NovelToon NovelToon
The Cleaner

The Cleaner

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:35
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di Chicago modern, kekuasaan bukan lagi soal siapa yang paling banyak menembak. Tapi siapa yang paling bersih menutupinya.
​Kenalan dengan Luca Rossi, si Cleaner. Dia bukan tukang bersih-bersih biasa, tapi Consigliere dingin yang jadi otak di balik organisasi mafia Moretti. Dinding kantornya rapi, suit-nya mahal, tapi tangannya berlumur semua dirty work Keluarga—dari pembukuan yang dimanipulasi sampai menghilangkan jejak kejahatan.
​Masalahnya, kini Keluarga Moretti di ambang collapse. Bos lama sekarat. Kekuasaan jatuh ke tangan Marco, si pewaris baru yang psikopat, ceroboh, dan hobi bikin drama. Marco melanggar semua aturan, dan Luca tahu: kalau dia diam, seluruh empire mereka hancur. Dengan bantuan Sofia, istri Bos yang terlihat polos tapi menyimpan banyak kartu, Luca memutuskan satu hal brutal: Ia harus mengkhianati bos barunya sendiri.
​Di tengah rencana kotornya, Luca bertemu Isabella. Dia cantik, pintar, dan vibe-nya langsung nyambung sama Luca yang kaku. Luca akhirnya merasakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: THE RAVEN’S SHADOW

​Di sebuah villa kuno yang bertengger di lereng bukit Corleone, Sisilia, udara sore itu terasa kering dan berdebu. Don Adriano Falcone—saudara tertua dari keluarga Falcone yang kini mengasingkan diri—duduk di teras batu yang menghadap ke kebun zaitun yang luas. Di depannya, sebuah laptop terbuka menampilkan laporan tentang "hilangnya" Enzo Moretti di Chicago.

​Adriano bukan pria yang meledak-ledak. Di usianya yang ke-70, ia telah belajar bahwa kemarahan adalah emosi yang mahal. Namun, penghinaan yang dilakukan Luca Rossi terhadap darah Moretti—yang merupakan sekutu strategis Falcone—adalah luka yang tidak bisa dibiarkan menganga.

​"Enzo adalah pemuda yang bodoh," suara Adriano parau, seperti gesekan amplas pada kayu. "Tapi dia adalah pion kita. Dan Rossi tidak hanya memakan pion itu; dia menghapus papan caturnya."

​Di sampingnya berdiri seorang pria yang mengenakan setelan jas abu-abu tanpa cela. Namanya adalah Dante Valli, namun di dunia bawah tanah Eropa, ia dikenal sebagai Il Corvo (Sang Gagak). Berbeda dengan pembunuh bayaran biasa yang menggunakan senapan runduk atau bom mobil, Dante adalah spesialis dalam "pembunuhan sistematis". Ia tidak hanya membunuh targetnya secara fisik; ia menghancurkan reputasi, keluarga, dan warisan mereka hingga tidak ada yang tersisa untuk dikuburkan.

​"Chicago adalah wilayah yang sulit, Don Adriano," kata Dante dengan nada bicara yang sangat terukur. "Luca Rossi, sang Cleaner, telah membangun benteng digital dan politik yang hampir sempurna di sekitar Senator Elena Moretti."

​"Setiap benteng memiliki lubang udara, Dante," balas Adriano, matanya yang kuning menatap tajam. "Rossi mencintai keteraturan. Dia mencintai kebersihan. Maka, berikan dia kekacauan. Buatlah Chicago menjadi sangat kotor sehingga dia tercekik oleh debunya sendiri. Aku ingin dia melihat Elena jatuh dari podiumnya sebelum kau mengakhiri napasnya."

​Dante mengangguk pelan. "Saya akan berangkat malam ini. Saya tidak butuh tentara. Saya hanya butuh akses ke arsip lama keluarga Falcone."

​"Ambil apa pun yang kau butuhkan. Tapi ingat satu hal, Dante," Adriano mencondongkan tubuhnya. "Rossi bukan manusia biasa. Dia adalah hantu. Dan untuk membunuh hantu, kau harus menariknya kembali ke dunia nyata melalui rasa sakit yang paling manusiawi."

​Tiga hari kemudian, di Chicago, Luca Rossi merasakan sesuatu yang salah. Itu bukan peringatan dari sistem keamanan atau laporan dari Vito. Itu adalah insting murni—sebuah getaran di belakang lehernya yang hanya muncul saat seorang predator lain masuk ke wilayahnya.

​Luca berdiri di balkon penthouse-nya, memandang ke arah Danau Michigan yang diselimuti kabut pagi. Chicago di musim gugur tampak seperti lukisan cat air yang luntur. Di bawah sana, kampanye Elena untuk pemilihan Gubernur sedang berada di puncaknya. Baliho raksasa dengan wajah Elena yang tersenyum menghiasi setiap sudut kota dengan slogan: "A Cleaner Future for Illinois."

