Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 19: Masa lalu Liorlikoza [5]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Saka terdiam, tubuhnya seakan membeku di tengah rerumputan liar yang mengelilingi sumur tua. Udara pagi terasa hangat, tetapi aneh, hangat seperti pelukan, lembut namun menekan dada, seakan menelan setiap napas yang ia ambil. Sesuatu menyelimuti dirinya, perlahan, menggerakkan rambutnya yang basah oleh embun, menyelimuti kulitnya, dan menekan jantungnya dengan kehangatan yang asing.
Suara itu datang, lirih dan nyaris tak terdengar, tapi jelas menembus seluruh kesadarannya. Sebuah bisikan, lembut, berat, dan menenangkan.
“Raden Mahaniyan Kartaswiraga…”
Nama itu menggema di kepalanya, berputar, menempel, hingga Saka merasa setiap sel tubuhnya mengerti. Ada getaran aneh di dadanya, getaran yang bukan berasal dari dunia nyata, bukan dari Rakes, bukan dari hujan atau rerumputan. Tapi dari sesuatu yang lain. Sesuatu yang menjelaskan semua hilangnya Ian, semua tragedi sumur itu.
Saka menelan ludah. Hatinya berdegup kencang, dan seketika ia tahu— Mahaniyan… adalah Ian.
Di belakangnya, Rakes tampak tertegun. Matanya melebar, napasnya tersendat. Sebuah gelombang kesadaran seperti menyambar tubuhnya. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah lebih cepat, tangan bergerak seolah menembus waktu dan ruang, menuju sumur tua yang tersembunyi di balik rerumputan liar.
Rakes menunduk, menekan telapak tangan ke tanah, dan perlahan menyingkirkan semak serta tanaman liar yang menutupi tepi sumur. Saat tangannya bergerak, air sumur mulai beriak, perlahan, kemudian semakin kuat. Gelombang air meluap, memecah tenang permukaan sumur, seakan terseret oleh kekuatan yang jauh melampaui kemampuan manusia biasa.
Saka menatap dengan mata terbuka lebar. Tubuhnya masih terasa hangat di pelukan yang misterius itu, tetapi pandangannya kini tertuju pada sumur, air yang dulunya menutupi permukaan kini surut dengan cepat, memperlihatkan sesuatu yang mengerikan: tulang belulang.
Tulang itu, kecil dan rapuh, terbentang di dasar sumur, sebagian tersangkut di antara batu yang jatuh. Ada sesuatu di dalamnya yang Saka kenali, sebuah struktur kecil, sebuah kerangka yang pernah bergerak, berjuang, tapi kini diam.
Nama itu bergema di kepalanya lagi: Mahaniyan… Ian.
Hatinya sesak. Sesuatu dalam dirinya ingin melompat, masuk ke sumur, menggapai kerangka itu, tetapi kehangatan pelukan yang menenangkan itu menahan nalurinya. Seakan ada pesan yang jelas: ia harus mengamati, memahami, tetapi tidak bisa menyentuh.
Rakes berdiri, napasnya berat, wajahnya tegang. Kekuatan Polarios yang mengalir melalui dirinya terasa, menekan air dan tanah, menyingkirkan benda-benda yang menutupi sumur, mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi. Setiap gerakannya presisi, naluriah, protektif, sebagai penjaga Ian, sebagai perisai dari tragedi yang terus membayang.
Saka menelan ludah lagi, merasakan campuran ketakutan, kesedihan, dan kekaguman. Ian, atau Mahaniyan, ada di sana, tersangkut, hilang dari dunia nyata, namun tetap meninggalkan jejak yang bisa dibaca. Evangeline dan Hans telah pergi, hujan telah berhenti, tetapi sumur itu, dan Mahaniyan, tetap berbicara kepada mereka, melalui kekuatan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang cukup waspada untuk membaca pola rumah tua itu.
Dan Saka tahu satu hal pasti: ini bukan sekadar tragedi. Ini adalah panggilan. Sebuah misteri yang harus dipecahkan. Karena rumah tua itu tidak akan berhenti sampai semuanya dipahami, dan Ian, meski jasadnya kini tersangkut di antara batu dan tulang, masih menjadi inti dari semua pola yang tersembunyi.
Evangeline Liorlikoza duduk di ruang kerja yayasan, dikelilingi tumpukan dokumen yang tampak tak berujung.
Cahaya sore menembus jendela besar, memantul di lantai kayu yang mengkilap. Namanya kini sudah berbeda, Liorlikoza— sebuah pengingat akan Ian, pengingat akan Hans, dan sekaligus penanda bahwa tragedi itu telah membentuknya menjadi seseorang yang lain.
