Sinopsis.
David Lorenzo CEO perusahaan Switch Company. Dia mempunyai banyak kepribadian yang berbeda akibat trauma masa lalu.
Dia bertemu dengan Michelle, yang berkerja di perusahaannya, pertemuan mereka tidak di sengaja dan banyak kesalahpahaman.
Lambat Laun mereka semakin dekat, dan perlahan saling menyembuhkan luka.
Banyak tingkah lucu dan kocak di antara mereka.
penasaran jangan lupa baca, like dan komen.
Update setiap hari Senin.
Follow Ig: @Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryy Heryy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
"Hah, tenang saja Michelle... tenang aja... AAAAA! Bagaimana ini ya?! Mungkin besok aku pura-pura sakit aja ,cukup bilang saja kalau aku sakit dan tidak bisa masuk kerja! Itu aja yang bisa kulakukan sekarang!" ucap Michelle.
Dengan suara yang penuh kegalauan, menepuk pipinya berkali-kali sambil terus melihat wajahnya yang masih sedikit memerah di cermin kamar mandi taman hiburan.
Air dari pancuran yang masih menempel di wajahnya membuatnya merasa lebih tidak nyaman lagi, terutama saat dia mengingat kembali semua kejadian yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.
"Tidak-tidak-tidak! Jangan berpikir yang tidak jelas seperti itu! Aduhhh, kenapa otakku tidak bisa berfungsi dengan baik saat aku sangat membutuhkannya seperti ini?!" gumamnya.
Pelan-pelan sambil menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri yang masih sangat terkejut dan cemas. Dia terus memikirkan berbagai macam cara yang bisa dia lakukan untuk menghadapi hari kerja besok.
Terutama bagaimana cara menghindari bertemu dengan David yang pasti sudah sangat marah padanya karena semua kejadian yang tidak sengaja dia lakukan mulai dari menendangnya, sampai akhirnya secara tidak sengaja mencium dan bahkan menampar nya.
Saat dia masih sedang merenung dengan sangat dalam dan tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan sangat keras dan terdengar suara benturan yang cukup besar.
BRUGGG!
"AAAAH!" Michelle menjerit kaget dan hampir terjatuh dari tempat berdiri di depan cermin.
Dia cepat-cepat menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka dan melihat sosok Tasya yang sedang masuk dengan napas yang masih terengah-engah dan wajah yang tampak sangat terkejut serta sedikit malu.
"Kamu bikin aku kaget aja Tasya! Kok buka pintunya dengan keras amat sih?!" ucap Michelle dengan suara yang masih sedikit gemetar karena kejutan, menepuk dadanya yang masih berdebar kencang untuk menenangkan diri.
Tasya hanya bisa mengangguk dengan rasa minta maaf yang jelas terlihat di wajahnya sebelum langsung mendekati wastafel untuk mencuci mukanya dengan air dingin yang mengalir dari keran.
Dia mencuci mukanya dengan cukup lama seolah-olah mencoba menghilangkan rasa malu yang masih menempel padanya, sambil melihat refleksi wajahnya di cermin dengan ekspresi yang sangat tidak nyaman.
Setelah selesai mencuci mukanya dan mengeringkannya dengan serbet yang ada di sana, Tasya akhirnya melihat kondisi Michelle dengan lebih jelas dan langsung terkejut melihat bajunya yang masih basah kuyup dari atas sampai bawah.
Air masih menetes perlahan dari ujung rambutnya yang ikut basah terkena air pancuran tadi, membuatnya terlihat sangat tidak nyaman dan sedikit lelah.
"Michelle! Kenapa kamu basah kuyup begini? Apa kamu jatuh ke kolam renang atau apa?" tanya Tasya dengan suara yang penuh rasa ingin tahu, mendekati Michelle untuk melihat kondisi temannya dengan lebih jelas.
"Tidak apa-apa Tas... Cuma ada kecelakaan kecil aja di sana tadi," jawab Michelle dengan suara yang sedikit lesu dan tidak mau terlalu banyak bicara tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Namun saat dia melihat wajah Tasya yang juga tampak sangat tidak nyaman dan sedikit pucat, rasa ingin tahu mulai muncul dalam dirinya juga.
"Kamu juga... Kenapa kamu berlari kayak lagi di kejar hantu? Ada apa denganmu?" tanya Michelle kembali dengan suara yang penuh rasa ingin tahu.
