NovelToon NovelToon
Istri Pilihan CEO

Istri Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Icha mawik

Jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat Shakala Fathan Elgio Genova, berusaha untuk memperjuangkan cintanya pada Zakira. Gadis manis yang ia temui tanpa sengaja di perusahaannya. Zakira adalah salah satu karyawan di perusahaannya.
Namun, sayangnya saat ia mengutarakan niatnya untuknya melamar gadis itu. Terjadi kesalahpahaman, antara Fathan dan Mamanya. Nyonya Yulia, yang adalah Mamanya Fathan. Malah melamar Nabila, yang tidak lain sepupu dari Zakira. Nyonya Yulia, memang hanya mengenal sosok Nabila, putri Kanayah dan Jhonatan. Mereka adalah rekan bisnis dan keluarga mereka memang sangat dekat.
Nyonya Yulia juga mengenal dengan baik keluarga bakal calon besannya. Akan tetapi, ia tidak pernah tahu, kalau keluarga itu memiliki dua orang anak perempuan. Terjadi perdebatan sengit, antara Fathan dan sang Mama yang telah melakukan kesalahan.
Nabila yang sudah lama menyukai Fathan, menyambut dengan gembira. Sedangkan Zakira, hanya bisa merelakan semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha mawik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30.

Fathan memijit pelipisnya, menahan kesal. Hampir satu Minggu, ia meninggalkan perusahaan. Saat ia kembali, ternyata banyak mendapat kejutan. Salah satu kejutannya, Fathan menemukan surat pengunduran diri dari Zakira.

Saat ia menanyakan penyebab, gadis pujaan sekaligus sekretarisnya itu mengundurkan diri. Namun, tidak ada satupun yang tahu penyebabnya. Fathan hampir murka, akan tetapi ia masih berusaha untuk menahan amarahnya.

"Dari sekian banyak orang yang aku percaya di sini? Tidak ada satupun, yang bisa menjawab pertanyaanku?" ucap Fathan dengan nada penuh amarah.

Beberapa staf itu saling melemparkan pandangan, satu sama lain. Fathan yakin, ada sesuatu yang terjadi selama kepergiannya.

"Maaf, Pak! Sejujurnya, kami juga bingung, dengan keputusan Zakira," sela salah satu staf kepercayaan Fathan.

Fathan mengangguk pelan. Ia bangkit dari kursi kebesarannya, kemudian meraih jasnya.

"Tetap cari tau, apa saja yang terjadi selama aku pergi," kata Fathan pada asistennya.

"Baik, Pak!" sahut Soni.

Fathan melangkah meninggalkan ruangannya.

"Anda mau ke mana?" tanya Soni.

"Saya ada urusan, yang harus segera saya selesaikan." Fathan melangkah meninggalkan ruangannya.

Fathan melajukan kendaraannya menuju kediaman keluarga Zakira. Ia ingin mencari tahu, penyebab gadis itu, mengundurkan diri dari perusahaan.

"Maaf Nyonya, ada tamu," ucap Sari, salah satu pelayan rumah.

"Siapa, Sar?" tanya Zavira.

"Den, Fathan Nyonya," jawab Sari.

Zavira mengernyitkan keningnya heran. Akan tetapi, wanita keturunan Arab itu tetap beranjak dari duduknya.

"Fathan!" ucap Zavira.

"Ummi." Fathan bangkit dari duduknya.

Zavira mendekat dan duduk di sofa yang bersebrangan dengan pemuda itu.

"Saya ke sini, mau ketemu...."

"Assalamualaikum."

Pandangan Zavira dan Fathan terarah ke sumber suara.

"Waalaikumsalam," sahut Zavira. "Mas, udah pulang?"

Ia segera menghampiri sang suami yang saat itu pulang bersama kedua anaknya Zaki dan Zakira. Zavira meraih tas kerja Kiano dan mencium tangan sang suami. Fathan menatap pemandangan sejuk yang ada di depan matanya. Pemandangan yang tidak pernah ia lihat dan dapatkan dari kedua orangtuanya.

Terlebih, kemudian matanya tanpa sengaja bertabrakan dengan Zakira. Gadis itu tampak menunduk dan mengalihkan pandangannya.

