bisa... Pokoknya aku harus cari tahu," batin Mawar.
Mobil kembali melaju.
Disaat melewati sebuah cafe, tetiba saja Mawar membolakan mata sambil memekik, "Pak... Berhenti! Menepi dulu," serunya.
"Itu Milya? Benar 'kan itu Milya? Siapa pria asing itu?"
Mawar masih menghatamkan pandanganya sambil menurunkan kaca jendela sedikit.
Di depan cafe ternama dengan lampu temaram itu, Milya tampak bertengkar dengan kekasihnya, hingga gadis cantik itu di tinggalkan sendiri.
"Brandon.... Jangan tinggalin aku sendiri!" teriaknya frustasi.
Milya segera mengeluarkan gawainya mencoba menghubungi Brandon, namun panggilannya tidak terjawab. "Kamu benar-benar pria bajingan, Brandon!" pekiknya menahan tangis.
Dan tiba-tiba...
"Milya!"
Degh!
Milya menegang kaku. Apa yang harus ia lakukan jika ada seseorang yang mengetahui hubunganya dengan pria dewasa itu.
"Milya," ucap kembali Mawar sambil menepuk bahu Milya. "Kamu ngapain disini sendirian?"
"Mba-Mbak... Mbak Mawar ada disini juga?" Milya terlihat panik bukan main, hingga membuat suaranya terbata.
"Iya, aku lewat tadi. Tapi nggak sengaja lihat kamu lagi sama co...wok?!" lirih Mawar dengan mata mengintimidasi.
Wajah Milya memucat seketika. Ia menelan ludah begitu sulit, hingga bibirnya terlipat begitu dalam.
"Milya, kamu punya hubungan apa dengan pria tadi?" tanya Mawar menelisik.
Bak terkepung lawan, Milya hanya mampu pasrah. Ia mulai menceritakan semua masalahnya pada Mawar, sebab Milya rasa calon kakak iparnya itu dapat ia percaya.
Mawar shock berat.
Ia sampai membolakan mata, sambil membekap mulutnya. Dan tak lama itu, Mawar mengajak Milya menuju taxi yang ia tumpangi tadi.
"Jalan, Pak!"
Milya menangis sepanjang jalan, merasa bingung apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Berapa uang yang di minta kekasihmu itu, Milya?" Mawar rupanya memiliki penawaran menarik.
"80 juta, Mbak! Aku udah nggak tahu lagi mau alasan apa sama Mamah dan Mas Rama buat minta," jawab Milya menangis.
Mawar menoleh sekilas, "Aku akan kasih kamu uang 80 juta, tapi dengan satu syarat!"
Milya mengerutkan dahinya, "Apa itu, Mbak?"
"Katakan dengan jujur, siapa suami Ayana sebenarnya?" Mawar menoleh dengan wajah dinginnya.
Degh!
Milya tersentak. Ia sedikit mengerutkan dahi, lalu berlirih, "Ayana? Kenapa tiba-tiba Mbak Mawar bertanya tentang keluarga Ayana? Nggak penting-"
"Penting!" tekan Mawar. "Kamu pasti tahu semuanya 'kan, Milya? Siapa suami Ayana, dan kemana suaminya itu?!"
"Mba-mbak... Em, aku-aku...."
"Jika kamu memilih bungkam, maka jangan salahkan, jika Rama dan Tante Anita tahu tentang video kotor itu!"
Milya menggelengkan kepala cepat. Jantungnya berpacu lebih kuat, hingga tubuhnya ikut menegang.
"Terserah kamu aja, Milya... Semua keputusan ada di tangan kamu," Mawar menyeringai tipis sambil bersedekap dada.
"Nggak, ini Mamah sama Mas Rama nggak boleh tahu video itu. Tapi... Bagaimana kalau Mbak Mawar tahu kalau istrinya Mas Rama itu si Ayana? Duh... Kenapa sih pilihanya sulit banget," batin Milya merasa frustasi.
Namun tak lama itu ia menoleh kearah Mawar kembali.
"Baik aku akan beritahu Mbak Mawar. Tapi tolong, kirim uangnya sekarang! Aku nggak mau Brandon keburu nyebarin video itu." Milya kali ini bersungguh-sungguh.
Tanpa banyak bicara, Mawar langsung saja mentransfer uang 80 juta ke rekening Milya.
"Ini, aku sudah mentransfer. Sekarang, cepat kamu katakan!" tekannya.
"Baik!" Milya manarik nafas dalam beberapa detik, lalu bersuara kembali. "Mbak Ayana dan Mas Rama sudah menikah 3 tahun yang lalu!"
Duar!
Hati Mawar bagai tersambar petir malam itu. Ia menggelengkan kepala lemah, dan tak lama itu kedua matanya berkaca.
"Nggak, kamu pasti bohong 'kan, Milya? Nggakkkk....." teriak Mawar dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Dadanya bak teremat kuat, dengan kenyataan pahit itu.
Milya merasa kasihan. Ia mencoba menenangkan Mawar sambil memegangi pundak yang tengah bergetar hebat itu.
"Aku nggak terima, Milya! Rama tega menghianati kesetiaanku," isak Mawar bersandar di pundak Milya. "Selama itu mereka menyembunyikan pernikahan, hingga adanya anak diantara mereka."
Tangisan Mawar semakin melemah. Ia hanya mampu menatap kosong kearah jendela, merasakan kehancuran yang tak berkesudahan malam ini.
"Mbak Mawar... Jangan bilang jika aku yang memberitahu Mbak. Aku nggak mau Mamah dan Mas Rama marah sama aku," gumam Milya merasa khawatir.
Mawar masih tetap diam dengan isakan kecilnya. "Kamu tenang saja!" ucapnya tanpa menatap.
Dari obrolan itu, tak lama kemudian taxi sudah berhenti didepan gerbang mewah Jayantaka.
"Mbak Mawar nggak papa 'kan? Aku masuk dulu ya...." Milya menatap iba, dan hanya mendapat anggukan kecil dari calon kakak iparnya itu.
Taxi Mawar sudah mulai berjalan meninggalkan kediaman Jayantaka. Namun tak lama itu, Mobil Rama juga baru saja memasuki gerbang.
Ayana sudah turun begitu saja.
Melihat itu, Rama juga ikut segera turun sambil membawa satu paperbag yang berisikan mainan untuk putranya. Rama tidak mungkin mengingkari janjinya pada Zeva.
Merasa ada yang mengikuti, Ayana reflek berhenti dan menoleh. "Mas Rama ngapain ikutin saya? Rumah Mas Rama ada disana!" Ayana menunjuk pintu rumah utama.
"Ini!" Rama mengangkat paperbag tadi. "Saya sudah berjanji dengan Zeva, untuk membelikan dia mainan!"
"Jam segini Zeva sudah tidur, Mas!" cetus Ayana kembali melanjutkan jalannya.
Dan memang benar. Waktu sudah menunjukan pukul 22.15 wib.
Ceklek!
Ayana masuk begitu saja. Namun disaat ia akan menutup pintu, satu kaki Rama menekan ujung pintu itu.
"Apalagi sih, Mas?" Ayana berniat mendorong pintu itu, namun masih terasa berat.
"Kamu tidak menyuruh saya mampir dulu?!" tanya polos Rama mengangkat satu alisnya.
Hah!
Ayana mendesah dalam, "Mas Rama sadar nggak sih? Jarak Paviliun sama rumah utama hanya 5 langkah kaki saja! Dan pintu rumah utama juga sejak dulu ada disana, nggak berubah!"
Rama menggaruk kepalanya kecil, "Ya sudah, kalau begitu ini saya titip kasihkan pada Zeva. Bilang jika saya yang beli'in!"
Paperbag itu terangkat rendah.
Ayana menyambarnya begitu saja. "Perlu ya Mas, harus validasi kaya gitu?"
Dengan angkuhnya Raka menjawab, "Perlu lah! Saya nggak ingin, jika Zeva mengira itu mainan dari si Devan!"
Ayana memutar jengan bola matanya. Lalu ia mendorong pintu itu, "Ya udah, Mas Rama cepetan pergi dari sini!"
"Saya baru akan pergi, jika kamu mengucapkan saya selamat tidur terlebih dulu!" Rama kembali mengganjal pintu itu dengan tubuhnya.
Ayana semakin di buat frustasi.
"Oke, baik! Selamat tidur... Mas-Rama!" cetus Ayana dengan wajah tengilnya.
"Kurang manis!" Rama memalingkan wajahnya dengan posisi masih sama.
"Astagaaaa!" Aya sampai meraup kasar wajahnya. Ia mencoba mengubah ekspresi wajahnya semanis mungkin. "Selamat tidur, Mas Rama!" seru Aya menunjukan senyum terbaiknya.
Dan barulah Rama menarik tubuhnya keluar. Ia menyembunyikan senyumnya, lalu berseru kecil, "Selamat tidur juga, Ay-"
Brak!
Rama melonjak kaget saat Aya menutup pintu itu dengan sangat kencang.
"Serem juga kalau marah," setelah itu barulah Rama kembali menuju rumah utama.
*
*