"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kandang Emas dan Jeruji Besi
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah tirai sutra tebal berwarna krem, menyapu wajah Adinda yang masih terlelap. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Adinda terbangun bukan karena suara teriakan tetangga yang bertengkar, bunyi klakson bajaj, atau tetesan air dari atap yang bocor.
Ia terbangun karena keheningan. Keheningan yang mewah.
Adinda mengerjap, matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan ornamen gipsum elegan. Ia meraba kasur tempatnya berbaring. Empuk, sepreinya terasa dingin dan lembut di kulit—kapas Mesir kualitas terbaik. Aroma ruangan ini pun berbeda; wangi lavender dan eucalyptus yang menenangkan, bukan bau apek dan lembap.
Seketika, memori tadi malam membanjiri benaknya. Hujan deras. Preman. William yang mendobrak pintu. Dan perjalanan dalam diam menuju tempat ini.
Adinda bangkit duduk, meringis pelan saat bahu kirinya terasa kaku, namun nyeri itu sudah jauh berkurang. Ia melihat sekeliling. Ini bukan kamar tamu di penthouse William, melainkan sebuah unit apartemen studio yang luas dan modern.
Di meja nakas, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas:
"Sarapan ada di meja makan. Kode pintu: 1010. Saya di unit sebelah jika kau butuh sesuatu. - W.B."
Adinda turun dari ranjang, kakinya menapak di lantai parket kayu yang hangat. Ia berjalan keluar kamar tidur menuju ruang tengah. Dinding kaca raksasa menyuguhkan pemandangan cakrawala Jakarta dari ketinggian lantai 30.
Di meja makan marmer, tersedia bubur ayam hangat lengkap dengan sate usus—menu kaki lima yang disajikan di atas piring porselen mahal—serta segelas jus jeruk segar dan obat penghilang rasa sakit.
Adinda baru saja hendak duduk ketika bel pintu berbunyi.
Ia menegang, insting waspadanya menyala. Ia menyambar pisau buah dari meja makan sebagai senjata. Perlahan, ia mengintip dari lubang kamera pintu.
Itu William. Dan Pak Harto.
Adinda membuka pintu. William berdiri di sana, sudah rapi dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung, terlihat santai namun tetap berwibawa.
"Selamat pagi," sapa William, matanya langsung tertuju pada pisau buah di tangan Adinda. Ia tersenyum geli. "Kau berencana membunuh tuan rumah di hari pertama?"
Adinda buru-buru meletakkan pisau itu, wajahnya sedikit merona. "Maaf, Pak. Kebiasaan. Saya kira..."
"Kau aman di sini, Adinda," potong William lembut. Ia masuk, diikuti Harto yang membawa sebuah koper dokumen. "Gedung ini milik Bagaskara Land. Akses lift menggunakan biometrik. Sekuriti di lobi adalah mantan marinir. Tidak ada preman atau pembunuh bayaran yang bisa masuk tanpa izin saya."
William duduk di sofa, mempersilakan Adinda makan. "Habiskan sarapanmu. Kita perlu bicara soal logistik."
Sambil Adinda makan dengan canggung, William memberi isyarat pada Harto.
"Mengenai insiden di Gang Kelinci semalam," Harto memulai pembicaraan, membuka tabletnya. "Bapak William menginstruksikan kami untuk melakukan... 'pembersihan lingkungan'."
Adinda berhenti mengunyah. "Bapak tidak membunuh mereka, kan?"
William tertawa kecil, menuang kopi untuk dirinya sendiri. "Saya pebisnis, Adinda, bukan gangster. Saya menghancurkan orang dengan hukum dan birokrasi, itu jauh lebih menyakitkan daripada peluru."
Harto menyambungkan tabletnya ke layar TV besar di ruang tengah. Sebuah rekaman video muncul. Itu adalah rekaman CCTV dari kantor polisi sektor Jakarta Pusat pagi ini.
Di layar, terlihat Jarwo dan dua temannya sedang duduk di ruang interogasi dengan wajah pucat pasi, mengenakan baju tahanan oranye.
"Jarwo alias Sujarwo," jelas Harto. "Ternyata dia punya daftar panjang kasus yang sempat 'hilang' karena kurang bukti. Pemerasan, penganiayaan berat tahun 2019, dan distribusi obat-obatan terlarang skala kecil. Tim pengacara Pak William pagi-pagi sekali sudah datang ke polsek, membawa bukti-bukti lama yang berhasil kami gali, plus rekaman ancaman mereka terhadap Anda semalam."
William menatap layar itu dengan dingin. "Saya memastikan kasus-kasus lama mereka dibuka kembali. Jaksa penuntut umum akan menuntut hukuman maksimal. Mereka akan membusuk di penjara minimal sepuluh tahun. Tanpa remisi."
Adinda ternganga. Ia tahu Jarwo jahat, tapi ia tidak menyangka William akan bergerak sejauh itu dan secepat itu.
"Dan satu lagi," tambah Harto, menggeser layar.
Muncul foto lain. Dedi, operator crane di pabrik Cikarang yang mencoba mencelakai William beberapa waktu yang lalu.
"Dedi tertangkap di pelabuhan Merak saat mencoba kabur ke Lampung subuh tadi," lapor Harto. "Dia sudah bernyanyi. Dia dibayar oleh kompetitor bisnis Bapak untuk menyabotase crane itu. Sekarang dia sedang dalam perjalanan ke sel isolasi khusus."
Adinda meletakkan sendoknya. Ia merasa mual, bukan karena makanan, tapi karena menyadari betapa besarnya kekuasaan pria yang duduk di depannya ini. William bisa menghancurkan hidup seseorang hanya dengan satu jentikan jari dan panggilan telepon.
