"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarum di Tumpukan Jerami
Tiga hari setelah malam bencana di mana William menolak perjodohan dengan Celine, suasana di kediaman utama keluarga Bagaskara di Menteng masih sedingin kutub utara.
Di ruang kerja pribadinya yang bernuansa kayu gelap dan kulit, Tuan Edward Bagaskara duduk di balik meja besarnya. Asap cerutu mengepul di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Di sofa beludru dekat jendela, Nyonya Sofia duduk dengan wajah tegang, memutar-mutar cincin rubi di jarinya.
Di hadapan mereka, berdiri seorang pria paruh baya bernama Darma. Dia adalah kepala tim investigasi swasta yang biasa disewa keluarga Bagaskara untuk "membersihkan" masalah atau menggali aib lawan bisnis.
Namun hari ini, Darma terlihat berkeringat dingin.
"Jadi," suara Edward memecah keheningan, berat dan mengancam. "Katakan padaku, Darma. Siapa perempuan jalang yang sudah mencuci otak anakku sampai dia berani membentak ayahnya sendiri?"
Darma menelan ludah. Ia meletakkan sebuah tumpukan berkas yang sangat tebal di atas meja Edward.
"Maaf, Tuan Besar. Hasilnya... nihil," ucap Darma hati-hati.
BRAK!
Edward memukul meja. "Nihil?! Aku bayar kau mahal bukan untuk mendengar kata nihil! William pasti punya wanita simpanan! Tidak mungkin dia menolak Celine kalau tidak ada perempuan lain yang mempengaruhinya!"
"Itu masalahnya, Tuan," Darma memberanikan diri membuka berkas paling atas. "Kami sudah menyadap telepon kantornya (yang bisa ditembus), melacak GPS mobilnya, dan memeriksa rekaman CCTV apartemen dan tempat-tempat yang dia kunjungi selama tiga bulan terakhir. Kami tidak menemukan satu wanita spesifik."
"Maksudmu?" tanya Sofia tajam. "Anakku tidak punya pacar?"
"Bukan tidak punya, Nyonya. Tapi... terlalu banyak kandidat," jawab Darma sambil menyeka keringat di pelipisnya.
Darma mulai menyebar foto-foto di atas meja. Foto-foto candid William di berbagai acara, lobi hotel, restoran, dan pintu keluar kantor.
"Sejak Tuan Muda William sukses besar dengan akuisisi Tech-SG, dia menjadi 'trofi' paling diburu di Jakarta. Setiap hari, ada puluhan wanita yang mencoba mendekatinya."
Darma menunjuk satu foto. Seorang model terkenal yang mencoba memeluk William di sebuah pesta peluncuran produk.
Lalu foto lain. Seorang aktris sinetron yang sengaja menumpahkan minuman ke jas William di sebuah kafe.
Lalu foto lain lagi. Putri seorang pejabat yang mengirimkan bunga dan hadiah ke kantor William setiap pagi.
"Ada sekitar lima puluh wanita yang terdeteksi berusaha masuk ke kehidupan Tuan William dalam sebulan terakhir," jelas Darma. "Model, artis, sosialita, bahkan sekretaris dari perusahaan mitra. Semuanya agresif. Semuanya berusaha merebut hati Tuan William."
Edward memijat pelipisnya yang berdenyut. "Dan William? Siapa yang dia respon?"
"Itulah yang aneh, Tuan. Dia tidak merespon siapa pun," lapor Darma. "Data kami menunjukkan Tuan William hidup seperti biksu. Dia pergi ke kantor jam 7 pagi, pulang jam 10 malam. Makan siang di meja kerja. Akhir pekan dia mengurung diri di penthouse-nya atau menyetir sendirian tanpa tujuan."
"Tidak mungkin," sela Sofia tidak percaya. "Laki-laki normal seusia dia pasti butuh teman tidur. Pasti ada satu yang dia sembunyikan. Cek daftar pegawainya! Sekretaris? Asisten?"
