NovelToon NovelToon
Gadis Desa Vs Pewaris Sultan

Gadis Desa Vs Pewaris Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Anak Yatim Piatu / Cinta Murni / Romansa
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: I Wayan Adi Sudiatmika

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan, hiduplah Kirana, gadis cantik, cerdas, dan mahir bela diri. Suatu hari, ia menemukan seorang pemuda terluka di tepi sungai dan membawanya ke rumah Kakek Sapto, sang guru silat.


Pemuda itu adalah Satria Nugroho, pewaris keluarga pengusaha ternama di Jakarta yang menjadi target kejahatan. Dalam perawatan Kirana, benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun, setelah sembuh, Satria kembali ke Jakarta, meninggalkan kenangan di hati Kirana.


Bertahun-tahun kemudian, Kirana merantau ke Jakarta dan tak disangka bertemu kembali dengan Satria yang kini sudah dijodohkan demi bisnis keluarganya. Akankah mereka bisa memperjuangkan cinta mereka, atau justru takdir berkata lain?


Sebuah kisah takdir, perjuangan, dan cinta yang diuji oleh waktu, hadir dalam novel ini! ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Wayan Adi Sudiatmika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Flashback

Flashback: 

Malam itu langit Jakarta dipenuhi gemerlap lampu kota. Satria Nugroho berdiri di depan cermin kamarnya sambil merapikan kemeja casual yang dia kenakan. Wajahnya yang tampan terlihat lebih menonjol dengan gaya rambutnya yang rapi. Dia baru saja menyelesaikan kuliah S1-nya di Amerika dan baru kembali ke tanah air seminggu yang lalu. Malam ini dia bersiap untuk menghadiri acara kecil di restoran milik temannya. Meski berasal dari keluarga kaya raya Satria selalu tampil sederhana. Dia tidak pernah merasa perlu memamerkan kekayaan keluarganya yang bisa dibilang tidak habis tujuh turunan.

Orang tua Satria yang bernama Dewanto Nugroho dan Nurmala Nugroho merupakan salah satu orang terkaya di Jakarta yang memiliki berbagai usaha mulai dari properti, kuliner, pertambangan hingga mal di beberapa daerah. Mereka berharap besar agar Satria bisa meneruskan bisnis keluarga. Tapi Satria punya caranya sendiri. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa memimpin dengan cara yang berbeda. Tidak hanya sekadar meneruskan tapi juga membawa perubahan.

Sebelum pergi Satria mengecek ponselnya. Ada pesan dari adiknya Devinta Nugroho yang sedang duduk di kelas 3 SMA. “Kak… jangan lupa belikan aku es krim kalau pulang nanti ya!” tulis Devinta disertai emoticon tertawa. Satria tersenyum membaca pesan itu. Devinta memang adik yang manja tapi dia juga sangat sayang pada kakaknya. Meski memiliki sifat yang hampir mirip namun Devinta lebih terbuka dalam “memanfaatkan” kekayaan orang tuanya. Dia tidak pelit terutama pada teman-temannya. Tapi dia juga tidak pernah menghambur-hamburkan uang. Satria selalu bangga pada adiknya meski kadang dia merasa perlu mengingatkan Devinta untuk lebih bijak.

Malam itu langit Jakarta mulai gelap namun jalanan masih ramai oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Satria duduk di balik kemudi mobil merah kesukaannya. Mobil itu cukup mewah tapi tidak terlalu mencolok sesuai dengan kepribadiannya yang sederhana. Dia melaju dengan santai sambil bernyanyi kecil mengikuti irama lagu yang diputar dari radio mobil. Suaranya yang merdu mengisi ruangan kecil itu seolah menjadi teman setia dalam perjalanannya.

Tiba-tiba teleponnya berdering. Satria melihat layar ponselnya dan tersenyum. Itu adalah Rudi teman lamanya yang juga pemilik restoran tempat dia akan bertemu malam ini. “Satria kamu di mana? Teman-teman sudah pada datang nih!” suara Rudi terdengar bersemangat di ujung telepon.

“Tenang Rud… aku sudah di jalan kok. Sebentar lagi sampai,” jawab Satria sambil tersenyum. Restoran Rudi memang terletak agak di luar kota tepatnya di jalur menuju Puncak. Tempat itu menjadi favorit bagi para wisatawan yang ingin menikmati suasana sejuk dan makanan lezat. Meski lokasinya agak jauh tapi restoran itu selalu ramai dikunjungi.

Setelah menutup telepon lalu Satria kembali fokus pada jalan. Dia melaju dengan hati-hati meski hatinya sudah tidak sabar untuk bertemu teman-temannya. Tapi entah mengapa di tengah perjalanan dia merasa ada yang aneh. Jalanan yang seharusnya ramai tiba-tiba sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang terlihat.

Tiba-tiba dari arah belakang sebuah truk besar muncul dengan kecepatan tinggi. Satria mencoba menjaga jarak tapi truk itu tiba-tiba menyerempet mobilnya. Mobil merah itu terdorong ke pinggir jalan. Satria berusaha mengendalikan kemudi tapi rasa terkejutnya membuat tangannya gemetar.

Sebelum dia sempat bereaksi truk itu tiba-tiba berhenti tepat di depan mobilnya. Satria mencoba mengerem dengan keras tapi jarak yang terlalu dekat membuat mobilnya tidak bisa berhenti tepat waktu.

Braaaak!

Suara benturan keras mengguncang jalanan yang sepi. Mobil merah itu menabrak truk dengan keras. Bagian depan mobil hancur dan asap mulai mengepul dari mesin yang rusak. Satria terlempar ke depan dan kepalanya terbentur setir dengan keras. Darah mulai mengalir dari pelipisnya.

