'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu lagi
Hari yang di tunggu telah tiba. Akhirnya Zahra bisa keluar rumah untuk menyerahkan lamaran kerjanya ke beberapa tempat. Dan ada juga yang sudah ia serahkan melalui online.
Untuk pekerjaan analisis keuangan di hotel tempat Zafirah bekerja rupanya sudah dimasuki orang lain. Karena memang mereka membutuhkan orang dengan cepat mengisi posisi tersebut.
Zahra mengendarai mobilnya yang lama. Mobil pemberian Aditya sebagai hari ulang tahunnya satu tahun yang lalu.
Ia mendapatkan harta gono-gini berupa mobil tersebut dan sejumlah uang. Tidak ada yang lain lagi sebab mereka tidak memiliki anak dan Zahra juga tidak menuntut apapun.
Tidak seperti Zafirah dulu yang menuntut banyak uang karena merasa dirugikan. Bahkan mertuanya dulu sempat berteriak mengatakan jika Zafirah benar-benar ingin merampok putranya saking banyaknya nominal yang diminta.
Zahra tidak memikirkan itu. Baginya ketenangan karena berpisah dengan Aditya adalah harga yang pantas. Ia tidak mau setiap harinya semakin terluka jika bertahan dalam rumah tangga yang berjumlah tiga orang.
Zahra menuju beberapa perusahaan yang sudah di targetkan nya. Disepanjang jalan bibirnya tidak berhenti berdoa. Dan besar harapannya untuk diterima.
Setelah selesai menyerahkan lamarannya, Zahra mampir sebentar ke sebuah kafe. Berniat membeli minuman dan istirahat. Tidak disangka disana ia bertemu dengan Aditya dan lagi-lagi Aditya mengatakan hal yang sama. Kenapa meminta bercerai darinya.
Belum juga Zahra menyentuh minumannya, Aditya menghampirinya dan pada akhirnya Zahra tidak mood untuk meminumnya.
"Sayang, kamu apa kabar ? apa kamu tidak rindu sama aku ? setiap hari aku memikirkan kamu. Kamu terlihat baik-baik saja, tidak seperti ku" kata Aditya memperhatikan wajah Zahra yang semakin cantik. Tubuhnya nya pun tidak kurus sedikitpun.
Padahal Aditya tau jika Zahra sedang sedih atau banyak pikiran, ia tidak mau makan apapun hingga membuat berat badannya turun dengan drastis. Itu selalu Zahra rasakan tiap kali ada yang bertanya kenapa belum juga hamil.
"Aku baik-baik saja. Tolong tinggalkan aku," kata Zahra tanpa mau menatap Aditya yang berdiri menjulang di depan mejanya.
Setelah mendengar penolakan Zahra bukannya pergi, Aditya malah mendudukkan dirinya di kursi depan Zahra dan berniat menyentuh tangan Zahra yang berada diatas meja.
"Jangan kurang ajar kamu, Mas. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lag," ujar Zahra dengan nada tidak suka.
Aditya tersenyum. Ia senang menggoda Zahra. Ia jadi teringat tiap kali Zahra merajuk, ia selalu bisa menenangkan nya dengan berbagi peluh diatas ranjang.
"Kamu kalau marah semakin cantik. Aku jadi teringat wajah sayu kamu kalau kamu berada dibawah ku," ucap Aditya berharap Zahra luluh dan menghilangkan wajah judesnya itu.
"Tolong jangan mengatakan sesuatu yang tidak-tidak. Kita adalah orang lain, jangan membuatku malu dengan mendengarkan kata-kata kamu yang menjijikkan itu," sentak Zahra marah. Ia mengambil uang kertas berwarna biru di dalam tas nya kemudian meletakkannya dibawah gelas minuman yang bahkan belum ia minum sedikitpun.
Ia ingin cepat-cepat pergi dari hadapan Aditya. Muak sekali rasanya mendengar Aditya membicarakan hal yang tidak penting. Zahra pikir setelah hari di depan pengadilan waktu itu, Aditya akan menjaga sikapnya jika bertemu. Tapi nyatanya tidak. Malah lebih parah.
Zahra berlari kecil meninggalkan Aditya yang masih duduk di kursinya. Ia tidak mau menoleh lagi meskipun masih mendengar suara Aditya memanggil nya.
"Sudah tidak waras orang itu," kata Zahra mengingat ucapan Aditya.
Zahra memegang dadanya, mencari sisa-sisa cinta untuk Aditya. Tapi kenapa rasanya tidak ada. Yang masih membekas hanyalah luka yang ditinggalkannya. Dan itu belum mengering.
