NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:417
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Penyelamatan 2

Di bawah pohon pisang dekat jalan besar, Mika berhenti.

Ia membuka tas kecil yang ia bawa. Bukan senjata. Hanya botol plastik berisi solar. Dan korek api.

Tangannya gemetar sebentar.

Ia bukan orang kota. Ia bukan gangster. Ia hanya gadis desa yang terlalu cepat dipaksa mengerti bahwa dunia bisa mengambil ayahnya tanpa izin.

Mika menarik napas. Lalu berjalan lagi.

Pabrik bata itu muncul seperti bayangan besar.

Gerbang besi setengah terbuka.

Ada dua penjaga di luar.

Mereka tidak merokok. Tidak bercanda.

Mika menelan ludah. Ia tidak mendekat. Ia berputar ke sisi lain bangunan, melewati tumpukan bata yang ditinggalkan, tanah lembab yang mengeluarkan bau hangus lama.

Di belakang, ada gudang kecil.

Pintu kayunya retak.

Di sana, dekat dinding, ada tumpukan karung goni.

Mika berlutut. Tangannya membuka botol solar perlahan.

Ia tidak menyiram banyak.

Tidak ingin membakar bangunan. Tidak ingin membunuh siapa pun.

Hanya…membuat mata mereka berpindah.

Solar menetes ke kain karung.

Bau tajam langsung naik.

Mika mundur dua langkah.

Korek di tangannya terasa terlalu kecil untuk keputusan sebesar ini.

Klik.

Api biru kecil menyala.

Mika menahan napas. Ia melempar korek itu.

Satu detik tidak terjadi apa-apa.

Lalu, Nyala kecil muncul.

Merambat pelan. Bukan kebakaran. Hanya lidah api yang cukup untuk membuat orang menoleh.

Dan benar saja. Suara langkah cepat terdengar dari depan.

“Apa itu?”

“Belakang!”

Satu penjaga berlari memutari bangunan.

Mika membeku. Ia menempel di dinding, tubuhnya masuk ke gelap. Penjaga itu lewat, tergesa, fokus pada api.

Mika tidak bergerak sampai suara langkahnya menjauh.

Baru setelah itu ia merayap ke sudut yang lebih terbuka. Dari celah bata runtuh, ia bisa melihat bagian dalam.

Lampu kuning redup. Bayangan bergerak.

Dan di sana...Pak Raka. Duduk di kursi, tangan terikat. Wajahnya pucat.

Mika menutup mulutnya dengan tangan. Air mata naik tanpa izin. Ayahnya masih hidup. Itu seharusnya melegakan. Tapi yang membuat dadanya runtuh justru kenyataan lain, Ia sendirian di sana. Tidak ada Jovan.

Mika menahan napas, mencari lagi. Lalu suara mesin terdengar.

Mobil.

Lampu depan menyapu tanah.

Sebuah van hitam masuk ke halaman pabrik.

Dua pria turun.

Gerak mereka cepat.

Terlatih.

Bukan untuk menjaga sandera desa.

Untuk memindahkan sesuatu yang lebih penting.

Pintu samping van terbuka.

Dan Mika melihatnya.

Jovan.

Tangannya terikat. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Seperti seseorang yang sudah berhenti melawan karena ia sedang menghitung.

Levis berjalan di belakangnya, rapi seperti biasa. Ia tidak tergesa. Ia menikmati setiap langkah.

Mika menggigil.

Levis berkata sesuatu pelan, Mika tidak mendengar.

Tapi ia melihat Jovan menoleh sebentar.

Bukan ke Levis.

Ke arah gelap.

Seolah nalurinya tahu…ada mata yang masih bertahan.

Mika menahan napas sampai dadanya sakit.

Jovan dimasukkan ke dalam van.

Pintu ditutup.

Suara logam itu terdengar seperti palu.

Pak Raka tetap di kursi. Tidak dipindahkan. Hanya ditinggalkan. Seperti umpan.

Van itu mundur. Mesin menderu. Dan dalam beberapa detik, kendaraan itu keluar dari halaman pabrik bata, menuju jalan besar.

Menuju kota.

Menuju tempat yang tidak Mika kenal.

Api kecil di belakang mulai padam sendiri, tinggal asap tipis.

Penjaga berteriak kesal, menendang karung.

Mika mundur pelan.

Kakinya lemas.

Tapi kepalanya penuh satu kalimat yang tidak bisa ia hindari, Jovan tidak disimpan di desa.

Jovan dibawa pulang.

Mika berbalik dan berlari.

Tidak menunggu.

Tidak berpikir.

Hanya berlari pulang dengan napas patah-patah.

Karena sekarang ia tahu satu hal yang lebih buruk dari kehilangan ayahnya.

Perang itu tidak akan tinggal di Sumberjati.

Perang itu…sedang kembali ke kota bersama Jovan.

Dan Mika baru saja melihat pintunya terbuka. Kakinya memang gemetar. Tapi dadanya lebih penuh daripada takut.

Van itu sudah pergi. Jovan sudah dibawa.

Dan itu berarti satu hal, Penjagaan akan longgar.

Pak Raka tinggal sendirian. Seperti umpan.

