NovelToon NovelToon
Mantan Calon Istri Yang Kamu Buang Kini Jadi Jutawan

Mantan Calon Istri Yang Kamu Buang Kini Jadi Jutawan

Status: tamat
Genre:Romantis / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Satu surat pemecatan. Satu undangan pernikahan mantan. Dan satu warung makan yang hampir mati.

​Hidup Maya di Jakarta hancur dalam semalam. Jabatan manajer yang ia kejar mati-matian hilang begitu saja, tepat saat ia memergoki tunangannya berselingkuh dengan teman lama sekaligus rekan sekantornya. Tidak ada pilihan lain selain pulang ke kampung halaman—sebuah langkah yang dianggap "kekalahan total" oleh orang-orang di kampungnya.

​Di kampung, ia tidak disambut pelukan hangat, melainkan tumpukan utang dan warung makan ibunya yang sepi pelanggan. Maya diremehkan, dianggap sebagai "produk gagal" yang hanya bisa menghabiskan nasi.

​Namun, Maya tidak pulang untuk menyerah.

​Berbekal pisau dapur dan insting bisnisnya, Maya memutuskan untuk mengubah warung kumuh itu menjadi katering kelas atas.

​​Hingga suatu hari, sebuah pesanan besar datang. Pesanan katering untuk acara pernikahan paling megah di kota itu. Pernikahan mantan tunangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 33: Operasi "Gerebek Jagal"

​"Sabar, Garong! Jangan main otot dulu. Taruh balok kayu itu, atau kamu saya pecat jadi petugas parkir!"

​Suara Maya memecah emosi si Garong yang sudah nyaris meledak di gudang belakang Pusat Pelatihan Rempah Jati. Mantan preman itu mendengus, dadanya naik turun karena amarah, tapi ia perlahan menurunkan balok kayu yang tadi ia genggam erat.

​"Tapi Mbak, si Burhan itu sudah keterlaluan! Sopir truk kita disekap di gudang jagalnya, daging kita ditahan supaya busuk. Apa nggak sebaiknya kita kasih sedikit pelajaran biar dia tahu rasa?" gerutu si Garong sambil mengusap keringat di dahinya yang lebar.

​Arlan, yang sejak tadi bersandar di pintu gudang sambil memainkan kunci mobilnya, menatap Maya dengan sebelah alis terangkat. "Garong ada benernya, Maya. Kadang orang kayak Burhan nggak mempan dikasih senyum. Mau saya panggil unit keamanan kantor?"

​"Nggak perlu, Lan. Kalau kita serbu pakai kekerasan, kita cuma bakal ngasih dia umpan buat lapor polisi. Kita bakal kelihatan kayak penjahatnya," jawab Maya mantap. Ia menoleh ke arah Arlan dengan tatapan memohon. "Lan, aku boleh pinjam truk pendingin punya logistik perusahaanmu? Yang besar, yang ada logo Dirgantara Utama-nya."

​Arlan tersenyum miring, seolah sudah menebak arah pikiran Maya. "Truk pendingin? Kamu mau jemput daging itu dengan gaya?"

​"Bukan cuma gaya, tapi supaya dagingnya tetap segar dan mereka tahu kita nggak main-main. Garong, panggil anak buahmu yang lain. Suruh pakai seragam kerja yang rapi, sisir rambutnya, jangan ada yang kelihatan kayak mau tawuran. Kita berangkat sekarang ke Gudang Jagal Jalur Timur punya Burhan."

​"Siap, Mbak Bos! Eh, maksudnya Mbak Maya!" Garong langsung tegak dan memberi hormat layaknya prajurit, lalu lari keluar sambil berteriak memanggil kawan-kawannya.

​Setengah jam kemudian, dua truk pendingin raksasa milik perusahaan Arlan sudah menderu di depan gudang jagal tua milik Burhan. Maya duduk di kursi penumpang truk paling depan, sementara Arlan mengikuti dari belakang dengan mobil mewahnya.

​Begitu sampai di gerbang gudang jagal yang tampak sepi namun dijaga oleh beberapa pria berwajah sangar, si Garong turun duluan. Namun, kali ini penampilannya berbeda. Ia memakai kemeja seragam Dapur Rempah Maya yang rapi, lengkap dengan tanda pengenal di dada.

