Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 10_Percikan Api di Taman
Rahang Marco mengeras, selama ini dia belum pernah melihat Anya tersenyum selebar itu padanya.
Padahal dia sudah memberikan segalanya mulai dari pakaian mahal, perpustakaan, perlindungan.
Tapi Anya justru terlihat lebih bahagia bicara dengan seorang asisten tukang kebun yang kotor.
Rasa panas yang asing mulai membakar dada Marco, itu bukan rasa sakit dari lukanya melainkan rasa cemburu yang primitif dan liar.
Baginya, Anya adalah miliknya di setiap senyumnya, setiap tatapannya dan setiap helai rambutnya adalah properti eksklusif Marco Valerius.
Melihat orang lain menikmati apa yang ia anggap miliknya adalah penghinaan besar.
Marco meletakkan gelasnya dengan keras di atas meja, lalu berjalan keluar dengan langkah yang berat dan mengintimidasi.
Di taman Anya dan Leo masih asyik mengobrol, Leo baru saja akan menunjukkan jenis bibit bunga baru pada Anya ketika suasana tiba-tiba berubah dan suhu di sekitar mereka seolah turun drastis.
"Leo," sebuah suara berat dan dingin memecah percakapan mereka.
Leo langsung memucat, dia berdiri tegak seperti papan dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"T-tuan Marco! Maafkan saya, Tuan. Saya hanya..." ucapnya terpotong karena melihat tatapan tuannya.
Marco berjalan mendekat, setiap langkahnya menciptakan tekanan yang membuat Leo gemetar.
Marco tidak melihat ke arah Leo tapi matanya tertuju langsung pada Anya, namun tatapannya tidak lagi lembut seperti biasanya, ada kilatan amarah yang ditekan di sana.
"Kembali ke posmu Leo, sekarang,!" perintah Marco.
Suaranya tidak keras, tapi mengandung ancaman yang bisa membuat nyali siapa pun menciut.
"Baik Tuan, mohon maaf sebesar-besarnya," Leo segera berbalik dan pergi dengan langkah terburu-buru, bahkan hampir tersandung kakinya sendiri.
Anya berdiri mematung, dia merasa bingung sekaligus kesal.
"Marco, kenapa kamu begitu ketus padanya? Kami cuma bicara tentang bunga." ucap Anya kesal dengan sikap Marco uang terlalu dominan hingga membuat karyawannya ketakutan padahal mereka tidak ngapa-ngapain.
Marco tidak menjawab tapi dia justru melangkah maju, memperpendek jarak hingga dia berdiri sangat dekat dengan Anya.
Dia bisa mencium aroma sabun lavender milik Anya yang bercampur dengan udara segar.
"Tentang bunga, ya?" Marco mengulang kata-kata itu dengan nada mengejek.
"Kau terlihat sangat bahagia bicara dengannya, apa pembicaraannya jauh lebih menarik daripada semua buku yang kuberikan?"
Anya mengerutkan kening. "Apa maksud mu? Leo itu orang yang baik, dia cuma bersikap ramah dan aku bosan sendirian terus di rumah ini, Marco."
"Jangan panggil dia dengan namanya seolah kau mengenalnya dengan baik," desis Marco.
Dia mencengkeram lengan Anya lembut tapi tegas, memastikan Anya tidak bisa menjauh.
"Anya, dengarkan aku baik-baik, aku membawamu ke sini untuk menjagamu dan menjagamu berarti membatasi siapa saja yang bisa berada di dekatmu." tutur Marco.
"Ini gila! Kamu cemburu pada asisten tukang kebun?" Anya bertanya dengan nada tidak percaya.
Marco terdiam sejenak, kata 'cemburu' terdengar sangat rendah bagi pria sepertinya, namun, dia tidak bisa membantahnya.
"Aku tidak suka melihat milikku disentuh atau bahkan dipandang terlalu lama oleh orang lain kau adalah tanggung jawabku, Anya. Setiap inci dari dirimu." seru Marco.
"Aku bukan milik kamu, Marco! Aku manusia!" Anya mencoba melepaskan cengkeramannya, tapi Marco justru menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka hampir bersentuhan.