Darma membolak-balik halaman laporannya. "Sekretaris pribadinya sekarang laki-laki, Pak Rudi. Asisten lamanya..."
Jari Darma berhenti di sebuah nama.
Adinda Elizabeth.
Hati Edward dan Sofia tidak berdesir sedikitpun mendengar nama itu. Bagi mereka, nama itu tidak ada artinya.
"Mantan kepala keamanan," baca Darma sekilas. "Wanita. 23 tahun. Dipecat tiga bulan lalu dengan pesangon besar."
"Ah, si bodyguard itu," potong Edward meremehkan, teringat laporan sekilas dulu tentang William yang mempekerjakan wanita untuk keamanan. "Lewati saja. William tidak mungkin jatuh cinta pada pelayan atau penjaga pintu. Selera anakku tinggi. Dia butuh wanita yang bisa diajak bicara soal saham, bukan soal karate."
Ironi itu begitu kental di ruangan itu. Kesombongan dan classism (diskriminasi kelas) orang tua William justru menjadi pelindung terbaik bagi Adinda. Mereka tidak bisa membayangkan bahwa putra mahkota mereka bisa jatuh hati pada gadis jalanan. Mata mereka tertutup oleh standar mereka sendiri.
"Lalu siapa?" desak Sofia. "Siapa yang membuatnya berubah?"
"Hipotesis kami, Tuan dan Nyonya," kata Darma ragu-ragu, "mungkin Tuan William tidak menolak perjodohan karena ada wanita lain. Tapi karena dia... lelah dengan perhatian wanita-wanita ini. Lihat saja fotonya. Dia terlihat muak dikejar-kejar."
Edward mendengus kasar. Ia melempar foto-foto itu ke lantai. Wajah-wajah cantik para model dan sosialita itu berserakan di karpet mahal.
"Bodoh. Semua orang bodoh," gerutu Edward. "William itu keras kepala. Pasti ada seseorang. Seseorang yang dia lindungi dengan sangat rapi sampai-sampai anjing pelacakmu pun tidak bisa mengendusnya."
Edward berdiri, berjalan ke arah jendela, menatap halaman luas rumahnya yang kosong.
"Tarik semua pengawas," perintah Edward dingin. "Percuma mengawasi William sekarang. Dia sedang waspada tingkat tinggi."
"Lalu apa rencana kita, Tuan?"
Edward berbalik, matanya berkilat licik.
"Jika kita tidak bisa menemukan wanita itu lewat William... kita biarkan William yang membawanya pada kita. William menolak Celine karena dia merasa hebat bisa berdiri sendiri. Kita lihat seberapa hebat dia kalau Bagaskara Corp kita guncang sedikit."
Sofia tampak khawatir. "Kau mau menyakiti bisnis anakmu sendiri, Ed?"
"Hanya sedikit pelajaran, Sofie. Supaya dia sadar bahwa tanpa nama Bagaskara, dia tidak punya kekuatan untuk melindungi siapa pun—termasuk wanita misterius itu."
Edward kembali duduk, mengambil cerutu baru.
"Darma, kau boleh pergi. Tapi tetap pasang mata dan telinga. Begitu ada satu nama perempuan yang mencurigakan—siapa pun itu, mau tukang sapu sekalipun—bawa padaku. Aku akan hancurkan dia sebelum William sempat melamarnya."
"Siap, Tuan Besar."
Darma membungkuk hormat dan mundur keluar ruangan, meninggalkan pasangan suami istri itu dalam kemarahan yang tak terlampiaskan.
Di luar dugaan mereka, "kebisingan" yang diciptakan oleh para wanita pemburu harta yang mengejar William justru menjadi tameng sempurna. Adinda Elizabeth, yang kini sedang duduk melukis di apartemennya yang sunyi, aman bukan karena dia bersembunyi, tapi karena dunia orang tua William terlalu silau oleh kemewahan hingga tak bisa melihat ketulusan yang sederhana.
Malam itu, investigasi ditutup dengan hasil nihil. William menang satu babak lagi, meski ia sendiri tidak menyadarinya.
terimakasih