"Fathan, kamu di sini?" tanya Kiano yang menghampiri bakal menantu dari adiknya itu.

Fathan hanya mengangguk pelan, sementara matanya tetap lurus kedepan, mengarah pada sosok yang masih berdiri di belakang. Kiano melirik ke arah, dimana tatapan pemuda tiga puluh dua tahun yang ada di depannya.

Melihat kedatangan mantan bos-nya, Zakira telah lebih dulu pergi untuk menghindar.

"Saya ke sini, ingin bicara dengan Zakira," ucap Fathan.

"Zakira?" kata Kiano, mengulang ucapan Fathan.

Pemuda itu mengangguk cepat.

"Ayo, kita duduk!" ajak Kiano.

Fathan mengangguk setuju.

"Ada apa, apa ada masalah serius?" tanya Kiano.

"Apa, Om tau, kalau Zakira telah mengundurkan diri dari kantor saya?" cetus Fathan.

Kiano mengalihkan pandangannya ke arah sang istri, kemudian ke arah Zaki. Keduanya serentak menggeleng cepat.

"Zakira mengundurkan diri? Kapan?" sela Zaki.

"Beberapa hari sebelum saya kembali dari perjalanan bisnis kemarin," sahut Fathan.

"Zakira tidak cerita apapun, perihal pengunduran dirinya, Nak Fathan," kata Zavira.

"Jadi, beberapa hari ini, dia kemana?" sambung Zaki lagi.

Pasalnya, setiap pagi Zakira selalu pamit dan pulang pada sore hari.

"Sebelumnya, Zakira telah menandatangani kontrak. Jika, dalam waktu yang telah disepakati Zakira mengundurkan diri. Maka, ia harus membayar ganti rugi," jelas Fathan.

"Jadi, Zakira belum membayar uang ganti ruginya?" tanya Zaki.

"Sudah!" jawab Fathan.

"Lalu, apa masalahnya?" lanjut Zaki lagi.

Fathan terdiam. Benar apa yang Zaki katakan. Jika, Zakira telah membayar yang ganti rugi. Itu artinya, sudah tidak ada masalah lagi. Lagi pula, kalau pun seandainya Zakira belum membayarnya. Sebenarnya, Fathan tidak perlu repot-repot datang ke kediaman dan menemui keluarganya. Ia bisa saja meminta salah satu staf kantor, yang memang menangani masalah itu.

Merasa ada yang janggal, maka Kiano pun memutuskan untuk memanggil Zakira. Gadis itu, telah lenyap, saat tiba di rumah.

"Ki, panggil adek kamu ke sini," pinta Kiano.

Zaki beranjak dan segera memanggil adiknya. Zakira langsung melarikan diri, ia tahu akan ada pembicaraan panjang yang akan di bahas. Ia juga bisa menebak, apa yang akan dibahas? Zaki mengetuk pintu. Merasa tidak ada jawaban, ia pun memutuskan untuk masuk. Benar saja, ternyata gadis bermata teduh itu baru saja selesai menjalankan kewajibannya.

"Za, lu di panggil Daddy," ucap Zaki.

"Gue capek." Sahut Zakira sembari melipat mukenah nya dan menyimpan kembali ke tempatnya.

"Bentaran doang," bujuk Zaki.

"Gue capek banget, Kak!" keluh Zakira.

Zaki menarik napas dalam.

"Fathan nungguin, lu di bawah," ucap Zaki.

"Apa? Mau apa dia?" tanya Zakira panik.

Pasalnya, sampai saat ini, ia belum bercerita perihal pengunduran dirinya.

"Mana gue tau? Yang jelas, dia pengen ketemu sama lu, untuk ngomong sesuatu," sahut zaki.

"Gue udah gak punya urusan sama dia lagi," lanjut Zakira.

"Iya, gue tau. Tapi, ada baiknya, lu temuin dia," bujuk Zaki lagi.

"Ngapain lagi, sih? Kan, gue udah ngikutin prosedur kerja?" protes Zakira. Ia merasa, sudah tidak ada urusan lagi antara dirinya dan pemilik perusahaan itu.

