Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Selena turun dari mobil dengan langkah mantap, meskipun hatinya dipenuhi badai. Matanya menatap lurus ke depan, melewati batuan gurun yang gersang, menuju kompleks makam yang berdiri sebagai saksi bisu kejayaan Mesir kuno. Elias mengikutinya dari belakang, diam-diam mengamati perubahan ekspresi di wajah Selena—dari keteguhan, ketegangan, hingga sesuatu yang menyerupai duka.
Mereka melewati koridor panjang yang dipenuhi relief dan hieroglif. Cahaya lampu redup menerangi dinding, menampilkan kisah perjalanan Ramses II ke alam baka. Elias menunjuk salah satu relief. "Ini adalah pemandangan dari Kitab Kematian. Lihat, di sini Ramses II berdiri di hadapan Osiris, menimbang jiwanya. Dia ingin memastikan tempatnya di keabadian."
Selena mengamati relief itu, jemarinya menyentuh ukiran kuno dengan penuh kehati-hatian. "Ramses II... ia mengubah sejarah Mesir. Bukan hanya sebagai penguasa, tapi sebagai sosok yang meninggalkan jejak di dunia ini."
Elias mengangguk. "Dia disebut sebagai Firaun terbesar Mesir. Dia bukan hanya seorang pejuang, tapi juga seorang diplomat. Setelah perang Kadesh, dia menandatangani perjanjian damai pertama dalam sejarah manusia dengan bangsa Het." Elias melirik Selena dengan waspada. "Kau begitu tertarik dengan Hattusili sebelumnya, aku penasaran kenapa."
Selena terdiam. Hattusili... nama itu kembali menghantam hatinya. Dia tahu sejarah tidak dapat diubah, tetapi sesuatu di dalam dirinya menolak kenyataan itu.
"Raja Hattusili mati, digantikan oleh saudara nya pangeran ketiga." Elias melanjutkan, "Tapi yang pasti, perang mereka berakhir dalam sebuah perjanjian. Dan anehnya, Ramses bahkan menikahi putri Het untuk menguatkan aliansi mereka."
Dia sungguh mati!?!
Hattusili....
Selena mengerutkan kening. "Putri bangsa het?"
"Ya, dia menikahi seorang putri Het. Sejarah tidak banyak mencatat tentangnya, tapi dia menjadi bagian dari keluarga kerajaan Mesir."
Jantung Selena berdegup kencang. Semua ini... semakin terasa aneh.
Mereka melangkah lebih jauh ke dalam makam, hingga tiba di ruang utama tempat sarkofagus Ramses II berada. Di dalam keheningan itu, hanya ada mereka berdua dan aura keagungan yang masih terpancar dari batu-batu kuno.
Selena menatap sarkofagus itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. "Dan di sinilah dia beristirahat... Sang penguasa Mesir, penakluk, dan pencipta sejarah."
Elias mengarahkan senter ke tulisan itu dan mulai membacanya dengan suara pelan:
"Neferure, cahaya yang membimbing jiwaku, yang kehangatannya menandingi matahari. Tanpa kehadiranmu, aku hanyalah bayangan kosong yang tertinggal di dunia fana. Aku menunggumu di keabadian, di mana dewa-dewa tidak lagi memisahkan kita."
Jantung Selena berdegup kencang. Nafasnya tercekat saat tangannya terulur, menyentuh prasasti itu dengan jemari gemetar. Kata-kata yang tertulis di sana terasa terlalu nyata, terlalu akrab.
"Aku menunggumu di keabadian…"
"Apakah kau tahu Selena... apakah kau tahu, ada sebuah kalimat ramesses II hingga jika di terjemahkan membuat semua orang arkeologi tersentuh karena cinta nya."
cinta?
Ha.
Elias mengusap perlahan ukiran yang tersembunyi di sudut makam Ramses II. Prasasti itu sudah termakan waktu, tetapi kata-katanya tetap jelas. Ia menarik napas sebelum membacanya dengan suara pelan, hampir berbisik:
"Setiap hari matahari terbit Karena dirimu.Setiap hari,aku hanya merindukan mu,setiap kali aku menutup mata,aku berharap melihat mu.Tapi,kau tidak pernah kembali ,tidak peduli aku berdoa kepada dewa- dewa sekali pun.Bahkan,dewa-dewa tidak bisa membawa mu kembali ke sisiku."
Suasana di dalam makam menjadi sunyi. Cahaya lampu senter memantulkan bayangan samar di dinding batu yang dingin.
Selena menatap prasasti itu dengan mata yang membesar. Perasaan aneh menyusup ke dalam dadanya, seperti ada sesuatu yang ingin pecah, sesuatu yang ingin berteriak.
Elias meliriknya, keningnya berkerut. “Kata para arkeolog, ini bukan sekadar tulisan biasa. Ini adalah jeritan hati seorang firaun yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk kejayaan, tapi di akhir hidupnya, dia hanya mengingat satu hal… atau satu orang.”