"Kenapa?" tanya Adinda pelan.
William menoleh. "Kenapa apa?"
"Jarwo... dia cuma preman kampung. Bapak tidak perlu repot-repot menyewa pengacara mahal untuk mengurus sampah seperti dia."
William berdiri, berjalan mendekati meja makan. Ia menumpukan kedua tangannya di meja, menatap mata Adinda lekat-lekat.
"Karena dia menyentuhmu," jawab William. Suaranya rendah, namun getarannya terasa sampai ke tulang punggung Adinda. "Siapapun yang berani menyakiti orang-orang saya—terutama kamu—akan berhadapan dengan kekuatan penuh dari nama Bagaskara. Saya ingin mengirim pesan, Adinda. Bahwa kamu... tidak tersentuh."
Mata Adinda memanas. Seumur hidupnya, dia selalu dianggap tidak berharga. Dibuang di panti asuhan, diabaikan di jalanan. Kini, ada seseorang yang menganggapnya begitu berharga hingga rela berperang melawan preman dan hukum demi dirinya.
"Terima kasih, Pak," ucap Adinda lirih, menunduk untuk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
"Jangan berterima kasih dulu," William menegakkan tubuh, kembali ke mode bisnis. Ia mengambil sebuah kartu akses berwarna hitam dari saku celananya dan meletakkannya di meja.
"Unit apartemen ini adalah fasilitas barumu. Ini ada di lantai 30. Penthouse saya ada di lantai 40. Dekat, tapi tetap memberikanmu privasi."
Adinda menatap kartu itu. "Pak, sewa di sini pasti mahal. Gaji saya..."
"Gratis," potong William cepat. "Sudah saya bilang semalam, ini rumah dinas. Listrik, air, maintenance, internet, semuanya ditanggung kantor. Di lemari pakaian sudah tersedia baju-baju kerja baru yang lebih layak dan baju santai. Kulkas akan diisi penuh setiap minggu oleh staf rumah tangga."
"Ini terlalu berlebihan, Pak. Saya hanya asisten," tolak Adinda. Ia tidak biasa menerima kebaikan sebesar ini. Rasanya seperti utang budi yang tak terbayar.
"Kau bukan hanya asisten. Kau perisai saya," William berkata tegas. "Saya tidak bisa tidur nyenyak kalau tahu perisai saya kedinginan dan kelaparan. Anggap saja ini investasi. Saya merawat aset saya agar bisa bekerja optimal."
William menggunakan kata "aset" dan "investasi", tapi nada suaranya menyiratkan kepedulian yang jauh lebih personal.
"Dan satu lagi," William menunjuk ke sudut ruangan. Di sana, terdapat sebuah treadmill dan samsak tinju baru yang tergantung kokoh. "Dokter Johan bilang kau perlu fisioterapi ringan setelah jahitanmu kering. Kau bisa latihan di sini tanpa harus pergi ke gym umum yang tidak aman."
Adinda menatap samsak itu, lalu menatap William. Pria ini memikirkan segalanya. Sampai ke detail terkecil.
"Apakah ada yang ingin kau tanyakan?" tanya William.
Adinda menarik napas panjang, lalu mengambil kartu akses hitam itu. Terasa dingin dan berat di tangannya. Ini adalah kunci menuju kehidupan barunya. Kehidupan di mana dia tidak perlu tidur dengan pisau di bawah bantal.
"Hanya satu, Pak," kata Adinda, mengangkat wajahnya, menatap William dengan sorot mata yang kembali tajam dan bertekad. "Kapan saya bisa mulai bekerja lagi?"
William tersenyum lebar. Senyum yang jarang ia perlihatkan pada dunia, senyum yang tulus dan penuh kebanggaan. Ia tahu ia tidak salah memilih. Di balik kemewahan yang ia tawarkan, jiwa petarung Adinda tidak luntur sedikitpun.
"Dua hari lagi. Istirahatlah sampai dokter bilang jahitanmu aman," jawab William. "Hari ini, tugasmu hanya satu: nikmati kasur empuk itu dan lupakan masa lalumu di Gang Kelinci. Mulai sekarang, rumahmu di sini."
William berbalik menuju pintu, diikuti Harto. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh.
"Dan Adinda?"
"Ya, Pak?"
"Jangan panggil saya 'Pak' kalau kita sedang berdua di luar jam kantor. Panggil William. Itu perintah."
Pintu tertutup pelan.
Sepeninggal William, Adinda berdiri di tengah apartemen mewah itu. Ia berjalan ke dinding kaca, melihat kota Jakarta di bawah sana. Gedung-gedung pencakar langit, jalanan macet yang semrawut, dan jauh di sana... mungkin ada Gang Kelinci yang tak terlihat.
Adinda menggenggam kartu akses itu erat-erat di dadanya.
Jarwo dipenjara. Dedi tertangkap. Dia punya rumah. Dia punya pelindung.
Untuk pertama kalinya, Adinda merasa bahwa takdir mungkin mulai berpihak padanya. Tapi di lubuk hatinya yang terdalam, Adinda bersumpah: William Bagaskara telah memberiku sayap. Maka aku akan menjadi elang yang akan mencabik siapa pun yang mencoba menyentuhnya.
Adinda berbalik, menatap samsak tinju di sudut ruangan. Ia mendekat, menyentuhnya dengan tangan kanannya. Lusa, dia akan kembali berdiri di samping William. Bukan sebagai gadis malang yang diselamatkan, tapi sebagai mitra yang lebih kuat, lebih tajam, dan lebih mematikan dari sebelumnya.
Bersambung...
terimakasih