Zahra bersyukur Aditya tidak mengejar nya sampai ke parkiran. Mungkin pria itu sedang ada janji dengan orang. Pikir Zahra.
Lalu dari arah samping tiba-tiba ada yang menabrak tubuhnya dengan keras hingga ia terhuyung namun tidak sampai terjatuh. Malah anak kecil yang menabraknya yang terjatuh.
"Ya ampun, kamu tidak apa-apa sayang ?" tanya Zahra sembari membantu anak laki-laki itu untuk berdiri.
"Iya Tante, aku tidak apa-apa," jawabnya setelah berdiri.
Zahra membersihkan pakaian belakang anak tersebut yang terkena debu.
"Kamu kok lari-larian di parkiran sih. Nanti kalau ada mobil bahaya. Kamu kesini sama siapa ?" tanya Zahra dengan sedikit membungkukkan tubuhnya agar bisa menatap wajah anak tersebut.
"Aku sama..."
"Hei itu dia. Itu Elio yang tidak punya Mama ada disana," kata seorang anak laki-laki menunjuk kearah Zahra dan anak itu.
Zahra menoleh, melihat tiga anak laki-laki lainnya yang seusia dengan anak yang di depannya tersebut. Hanya dengan melihatnya saja ia sudah bisa membaca situasi. Rupanya anak yang sedang bersamanya sedang dirundung oleh teman-temannya.
"Elio tidak punya Mama.. Elio tidak punya Mama... hahaha .." ejek ketiga anak yang baru datang.
"Elio punya Mama. Kalian tidak tau," jawab anak yang bersama Zahra. Ia mencoba menjawab meskipun kesedihan jelas terpancar dari matanya.
"Kamu tidak punya Mama. Kamu itu bohong, Elio. Buktinya kamu tidak pernah diantar atau dijemput sama mama kamu. Hahahah..."
"Iya kalau kamu punya Mama seharusnya bisa datang di acara sekolah. Tapi yang datang hanya Papa kami. Kamu bohong ya.. ?"
"Elio pembohong.. Elio pembohong.. " ketiga anak laki-laki itu mengejek Elio bergantian.
Zahra yang melihat wajah Elio sudah hampir menangis menjadi tidak tega. Jadi ia arahkan Elio ke depannya lalu merangkul nya dari belakang. Kedua tangan Zahra berada di dada Elio. Kemudian berhadapan dengan ketiga anak lainnya.
"Kalian teman-teman Elio ya. Tidak boleh ya mengejek seperti itu. Itu tidak baik. Sesama teman harus saling rukun dan menyayangi," kata Zahra.
"Tante siapa ?" tanya salah satu dari anak itu.
"Apa Tante mamanya Elio ?"
"Apa benar ?"
"Jadi Elio punya Mama ?"
"Ku pikir Elio hanya punya papa,"
"Apa benar Tante Mamanya Elio ?"
Zahra hanya tersenyum manis. Ia tidak mau berbohong. Biarlah anak-anak itu menganggap jika ia adalah Mama dari bocah bernama Elio ini. Dengan begitu mereka tau jika Elio punya Mama dan tidak akan mengejek Elio lagi di lain hari.
"Wah mama kamu cantik, Elio" puji mereka.
"Maaf ya, aku pikir kamu tidak punya Mama" mereka akhirnya saling berjabat tangan dengan Elio dan Elio tersenyum kecil.
Setelah meminta maaf, ketiga anak itu membalikkan badan dan bersiap untuk pergi. Namun panggilan dari Zahra menghentikan semuanya.
"Ada apa Tante ? apa Tante mau memarahi kami ?" tanya salah satu anak tersebut dengan takut.
"Ah tidak, Tante hanya berpesan. Lain kali tidak boleh mengejek lagi ya. Ini Tante ada hadiah untuk kalian" kata Zahra menyerahkan tiga buah lolipop kecil pada mereka.
"Wah terima kasih," kata mereka berteriak senang kemudian pergi.
"Ini untuk Elio," Zahra memberikan sebuah lolipop pada Elio.
"Terima kasih, Tante. Terima kasih juga karena sudah membantuku," kata Elio tersenyum sembari membuka bungkus lolipop nya.
"Iya. Sama-sama,"
Tanpa disadari, apa yang Zahra lakukan sejak tadi menarik perhatian pria tampan nan gagah yang berdiri di sebelah mobil mahal di belakang Zahra. Ia memandang Zahra dan Elio dengan sedikit senyuman.
..
Wah siapa tuh ..??
Komennya mana ini ?
penasaran siapa itu.. smngt up ny Thor
sempet kirain genre BL novelnya gegara cover ternyata bukan hehehe
Semangat thor 💪