​Ironis, pikir Luca. Masa depan yang bersih dibangun di atas tumpukan mayat yang dikubur dengan sangat rapi.

​Vito masuk ke ruangan, membawa tablet yang menyala. "Luca, ada sesuatu yang aneh. Bukan di server kita, tapi di jalanan."

​"Katakan," jawab Luca tanpa berbalik.

​"Tiga informan lama kita di wilayah South Side ditemukan tewas dalam dua puluh empat jam terakhir," lapor Vito. "Tapi mereka tidak ditembak. Mereka ditemukan gantung diri di rumah masing-masing. Polisi menyatakan itu bunuh diri karena depresi, tapi ketiga orang ini baru saja menerima pembayaran bonus dari kita minggu lalu. Mereka tidak punya alasan untuk mati."

​Luca berbalik, matanya menyipit. "Siapa mereka?"

​"Toni 'The Hook', Mario, dan si kecil Joey. Mereka adalah mata-mata kita yang memantau pergerakan distribusi logistik di pelabuhan."

​Luca berjalan menuju layar monitor besarnya. "Ini bukan bunuh diri. Ini adalah pesan. Seseorang sedang memotong kabel sensor kita di jalanan. Mereka ingin kita buta terhadap apa yang masuk melalui pelabuhan."

​"Haruskah aku mengirim tim ke pelabuhan?" tanya Vito.

​"Jangan. Itu yang mereka inginkan. Mereka ingin kita menarik pasukan dari sekitar Elena," kata Luca. "Panggil Isabella. Aku ingin dia melacak setiap penerbangan pribadi dari Italia yang mendarat di Amerika Utara dalam tujuh puluh dua jam terakhir. Cari nama-nama yang tidak ada di daftar manifes resmi."

​Siang harinya, Elena sedang bersiap untuk debat terbuka di Balai Kota. Ruang ganti pribadinya dipenuhi dengan penata rias dan asisten yang sibuk. Di tengah kebisingan itu, seorang asisten masuk membawa sebuah kotak kado kecil yang dibungkus kertas krep hitam.

​"Senator, ini baru saja tiba untuk Anda. Tidak ada kartu ucapan, hanya tanda pengirim dari 'Teman Lama dari Napoli'," kata asisten itu.

​Elena mengerutkan kening. Teman lama? Sebagian besar teman lamanya di Napoli sudah mati atau berada di penjara. Ia membuka kotak itu dengan hati-hati.

​Di dalamnya terdapat sebuah bros perak berbentuk gagak dengan mata merah dari batu rubi. Namun, yang membuat napas Elena tercekat adalah apa yang ada di bawah bros itu: sebuah foto polaroid tua yang sudah menguning. Foto itu menunjukkan Elena saat berusia sepuluh tahun, sedang bermain di taman villa ayahnya, dan di latar belakang, terlihat Luca Rossi yang masih muda sedang membersihkan darah dari sebuah pisau belati.

​Tangan Elena gemetar. Foto itu seharusnya sudah dimusnahkan dua puluh tahun lalu.

​"Senator? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya penata riasnya cemas.

​"Ya... ya, saya hanya lelah," jawab Elena cepat, sambil menyembunyikan foto itu di dalam tasnya. "Tolong tinggalkan saya sendiri selama lima menit."

​Begitu ruangan kosong, Elena segera menghubungi saluran pribadi Luca.

​"Luca," suara Elena bergetar hebat. "Dia ada di sini. Seseorang dari masa lalu."

​"Tenanglah, Elena. Apa yang kau dapatkan?" suara Luca yang dingin dan stabil segera meredam kepanikan Elena.

​Elena menjelaskan tentang bros dan foto itu. Ada keheningan panjang di ujung telepon. Luca tahu persis apa artinya ini. Foto itu adalah bukti fisik dari dosa asal mereka. Jika foto itu jatuh ke tangan pers, karir Elena akan hancur dalam sekejap, dan yayasan mereka akan dianggap sebagai kedok organisasi kriminal paling berdarah dalam sejarah Chicago.

​"Dengarkan aku, Elena," kata Luca. "Pakai bros itu. Tunjukkan pada dunia bahwa kau tidak takut. Jika kau menyembunyikannya, kau menunjukkan kelemahan. Aku akan mengurus sisanya. Jangan katakan apapun pada siapapun, bahkan pada asistenmu."

​"Siapa dia, Luca? Siapa yang melakukan ini?"

​"Seseorang yang sangat ahli dalam membuat ketakutan menjadi senjata," jawab Luca. "Namanya Dante Valli. Dan dia baru saja melakukan kesalahan terbesarnya: dia membuat ini menjadi pribadi bagiku."