Mika menelan ludah, menempel di balik tumpukan bata yang dingin. Asap dari api kecil tadi masih menggantung tipis di udara, cukup membuat penjaga batuk dan mengumpat.

“Bodoh… karung tua aja dibakar…”

“Cari sumbernya!” Mereka sibuk. Mereka marah. Mereka tidak memikirkan gadis desa.

Mika menarik napas. Kalau ia mundur sekarang…Ayahnya tidak akan pernah keluar.

Ia merunduk, bergerak memutari sisi bangunan, mengikuti bayangan. Tangannya meraba tanah.

Ada pecahan bata. Ada potongan kawat. Ia memilih yang paling tajam.

Pak Raka masih di kursi itu. Kepalanya sedikit tertunduk.

Tapi matanya terbuka. Menunggu.

Mika menyelinap lebih dekat.

Satu langkah. Dua. Lalu suara langkah terdengar dari kanan.

Mika membeku.

Seorang penjaga muncul, membawa ember kecil, menyiram sisa api. Ia berdiri membelakangi Mika.

Jaraknya hanya beberapa meter.

Mika menahan napas sampai dadanya sakit.

Penjaga itu mengumpat lagi, lalu berjalan pergi ke depan.

Kesempatan.

Mika bergerak cepat. Ia merayap ke celah dinding bata runtuh, lalu masuk ke ruangan setengah gelap. Bau lembab.

Bau besi.

Pak Raka mengangkat wajah.

Dan begitu melihat Mika, wajahnya berubah. Bukan lega.

Marah.

“Ngapain kau di sini…” suaranya serak.

Mika berlutut di sampingnya.

“Diam, Yah.”

“Kau gila.”

“Aku anakmu.”

Pak Raka menelan napas keras.

“Justru itu.”

Mika meraba tali di pergelangan tangan Pak Raka.

Simpulnya kuat.

Terlalu rapi untuk dilepas paksa.

Mika mengeluarkan potongan kawat tajam dari sakunya.

Pak Raka langsung menegang.

“Jangan....”

“Aku harus.” Ia mulai menggesek.

Pelan.

Tali itu tidak putus cepat. Seratnya kasar, tangannya sakit.

Tapi Mika terus bergerak .

Di luar, suara penjaga terdengar.

“Levis bilang tinggalin aja si pincang. Besok juga mati sendiri.”

Mika menggigit bibir.

Pak Raka memejamkan mata.

Tali mulai melonggar. Satu serat putus. Lalu dua.

Dan akhirnya...Putus.

Pak Raka menarik tangannya bebas.

Mika langsung pindah ke ikatan kaki.

Pak Raka berbisik cepat, “Mika, dengar. Kau harus pergi sekarang.”

“Aku bawa Ayah pulang.”

Pak Raka menggeleng. “Tidak bisa. Kakiku...”

“Aku tidak peduli.”

Ia menggesek lagi.

Lebih cepat.

Lebih nekat.

Tali kaki putus.

Pak Raka mencoba berdiri.

Langkah pincangnya membuat tubuhnya oleng.

Mika langsung menopang.

“Pelan.”

Pak Raka menahan napas. “Kalau mereka lihat...”

“Mereka tidak akan lihat.”

Mika menatapnya tajam. “Karena mereka pikir aku cuma gadis desa.”

Pak Raka menatap anaknya lama.

Ada sesuatu di matanya.

Kesadaran pahit.

“Levis benar-benar membuat kalian jadi alat…”

Mika menggigit bibir.

“Kita hidup dulu. Baru pikirkan itu.”

Mereka bergerak keluar.

Satu langkah.

Dua.

Pak Raka hampir jatuh.

Mika menahan.

Di luar, suara motor menyala sebentar.

Penjaga lain tertawa.

Mereka lengah.

Mika menyeret ayahnya ke sisi gelap bangunan.

Mereka melewati tumpukan bata.

Pak Raka terengah.

“Kau tidak seharusnya…”

“Aku seharusnya apa?” Mika berbisik tajam. “Diam di rumah dan menunggu kalian hilang satu-satu?”

Pak Raka tidak menjawab.

Karena itu benar.

Mereka akhirnya sampai ke pagar belakang.

Ada celah kecil.

Mika mendorong dulu.

Pak Raka merangkak keluar dengan susah payah.

Begitu tubuhnya jatuh ke tanah luar…Pak Raka menutup mata.

Seolah baru sekarang ia percaya ia bebas.

Mika menarik napas panjang.

Lalu...

Suara teriakan dari dalam. “Hei!”

Mika membeku. Pak Raka menegang.

Langkah cepat mendekat. Mika menggenggam tangan ayahnya.

“Lari.”

Pak Raka tertawa pahit. “Dengan kaki begini?”

Mika menatap jalan desa yang gelap. “Kalau tidak bisa lari…”

Ia mengangkat wajahnya.“…kita sembunyi.”

Mereka bergerak tertatih ke semak-semak pinggir jalan, masuk ke gelap desa yang dingin.

Di belakang mereka, suara penjaga makin keras.

Tapi Pak Raka…sudah tidak di kursi itu lagi.

Dan untuk pertama kalinya malam ini, Levis kehilangan sesuatu.

Bukan sandera. Tapi kendali.

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!