(Khusus Dewasa 21+)
Antonio seorang pria dingin dan kejam yang berprofesi sebagai seorang pembunuh bayaran yang akan selalu menghabisi lawannya dengan kejam.
Kecintaannya kepada senjata dan pekerjaannya membuat Antonio tidak pernah mengenal cinta.
Suatu hari dia bertemu dengan Wanita yang mampu menggetarkan hatinya, hati seorang pria tampan yang terkenal berdarah dingin.
Tapi dia tidak tahu harus memilih yang mana.
Apakah dia harus memilih wanita itu dan meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya?
Atau dia akan melupakan wanita yang telah mencuri hatinya demi pekerjaannya?
Atau ada kemungkinan lain yang terjadi?
Kategori: Dewasa (21+)
Genre: Action, Romance, Petualangan, Fantasi
Setting: Indonesia
Alur: Maju-Mundur
Status: On-going
Ilustrasi Tokoh: Berdasarkan pendalaman karakter
Cover by Dva Official
copyright2020, Pengembara Elite
#mafia #action #romance
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengembara Elite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Robertino
Pedro masih memperhatikan sosok seorang pria berwajah Asia yang terpampang di layar besarnya.
"Setahuku dia adalah seorang anggota Yakuza dari Jepang," Dong Shu menyahut menjawab pertanyaan Pedro.
"Yakuza?" Pedro tersentak kaget.
"Sejak kapan Pablo bekerjasama dengan Yakuza? Atau jangan-jangan...," pikirannya tiba-tiba menerawang kembali ke masa lalu.
Flashback On
"Pedro, tolong selamatkan Antonio! Bawa dia ke tempat yang aman!" Ucap Robertino seraya menyerahkan Antonio pada Pedro.
Antonio yang saat itu berusia 7 tahun tak tahu apa-apa, ia masih polos. Ia tak mengetahui jika ayahnya adalah seorang anggota asosiasi, yang ia ketahui hanyalah seorang ayah biasa yang menyayangi keluarga.
"Kau mau pergi kemana?" Tanya Pedro berusaha menahan Robertino untuk tidak pergi.
"Aku harus melindungi apa yang harus ku lindungi! Tidak akan aku biarkan si pengkhianat itu mendapatkan apa yang mereka inginkan!" Robertino berkata tegas.
"Robertino Fernando, tenangkanlah dirimu sejenak! Kita bisa menyusun strategi untuk mengalahkan si pengkhianat itu," Pedro mencoba membujuk.
"Tidak! Aku telah mengetahui jika dia telah bersekongkol dengan Kenjiro, maka dari itu aku akan menghabisinya sebelum terlambat," ucap Robertino bersikeras.
Hari itu Robertino tampak marah saat melihat seluruh isi rumahnya acak-acakan. Saat memeriksa isi rumah, ia menemukan Antonio sedang menangis di dalam lemari pakaian.
Jika saja Antonio yang saat itu tidak bersembunyi, sepertinya dia akan tewas menjadi sasaran Pablo dan Kenjiro. Tentu ia juga tidak akan bisa menceritakan semua kejadian itu pada ayahnya.
"Jaga dirimu baik-baik nak, kau harus menurut pada paman Pedro! Mengerti?" Robertino memberi petuah seraya mengelus rambut Antonio.
"Suatu saat kau akan mengetahui siapa aku sebenarnya, belajarlah dengan giat dan berlatih dengan sungguh-sungguh agar kelak menjadi orang yang hebat dan tak terkalahkan!" Robertino berkata lirih pada Antonio.
"Pedro! Setelah waktunya tiba, bawa Antonio ke akademi asosiasi! Ajari dia agar menjadi murid terbaik disana! Aku ingin dia melanjutkan apa yang sedang ku lakukan," ujarnya seraya menepuk bahu Pedro.
Pedro hanya menghela nafas tak berkata apapun melihat tingkah partner sekaligus sahabatnya itu.
"Tunggu sebentar!" Ucap Robertino seraya pergi meninggalkan Pedro yang sedang bersama Antonio.
Pedro menatap sekeliling isi rumah itu, rumah yang sering di jadikan tempat pertemuan asosiasi kini terlihat seperti kapal pecah. Saat seluruh anggota sedang menjalankan misi, rumah ini memang kosong dan akan ramai kembali setelah mereka pulang menyelesaikan misi.
Tak lama kemudian, terlihat Robertino berjalan tergesa-gesa ke arah Pedro sambil membawa sebuah map sebuah tas.
"Aku ingin kau menjaga berkas ini!" Ucap Robertino seraya menyerahkan sebuah map pada Pedro.
Pedro tersentak kaget saat menerima map itu. Ia sangat mengetahui jika apa yang ia genggam sekarang adalah apa yang sedang dicari oleh semua orang, bahkan oleh asosiasi itu sendiri.
"Apa kau yakin?" Pedro bertanya terheran.
"Iya, saat ini hanya kau yang aku percaya. Tidak ada lagi orang yang berhak menjaga sebuah rahasia selain orang yang benar-benar aku percaya, yaitu kau," jawab Robertino.
Pedro menghela nafas sejenak.
"Jangan ada siapapun yang tahu kecuali Antonio! Berjanjilah padaku! Bahwa jika saatnya tepat kau akan memberikannya," Robertino berkata dengan sedikit paksaan..
"Apa maksudmu?" Pedro kebingungan.
"Sudahlah! Berjanjilah jika kau akan membantuku!" Jawab Robertino.
Pedro lalu menarik nafas panjang, berusaha menenangkan pikirannya.
