NovelToon NovelToon
Dosen LC Itu, Milikku

Dosen LC Itu, Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Hamil di luar nikah / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Berondong
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Musoka

Niat hati ingin menghilangkan semua masalah dengan masuk ke gemerlap dunia malam, Azka Elza Argantara justru terjebak di dalam masalah yang semakin bertambah rumit dan membingungkan.

Kehilangan kesadaran membuat dirinya harus terbangun di atas ranjang yang sama dengan dosen favoritnya, Aira Velisha Mahadewi

Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Apakah hubungan mereka akan berubah akibat itu semua? Dan apakah mereka akan semakin bertambah dekat atau justru semakin jauh pada nantinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Suara dering handphone berbunyi terdengar, membuat Aira yang masih terlelap di dalam alam mimpi secara perlahan-lahan mulai membuka mata, merasa sangat terganggu dengan bunyi benda pipih itu.

Aira mengedipkan mata beberapa kali guna menormalkan kembali indera penglihatan yang masihlah sangat buram pada saat ini, lantas dengan gerakan pelan mulai mengalihkan pandangan ke arah kanan—berusaha mencari sumber suara yang telah mengganggu aktivitas paginya.

Perempuan berparas cantik itu terdiam sejenak saat menyadari suara itu berasal dari handphone milik Azka. Ia memandangi wajah tampan sang mahasiswa yang sedang terlelap di dalam alam mimpi—seperti tidak terganggu sama sekali dengan bunyi benda pipih itu.

Hembusan napas panjang terdengar keluar begitu saja dari dalam bibir mungil milik Aira, sebelum pada akhirnya dirinya memutuskan untuk mengalihkan pandangan ke arah kiri—menikmati keindahan langit pagi melalui salah satu jendela ruangan rawat inap VVIP tempatnya berada saat ini, membiarkan suara dering handphone terus-menerus berbunyi tanpa memiliki niat sedikit pun untuk membangunkan Azka.

Sekitar sepuluh menit berlalu, suara erangan pelan terdengar, membuat Aurelia refleks menoleh ke arah kanan dan mendapati sosok Azka sedikit menggeliat sebelum pada akhirnya mulai membuka mata yang sedari tadi tertutup sangat rapat.

Azka berkedip beberapa kali, lantas menggerakkan kedua tangan untuk menutupi bibir merah muda miliknya sebelum pada akhirnya menguap pelan.

Melihat hal itu, Aira masih terus diam—seolah sedang memikirkan sesuatu di dalam kepalanya—sembari tanpa sadar memberikan elusan lembut pada perutnya yang masihlah sangat ramping.

Azka mengusap wajahnya secara perlahan-lahan, mencoba mengumpulkan kembali semua kesadarannya setelah tertidur cukup lama di atas kursi. Ia masihlah terlihat mengantuk—sampai pada akhirnya suara dering handphone yang terus-menerus berbunyi membuatnya spontan menoleh ke arah meja kecil di samping ranjang.

Cowok itu mengambil handphone dengan gerakan setengah sadar. Namun, sebelum sempat melihat layar, matanya menangkap sesuatu—Aira yang sedang menatapnya.

Melihat hal itu, membuat Azka seketika terdiam seribu bahasa dengan tubuh refleks menegang—seolah baru saja tertangkap melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Padahal ia hanya tertidur.

“Ibu udah bangun?” tanya Azka dengan suara masihlah terdengar serak khas orang baru bangun dari alam mimpi.

Aira tidak langsung memberikan jawaban. Ia hanya menatap Azka dengan ekspresi datar, tetapi terlihat sangat lembut, sebelum pada akhirnya mengalihkan pandangannya lagi ke arah jendela.

“Handphone kamu dari tadi bunyi,” ucap Aira pada akhirnya, suaranya terdengar sangat pelan, tetapi tidak seketus sebelum-sebelumnya, “Saya kira kamu bakalan bangun.”

Mendengar hal itu, membuat Azka secara refleks menundukkan kepala sambil menggenggam erat handphone menggunakan kedua tangan.

“Maaf, Bu … aku cape banget semalam. Aku—” Azka melebarkan mata sempurna dan sesegera mungkin menghentikan ucapannya saat sadar bahwa dalih apa pun mungkin tidak terdengar tidak pantas bagi Aira.