Tetapi di balik nama baru itu, hatinya rapuh. Malam-malam yang ia habiskan merenungi sumur tua, memikirkan bagaimana Ian terjebak, bagaimana Hans membenci dirinya, terus menghantui setiap keputusan yang diambilnya. Rasa bersalah menjadi teman setianya, menempel di setiap napas, setiap gerakan tangan saat menandatangani dokumen yayasan.
Yayasan itu awalnya lahir dari niat murni: mengenang Ian dan Hans, membantu anak-anak yang menghadapi kehilangan, dan memberi suara bagi mereka yang kerap tak terdengar. Tetapi niat murni itu segera diuji oleh dunia nyata. Beberapa orang yang semula mendukungnya mulai memutarbalikkan fakta, meremehkan yayasan, bahkan menuntut keuntungan pribadi di balik tragedi yang seharusnya menjadi pengingat.
Evangeline menatap layar komputer. Email demi email masuk, sebagian berisi dukungan, tetapi banyak juga yang bernada sindiran atau tekanan. “Kami ingin transparansi penuh,” bunyi salah satu email dari pengurus lama yang diam-diam ingin mengambil alih yayasan. “Kami tidak percaya dengan keputusan Anda, Liorlikoza. Anak-anak ini bisa menjadi alat bagi kepentingan pribadi.”
Dia menelan ludah, merasa dada sesak. Tekanan itu seperti hujan deras yang menghantam sumur tua di dalam ilusi, tak terlihat, tapi terasa menekan, dingin, dan menyiksa. Evangeline tahu bahwa setiap keputusan yang ia ambil, setiap langkah yang diambil yayasan, akan selalu dibandingkan dengan tragedi yang menimpa Ian dan Hans. Bahkan mereka yang seharusnya menjadi sekutu mulai memandangnya dengan curiga.
Sementara itu, di dalam dirinya, kenangan akan sumur itu tetap hidup.
Tangisan Ian, suara Evangeline sendiri yang dulu meratapi ketidakberdayaannya, dan kemarahan Hans yang memutuskan untuk pergi, semua membentuk bayangan yang menempel di setiap sudut pikirannya. Dan dunia nyata menuntutnya untuk tetap tegar, membuat keputusan logis, dan menjalankan yayasan seakan tragedi itu hanya sekadar cerita di buku sejarah.
Namun Evangeline menolak menyerah. Ia mulai menyusun strategi, menandatangani dokumen dengan ketelitian yang nyaris obsesif, menegur pengkhianat dengan suara yang tegas namun terkendali, dan membangun jaringan baru dengan orang-orang yang benar-benar peduli pada tujuan yayasan. Setiap langkah menjadi bentuk pengingat: Ian ada, Hans ada, dan tragedi itu tidak boleh dilupakan.
Meski tekanan datang dari semua arah, Liorlikoza merasakan sesuatu yang aneh: kekuatan yang dulu ia rasakan dalam ilusi sumur dan rumah tua kini muncul dalam dunia nyata. Nama baru, yayasan, konflik, dan kehilangan itu membentuknya menjadi lebih waspada, lebih tangguh, meski hatinya tetap rapuh. Seakan-akan Ian yang hilang masih menuntun tangannya, masih menuntun pikirannya, memberi arah di tengah kekacauan dunia nyata.
Di luar kantor, hujan mulai turun perlahan, membasahi halaman gedung yayasan.
Evangeline menatapnya, merasakan keheningan yang familiar, seperti sumur tua, seperti malam-malam ketika tragedi itu pertama kali terjadi.
Tapi kini ia berdiri sendiri, bukan hanya sebagai anak yang kehilangan, tapi sebagai pemimpin yayasan, sebagai simbol pengingat, sebagai Liorlikoza.
Ia menutup mata sebentar, menarik napas dalam.
Rasa sakit tidak hilang, kesedihan tidak musnah, tetapi tekadnya menjadi nyata. Ian mungkin tetap hilang, Hans mungkin telah pergi, dan pengkhianat mungkin terus mencoba merusak jalannya, tetapi Evangeline Liorlikoza tahu satu hal: ia akan menjaga ingatan mereka, dan ia akan menuntut dunia untuk mengenangnya.
Bahkan jika dunia itu menentang, bahkan jika ia harus menghadapi pengkhianatan berulang kali.
Dengan satu gerakan tangan, ia membuka buku catatan baru, mulai menulis rencana yayasan, membagi tugas, dan memikirkan cara untuk melindungi tragedi itu agar tetap bermakna.
Di setiap kata, di setiap tanda, ada bayangan Ian dan Hans. Ada jejak yang tidak akan pernah hilang. Dan Evangeline Liorlikoza, meski hancur, mulai menemukan cara untuk mengubah kesedihan menjadi kekuatan, meski pahit, meski penuh pengkhianatan, meski dunia nyata menuntutnya lebih dari yang bisa ia berikan.