Dunia di sekelilingnya berputar. Suara-suara mulai menjauh seolah dia tenggelam dalam keheningan. Matanya yang kabur mencoba melihat sekeliling tapi yang dia lihat hanyalah kegelapan yang semakin mendekat.

Sebelum kehilangan kesadaran Satria sempat mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Tapi dia tidak bisa melihat siapa itu. Tubuhnya terasa sangat lemah dan napasnya mulai berat.

“Tolong…” bisiknya lemah sebelum akhirnya pingsan.

---

Tidak jelas bagaimana Satria sampai berada di dalam gudang itu. Ingatannya samar seperti kabut tebal yang menyelimuti pikirannya. Ketika kesadarannya perlahan pulih dia merasakan dingin lantai beton menembus kulitnya. Kepalanya berat dan tubuhnya terasa seperti ditindih beban yang tak terlihat. Dia mencoba membuka matanya tapi cahaya redup dari lampu gudang yang berkedip-kedip membuatnya silau. 

Empat sosok bayangan muncul di hadapannya. Mereka berdiri membentuk lingkaran seolah-olah sedang menunggu sesuatu. Satria mencoba menggerakkan tubuhnya tapi tangannya terikat erat di belakang punggung. Dia menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri sambil bertanya dengan suara serak. "Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dariku?"

Tidak ada jawaban. Hanya tawa dingin yang menggema di ruangan kosong itu. Salah satu dari mereka melangkah mendekat dan Satria bisa melihat senyum sinis di wajahnya. Sebelum dia sempat bertanya lagi sebuah pukulan keras menghantam kepalanya. Rasa sakit yang tajam menyebar seperti petir yang menyambar. Satria mengerang kesakitan tapi tawa mereka semakin keras terdengar.

"Kenapa... kenapa kalian melakukan ini?" Satria berusaha bertanya lagi meski suaranya gemetar. 

Salah satu dari mereka membungkuk mendekati wajahnya. "Kau terlalu banyak bertanya…," ujarnya sambil menyalakan rokok. Asapnya mengepul di udara sebelum ujung rokok itu ditekan ke lengan Satria. Rasa panas yang membakar membuatnya menjerit tapi mereka hanya tertawa lebih keras. Tendangan dan pukulan bertubi-tubi menghujani tubuhnya. Setiap kali dia mencoba melawan rasa sakitnya semakin menjadi-jadi.

"Tolong... tolong hentikan...," Satria merintih tapi mereka tidak berhenti. 

Salah satu dari mereka akhirnya berbicara dengan suara datar, "Kami hanya menjalankan perintah. Ada yang ingin kau mati…!!"

Satria mencoba memahami kata-kata itu tapi pikirannya terlalu kacau. Sebelum dia bisa merespons tendangan keras menghantam perutnya dan dunianya kembali gelap.

---

Ketika kesadarannya kembali Satria merasakan dinginnya udara malam. Dia seperti berada di dalam sebuah mobil. Perlahan dia membuka matanya dan hanya melihat kegelapan di sekitarnya. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya tapi rasa sakit yang luar biasa membuatnya terengah-engah. Bau bensin menyengat memenuhi udara dan dia bisa mencium bau asap. Api mulai muncul dari bawah kap mesin dan dengan cepat menjalar ke seluruh badan mobil.

"Tidak... tidak...!!" Satria mencoba merangkak menjauh tapi tubuhnya tidak mau menuruti. Dia merasakan kepanikan mulai menyergapnya. Api itu semakin mendekat dan panasnya mulai terasa di kulitnya.

Tiba-tiba dia merasakan tangan yang kuat menarik lengannya. "Ayo cepat!!" suara itu tegas tapi terdengar khawatir. Satria tidak bisa melihat wajah orang itu tapi dia merasakan kekuatan yang mendorongnya untuk bangkit. Dengan susah payah dia dibantu berdiri dan diseret menjauh dari mobil yang semakin terbakar.

"Tahan ya... kita harus menjauh" suara itu terdengar lagi kali ini lebih lembut. Satria mencoba mengikuti langkahnya meski setiap gerakan terasa seperti siksaan. Mereka berjalan beberapa meter sebelum akhirnya Satria terjatuh ke tanah lagi. Dia melihat ke arah mobil yang sekarang sudah menjadi bola api dan….

Bummmmmmm….

Mobil itu meledak tak jauh dari mereka. 

"Siapa... siapa kamu?" Satria bertanya dengan suara parau sambil berusaha menatap wajah orang yang menyelamatkannya setelah keadaan sedikit tenang. 

Orang itu terdiam sejenak sebelum menjawab "Nanti saja... Sekarang kita harus pergi dari sini…."

Satria mengangguk lemah sambil merasakan tubuhnya semakin lemas. Dia tidak tahu apa yang terjadi tapi satu hal yang dia yakin adalah hidupnya baru saja diselamatkan oleh orang asing ini. 

---

1
Abu Abdullah
hahahaha kenapa di episode ini endingnya konyol.
bukankah SDH ajarkan beladiri bertahun2 kenapa kok Thor abaikan tentang kecerdasan si cewek.
Abu Abdullah
aku baca serius banget
cuma kok pingsannya sampai 3 hari ?
gimana pelajaran beladiri yg bertahun tahun apa guna
Atik R@hma
Alhamdulillah, semangat Kirana 💪🤣
Sitidesydesy Desy
lakutaannya kpn ini ka
Adi Sudiatmika: Sabar Kak... sedang proses...
total 1 replies
Atik R@hma
semoga penghianatbya bkn alex🤔🤔
Farldetenc: Ada karya menarik nih, IT’S MY DEVIAN, sudah End 😵 by farldetenc
Izin ya
total 1 replies
Atik R@hma
pertemuan pertama, 😚😚
Atik R@hma
ok ka,,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!