​Di Berlin, Isabella Mancini duduk di depan tumpukan server yang menderu pelan. Jemarinya bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi di atas keyboard mekaniknya. Di telinganya, ia mendengarkan laporan Luca tentang ancaman Dante Valli.

​"Dante Valli bukan sekadar pembunuh, Luca," kata Isabella, matanya terpaku pada barisan kode hijau yang mengalir. "Dia adalah hantu versimu di Eropa. Dia bekerja dengan memanipulasi algoritma sosial dan psikologi targetnya. Aku sedang mencari jejak digitalnya, tapi dia bersih. Terlalu bersih."

​"Cari melalui jalur keuangan Falcone," perintah Luca. "Adriano tidak mungkin membiayai operasi ini lewat bank konvensional."

​"Aku sudah menemukannya," suara Isabella tiba-tiba menjadi tajam. "Ada aliran dana crypto yang keluar dari sebuah akun di Sisilia menuju sebuah perusahaan keamanan di Chicago yang baru didaftarkan dua minggu lalu. Namanya 'Corvus Intelligence'. Kantor mereka ada di daerah industri West Loop."

​"Kirimkan koordinatnya pada Vito," kata Luca. "Aku sendiri yang akan pergi ke sana."

​"Hati-hati, Luca," Isabella memperingatkan. "Dante bukan Enzo Moretti. Dia tidak akan menunggumu dengan laptop terbuka. Dia akan menunggumu dengan jebakan yang sudah dirancang untuk menghancurkanmu."

​West Loop di malam hari adalah daerah gudang tua yang sepi, di mana bayangan-bayangan bangunan tampak seperti raksasa yang tertidur. Luca tiba di lokasi yang diberikan Isabella. Bangunan itu adalah bekas pabrik tekstil yang sudah terbengkalai.

​Luca bergerak dalam keheningan total. Ia tidak membawa tim. Dalam pertarungan melawan pria seperti Dante, jumlah orang hanya akan menjadi beban. Luca masuk melalui jendela lantai dua yang rusak. Udara di dalam bangunan itu berbau debu kayu dan karat.

​Tiba-tiba, lampu-lampu neon di langit-langit berkedip dan menyala, menerangi ruangan luas yang kosong itu. Di tengah ruangan, sebuah layar proyektor turun dan menyala secara otomatis.

​Layar itu menampilkan rekaman langsung dari Balai Kota, tempat Elena sedang bersiap untuk naik ke podium debat. Kamera itu tidak diambil dari sudut pandang publik, melainkan dari kamera tersembunyi yang dipasang tepat di belakang podium.

​"Selamat malam, Tuan Rossi," sebuah suara tenang menggema dari pengeras suara di seluruh gedung. Suara itu memiliki aksen Italia yang elegan namun mematikan. "Anda tepat waktu. Saya sangat menghargai ketepatan waktu."

​Luca berdiri diam, matanya menyapu sekeliling mencari sumber suara. "Dante Valli. Kau membuang-buang waktumu dengan pertunjukan teater ini."

​"Teater adalah satu-satunya cara untuk membuat kebenaran menjadi menarik, Luca," jawab Dante. "Lihatlah Elena. Dia tampak begitu suci, begitu bercahaya. Dunia sangat mencintainya. Tapi bayangkan apa yang terjadi jika dalam lima menit ke depan, proyektor di belakangnya menampilkan video-video pembersihan yang kau lakukan sepuluh tahun lalu."

​Di layar proyektor, Luca melihat Elena berjalan menuju podium. Tepuk tangan meriah terdengar.

​"Aku punya tawaran untukmu," lanjut Dante. "Serahkan dirimu padaku. Berikan aku kunci akses ke seluruh database keuangan Moretti, dan aku akan membiarkan Elena menyelesaikan pidatonya tanpa gangguan. Jika tidak, kebenaran akan memerdekakannya dari karir politiknya... secara permanen."

​Luca tersenyum tipis. "Kau melakukan riset yang bagus, Dante. Tapi kau lupa satu hal tentang aku."

​"Apa itu?"

​"Aku bukan hanya pembersih data. Aku adalah The Ghost dari Palermo," kata Luca.

​Seketika, gedung itu berguncang. Di layar proyektor, tiba-tiba gambar Elena hilang, digantikan oleh wajah Isabella yang sedang tersenyum miring.

​"Maaf, Sang Gagak," suara Isabella masuk ke sistem komunikasi Dante. "Aku sudah meretas balik jalur satelitmu lima menit yang lalu. Video-videomu tidak akan pernah sampai ke podium Elena. Sebagai gantinya, aku baru saja mengirimkan lokasi persembunyianmu yang sebenarnya di Chicago kepada tim pemukul Vito."

​Wajah Dante yang tadinya tenang berubah menjadi tegang. "Mustahil... protokol enkripsiku tidak bisa ditembus."