"Di duniaku, apa yang kuselamatkan dan apa yang kupelihara adalah milikku," bisik Marco tepat di depan wajah Anya.
Matanya yang gelap kini terlihat sangat posesif dan terobsesi terhadap Anya.
"Aku sudah memberimu segalanya, jika kau butuh teman bicara, bicaralah padaku, jika kau butuh sesuatu, mintalah padaku. Jangan mencari validasi dari pria-pria kelas rendah di rumah ini." ucap Marco.
Anya merasa takut, tapi dia juga merasa sangat marah. "Kamu ingin mengurung ku? Menjadikan ku boneka? Jika begitu, lebih baik kamu biarkan aku mati saja di gang sempit itu semalam!" seru Anya marah.
Mendengar kata-kata itu, ekspresi Marco berubah menjadi sangat gelap.
Dia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya yang hampir meledak.
Dia tidak ingin menyakiti Anya, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Anya berpikir bahwa dia punya kebebasan untuk pergi atau berpaling pada orang lain.
"Jangan pernah katakan itu lagi," suara Marco kembali tenang, tapi ketenangannya jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya.
"Kau tidak akan mati dan kau juga tidak akan pergi. Mulai besok, area taman ini akan dijaga lebih ketat dan untuk Leo... dia akan dipindahkan ke unit luar di dermaga dan kau tidak akan melihatnya lagi." ucapnya.
Anya terkesiap. "Jangan! Jangan hukum dia karena kesalahan ku! Dia tidak melakukan apa-apa!" seru Anya memohon.
"Dia melakukan kesalahan dengan membuatku merasa terganggu Anya dan di duniaku itu sudah cukup untuk mendapatkan hukuman," jawab Marco dingin.
Dia melepaskan lengan Anya dan berbalik untuk pergi namun sebelum benar-benar menjauh, dia menoleh sedikit.
"Malam ini, pakailah gaun merah yang ada di lemarimu dan kita akan makan malam di balkon utama. Hanya kita berdua. Jangan terlambat," perintah Marco, bukan sebagai permintaan, melainkan sebagai titah raja.
Anya berdiri sendirian di tengah taman yang kini terasa seperti penjara yang mencekam.
Dia melihat ke arah bunga mawar yang tadi Leo tunjukkan, bunga itu memang indah, tapi sekarang dia sadar bahwa durinya benar-benar tajam seperti kehidupan mewah yang Marco tawarkan.
Dia menyadari satu hal yang mengerikan yaitu Marco Valerius tidak hanya ingin melindunginya dari musuh-musuhnya.
Marco ingin melindunginya dari dunia itu sendiri, bahkan jika itu berarti menghancurkan segala hal yang membuat Anya merasa hidup.
Setiap pemberian Marco, setiap kemewahan ini, ternyata memiliki harga yang harus dibayar dengan kebebasan jiwanya.
Obsesi Marco bukan lagi sebuah bentuk kasih sayang yang aneh tapi itu adalah rantai tak kasat mata yang perlahan-lahan mulai melilit lehernya.
Anya berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah gontai, dia menatap gaun merah yang disebutkan Marco.
Gaun itu sangat indah, tapi bagi Anya, itu terlihat seperti tetesan darah di atas kain sutra.
Dia tahu, malam ini bukan sekadar makan malam tapi ini adalah cara Marco untuk menegaskan kembali dominasinya, untuk memastikan bahwa di dalam kepala Anya, hanya boleh ada satu nama yaitu Marco.
Sementara itu di lantai bawah Marco memberikan instruksi pada kepalanya keamanannya.
"Pastikan semua staf tahu batasannya, jika ada yang berani bicara lebih dari tiga kalimat pada Nona Anya tanpa izin, mereka tahu apa konsekuensinya."
Marco kembali ke mejanya, menuangkan wiski lagi, tangannya sedikit gemetar karena sisa amarah yang masih membara.
Dia tahu dia mungkin bertindak terlalu jauh, tapi dia tidak peduli, selama Anya tetap berada dalam jangkauan tangannya, dia akan melakukan apa pun bahkan jika dia harus menjadi monster di mata gadis yang ia cintai.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