NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 SWMU

Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden sutra di kamar utama milik Bramantya. Cahayanya yang keemasan jatuh tepat di wajah Nadia, namun kehangatan itu seolah memantul sia-sia pada kulitnya yang terasa sedingin es. Nadia tidak terbangun oleh cahaya itu; ia memang tidak pernah benar-benar tidur. Sepanjang malam, ia hanya menatap satu titik di dinding, menghitung detik demi detik yang berlalu sambil merasakan kehancuran yang telah meresap ke dalam sumsum tulangnya.

Di sampingnya, tempat tidur itu sudah kosong. Bramantya tampaknya sudah bangun lebih awal, mungkin untuk membersihkan sisa-sisa "kemenangannya" atau sekadar memulihkan wibawanya sebelum para pelayan melihatnya.

Nadia perlahan-lahan mendudukkan tubuhnya. Setiap gerakan terasa menyakitkan, seolah setiap inci ototnya memprotes trauma yang baru saja dialaminya. Ia melihat ke cermin besar di seberang ranjang. Sosok yang menatapnya balik bukanlah Nadia yang ceria, bukan pula Nadia yang ketakutan. Sosok itu memiliki mata yang kering, kosong, dan sangat dalam—seperti sebuah sumur tua yang tidak lagi memiliki dasar.

Tanpa suara, Nadia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar itu. Ia menyalakan air panas, membiarkan uap memenuhi ruangan. Ia menggosok kulitnya dengan sabun hingga memerah, seolah ingin mengelupas lapisan kulit yang telah disentuh oleh tangan Bramantya. Namun, tak peduli seberapa keras ia menggosok, rasa jijik itu tetap ada, berakar jauh di dalam hatinya.

Tepat pukul delapan, suara kunci pintu diputar. Nadia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi putih tebal milik Bramantya yang terlalu besar di tubuhnya. Ia berdiri mematung saat melihat Bramantya masuk membawa nampan sarapan, diikuti oleh Bi Inah yang menunduk dalam.

Bramantya tampak segar. Ia sudah mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan celana kain yang rapi. Tidak ada jejak kegilaan semalam di wajahnya. Ia tampak seperti pria terhormat yang sangat mencintai keluarganya.

"Selamat pagi, Nadia," sapa Bramantya. Suaranya lembut, penuh dengan nada kasih sayang yang kini terdengar seperti suara pisau yang digesekkan pada batu asah bagi telinga Nadia.

Nadia tidak menjawab. Ia berjalan perlahan menuju meja kecil di sudut ruangan dan duduk di sana. Tatapannya lurus ke depan, melewati sosok Bramantya seolah pria itu hanyalah udara kosong.

Bramantya meletakkan sarapan di depan Nadia—roti panggang, buah segar, dan susu hangat yang selalu ada. "Makanlah. Kau butuh tenaga. Setelah ini, Bi Inah akan membantumu kembali ke kamarmu untuk berganti pakaian. Aku ingin kita makan siang bersama di taman nanti."

Nadia masih diam. Ia tidak menyentuh makanan itu, tidak juga mengalihkan pandangannya.

Bramantya mengerutkan kening. Ia mendekati Nadia, mencoba menyentuh pipi gadis itu. "Nadia? Kau mendengarku?"

Begitu ujung jari Bramantya menyentuh kulitnya, Nadia tidak berteriak. Ia tidak menjauh dengan panik seperti biasanya. Ia hanya menoleh perlahan dan menatap mata Bramantya. Tatapan itu begitu dingin, begitu tajam, hingga Bramantya sendiri merasa tangannya membeku di udara.

"Jangan sentuh aku," ucap Nadia. Suaranya datar, tanpa emosi, namun mengandung otoritas yang membuat Bramantya tersentak.

Bramantya menarik tangannya kembali, mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Kau masih marah soal semalam? Nadia, mengertilah, itu semua terjadi karena aku takut kehilanganmu. Kau memaksaku melakukannya."

Nadia akhirnya menatap Bramantya sepenuhnya. Bibirnya membentuk senyum tipis—senyuman yang tidak sampai ke mata, senyuman yang jauh lebih mengerikan daripada isak tangis.