Aira menatap ke arah perut rampingnya, jari-jemarinya secara perlahan-lahan kembali memberikan usapan di permukaannya—gerakan yang bahkan tidak dirinya sadari sama sekali. “Kamu tidurnya nyenyak banget.”

Azka sontak menelan air liur dengan begitu sangat susah payah, lantaran ada sesuatu di dalam ucapan Aira itu—bukan kemarahan, bukan dingin, tetapi hangat yang samar—sesuatu yang membuat dadanya tiba-tiba saja terasa sesak.

“Maaf kalau aku ganggu tidurnya Ibu,” kata Azka dengan penuh kehati-hatian.

Aira menggelengkan kepala dengan begitu sangat pelan. “Kamu nggak ganggu sama sekali.”

Jawaban sederhana itu membuat Azka mematung beberapa detik, seolah tidak yakin mendengarnya dengan benar.

Suara dering handphone akhirnya berhenti, membuat suasana berubah menjadi sangat hening.

Azka melihat ke dalam layar—nama beberapa orang sahabat baiknya memenuhi layar kunci benda pipih miliknya itu.

Aira memperhatikan Azka sekilas melalui sudut matanya. “Teman kamu nyariin kamu?”

Azka mengangguk pelan. “Iya, Bu. Tapi nggak penting. Ibu lebih penting.”

Aira sontak menahan napas sejenak saat mendengar hal itu. Ia dapat merasa sesuatu yang hangat mulai menjalar ke dalam dadanya—perasaan yang sangat dirinya benci sekaligus butuhkan.

“Kalau kamu cape … kamu boleh pulang … Saya nggak minta kamu buat nungguin saya di sini,” ucap Aira dengan sangat pelan, sembari menghela napas panjang—berusaha mengusir gejolak di dalam dadanya.

Azka sesegera mungkin menggeleng-gelengkan kepala dengan sangat cepat. “Nggak. Aku tetap di sini … aku udah janji mau nemenin Ibu.”

Aira menoleh, menatap Azka secara langsung untuk pertama kalinya pada pagi hari ini.

“Hanya menemani. Dari jauh,” tambah Aira dengan nada tegas, tetapi tidak dingin.

Azka terdiam mendengar tambahan itu—tegas, jelas, tetapi tidak ada dingin ataupun penolakan seperti beberapa waktu lalu. Sebaliknya, ada sesuatu yang terasa lembut tersembunyi di balik batasan itu—batasan yang Aira pasang bukan untuk menjauh, tetapi seolah untuk melindungi dirinya sendiri.

Dan entah mengapa, itu membuat dada Azka menghangat sekaligus sesak pada saat yang bersamaan.

“Iya,” jawab Azka pelan, suaranya rendah namun mantap, “Dari jauh. Aku ngerti, Bu.”

Aira mengalihkan pandangan kembali ke arah jendela. Cahaya matahari pagi menyelinap masuk, memantul lembut di kulit pucatnya. Sementara itu, tangannya—yang sejak tadi berada di atas perutnya—bergerak pelan, seolah ia sedang menenangkan kegelisahan yang tidak pernah diucapkan.

Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Hening. Hening yang tidak lagi terasa canggung—justru membuat ruangan itu terasa seperti tempat paling aman di dunia bagi mereka berdua.

Azka akhirnya membuka suara lagi. “Ibu … mimpi apa tadi?”

Aira memejamkan mata sesaat. Napasnya terdengar sedikit berat, seolah ia sedang memutuskan apakah dirinya sanggup mengucapkan sesuatu yang selama ini ia simpan sendirian.

“Bukan mimpi buruk … cuma … mimpi yang terlalu nyata,” jawab Aira dengan sangat pelan, nadanya bergetar halus, “Saya mimpi … kehilangan semuanya. Kehilangan bayi ini … kehilangan kendali atas hidup saya … kehilangan arah.”

Azka menundukkan kepala, jari-jemarinya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Terus?”

Aira menelan air liur sebelum melanjutkan.