​"Woi! Mau ngapain kalian? Ini area pribadi!" gertak salah satu penjaga gudang sambil melangkah maju.

​Si Garong tidak membalas dengan makian. Ia justru membungkuk sopan, meski otot lengannya tetap terlihat menonjol di balik kemeja. "Selamat siang, Mas. Kami dari tim logistik Dapur Rempah Maya. Mau jemput stok daging yang sudah kami bayar lunas. Silahkan dibuka gerbangnya, truk kami mau masuk ke area pemotongan."

​"Nggak ada daging! Truk supplier kalian rusak, sudah balik kanan!" sahut penjaga itu lagi.

​Maya turun dari truk, memegang sebuah map jilid bening berisi dokumen-dokumen resmi. Ia berjalan menghampiri penjaga itu dengan langkah mantap. "Truknya nggak rusak, Mas. Saya tahu truknya ada di dalam gudang jagal ini. 

Dan ini," Maya menyodorkan map itu ke depan wajah si penjaga, "adalah kontrak resmi antara saya dengan supplier. Di pasal lima tertulis, kalau ada keterlambatan pengiriman tanpa alasan bencana alam, pihak supplier wajib membayar pinalti tiga kali lipat dari nilai kontrak. Dan saya berhak mengambil barang sendiri jika tidak ada itikad baik."

​Penjaga itu melongo, tidak mengerti bahasa hukum yang baru saja diucapkan Maya. Sementara itu, Arlan turun dari mobilnya dan berdiri di belakang Maya, memberikan aura tekanan yang membuat para penjaga itu mundur setapak.

​"Buka gerbangnya sekarang, atau pengacara saya yang akan datang membawa surat sita untuk seluruh isi gudang jagal ini," suara Arlan rendah namun berwibawa, membuat suasana mendadak dingin.

​Karena takut melihat logo besar perusahaan Arlan di truk dan wajah sangar si Garong yang sekarang jadi sopan tapi mengancam, penjaga itu akhirnya membuka gerbang dengan tangan gemetar.

​"Garong, bawa tim masuk ke ruang pendingin gudang. Ingat, jaga kebersihan, jangan kasar," perintah Maya.

​Adegan selanjutnya adalah pemandangan yang paling absurd bagi siapapun yang mengenal si Garong. Mantan preman pasar yang biasanya kasar itu kini sibuk mengatur anak buahnya untuk mengangkat karkas sapi dengan sangat hati-hati.

​"Heh, lu! Pegangnya yang bener! Jangan kena lantai, itu daging mahal!" bentak si Garong pada salah satu anak buah Burhan yang mencoba menghalangi dengan cara meletakkan daging di sembarang tempat. "Kita ini profesional! Susun yang rapi di dalam truk pendingin kita, kasih jarak biar sirkulasi udaranya bagus! Masukkan ke gantungan besi, jangan ditumpuk!"

​Si Garong bahkan terlihat sibuk menyemprotkan cairan pembersih ke tangannya setiap kali akan menyentuh bagian daging yang baru. 

Ia benar-benar menjalankan standar kebersihan yang diajarkan Maya di pusat pelatihan dengan sangat disiplin, meski sesekali ia masih melotot galak kalau ada anak buah Burhan yang berani mendekat.

​"Gila, Mbak Maya beneran bisa bikin macan jadi kucing rumahan," bisik salah satu tukang jagal di sana saat melihat Garong dengan telaten menata potongan daging di dalam truk.

​Dua truk hampir penuh ketika suara derit rem mobil sedan perak terdengar sangat kencang di halaman gudang jagal itu. Burhan keluar dari mobil dengan wajah yang merah padam, diikuti oleh seorang pria berkacamata yang membawa tas koper kecil.

​"BERHENTI! SIAPA YANG IZINKAN KALIAN AMBIL BARANG DI SINI?!" teriak Burhan sambil menunjuk-nunjuk ke arah Maya.

​Maya tetap tenang, ia berdiri di depan pintu truk pendingin yang sedang ditutup oleh Garong. "Saya yang izinkan, Pak. Ini barang saya, sudah saya bayar DP-nya lima puluh persen di rumah potong ini, dan ini hak saya."

​"Hak apa?! Itu daging sudah saya beli secara borongan dari supplier pagi tadi! Kamu nggak punya hak apa-apa!" Burhan beralih ke pria berkacamata di sampingnya. "Pak Hermawan, kasih tahu dia!"

