Alya, gadis sederhana dan salehah yang dijodohkan dengan Arga, lelaki kaya raya, arogan, dan tak mengenal Tuhan.
Pernikahan mereka bukan karena cinta, tapi karena perjanjian bisnis dua keluarga besar.
Bagi Arga, wanita berhijab seperti Alya hanyalah simbol kaku yang menjemukan.
Namun bagi Alya, suaminya adalah ladang ujian, tempatnya belajar sabar, ikhlas, dan tawakal.
Hingga satu hari, ketika kesabaran Alya mulai retak, Arga justru merasakan kehilangan yang tak pernah ia pahami.
Dalam perjalanan panjang penuh luka dan doa, dua hati yang bertolak belakang itu akhirnya belajar satu hal:
bahwa cinta sejati lahir bukan dari kata manis… tapi dari iman yang bertahan di tengah ujian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa yang Belum Padam
Suasana ruang meeting perlahan mereda setelah hampir dua jam penuh pembahasan. Para peserta mulai merapikan berkas dan laptop mereka, beberapa berdiri sambil berbincang ringan sebelum meninggalkan ruangan. Dinda masih duduk di tempatnya, matanya fokus pada Arga yang sibuk menutup file presentasi di laptopnya. Gerak tubuh pria itu tenang, tegas, dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan untuk berlama-lama.
Namun sebelum Arga melangkah keluar, suara lembut tapi tegas menahan langkahnya.
“Arga, sebentar.”
Langkah Arga terhenti di ambang pintu. Semua orang sudah keluar, kecuali tiga orang: Arga, Dinda, dan Bima. Clara sudah lebih dulu meninggalkan ruangan untuk mengatur jadwal meeting berikutnya. Arga menoleh singkat ke arah Dinda, lalu memandang Bima.
“Bim, tetap di sini sebentar,” ucap Arga pelan namun jelas.
Nada suaranya tegas, mengandung makna yang membuat Bima langsung mengerti, Arga tidak ingin ada ruang bagi salah paham, bahkan sekecil apapun.
Bima mengangguk, lalu bersandar santai di kursinya, pura-pura sibuk membuka berkas agar suasana tidak terasa terlalu tegang.
Dinda menarik napas pelan, lalu berjalan mendekat ke arah Arga yang kini berdiri di sisi meja besar ruang rapat itu.
“Aku cuma ingin bicara sebentar. Tentang... hal-hal yang belum sempat diselesaikan,” katanya pelan, suaranya terdengar agak bergetar namun tetap berusaha terdengar anggun.
Arga menatapnya dengan ekspresi datar, “Kalau itu terkait proyek, kita bisa bicarakan di ruang kerja atau lewat email, Dinda.”
“Tentu bukan,” balas Dinda cepat, matanya menatap tajam seolah berusaha menembus dinding dingin yang Arga bangun di sekeliling dirinya.
“Aku cuma... ingin tahu kabarmu. Sudah lama sekali sejak—”
“Sejak kamu memilih pergi tanpa penjelasan,” potong Arga, suaranya datar tapi dalam, membuat Dinda terdiam sejenak.
Bima diam saja, matanya berpindah-pindah antara keduanya. Ia tahu perbincangan ini tidak akan lama, karena Arga bukan tipe orang yang suka menoleh ke belakang.
Dinda mencoba tersenyum, walau senyum itu terasa getir.
“Aku tahu aku salah. Tapi saat itu aku tidak punya pilihan. Aku harus ke luar negeri, dan... semuanya terjadi terlalu cepat. Aku pikir kamu akan mengerti.”
Arga menatap lurus, tanpa perubahan emosi sedikit pun.
“Aku sudah mengerti sejak lama,” jawabnya singkat. “Dan aku juga sudah menerima.”
Nada itu menohok Dinda, bukan karena Arga marah, tapi karena ia bisa merasakan keikhlasan yang begitu tulus. Itu berarti perasaan itu memang benar-benar telah berakhir.
“Tapi kamu dulu janji, kan?” lanjut Dinda, suaranya melembut, nyaris seperti bisikan. “Kamu bilang, kamu akan nunggu aku.”
Arga mengalihkan pandangan, lalu menutup laptopnya dengan tenang.
“Aku memang pernah janji. Tapi janji itu berlaku untuk seseorang yang tidak akan pergi tanpa kata. Kamu yang memilih mengakhiri, Din. Aku cuma belajar menerima keputusanmu.”
Bima mengangkat alis pelan, merasa kagum sekaligus kasihan. Ia tahu ini pasti tidak mudah bagi Dinda. Tapi ia juga tahu, Arga bukan lagi pria yang mudah diguncang oleh masa lalu.
Dinda menatap Arga dalam-dalam, berusaha mencari celah emosi di wajah itu, marah, rindu, atau bahkan sedikit nostalgia. Tapi yang ia temukan hanyalah ketenangan. Sebuah kedewasaan yang asing tapi menenangkan.
“Kamu berubah,” kata Dinda akhirnya. “Dulu kamu selalu terburu-buru bicara. Sekarang... kamu terlalu tenang.”
Arga tersenyum tipis. “Mungkin karena sekarang aku punya alasan untuk tenang.”
Kalimat itu sederhana, tapi menusuk. Dinda tahu betul siapa alasan yang dimaksud. Alya.
Ia menelan ludah, matanya sedikit meredup. “Istrimu, ya?”
Arga tidak menjawab, tapi tatapan lembut yang tiba-tiba muncul di matanya sudah cukup menjadi jawaban. Bima sampai bisa melihat perubahan kecil di wajah sahabatnya itu.
“Dia perempuan yang beruntung,” kata Dinda lirih.
“Bukan. Aku yang beruntung,” jawab Arga tanpa ragu.
Hening menyelimuti ruangan selama beberapa detik. Dinda menunduk, menarik napas panjang seolah mencoba mengatur detak jantungnya yang tidak karuan.
“Kalau begitu,” katanya akhirnya, mencoba memulihkan wibawa dirinya. “Semoga kalian bahagia.”
Arga mengangguk sopan. “Terima kasih. Aku juga berharap kamu bahagia, Din. Dengan jalanmu sendiri.”
Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Tapi sebelum keluar, ia menepuk bahu Bima singkat. “Aku ke ruanganku dulu. Ada urusan lain.”
Bima hanya mengangguk.
Dan kini, ruang itu hanya tersisa dua orang, Bima dan Dinda.
---
Dinda menyandarkan punggungnya di kursi, memejamkan mata sejenak. Ia berusaha menahan emosi yang tidak seharusnya muncul. Bima memperhatikannya dari sisi meja, lalu berkata datar,
“Terlihat berbeda kan?”
Dinda membuka mata, menatap Bima tanpa ekspresi. “Apa maksudmu?”
Bima menyilangkan tangan, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Dia udah gak suka sama lo, Din. Dari caranya bicara aja udah keliatan. Dia gak marah, gak kecewa, gak rindu. Artinya, dia udah selesai.”
Dinda mengalihkan pandangan, menatap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta di luar sana.
“Gue tahu dia berubah,” katanya pelan. “Tapi entah kenapa, justru itu yang bikin gue makin pengin tahu dia sekarang seperti apa.”
Bima menghela napas panjang. “Lo masih gak ngerti ya? Lo yang ninggalin dia. Lo yang bikin dia jadi kayak gitu. Dan sekarang, dia udah punya seseorang yang nyembuhin bagian-bagian dirinya yang dulu lo lukain.”
“Dan yang janji nunggu gue adalah dia,” jawab Dinda cepat, dengan nada yang nyaris putus asa tapi berusaha terdengar kuat.
Bima menatapnya tajam. “Lo pikir cinta kayak kontrak? Sekali janji harus berlaku seumur hidup?”
Dinda tersenyum getir. “Bukan soal itu, Bim. Gue cuma... kaget aja. Gur pikir, kalau suatu hari gue pulang, semuanya masih sama.”
“Lo salah besar,” ucap Bima dingin. “Lo pergi, Din. Tanpa kabar. Lo tinggalin dia pas dia lagi di titik paling rendah. Dia kehilangan banyak hal waktu itu, ingat? Lo bahkan gak dateng buat dia, lo lebih milih pergi gitu aja.”
Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi Dinda. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri yang gemetar di atas meja.
“Gue tahu gue salah,” gumamnya. “Tapi gue juga tahu, gue pernah jadi bagian penting dalam hidupnya.”
“Dulu,” tegas Bima. “Sekarang enggak lagi.”
Sunyi kembali merambat di antara mereka. Hanya suara AC dan detik jam dinding yang terdengar di ruangan itu.
Dinda akhirnya berdiri, merapikan blazer-nya, menegakkan postur tubuhnya yang elegan seperti semula. “Lo gak perlu khawatir, Bim. Gue gak akan ganggu rumah tangga Arga. Gue hanya ingin tahu... apakah dia benar-benar bahagia atau cuma berpura-pura tenang.”
Bima menatapnya lekat-lekat, mencoba membaca maksud di balik kata-kata itu.
“Lo beneran mau tahu?” tanyanya.
Dinda menatap balik dengan sorot mata yang dalam tapi dingin. “Iya.”
Bima tersenyum miring. “Kalau gitu, liat aja cara dia ngelindungin istrinya. Lo bakal ngerti sendiri, Din. Itu bukan pura-pura. Itu cinta yang lo bahkan gak akan dapat.”
Dinda terdiam lama. Hatinya terasa sesak. Mungkin benar, Arga bukan lagi miliknya. Tapi di sisi lain, ada bagian dari dirinya yang masih belum siap benar-benar melepas.
Ketika Bima melangkah pergi meninggalkannya di ruang meeting yang kini sepi, Dinda hanya berdiri memandangi kursi tempat Arga duduk tadi. Di kursi itu, dulu pria itu sering menatapnya dengan lembut, berbicara dengan nada yang hangat. Tapi kini, yang tersisa hanyalah kenangan, kenangan yang mulai memudar di bawah cahaya kehidupan baru Arga bersama seseorang yang kini mengisi hatinya.
Dinda menggenggam tangan kanannya sendiri, mencoba menenangkan dada yang berdebar tak beraturan.
“Kalau memang sudah bukan gue,” bisiknya pelan, “kenapa hati gue masih berharap?”
Namun tak ada jawaban.
Yang tersisa hanya pantulan dirinya di kaca besar ruang rapat, seorang wanita karier yang terlihat kuat dari luar, tapi menyimpan retak halus yang tak seorang pun tahu.
aku aja klo ngomong diceramahi emosi apalagi modelan arga 🤣🤣