......................
Evangeline Liorlikoza menatap ruang rapat yang kosong, namun rasanya dipenuhi oleh tatapan tajam para pengkhianat yang diam-diam merencanakan langkah mereka. Setiap kursi, setiap dokumen di meja, terasa seperti jebakan.
Hatinya berdegup kencang, bukan karena takut pada hujan yang mengguyur di luar jendela, tetapi karena ia tahu, dalam yayasan ini, setiap orang yang seharusnya menjadi sekutu bisa menjadi musuh.
Beberapa minggu terakhir terasa seperti perang psikologis. Para pengkhianat mulai menekan dirinya, meragukan keputusan yang ia ambil, memutar fakta tragedi sumur untuk kepentingan pribadi, bahkan memutar balik nama Ian dan Hans untuk membenarkan ambisi mereka sendiri.
Evangeline tahu bahwa jika ia lengah, yayasan yang dibangunnya untuk mengenang sahabat-sahabatnya bisa runtuh, dan lebih buruk lagi, tragedi Ian bisa dihapus dari ingatan publik, dimanipulasi menjadi alat politik atau kekuasaan.
Ia menutup matanya, membiarkan bayangan sumur tua masuk kembali ke pikirannya. Tangisan Ian yang terjebak di antara batu, hujan yang menumpuk di dasar sumur, dan Hans yang pergi dengan kebencian, semua itu menjadi bahan bakar kemarahannya. Rasa sakit yang dulu menahannya kini diubah menjadi ketajaman: Evangeline tidak akan membiarkan tragedi itu diremehkan, tidak oleh siapapun.
Pertemuan dimulai. Para pengurus yayasan hadir, wajah mereka tampak ramah di permukaan, tetapi Evangeline bisa merasakan niat tersembunyi di balik senyum mereka. Ia membuka agenda rapat: anggaran, program baru, dan rencana ekspansi yayasan. Tetapi setiap kata yang ia ucapkan disela dengan pertanyaan bernada sindiran, komentar miring, atau tuntutan transparansi yang jelas-jelas dimaksudkan untuk menekannya.
“Saya hanya ingin memastikan yayasan berjalan sesuai tujuan asli,” kata Evangeline, suaranya tenang, tetapi mata yang menatap tiap pengurus penuh kewaspadaan.
“Tujuan asli?” salah satu pengurus menyahut, nada suaranya tajam. “Kita semua tahu tragedi itu, sumur tua, tidak terlalu penting hanya kematian satu orang. Bagaimana kita tahu keputusan Anda benar? Bagaimana kita tahu Anda tidak memanfaatkan tragedi ini untuk kepentingan pribadi?”
Evangeline menelan ludah. Nada suara itu dingin, seperti pisau menembus hati, tetapi ia tetap berdiri tegak.
“Tragedi ini bukan untuk dipertanyakan. Ini fakta. Dan yayasan ini ada untuk mengingatkan dunia akan kehilangan itu, bukan untuk dimainkan sebagai alat kekuasaan.”
Namun komentar itu hanya memicu serangkaian intrik lebih lanjut. Surat-surat anonim mulai masuk ke meja yayasan, mengancam reputasinya. Beberapa pengurus mulai bekerja sama diam-diam, menyebarkan rumor bahwa Liorlikoza tidak mampu memimpin, bahwa ia terlalu emosional karena trauma Ian, bahwa tragedi sumur hanyalah cerita yang dibesar-besarkan untuk menarik perhatian publik.
Evangeline merasakan tekanan itu seperti hujan deras di sumur tua yang dulu, dingin, menekan, hampir membuatnya tenggelam. Tetapi kali ini ia tidak berteriak.
Kali ini ia mengamati, menunggu, dan merencanakan. Ia mulai mencatat siapa yang bergerak diam-diam, siapa yang mencoba menekan, siapa yang menebar ancaman. Setiap gerakan mereka dianalisis dengan teliti, seperti permainan catur gelap di mana setiap langkah bisa menentukan nasib yayasan dan ingatan Ian.
Dalam beberapa pertemuan berikutnya, ia mulai menanggapi pengkhianatan itu dengan strategi yang lebih tajam. Mengalihkan perhatian, menanam informasi, membuat aliansi baru, bahkan menggunakan kelemahan pengkhianat untuk keuntungannya sendiri. Evangeline Liorlikoza tidak lagi hanya anak yang kehilangan, tetapi pemimpin yang berhati dingin, setajam tulang yang tersisa di sumur tua.
Tetapi di balik semua itu, ia tetap menyimpan rasa sakit yang sama. Setiap keputusan yang diambil, setiap intrik yang ia atur, selalu diiringi bayangan Ian, bayangan Hans, dan sumur tua yang gelap. Tragedi itu tetap menjadi inti dari kekuatannya, tetapi juga inti dari kesendiriannya. Karena hanya ia yang tahu kebenaran tentang rumah tua, sumur, dan perasaan yang tak bisa dijelaskan kepada dunia.