"Baiklah, aku berjanji akan memberikan berkas ini jika anakmu sudah siap menerimanya! Aku akan menjaga semua rahasia tentang apa yang ku ketahui, dan tidak akan mencari tahu apa yang tidak seharusnya aku ketahui," Pedro berkata dengan tegas.
Robertino merasa terharu mendengar ucapan Pedro, ia tidak menyangka jika seorang Pedro bersedia membantunya.
"Gracias, amigos! (Terimakasih, kawan!)" ujarnya perlahan.
Kemudian ia mengambil tas yang telah ia persiapkan sebelumnya.
"Kau akan pergi kemana?" Tanya Pedro yang terkejut.
"Aku tak terima jika si pengkhianat itu terus mencari informasi tentangku, bahkan sampai mengobrak-abrik rumahku," jawab Robertino.
"Aku akan memburu Pablo dan Kenjiro!" ucapnya kenuh ketegasan.
Pedro sangat memahami sifat Robertino yang terkesan keras kepala. Ia tak bisa berbuat apa-apa, bahkan mencegah pun tak mampu.
Terlalu beresiko jika harus menghalangi langkah seorang Robertino. Karena saat ada siapapun yang menghalangi, maka si penghalang itu akan menjadi buruan bagi Robertino.
Seperti saat ini, Pedro hanya pasrah dengan keputusan Robertino. Ia hanya akan merawat dan menjaga Antonio hingga berumur 10 tahun, lalu memasukkannya ke akademi asosiasi sesuai keinginan ayahnya.
Flashback Off
Pedro tersentak dari lamunan tentang masa lalunya saat mendengar Jian Chen memanggil namanya.
"Pedro! Kau baik-baik saja?" Chen bertanya sambil menepuk pundak Pedro.
"Oh, tidak. Aku baik-baik saja," jawab Pedro seraya mengusap wajah.
Jian Chen hanya mengangguk kemudian kembali ke tempat duduknya.
Pedro lalu melanjutkan pemutaran videonya, sekarang tampak seorang Pablo yang tengah menghitung uang dalam koper.
"Dia adalah orang yang saat ini kita cari," ujar Pedro seraya menunjuk ke layar dan menghentikan videonya.
Seluruh mata para anggota asosiasi tertuju padanya seolah mengiyakan apa yang tengah diucapkannya.
"Sekarang kita telah mengetahui tempat persembunyiannya, dan memastikan dia masih hidup," tambahnya.
"Aku berterima kasih kepada kalian bertiga," ujarnya sambil menatap tiga orang anggota cabang dari China.
"Karena jika tidak meminta bantuan anggota lain, sangat sulit untuk kita menyusup ke markas Pablo. Selain wajah kalian bertiga yang tampak asing, mereka juga sangat mudah terperdaya dengan uang," Pedro menjelaskan panjang lebar.
Semua anggota yang hadir hanya diam mendengar dan memperhatikan apa yang dikatakan Pedro. Tidak ada seorang pun yang berani bicara, karena semua yang disampaikan Pedro merupakan informasi penting.
***
Pablo berjalan ke arah Marcello dan Takagawa yang sedang berlatih pedang.
"Latihan yang bagus," ujarnya memuji.
"Bos!" Sapa Marcello seraya membungkukan badan memberi hormat.
"Mr. Pablo, aku terkejut dengan kedatangan ands yang tak terduga," ucap Takagawa diiringi senyum.
Pablo hanya diam, ia lalu meraih pedang yang sedang digenggam oleh anak buahnya.
"Pedang yang cukup bagus," ujarnya seraya memperhatikan bagian-bagian pedang yang kini berada dalam genggamannya.
"Bolehkah aku mencobanya?" Tanya Pablo dingin.
Sontak saja Takagawa dan Marcello menjadi terkejut dengan sikap pimpinan Black Shadow, mereka tak menyangka jika seorang Pablo akan berlatih bersama mereka berdua.
"Silahkan Mr. Pablo," jawab Takagawa sembari membungkukan badan.
"Perhatikan aku Marcello!" Pablo berkata tegas.
Kemudian ia berjalan mendekati bilahan bambu yang berjejer cukup banyak.
"Berapa banyak bambu ini?" Tanya Pablo pada Takagawa.
"Satu ikat ada sepuluh bambu, Mr. Pablo," jawab Takagawa.
Pablo perlahan menarik nafas, merasakan desiran udara disekitarnya. Perlahan ia genggaman tangannya.
"Hiyyaaaaaaat!!!"
Ia berteriak keras sambil mengayunkan bilah pedangnya menghantam Bambu di hadapannya. Berkali-kali ia menyabetkan pedangnya hingga kesepuluh bambu itu menjadi potongan-potongan kecil.
Takagawa tampak takjub dengan kemampuan Pablo, ia baru kali ini melihat Pablo memainkan senjata. Sungguh mengerikan, tak ayal jika mantan anggota asosiasi sangat mahir dalam menggunakan senjata apapun seperti ketuanya, Kenjiro.
Begitupun Marcello, ia tak kalah terkejut saat melihat bos besarnya memainkan senjata. Selama ini ia hanya mengetahui jika seorang Pablo hanya duduk dan memerintah, bukan memainkan senjata seperti sekarang.
Kedua orang itu perlahan merasakan kengerian dari tatapan Pablo yang penuh kekesalan dan terkesan mengintimidasi.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!
semoga ceritanya bikin betah so
dari awal dah menarik.
sepertinya novel ini menarik.. 😎
lanjut aah..
ya kaaan...? 😎
aku boleh mampir ya..