Selamat datang di karyaku yang ke-18
Tidak sengaja membuat nyawa seorang pria melayang, Winda harus menanggung akibatnya. Memiliki ibu yang mengalami ganguan mental, membuat Winda berani melakukan apa saja, tak kecuali menjadi kekasih bayaran seorang pria yang tiba-tiba muncul merubah segalanya.
Follow IG: Sept_September2020
Ikuti IG Sept dan banyak Give Away setiap bulan menanti pembaca setia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
Kekasih Bayaran Bagian 30
Oleh Sept
"Siapa yang mengijinkanmu menikah?" Suara itu begitu lantang dengan tatapan mengintimidasi.
Olivia jelas kaget mendengar pertanyaan pria tersebut.
"Maaf, Tuan. Saya sepenuhnya sudah mengundurkan diri. Jadi mohon Tuan untuk tidak mencampuri hidup saya saya!"
"Cukup Oliv! Sudah aku katakan! Aku benar-benar tidak ingat malam itu!" teriak Arjuna kencang dan membuat wanita itu tersentak kaget.
"Itu sudah berlalu ... dan setelah Tuan ingat, itu tidak akan mengubah segalanya. Saya akan tetap mengundurkan diri. Karena saya sudah merasa tidak nyaman lagi bekerja sama dengan Tuan!"
"Cukup, jangan membuatku marah!" sentak Arjun yang merasakan kepalanya tambah pusing.
"Marah? Apa Tuan saja yang bisa marah? Sepertinya harus saya tegaskan kan lagi. Saya sudah keluar dari perusahaan, jadi tolong bersikap semestinya. Dan hargai lawan bicara anda!" ujar Olivia penuh ketegasan.
"Shitttt!!!" Arjun yang kacau, mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia mungkin bingung bagaimana caranya bicara pada seorang wanita. Olivia terus saja mendorong jauh, tidak bisa lagi ia atur dan ia sentuh.
"Silahkan keluar!"
Olivia berjalan melewati Arjun, ia membuka pintu apartment lebar-lebar. Mengusir mantan bosnya yang menjengkelkan dengan kasar.
'Berani sekali dia mengusirku ... kau lupa Oliv, siapa aku yang sebenarnya!' umpat Arjun dengan geram.
Pria itu melangkah maju, bukan untuk keluar tapi langsung mendekati Olivia yang menatapnya heran. Mengapa pria itu malah berjalan ke arahnya.
'Jangan goyah Olivia ... jangan goyah!' gumam wanita cantik yang masih memakai bathrobe tersebut.
Ia mencoba menguatkan hati, agar tidak terlena oleh sosok Arjun yang rupawan itu. Olivia tidak mau terluka lagi, baginya cukup selama ini memendam rasa diam-diam.
"Kau tidak berhak mengantur hidupku ... jangan berani-beraninya mengusirku lagi!" ucap Arjun tanpa kedip. Sorot matanya tajam seolah menembus pandangan Olivia yang juga melihat ke arahnya.
Setttt ...
Sekali tarikan, ia rengkuh pinggang yang ramping tersebut.
"Kau mau mengundurkan diri? Lebih tepatnya ... kau ku pecat!"
Srupppp!
"Arjun!"
Setelah sekian lama, akhirnya Olivia memanggil Arjuna dengan sebutan nama juga.
"Lepas!"
Seperti orang kesurupan, Arjun menyerang Olivia. Tidak membiarkan wanita itu lepas dari tangannya.
"Arjun! Hentikan! Jangan seperti ini!" sentak Olivia ketika Arjun menyerang lehernya yang jenjang. Pria itu meyesap dalam dan meninggalkan banyak bekas ruam di sekitar leher. Tangan pria itu mencengkram kuat tubuh Olivia. Agar wanita itu tidak lepas.
"Aku tidak mau kejadian itu kembali terulang!" ujar Olivia dengan suara lirih, dan kata-kata itu membuat aksi brutal Arjun berhenti. Sosok tampan yang sedang kacau-kacaunya itu tertegun. Ia kemudian mengusap pipi Olivia. Tapi Olivia malah membuang muka.
Ada rasa kecewa karena Olivia terus menolak dan mendorong jauh. Apa Olivia terlalu membenci dirinya?