Di malam hari, saat gedung yayasan sunyi dan lampu mulai dipadamkan, Evangeline duduk sendiri di kursi kerjanya, membuka buku catatan lama. Tulisan-tulisan Ian, nama Hans, coretan-coretan dari masa kecil mereka, semua menjadi panduan untuk menghadapi dunia nyata yang kejam ini. Ia menarik napas panjang, menutup mata, dan berbisik pelan:
“Tidak ada yang akan bisa menghapus mereka… dan aku akan memastikan tragedi ini tetap hidup.”
Di luar jendela, hujan perlahan berhenti, tapi aroma basah tanah dan rerumputan liar tetap menempel, mengingatkannya akan sumur tua, pada tragedi yang membentuk setiap langkahnya, setiap strategi yang ia jalankan. Pengkhianatan mungkin ada, dunia mungkin menentangnya, tapi Evangeline Liorlikoza telah menemukan satu hal: kekuatan tidak selalu datang dari kebahagiaan atau kemenangan, tapi dari kemampuan bertahan di tengah kehancuran dan intrik yang paling gelap.
Rakes terdiam sejenak, pandangannya menatap sumur tua yang kini memperlihatkan tulang belulang itu. Tubuhnya sedikit gemetar, tangan mengepal, napas berat. Sesuatu berputar di kepalanya, cepat, kacau, hampir menyakitkan. Nama itu… Raden Mahaniyan Kartaswiraga. Ian. Ian, keturunan yang seharusnya ia jaga.
Segala sesuatu yang selama ini ia lakukan, semua pola yang ia baca, semua radar dan intuisi yang ia gunakan untuk mendeteksi keturunan Polarios, tidak pernah berhasil menangkap Kartaswiraga. Tidak ada satu pun alarm, tidak ada satu pun naluri yang memunculkan bayangan. Dan sekarang, semuanya masuk akal: ia tidak bisa menemukan Ian, bukan karena kurang waspada, bukan karena salah langkah… tapi karena ia terlalu dekat untuk melihatnya dengan jelas, terlalu terluka untuk menyadari kebenaran.
Rakes menunduk, kepala terasa berat. Sebuah tekanan mental menekan dahinya seakan menandai titik lemah yang selama ini tersembunyi. Tubuhnya panas dan dingin sekaligus, pikiran berputar-putar antara rasa bersalah dan keheranan. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari dari awal? Bagaimana mungkin anak yang begitu penting bagi kakek Saka… ia lewat begitu saja?
Ia mengingat semua momen ketika Saka menatap sumur, ketika ia sendiri berusaha menenangkan cucu itu, ketika alarm nalurinya mengatakan “ada sesuatu di sini”, dan semuanya terasa sia-sia. Semua perhitungan, semua kewaspadaan, semua insting protektif… seakan tertipu oleh satu fakta yang tidak pernah ia perhitungkan: Kartaswiraga adalah Ian.
Rakes menarik napas panjang, menutup mata. Ia merasakan gelombang kekuatan khas keturunan Polarios mengalir di tubuhnya, naluri protektif yang sejak awal diprogram untuk bertindak sebelum berpikir, tetapi kali ini, gelombang itu datang bersama beban mental yang berat. Ia harus menghadapi fakta bahwa keturunan yang ia jaga… sudah berada di ambang kematian, sudah tersangkut di sumur tua, dan selama ini ia tidak tahu.
Sementara hujan sisa kemarin masih membasahi rerumputan liar, Rakes merasakan satu hal: tidak ada ruang untuk kesalahan lagi.
Nalurinya berkata, meski mentalnya terasa diserang: Kartaswiraga masih membutuhkan perlindungan. Dan kali ini, tidak ada waktu untuk ragu, tidak ada ruang untuk bingung.
Saka menelan, merasakan sesak di dada, tetapi nalurinya mengerti. Ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya, lebih besar dari kesedihan atau rasa takut. Sesuatu yang menuntut mereka bergerak, mengubah tragedi yang telah terjadi menjadi tindakan.
Rakes menarik sehelai ranting dari rerumputan, menekannya ke tanah dekat sumur. Mata Rakes menatap kedalamnya lagi. Tulang belulang Ian, Mahaniyan— terlihat, tetapi ia tahu ini bukan sekadar tubuh. Ini adalah inti dari keberadaan keturunan yang harus ia lindungi, inti dari misteri yang selama ini tersembunyi.
Dan di dalam hatinya, Rakes merasakan satu hal yang jelas, meski pahit tragedi ini baru saja dimulai.
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...