follow ig author: @bungadaisy206
Ana tidak jelek. Dia adalah gadis yang sangat cantik. Tapi kenapa Ana tak kunjung menikah? Kata orang, Ana digantung waris oleh mantan pacarnya. Sebagai penangkal mitos itu, Ana harus rela dijodohkan dengan anak dari sahabat ayahnya. Ana yang tidak punya pilihan, dia pun menerima pernikahan itu. Pernikahan yang diatur oleh keluarganya dan keluarga calon suaminya.
Yuks ikuti kisah cinta dan kehidupan rumah tangga 2A (Ana dan Arnold) dalam novel Istri Baru Tuan Arnold karya Syehalea.
IG : @bungadaisy206
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syehalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. MP ke-2
Tengah malam, sepasang mata enggan terpejam. Bergerak-gerak di antara sunyi yang kian memburu. Arnold, dengan gelisah mengarahkan pandangannya ke sisi kiri ranjang. Mengamati sosok lembut yang berbaring dengan wajah cantiknya, bibir merah yang ranum, bulu mata yang lentik, sungguh sangat memikat hasratnya untuk bercumbu .
Arnold mengulurkan tangan menyentuh sepasang pipi kenyal itu. Ana seketika menggeliat, seolah merasakan sesuatu dalam tidurnya. Arnold kembali menatapnya, mengelus ringan rambutnya, dengan tanpa sadar jemari-jemarinya berjelajah.
Ana tersenyum kecil dalam tidurnya, merasakan aliran panas yang menjalar menguasai tubuhnya. Arnold menyentuhnya dan Ana kembali menggeliat dengan nafas yang memburu samar-samar. Nafas yang begitu sexy bagai candu yang memabukkan. Arnold seperti terbakar dalam gairah yang tak terkendali.
Dengan lembut Arnold menciumnya, menyusuri dari bibir sampai tulang selangkanya yang indah. Ana menggeliat untuk kesekian kalinya. Merasakan sentuhan panas itu, Ana terbangun dengan nafas yang nyaris putus-putus, ia menatap sepasang mata jernih pria di atas tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ana dengan setengah nafasnya yang masih memburu .
"Aku menginginkanmu," bisik Arnold dengan suara samar-samar.
"Ingin apa?" tanya Ana dengan pura-pura polos tidak mengerti.
"Aku sudah sangat menginginkanmu. Ini sudah melewati tanggal perjanjian kita dan sudah seharusnya aku mendapatkan hak seorang suami."
"Tapi aku--
"Tidak ada lagi penolakan yang harus kudengar darimu." Arnold menyela ucapan Ana.
Tanpa menunggu persetujuan Ana, Arnold sudah lebih dulu menyentuh Ana dengan lembut. Mereka tenggelam dalam lautan cinta yang tak bertepi. Sentuhan Arnold menjadi desiran hasrat yang bergejolak. Pertahanan Ana mulai melemah seiring hasratnya yang semakin memuncak.
Arnold tersenyum sesaat, menyusuri wanitanya dengan sepenuh hati dan lembut.
"Tahan sedikit, untuk pertama kali akan sedikit sakit," bisik Arnold dengan pelan. Sedangkan Ana hanya mengangguk dengan patuh.
Dengan lembut Arnold memasuki bagian inti wanitanya, menekannya lebih dalam dan mempercepat ritmenya. Suara lenguhan nafas beradu, tetesan keringat jatuh menyebar. Ana terus terperangkap dalam desahannya sendiri, sedangkan Arnold terus menggila dalam desahan lirih wanitanya itu. Arnold semakin menggebu mempercepat ritmenya.
Setelah hampir satu jam bergumul dalam kenikmatan. Ana dan Arnold terkulai di atas ranjang. Ada rona getir di wajah Ana, rasa yang berkecamuk mencekik otaknya. Di atas ranjang seketika menjadi senyap. Baik Ana maupun Arnold hanya diam tanpa pergerakan. Ana menoleh ke arah Arnold, ada perasaan takut bergelayut di hatinya. Ia menatap sosok pria itu dalam diam.
"Ada yang ingin kamu jelaskan padaku?" tanya Arnold tiba-tiba.
"Apa maksudnya dengan jelaskan?" tanya balik Ana.
Sebelum berbicara Arnold memiringkan tubuhnya ke arah Ana. Kepalanya bertumpu disatu tangan menatap wanitanya dengan tatapan tajam.
"Dengan siapa kamu tidur sebelumnya? Kamu sudah tanpa segel?" tanya Arnold dengan rona gelap mengitari wajahnya.
Ana hancur mendengar pertanyaan yang dilontarkan suaminya itu.
"Dengan siapa kamu tidur sebelumnya?" Pertanyaan itu seperti racun yang dengan ganas menarik nyawanya. Ana membeku tidak bisa berkata apapun hanya diam tanpa suara.