Tasya langsung menghela nafas panjang sebelum menjawab dengan suara yang sedikit gemetar karena rasa malu yang masih belum hilang.
"Michelle... tadi aku ketemu lagi sama pria yang celananya aku robek di mall beberapa hari yang lalu!" ucapnya dengan suara yang cukup rendah namun tetap jelas terdengar oleh Michelle.
Wajahnya kembali memerah dengan sangat jelas saat mengingat kembali kejadian tersebut.
"Maksud kamu? Kamu ketemu lagi sama dia di taman hiburan juga?" tanya Michelle.
Dengan suara yang penuh kejutan, tidak menyangka bahwa mereka bisa bertemu lagi di tempat yang sama seperti itu.
"Lalu apa yang terjadi? Apa dia mengenalmu dan marah padamu karena kejadian di mall?" tambahnya.
Tasya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang sangat bingung dan sedikit malu.
"Entah lah aku juga tidak tahu... Saat dia melihatku, aku langsung merasa sangat tidak nyaman dan hanya bisa berlari pergi dengan sangat tergesa-gesa aja. Aku bahkan tidak punya waktu untuk bilang maaf atau apa-apa lagi sama dia!" ucap Tasya.
Setelah beberapa saat terdiam dan merenungkan semua kejadian yang telah mereka alami hari ini, Tasya akhirnya mengangkat kepalanya dengan resolusi yang jelas terlihat di wajahnya.
"Michelle, ayok kita pulang aja dari sini yuk! Rasanya aku sudah tidak bisa menikmati liburan kita hari ini lagi setelah semua kejadian yang terjadi seperti ini," ajaknya dengan suara yang penuh rasa lelah dan ingin segera pulang ke kontrakan untuk beristirahat.
"Baiklah deh Tas... Aku juga sudah mulai merasa kedinginan karena bajuku yang masih basah ini. Yuk kita pulang aja!" jawab Michelle dengan suara yang juga penuh rasa setuju, sangat setuju dengan usulan temannya tersebut.
Sebelum mereka keluar dari kamar mandi, Tasya tiba-tiba mengingat sesuatu yang penting.
"Oh ya Mich! Kamu ganti baju dulu aja deh! Di dalam mobilku ada beberapa baju cadangan yang aku bawa bareng. Aku ambil sekarang dulu ya, kamu tunggu sebentar aja di sini ya!" ucapnya.
Dengan cepat sebelum langsung berlari keluar dari kamar mandi untuk mengambil baju cadangannya yang ada di dalam mobil sport putihnya yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk taman hiburan.
Setelah beberapa menit, Tasya kembali dengan membawa sebuah tas kecil yang berisi beberapa setelan baju kasual yang bisa dikenakan oleh Michelle.
Michelle dengan senang hati menerima baju tersebut dan segera menggantikan bajunya yang basah dengan baju baru yang lebih hangat dan nyaman dikenakan.
Setelah selesai berganti pakaian dan merasa lebih nyaman lagi, mereka berdua langsung keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan cepat menuju tempat mobil Tasya terparkir.
Setelah berkendara selama sekitar satu jam, akhirnya mereka sampai di kontrakan Michelle.
Namun saat mereka masuk ke dalam kamar, Michelle tidak bisa berdiri tenang dan mulai mondar-mandir di sekitar kamar dengan tangan yang terus menggigit kuku jarinya sebuah kebiasaan yang dia lakukan setiap kali merasa sangat cemas dan khawatir tentang sesuatu.
Tasya melihat tingkah lakunya yang sangat tidak biasa tersebut dan merasa sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada temannya. Dia segera mendekati Michelle dan duduk di sebelahnya di tepi kasur yang sempit tersebut.
"Michelle... kenapa kamu mondar-mandir gitu? Seperti punya pikiran yang sangat dalam dan tidak bisa kamu ceritakan sama orang lain? Ada apa denganmu nih?" tanya Tasya.
Michelle akhirnya berhenti mondar-mandir dan duduk dengan sangat pelan di sebelah Tasya. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara dengan suara yang cukup rendah dan penuh rasa takut.