​"Tidak ada yang tidak bisa ditembus jika kau menggunakan server dari perusahaan keamanan yang terdaftar secara resmi di Illinois," balas Isabella. "Kau terlalu sombong dengan meninggalkan jejak korporasi."

​Luca bergerak maju dengan cepat menuju sebuah ruang kantor di sudut lantai dua. Ia mendobrak pintu dan menemukan Dante Valli sedang memegang tablet kendali. Dante mencoba menarik pistolnya, namun Luca lebih cepat. Sebuah tendangan keras mendarat di pergelangan tangan Dante, membuat senjatanya terpental.

​Pertarungan jarak pendek terjadi. Dante adalah petarung yang terlatih, namun Luca memiliki amarah yang terpendam selama bertahun-tahun. Mereka bergulat di lantai yang berdebu, di antara kabel-kabel komputer yang berserakan.

​Dante mencoba menghujamkan pisau belati kecil ke arah leher Luca, namun Luca menangkap tangannya dan memutar lengannya dengan bunyi krak yang mengerikan. Dante mengerang kesakitan, namun ia masih sempat tersenyum.

​"Kau menang kali ini, Rossi," desis Dante. "Tapi kau tidak bisa membersihkan semuanya. Adriano Falcone memiliki lebih banyak orang sepertiku. Kau tidak akan pernah bisa tidur dengan tenang."

​"Aku sudah tidak pernah tidur tenang selama dua puluh tahun, Dante," jawab Luca dingin.

​Luca tidak membunuh Dante di tempat. Ia tahu bahwa Dante jauh lebih berguna sebagai pesan yang dikirim kembali ke Sisilia.

​Dua hari kemudian, Don Adriano Falcone menerima sebuah paket di villanya di Sisilia. Paket itu bukan berisi bom atau ancaman tertulis. Di dalamnya terdapat bros gagak perak milik Dante Valli, dan sebuah tablet yang berisi rekaman pengakuan Dante tentang seluruh rencana Falcone untuk menghancurkan Senator Elena Moretti.

​Di bawah bros itu, ada sebuah catatan singkat dari Luca:

​"Don Adriano, Chicago bukan lagi milik Falcone. Jika kau mengirim satu orang lagi ke kotaku, aku tidak akan mengirim paket. Aku akan datang sendiri ke bukitmu dan membersihkan villamu hingga tidak ada satu pun batu yang tersisa di atas batu lainnya. Pilihlah pensiunmu dengan bijak."

​Adriano gemetar saat membaca catatan itu. Ia tahu bahwa ia telah kalah. Luca Rossi bukan hanya seorang Cleaner; ia adalah penjaga gerbang yang tak tertembus.

​Di Chicago, Elena memenangkan debatnya dengan gemilang. Elektabilitasnya melonjak tinggi, dan jalannya menuju kursi Gubernur tampak semakin mulus.

​Malam itu, Elena menemui Luca di kantor pribadinya. Ia menyerahkan bros gagak itu kembali kepada Luca.

​"Benda ini membuatku merinding," kata Elena. "Luca, apakah ini akan pernah berakhir? Apakah kita akan selalu diburu oleh masa lalu kita?"

​Luca mengambil bros itu dan meremasnya di telapak tangannya hingga logamnya bengkok. "Masa lalu adalah hantu yang hanya memiliki kekuatan jika kita takut padanya, Elena. Selama aku masih bernapas, tidak akan ada noda yang menyentuhmu."

​Elena menatap Luca, matanya penuh dengan kesedihan yang mendalam. "Tapi dengan harga berapa, Luca? Kau menghabiskan hidupmu di dalam kegelapan agar aku bisa berdiri di bawah lampu. Apakah itu adil bagimu?"

​"Keadilan bukan untuk orang seperti kita, Elena," jawab Luca pelan. "Kita memilih peran kita masing-masing. Kau adalah cahayanya, dan aku adalah orang yang memastikan lampunya tetap menyala."

​Setelah Elena pergi, Luca duduk sendirian di kegelapan. Ia membuka laptopnya dan melihat email dari Isabella.

​"Ada pergerakan baru di New York, Luca," kata Isabella melalui pesan teks. "Keluarga Lucchese sedang bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada Dante Valli. Permainan belum berakhir."

​Luca menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia tahu Isabella benar. Di dunia ini, pembersihan tidak pernah benar-benar selesai. Setiap kali satu noda dihapus, noda lain akan muncul di tempat yang berbeda.

​Ia mengambil belati tuanya dari laci meja, menatap pantulan dirinya di mata pisau yang tajam. Ia adalah The Cleaner. Ia adalah The Ghost. Dan selama Chicago masih bernapas, ia akan tetap menjadi pelindung yang tak terlihat, bertarung dalam perang yang tidak akan pernah diketahui oleh dunia yang ia selamatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!