"Kenapa diam? Jadi ini alasanmu terus menolaku, karena kamu tidak bisa melupakan pria itu. Pria yang sudah meniduri kamu. Kenapa kamu tidak jujur? kenapa kamu terus membohongiku?" Arnold marah dengan tatapan kecewa yang mendalam.
Ana menatap suaminya dengan tatapan memohon. Memohon agar Arnold tidak bicara seperti itu, memohon agar Arnold memahaminya, memohon agar Arnold bisa mengetahui isi hatinya, tetapi justru Arnold bangun dan menepis sentuhan tangan Ana. Terlihat aura gelap di mata suaminya itu. Ana tak kuasa menahan air matanya yang mengucur deras.
"A-aku dinodai seseorang. Aku bahkan tidak tidak tau siapa orang itu," ucap Ana dengan suara bergetar.
Arnold mengerutkan dahi dengan tatapan tidak percaya, dengan rautnya yang mencemooh Ana.
"Sungguh konyol! Dinodai kekasihmu dengan sukarela, kan?" sekali lagi Arnold menatap dengan tatapan mencemooh.
Ana menahan sakit yang sangat dalam, ia memejamkan mata dengan seutas harapan Arnold akan mempercayainya.
"Aku tidak berbohong. Kenapa kamu tidak percaya padaku?"
Arnold yang marah mendorong tubuh Ana dari sisinya, memaki dan menghakimi Ana dengan kejam.
"Wanita murah harusnya menikah dengan pria murah, dan aku benar-benar kecewa menikahi wanita seperti kamu." Kata Arnold sembari berlalu pergi dari kamar mereka.
Ana menangis dengan putus asa. Ia menyalahi takdirnya kenapa begitu buruk. Kenapa saat dia baru mencintai seseorang, tetapi begitu cepat seseorang itu pergi darinya. Ana tidak tau lagi harus bagaimana, otaknya bahkan sudah sangat buntu.
"Haruskah aku mencari pria itu, pria yang menodaiku dan membawanya kehadapan Arnold. Tapi siapa yang sudah menodaiku?" jerit Ana dengan sejuta pertanyaan dalam hatinya sendiri. Dia bahkan tidak mengenali wajah pria itu, malam itu sangat gelap tidak ada yang terlihat selain bayangan tubuh tegap pria itu.
©©©©©©©©
Pagi hari.
Bumi seperti membeku bertumpuk salju, sangat dingin benar-benar dingin.
Ana dan Arnold duduk di meja makan. Hanya terdiam bahkan menatap saja tidak. Suasana menjadi sangat sepi seperti tak berpenghuni. Bi Ninik merasakan ada sesuatu yang terjadi. Dengan tidak berdaya Bi Ninik pun berkata: "Tuan muda, nyonya muda, sepertinya Anda berdua sedang tidak sehat. Apa bibi perlu memberitahukan tuan dan nyonya besar?" tanya Bi Ninik dengan cemas.
"Tidak usah, kami baik-baik saja," jawab Arnold dengan datar .
"Tapi tuan dan nyonya muda hanya berdiam diri tidak seperti biasanya," ucap Bi Ninik pura-pura tidak tau apa-apa.
"Ana ... Ana sedang sakit gigi jadi tidak mau berbicara apapun," jawab Arnold dengan asal.
Ana mengerutkan keningnya mendengar alasan Arnold yang tidak masuk akal dan sangat dibuat-buat. Ia mengarahkan pandanganya ke arah Bi Ninik kemudian mengangguk perlahan .
Hanya 10 menit Ana dan Arnold sudah selesai sarapan. Ana sedikit memakannya karena sudah tidak berselera. Melihat Arnold sangat marah dan jijik padanya, hati Ana sangat tidak nyaman. Ia rindu Arnold yang dulu sangat mencintainya dan menjaganya, yang selalu mencium pucuk kepalanya dan membereskan anak-anak rambutnya dan terkadang bersikap iseng padanya.
"Apa itu akan kembali?" batinya. Ana menghembuskan nafasnya ke udara dengan penuh harapan di benaknya.
****
Di jalan
Arnold benar-benar marah hingga di tengah jalan dengan tega menurunkan Ana dari mobilnya.
"Turun!!!" perintah Arnold.
"Turun? Tapi ini belum sampai di kantor?" tanya Ana dengan bingung.
"Mobilku tidak menampung barang-barang kotor," jawab Arnold dengan tidak berperasaan.
"Jika aku kotor, aku bisa mandi tidak perlu kamu berbicara seburuk itu." Ana berkata dengan kekecewaan di hatinya.
"1000 kali pun kamu mandi tetap saja sudah ternoda," ucapnya mencemooh. Arnold dengan segera mendorong Ana keluar dari mobilnya.
To be continued 😘