"Baiklah ... sepertinya malam ini kau sangat marah padaku. Meski sudah ku katakan aku benar-benar tidak ingat kejadian itu. Kau masih saja mendorongku untuk menjauh. Tapi maaf ... pengunduran dirimu aku tolak! Oke! Malam ini aku akan pergi, dan jangan berpikir untuk kabur dariku!"
Setelah mengatakan itu, Arjun bergegas pergi. Karena benar kata Olivia, jika ia masih di sana, mungkin kejadian malam itu akan terulang. Apalagi ia sempat berdesir saat melihat body Olivia yang hanya tertutup kain handuk tebal tersebut.
KLEK
Saat pintu terdengar ditutup dari depan, Olivia langsung menyandarkan punggung di tembok. Ia memejamkan mata dalam-dalam, ia tidak mau terpengaruh. Menjauh dari Arjun itu sudah keputusan yang terbaik saat ini. Pria itu tidak tahu caranya bersikap pada wanita, dan hanya memaksakan kehendak.
***
Esok harinya. Semalaman Arjun memikirkan banyak hal. Hingga saat pagi tiba, pria itu kini sudah bersiap. Memakai pakaian rapi, bukan setelan jas seperti biasa. Hanya kemeja biru muda dan celana kain formal.
Ia mengemudi sendiri dari apartment menuju suatu tempat. Keputusan sudah bulat, ia harus melakukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan sejak kemarin.
Kediaman Jonathan dan madam Li. Baru pukul delapan pagi, rumah madam Li sudah kedatangan tamu.
"Pagi sekali, Jun! Kok nggak sekalian sama Olivia?" tanya madam Li sambil membawa makanan ringan dan minuman untuk tamu dadakan tersebut.
"Iya, Tante. Oh ya ... Om mana?"
"Ada, sebentar ya. Tadi katanya mau main golf."
Tiba-tiba muncul dari pintu samping, Jonathan berjalan menghampiri tamunya, seperti biasanya, menyapa dengan hangat.
"Wah, kebetulan. Ikut Om main golf ...ya?"
Arjun menggeleng, "Maaf, Om ... Tante ... ada sesuatu yang ingin Arjun bicarakan pada kalian."
Seketika madam dan sekretaris Jo langsung saling menatap. Jonathan pun meletakkan stick golf yang semula ia bawa.
"Ada masalah?" tanya Jonathan yang takut terjadi masalah pada Olivia. Sebab anak itu jarang sekali pulang.
"Maafkan saya, Om ... Tante!" ucap Arjun sambil menundukkan wajah.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Madam Li mendekat, ia meminta Arjun mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Saya akan tanggung jawab," ucap Arjun sambil mengangkat sedikit wajahnya. Ia bisa melihat ekspresi keterkejutan dari kedua orang tua Olivia.
Kaki madam langsung lemas, ia merasa sesuatu yang tidak bagus sedang terjadi.
"Pa ... telpon Olive. Telpon Olive sekarang!"
Jonathan mencoba menghubungi putrinya, tapi malah tidak diangkat. Itu karena Olivia masih tidur. Semalam ia tidak bisa tidur setelah Arjun dari apartment. Baru bisa memejamkan mata setelah menjelang pagi.
"Apa yang kamu lakukan pada Oliv, Arjun?" tanya Jonathan yang tidak bisa menghubungi putrinya.
"Maafkan Arjun, Om."
Tidak peduli dia siapa, Jonathan yang emosi, langsung mencengkram kerah baju Arjuna, putra dari Gadhiata Ratama Prakash tersebut.
"Katakan apa yang sudah kamu lakukan pada putri Om?"
"Tidak mungkin, Arjun nggak mungkin berbuat sehina itu pada putri Kita, Pa! Katakan Arjun! Kamu nggak mungkin melakukan hal itu, kan?"
"Maafkan Arjun, Tante ...!"
BUGH ...
"PAAA!!"
Bersambung
Jempolnya, nanti aku up lagi ya.
coba ketik/nyari di sini knp gaada thor?
eee thor mo baca *seruni dendam istri pertama nya knp gak bs di buka ya, di pencarian jg kayk gaada,? mksih info
bilang klo Winda jd pembokat di rmh mu jg buat duit yng km minta dl ke mm mu