“Saya lihat kamu juga pergi … dalam mimpi itu.” Aira tersenyum tipis—senyum yang dipenuhi oleh rasa sedih. “Dan anehnya … itu bagian yang paling menakutkan.”

Azka mengangkat kepala dengan mata membelalak sempurna. Suaranya tercekat, tetapi ia berhasil mengeluarkan satu kalimat.

“Aku nggak akan pergi, Bu.”

Aira memejamkan mata lagi, menyadari betapa mudahnya kata-kata itu menggoyangkan tembok yang ia bangun bertahun-tahun lamanya.

“Kamu selalu bilang gitu,” gumam Aira, lemah, tetapi jujur, “Tapi, saya nggak tahu harus percaya atau tidak.”

Azka memiringkan tubuhnya sedikit—tetap menjaga jarak seperti yang Aira minta—tetapi kali ini suara yang keluar darinya terdengar begitu sungguh-sungguh, hingga membuat ruangan seolah membeku.

“Aku ngerti kalau kepercayaan Ibu hancur. Aku ngerti Ibu butuh waktu. Tapi, Bu … aku beneran di sini bukan cuma karena aku merasa bertanggung jawab atau karena bayi ini.”

Tatapan mereka bertemu, dan untuk pertama kalinya pagi itu—Aira tidak menghindar.

“Aku di sini karena Ibu penting buat aku,” lanjut Azka dengan suara sangat lirih, “Sangat penting.”

Aira menarik napas pelan, dadanya terasa sesak. Ada rasa takut yang begitu besar—takut percaya, takut berharap, takut jatuh lagi. Namun, ada pula kehangatan yang pelan-pelan merayap seperti sinar matahari pagi.

“Azka,” panggil Aira cukup lembut, setengah ingin memperingati, setengah ingin meminta sesuatu yang tidak ia mengerti.

Azka tersenyum tipis—senyum yang tidak memaksa, tidak menekan, hanya hadir dengan ketulusan mentah yang sulit ditolak.

“Ibu nggak perlu jawab apa-apa sekarang,” ucap Azka dengan begitu sangat pelan, “Aku cuma pengen Ibu tahu, kalau aku nggak akan ke mana-mana.”

Aira membuang napas panjang sekali lagi—kali ini bukan untuk menahan perasaan, tetapi untuk pertama kalinya mengizinkan dirinya untuk merasakannya.

“Baik,” bisik Aira pada akhirnya, “Kalau begitu … tetaplah di sini.”

Azka mengangguk sekali. “Iya, Bu. Dari jauh.”

Hening kembali turun. Namun, kali ini heningnya terasa damai. Meski jarak tetap ada, ada sesuatu yang berubah secara perlahan—sesuatu yang tidak bisa mereka sebutkan namanya, tetapi terasa sangat nyata.

Sebuah awal kecil. Sebuah celah di hati Aira yang mulai membuka. Sebuah janji di dalam hati Azka yang semakin menguat.

Dan pagi itu, keduanya diam-diam tahu bahwa jarak bukan lagi penghalang. Justru menjadi jembatan pertama dari sesuatu yang baru.

1
Aulia Shafa
waaaaah , selamat Azka 👍👍👍👍👍👍👍🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Sherin Loren
double up
Aulia Shafa
tidak egois , karena Azka jua mau . beda cerita kalau kamu minta dinikahi tapi Azka ga mau , itu baru egois ...
Aulia Shafa
bagus Azka , 👍👍👍👍
Aira , terima dong biar belum cinta usaha jalani sama-sama . cinta akan datang seiring waktu
Aulia Shafa
setuju banget 👍👍👍👍👍👍👍
Aulia Shafa
kenapa ga dinikahin aja sih
Musoka: Kan Aira masih belum cinta
total 1 replies
Sherin Loren
next
Musoka: siap 🤭
total 1 replies
Aulia Shafa
alurnya terlalu lama kak , maaaaaafff🙏
Aulia Shafa
kenapa sosok azka ini terlalu friendly banget sih , apa gak ada rasa tanggung jawab sedikitpun atas semua perbuatanmu itu 🤬🤬🤬🤬🤬
Aulia Shafa
kapan azka sama aira satu cerita lagi👍👍👍👍
Musoka: Nanti, ya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!