"Gue gak tau maksud si Fathan apa? Yang jelas, sekarang lu turun dan temui dia. Ada Daddy sama Ummi juga. Satu hal lagi... lu, hutang penjelasan sama gue," semprot Zaki.

Pemuda itu pun keluar dari kamar adiknya. Zakira mengembus napas kasar, dengan langkah gontai, ia meninggalkan kamarnya.

Di bawah, mata Fathan menatap sayu ke arah seseorang yang sedang berjalan menuruni tangga. Tampak, Zakira menghindari tatapan mata pemuda itu.

"Daddy, manggil Kira?" tanya Zakira.

"Duduk," titah Kiano.

Menghela napas dalam, Zakira mengikuti perintah.

"Daddy pengen nanya sama kamu. Benar, kamu udah mengundurkan diri dari perusahaan milik Fathan?" tanya Kiano lembut.

Zakira mengangguk sebagai jawaban.

"Kapan?" tanya Kiano lagi.

"Beberapa hari yang lalu," jawab Zakira singkat.

"Di sini, Fathan menjelaskan, kalau kamu...." ucapan Kiano terpotong, saat Zakira kembali angkat bicara.

"Membatalkan kontrak? Kan, Kira udah bayar dendanya, Dad!" seru Zakira.

"Tapi, kamu dapat uang dari mana? Uang segitu gak sedikit, Sayang," tutur Kiano lembut. Ia memang tidak bisa bersikap kasar pada putri kesayangannya ini.

"Di kirimin sama, Oma Medinah," sahut Zakira santai.

"Apa?" ucap Meraka yang ada di ruangan itu, serentak.

Suasana hening sejenak, saling melemparkan pandangan. Baik Kiano maupun sang istri Zavira, menghela napas dalam. Semua orang tahu, kalau saudara dari Daddy mereka itu, memang sangat menyayangi putri mereka Zakira. Bahkan, baik Medina maupun Ilham suaminya, sering memberikan uang saku tambahan untuku kedua cucu keponakannya itu.

"Oma, Medina ngirimin, lu duit?" sela Zaki.

"Iya, lu juga ada, pasti," sahut Zakira.

Secepat kilat, Zaki meraih ponselnya dan memeriksa m-banking nya. Matanya berbinar, saat melihat saldo rekening bank nya. Tidak lupa, Zaki juga melirik ke arah kedua orangtuanya sembari mengangguk membenarkan, apa yang dikatakan adiknya.

Kiano kembali menarik napas. Ia tidak tahu lagi, harus mengatakan apa?

"Sayang... Fathan ke sini, pengen tau alasan kamu berhenti kerja," ungkap Kiano.

"Kira, capek, Dad!" Sahut Zakira.

"Kamu bisa istirahat dan minta izin, kan? Tidak mesti, kamu mundur," sela Fathan.

"Aku gak enak, sama yang lain. Aku udah sering minta izin. Izin terapi, izin ini itu," sahut Zakira.

Terjadi perdebatan antara Zakira dan Fathan. Kiano, Zavira, serta Zaki diam dan terheran-heran. Zakira yang sebelumnya, tidak akan banyak bicara di depan seseorang yang bukan keluarganya. Kini, tampak lancar menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Fathan.

Sebaliknya, Fathan yang terkenal tegas, arogan dan temperamental. Terlihat, lemah di hadapan Zakira. Dengan sabar, ia berusaha untuk membujuk Zakira, agar mau kembali bekerja.

"Udah, ya! Keputusan aku udah bulat, aku gak akan kembali kerja. Please, jangan memaksakan diri, aku capek!" Meletakkan tangannya di dada,, Zakira beranjak meninggalkan Fathan yang hanya bisa menatap kepergiannya.

Kiano dan Zavira saling melemparkan pandangan iba pada Fathan.

"Nak, Fathan. Mungkin, saat ini Zakira nya lagi capek. Nanti, Ummi akan coba bicara lagi sama dia," bujuk Zavira.

Fathan mengangguk samar.

"Ummi benar, nanti gue juga bakal bantu bicara sama dia," sela Zaki.

"Terimakasih," ucap Fathan pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!