“Neferure…” gumam Elias. “Seorang wanita yang begitu berharga bagi Ramses II, namun namanya hilang dari sejarah. Tidak ada catatan detail tentangnya, hanya patung, hanya peninggalan… dan kata-kata ini.”
Selena menatap ukiran itu dengan tatapan dingin,dia berbalik badan dan keluar dari makam,"Hmph.sungguh cinta yang luar biasa.."kata nya dengan nada skeptis.
"Astaga...ada apa dengan orang ini?"menatap aneh Selena.
Selena melangkah keluar dari makam dengan ekspresi yang sulit ditebak. Langkahnya tegas, tapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang menyiratkan badai di dalam hatinya. Elias mengikutinya dengan sedikit menghela napas, masih mencerna reaksi Selena terhadap prasasti Ramses II.
Begitu mereka sampai di luar, hawa panas gurun kembali menyelimuti mereka. Beberapa turis terlihat berkumpul di dekat pintu masuk makam, terlibat dalam perdebatan sengit.
"Di sisi lain,Bangsa het memiliki kisah cinta yaitu, Hattasuli dengan Nesharra.Di Mesir, Ada ramesses II Dengan Neferure."kata seorang turis menatap kuil patung
"Aku tetap percaya Hattusili lebih tragis!" seorang pria berkacamata berkata dengan semangat. "Dia mencintai Nesharra, menulis puisi indah di makam nya dan mengenang Nesharra di Sebuah Danau, tetapi dia mati sebelum bisa bersatu dengannya!"
Seorang wanita dengan topi lebar menggelengkan kepala. "Tapi Ramses II lebih menyedihkan. Dia adalah penguasa terkuat Mesir, memiliki segalanya, tetapi di akhir hidupnya, dia hanya merindukan satu orang—Neferure. Dia bahkan menulis prasasti untuknya! Jika itu bukan cinta sejati, aku tidak tahu lagi apa!"
"Tapi kita tidak punya bukti konkret tentang siapa Neferure sebenarnya," pria berkacamata membantah. "Nesharra, di sisi lain, tercatat dalam surat-surat Hattusili. Dia benar-benar ada. Bukankah itu lebih menyakitkan?"
"Ramses menunggu Neferure di keabadian, tapi Hattusili menunggu Nesharra di dunia fana! Itu yang membuatnya lebih tragis!"
"Tidak! Tragisnya Ramses jauh lebih dalam! Dia memiliki segalanya, tapi tak bisa mendapatkan satu hal yang paling dia inginkan!"
"Tapi Nesharra benar-benar membuat pengaruh besar di hidup hattasuli! Hattusili mencintainya bagaikan Padang pasir oasis! Mereka seharusnya bersatu! Ramses hanya menulis prasasti yang penuh kerinduan, sedangkan Hattusili benar-benar menantikan seseorang yang tidak pernah kembali!"
Selena berhenti di bawah bayang-bayang sebuah obelisk yang menjulang tinggi, membiarkan perdebatan itu mengalun di telinganya. Dia memejamkan mata sejenak, membiarkan napasnya mengalir perlahan.
Lucu.
Dua pria hebat dalam sejarah, menunggu wanita yang tak pernah kembali. Apakah itu cinta? Atau hanya keputusasaan yang terukir dalam prasasti?
Elias berdiri di sampingnya, menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku. "Kau mendengarnya?" tanyanya dengan nada santai.
Selena membuka matanya, menatap ke arah langit biru yang membentang luas. "Ya."
"Kau tidak punya pendapat?" Elias menyeringai kecil. "Kau tahu, orang-orang biasanya terpesona oleh kisah cinta seperti ini. Mereka menganggapnya romantis."
Selena tertawa kecil, namun tanpa sedikit pun kehangatan. "Romantis?" Dia menoleh, menatap Elias dengan sorot mata tajam. "Tidak ada yang romantis dari menunggu seseorang yang tidak akan pernah kembali."
Elias terdiam, tidak segera membalas. Matanya mengamati ekspresi Selena, seolah ingin memahami sesuatu yang lebih dalam dari kata-katanya.
Sementara itu, perdebatan para turis semakin panas.
"Bagaimana jika Neferure juga menunggu Ramses di sisi lain?"
"Apa kau pikir Nesharra juga merindukan Hattusili, tapi tak bisa kembali padanya?"
"Mungkin mereka semua hanya menjadi korban takdir!"
Selena menutup matanya lagi sejenak. Takdir, huh?
Angin kembali berhembus, membawa serta bisikan dari masa lalu yang sudah lama terkubur di pasir waktu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Selena melangkah pergi, meninggalkan perdebatan yang tak akan pernah menemukan jawaban.
Elias menatap punggungnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengikutinya.