Cakra Atlas, seorang pria rupawan yang bekerja di sebuah bar, rela menerima pernikahan dadakan demi membayar hutang janji orang tuanya di masa lalu. Namun, siapa sangka, wanita yang dia nikahi adalah Yubie William, seorang wanita yang baru saja gagal menikah karena calon suaminya memilih menikahi wanita lain.
Yubie, yang masih terluka oleh kegagalan pernikahannya, berjanji untuk menceraikan Cakra dalam setahun ke depan. Cakra, yang tidak berharap ada cinta dalam hubungan mereka, justru merasa marah dan kesal ketika mendengar janji itu. Alih-alih membenci istrinya, Cakra berusaha untuk menaklukan Yubie dan mengambil hatinya agar tidak menceraikannya.
Dalam setahun ke depan, Cakra dan Yubie akan menjalani pernikahan yang tak terduga, di mana perasaan mereka akan diuji oleh rahasia, kesalahpahaman, dan cinta yang tumbuh di antara mereka. Apakah Cakra akan berhasil menaklukan hati Yubie, atau akankah Yubie tetap pada pendiriannya untuk menceraikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Putri Aritonang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30.
"Daddy senang sekali, karena akhirnya Cakra mau menerima tawaran Daddy."
Tuan William tampak tersenyum sumringah. Ia merangkul Nyonya Mei Lin yang juga memperlihatkan ekspresi selaras dengan sang suami. Keduanya sudah masuk ke dalam kamar mereka dan duduk di sofa seraya membicarakan tentang Cakra yang hari ini mau pergi ke perusahaan William Group bersama istrinya.
"Tapi, Cakra mengatakan hanya sementara, kan, Dad?"
"Tenang saja. Ke depannya, Daddy akan pastikan dia terus mau membantu Daddy. Sampai akhirnya dia tidak bisa lagi menolak semua yang akan Daddy berikan padanya."
Tuan William berkata dengan penuh rasa percaya diri. Ia yakin, Cakra akan mau menerima semua tawarannya sesuai dengan apa yang telah Tuan William rencanakan.
"Apa nanti kita tidak menyulitkannya, Dad? Nak Cakra pasti kerepotan, jika harus mengurus dua perusahaan, sekaligus menggantikan tugas Daddy sebagai pimpinan William Group."
Brak!
Pintu kamar seketika terbuka lebar dengan suara hempasan yang sangat kencang. Menghentikan pembicaraan antara Nyonya Mei Lin dan Tuan William di dalam kamar. Keduanya langsung menoleh dan terkejut saat melihat Lusy lah yang berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam.
"Ada apa, Lusy?" tanya Tuan William. Ia berdiri untuk menghampiri putrinya itu.
Namun langkahnya langsung terhenti saat Lusy yang seketika berteriak keras padanya.
"Apa artinya dengan Kak Cakra yang akan menggantikan posisi Daddy di perusahaan?! Apa maksud ucapan Daddy itu, hah?!!" pekik Lusy kencang di hadapan ayahnya. Wajahnya memerah karena terkejut sekaligus tidak terima saat mendengar bahwa Cakra lah yang akan menggantikan posisi ayahnya di perusahaan.
Entah sudah terjadi atau baru direncanakan, hal ini benar-benar tidak bisa Lusy terima. Ia tidak akan membiarkan itu semua. Cakra akan menempati posisi CEO? Yang benar saja? This is fucking! Very very fuck! Kemarahan Lusy begitu membara padahal baru mendengarkan. Belum lah melihat secara langsung bagaimana Cakra duduk dengan gagahnya di kursi nomor satu di perusahaan William Group itu.
Nyonya Mei Lin yang melihat kemarahan tergambar begitu jelas di wajah Lusy pun ikut berdiri. Ia menghampiri suaminya dan berusaha menenangkan Lusy terlebih dahulu, agar Lusy bisa meredam kemarahannya mengingat kondisi Lusy yang tengah hamil muda.
"Tenanglah, Nak. Daddy bisa menjelaskan semuanya padamu."
"Diam!" teriak Lusy pada Nyonya Mei Lin. Jarinya bahkan terangkat, tak sungkan menunjuk langsung ke wajah wanita yang sudah berbesar hati mau merawatnya dari usia sepuluh tahun itu. "Aku tidak bertanya padamu!! Aku bertanya pada Daddy!! Jawab aku, Dad!!"
"Lusy!! Jaga sikapmu pada Mommy!!" tegur Tuan William keras yang membuat Lusy langsung terisak menangis.
Tuan William mendesah melihat wajah Lusy yang basah dengan banyaknya air mata. Inilah perbedaan kedua putrinya. Lusy terlalu lembut, dibentak sedikit saja, langsung berderai air mata. Sementara Yubie, putri tangguhnya itu tak pernah sama sekali Tuan William lihat menangis.
"Kalian semua sudah merencanakan ini di belakangku, kan?" kata Lusy di tengah-tengah tangisnya yang sesegukan. "Kalian curang!!"
"Dengarkan Daddy dulu, Lusy. Tenangkan lah dirimu, ingat kau sedang hamil." Nyonya Mei Lin tidak menyerah untuk membujuk Lusy. Namun, Lusy tidak pernah menggubrisnya.
"Ini permintaan Kak Yubie 'kan? Dia yang ingin suaminya berada di posisi itu dan dia sebagai COO nya!!" tukas Lusy sepihak dan setelahnya ia tertawa miris. "Jangan serakah!! Semua posisi penting ingin dia dan suaminya tempati sendiri!!"
"Bukan begitu..."
"Bukan begitu apanya?! Daddy asal saja mengambil keputusan!! Kak Cakra tidak memiliki pengalaman bahkan kenalan relasi luas untuk memimpin perusahaan!! Hanya karena dia suami Kak Yubie, sekalipun seorang pelayan bar lalu Daddy mengangkatnya menjadi pemimpin perusahaan. Itu terlalu konyol, Dad!!" potong Lusy cepat atas ucapan ayahnya. Emosinya sungguh terpancing saat ini.
"Buka mata Daddy! Kak Kanny jauh lebih pantas dari Kak Cakra! Dia lebih tegas dan punya banyak pengalaman!"
Panjang lebar Lusy mengeluarkan semua amarahnya karena sangat tidak terima dengan keputusan Tuan William yang akan menyerahkan kedudukan nomor satu perusahaan William Group pada Cakra, bukan pada suaminya, Kanny.
Tangis wanita hamil itu juga tidak berhenti mengalir. Lusy terlihat menyedihkan. Tuan William sampai pusing, bagaimana baiknya ia mengajak bicara Lusy agar bisa membuat Lusy segera berhenti menangis.
"Daddy bisa jelaskan semuanya, Lusy. Urusan memimpin perusahaan dan menunjuk Cakra, tidak ada hubungannya dengan kakakmu, Yubie. Dia bahkan tidak tahu kalau Daddy akan memilih Cakra sebagai penerus Daddy."
Kalimat demi kalimat yang Tuan William ucapkan selembut mungkin itu malah semakin menikam hati Lusy. Jadi benar, ayahnya memilih Cakra sebagai penerusnya. Tampaknya, Tuan William sudah tidak bisa lagi menutupi keputusan yang telah ia ambil ini.
"Jadi... Daddy sungguh tetap akan memilih Kak Cakra?" tanya Lusy. Suaranya putus-putus karena sesegukan, dan semakin terisak saat melihat ayahnya yang langsung memberikan anggukan. "Kenapa? Kenapa harus Kak Cakra?! Dia bukan anak Daddy!!"
"Karena dia layak," jawab Tuan William dengan menatap Lusy tegas. Menurutnya, Lusy harus paham tentang ini, agar tidak salah mengertikan semuanya nanti.
"Layak?" Lusy seketika menimpali, ia tertawa menatap Tuan William mengejek. Ini bahkan hal paling menggelikan yang pernah Lusy dengar. Cakra, yang hanya seorang pelayan di club malam, ayahnya bilang layak memimpin sebuah perusahaan besar sekelas William Group?
"Ya. Daddy tidak asal memilih Cakra. Dia jauh lebih dari kata pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Kau hanya belum mengenal jauh siapa kakak iparmu sebenarnya, Lusy."
Lusy menggeleng keras. Tetap menolak apa yang barusan ayahnya ucapkan. Cakra tidaklah pantas! Suami kakaknya itu hanya pria biasa! Kanny lah yang seharusnya Tuan William pilih! Pokoknya harus Kanny! Jerit Lusy dalam tangisnya, sebelum akhirnya ia pergi begitu saja meninggalkan kamar orang tuanya dengan menahan amarah dan kekecewaannya.
Lusy sulit menerima kenyataan bahwa ayahnya ternyata lebih memilih Cakra daripada Kanny, suaminya yang jelas-jelas memiliki latar belakang jauh lebih baik dari Cakra.
"Aku tidak akan membiarkan ini terjadi," kata Lusy seraya meremat kepalan tangannya dan mempercepat langkahnya masuk ke dalam kamar. Ia bahkan membanting pintu saat menutupnya dan mengusap kasar jejak air mata di wajahnya.
"Aku akan melakukan apa saja untuk menggagalkan niat Daddy!" Lusy langsung menyambar ponselnya dan lekas menekan tombol panggil untuk menghubungi seseorang. "Suami Yubie tidak akan pernah menjadi CEO William Group! Tidak akan pernah!!"
semangat trus kak author ,, dtggu pakee banget update selanjut ny ,,
Bismillah langsung 5 bab🤭🤣🤣 ,,
sehat selalu kak ,,
🤭🤣
Istri mu gelisah nungguin kamu yang nggak pualng-pulang loh ...
mau di bungkus pake ap ni duo ulet sagu ,,
bikin rusuh aja ,,,
🤣🤣🤣🤣
kak author gmn cerita ny sih ,,
si ikan kembung lusy bisa ad di keluarga William ,,
ap tuan William selingkuh ap gmn ,,
/Smug//Smug/