"Begini Tas... tapi kamu janji dulu ya jangan bilang ke siapapun ya? Bahkan jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang apa yang aku akan ceritakan ini!" ucapnya dengan suara yang penuh dengan permintaan dan rasa khawatir yang sangat besar.
"Tentu aja Mich! Kamu tahu kan aku kan temen baik kamu yang bisa dipercaya kan? Ayok cepat ceritain dong apa yang terjadi! Aku sudah sangat penasaran nih!" jawab Tasya.
Dengan suara yang penuh kesediaan dan rasa ingin tahu yang semakin besar, siap untuk mendengarkan segala sesuatu yang akan diceritakan oleh temannya tersebut.
Tanpa berlama-lama lagi, Michelle mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi padanya di taman hiburan tadi dengan sangat detail, mulai dari saat dia melihat pancuran air yang dipercaya bisa membuat keinginan menjadi kenyataan, sampai saat dia secara tidak sengaja di tabrak orang, orang itu adalah David yang ternyata adalah CEO baru perusahaan tempat dia bekerja.
Akhirnya mereka secara tidak sengaja mencium satu sama lain dan dia tidak sengaja menamparnya. Dia menjelaskan semua kejadian tersebut dengan sangat jujur dan tidak menyembunyikan satu pun detailnya, karena dia tahu bahwa Tasya adalah satu-satunya orang yang bisa dia percayai dan bisa memberikan nasihat yang baik baginya saat ini.
Setelah mendengar seluruh cerita tersebut dengan sangat seksama, Tasya langsung menjerit dengan suara yang sangat keras dan tidak bisa dipercaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"WHAT THE ****?! APA?! KAMU MENCIUM BOSMU?! CEO BARU PERUSAHAAN YANG KAMU SEBUTIN SEBAGAI ORANG YANG GILA ITU?!"
Teriak Tasya dengan suara yang penuh kejutan dan tidak bisa dipercaya, membuat Michelle cepat-cepat menutupi mulutnya dengan tangan untuk mencegah suara nya terlalu keras dan mengganggu tetangga sekitar.
Michelle hanya bisa mengangguk dengan wajah yang penuh rasa malu dan ketakutan yang sangat besar, tidak bisa berkata-kata apa pun lagi setelah selesai menceritakan semua kejadian tersebut.
"Bagaimana ini Tas... Besok aku harus masuk kerja lagi dan pasti akan bertemu dengan dia ? Apa yang harus kulakukan kalau dia marah besar dan memecat aku dari perusahaan itu?" ucapnya dengan suara yang penuh rasa khawatir.
Merasa bahwa pekerjaannya yang sudah sangat sulit untuk didapatkan tersebut akan segera hilang karena semua kesalahan yang tidak disengaja yang dia lakukan terhadap sang CEO.
Tasya hanya bisa terdiam sejenak dengan wajah yang penuh dengan kebingungan dan rasa tidak percaya sebelum akhirnya mulai berbicara lagi dengan suara yang penuh dengan keheranan.
"Tunggu-tunggu dulu ya Mich! Bukannya kamu bilang sebelumnya kalau bosmu itu CEO baru perusahaan itu yang punya kepribadian yang tidak stabil dan bahkan sering dianggap sebagai orang yang gila oleh banyak orang? Kok bisa kamu ketemu sama dia di taman hiburan dan bahkan mengalami hal yang sangat tidak terduga seperti itu?" tanya Tasya.
Dengan suara yang penuh rasa ingin tahu dan sedikit tidak percaya dengan semua kejadian yang telah dialami oleh temannya tersebut.
Michelle hanya bisa mengangguk dengan wajah yang penuh rasa tidak percaya juga terhadap semua kejadian yang telah dia alami selama beberapa hari terakhir ini.
"Mhhhh... Ya memang begitu Tas... Aku juga tidak menyangka kalau semua hal yang tidak terduga ini bisa terjadi padaku dalam waktu yang sangat singkat seperti ini," jawabnya dengan suara yang sangat lembut dan penuh rasa tidak percaya dengan semua yang telah terjadi padanya.
Setelah beberapa saat terdiam dan merenungkan semua cerita yang telah mereka ceritakan satu sama lain, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk berbaring di tempat tidur yang sempit tersebut dengan tubuh yang saling bersandar satu sama lain.
Mereka masing-masing memikirkan masalah mereka sendiri yang belum menemukan solusi yang tepat.
Bersambung....