​Pria berkacamata itu berdehem, lalu mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. "Selamat siang. Saya Hermawan, kuasa hukum Bapak Burhan. Saya ingin memberitahukan bahwa kontrak yang Saudari Maya pegang itu tidak berlaku. Kami sudah melakukan pengecekan, dan ditemukan bahwa tanda tangan pihak supplier dalam kontrak Saudari adalah palsu. Dengan kata lain, dokumen Anda cacat hukum."

​Maya tertegun sejenak. Ia melihat ke arah dokumen di tangannya. "Palsu? Saya lihat sendiri supplier itu tanda tangan di depan saya kemarin sore!"

 Burhan tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar sangat licik. "Mungkin kamu salah lihat, Neng. Atau mungkin mata kamu kelilipan bawang? Supplier itu sudah memberikan pernyataan tertulis kalau dia nggak pernah tanda tangan kontrak sama warung kucel kamu. Jadi, turunkan semua daging itu sekarang, atau saya laporkan kamu atas kasus pemalsuan dokumen!"

​"Tunggu dulu," Arlan melangkah maju, tangannya masuk ke saku celana. "Pak Hermawan, Anda yakin dengan apa yang Anda bicarakan? Memalsukan tanda tangan itu tuduhan yang berat."

​"Tentu saja, Pak Arlan. Kami punya buktinya. Supplier itu sekarang ada di bawah perlindungan kami dan siap memberikan kesaksian," sahut si pengacara dengan nada angkuh.

Burhan tersenyum puas, ia merasa sudah berada di atas angin. "Gimana, Maya? Mau turunin dagingnya baik-baik, atau mau kita lanjutin drama ini di kantor polisi? Pesta pelatihan kamu bakal jadi pesta penjara kalau kamu nekad."

​Maya menatap tajam ke arah Burhan, lalu melirik ke arah Arlan. Situasi mendadak terjepit. Jika benar supplier itu berkhianat dan mengaku tanda tangannya dipalsukan, Maya tidak hanya kehilangan daging, tapi juga reputasi restorannya yang baru saja dibangun.

​"Lan, gimana ini?" bisik Maya dengan suara sedikit bergetar.

​Arlan menatap Burhan dengan pandangan yang sulit dibaca, namun tangannya diam-diam meraih ponsel di sakunya, seolah sedang menunggu sesuatu yang besar.

​Apakah benar Maya telah dijebak dengan dokumen palsu oleh Haji Burhan dan supplier-nya? Dan bagaimana Arlan akan membuktikan kebenaran di tengah gempuran hukum dari pengacara Burhan? Simak di bab selanjutnya!

1
Warni
Ada saja ujiannya.
Warni
Astaga
Dewiendahsetiowati
terima kasih untuk ceritanya dan ditunggu karya selanjutnya thor
Rina Arie
good book
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kamu kuat Maya dan pasti bisa membuktikan bahwa kamu bisa bangkit
Savana Liora: iya. maya pasti bisa
total 1 replies
Dewi Sri
Hadir.... cerita sederhana tp bagus 👍
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Feni Puji Pajarwati
good job author...ceritanya menarik dan gak bikin bosen sama alur ceritanya...
Savana Liora: makasih akak
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
Terimakasih thor untuk ceritanya..
vote untuk mu👍
Iqlima Al Jazira: sama-sama thor
total 2 replies
Iqlima Al Jazira
aku padamu arlan🤭
tutiana
bagusss
Dewiendahsetiowati
ada aja ujiannya, paling ini kerjaan Rosa edan,bikin jengkel aja manusia 1 itu
Dewiendahsetiowati
kamu kuat Maya dan Adit akan menyesal membuang berlian kayak kamu
Dewiendahsetiowati
awal mula Maya untuk bangkit lagi
Savana Liora: iya bener
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Savana Liora: makasih udah hadir kakak
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
aku pada mu arlan🤩
Savana Liora: halo kak. happy reading
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
so sweet👍
Savana Liora: iya kan?
total 1 replies
Ma Em
Semangat Maya semoga masalah yg Maya alami cepat selesai dan usaha kateringnya tambah sukses .
Savana Liora: terimakasih udah mampir ya kk
total 1 replies
macha
kak semangat💪💪
Savana Liora: hi kak. makasih ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!