"Aku tidak marah, Paman," kata Nadia. Kata 'Paman' keluar dari mulutnya dengan nada sarkasme yang kental. "Marah adalah perasaan untuk orang yang masih memiliki harapan. Aku? Aku tidak merasakan apa-apa lagi. Kau sudah mengambil segalanya, bukan? Jadi, apa lagi yang tersisa untuk dirasakan?"

Bramantya terpaku. Ia mengharapkan Nadia akan histeris, memaki, atau memohon untuk dilepaskan. Namun, ketenangan yang dingin ini tidak ada dalam rencananya. Nadia yang sekarang seolah-olah telah membunuh bagian dari dirinya yang bisa terluka, dan menyisakan sebuah benteng baja yang tak tertembus.

"Bagus jika kau sudah tenang," sahut Bramantya, berusaha menguasai keadaan kembali. "Aku melakukan ini demi masa depanmu. Pak Hendra sudah tidak bisa mengganggumu lagi. Sekarang hanya ada kau dan aku di mansion ini."

"Hanya kau dan aku," Nadia mengulang kalimat itu dengan suara seperti bisikan maut. "Dan Tuhan sebagai saksi atas apa yang kau lakukan di rumah ini."

Bramantya mendengus. "Tuhan tidak punya kuasa di dalam Mansion Mahendra, Nadia. Hanya aku."

Nadia bangkit dari kursinya. Ia berdiri tegak, membiarkan jubah mandi yang kebesaran itu terseret di lantai. Ia berjalan mendekati Bramantya hingga mereka hanya berjarak beberapa senti. Aroma cendana pria itu kembali menyerangnya, namun kali ini Nadia tidak merasa pening. Ia justru merasa mual yang terkendali.

"Kau menang, Bramantya," bisik Nadia tepat di depan wajah pria itu. "Kau mendapatkan tubuhku. Kau mendapatkan tanda tanganku di dokumen perwalian itu. Kau mendapatkan rumah ini. Tapi kau harus tahu satu hal..."

Nadia menjeda kalimatnya, matanya berkilat dengan kebencian yang murni. "Kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau cari. Kau mencari ibuku dalam diriku, tapi kau hanya akan menemukan hantu yang akan menghantuimu sampai kau mati. Mulai hari ini, aku akan menjadi bayangan yang akan membuatmu menyesal telah membiarkanku tetap hidup."

Bramantya mencengkeram rahang Nadia, sedikit keras. "Jangan mencoba mengancamku, Nadia. Aku bisa mengurungmu lagi di kamar bawah tanah jika aku mau."

"Lakukan saja," tantang Nadia tanpa berkedip. "Kurung aku, rantaiku, bunuh aku jika perlu. Tapi setiap kali kau menyentuhku, kau akan tahu bahwa kau sedang menyentuh mayat. Tidak akan ada cinta, tidak akan ada pengakuan, hanya ada kebencian yang akan membusuk di sekelilingmu."

Bramantya melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Ia merasa harga dirinya terusik oleh sikap dingin Nadia. Ia lebih suka Nadia yang menangis dan memohon, karena itu membuatnya merasa berkuasa. Nadia yang sekarang... Nadia yang sekarang membuatnya merasa seperti seorang pecundang yang hanya mendapatkan cangkang kosong.

"Bi Inah! Bawa dia keluar dari sini!" teriak Bramantya frustrasi.

Bi Inah segera maju dan membimbing Nadia keluar. Saat melewati ambang pintu, Nadia berhenti sejenak. Ia tidak menoleh ke arah Bramantya, namun suaranya menggema di ruangan itu.

"Nikmati kemenanganmu pagi ini, Paman. Karena setiap malam yang akan datang, aku akan pastikan kau tidak akan pernah bisa tidur dengan tenang lagi."

Sepanjang jalan kembali ke kamarnya, Nadia berjalan dengan kepala tegak. Para penjaga yang melihatnya tidak lagi berani menatap matanya. Ada sesuatu yang berubah pada aura gadis itu. Ia bukan lagi tawanan yang menunggu diselamatkan; ia adalah tawanan yang sedang membangun senjatanya sendiri.

Sesampainya di kamarnya, Bi Inah membantu Nadia berganti pakaian. Pelayan tua itu tampak ingin mengatakan sesuatu, bibirnya gemetar, namun ia terlalu takut.

"Jangan katakan apa-apa, Bi," ucap Nadia saat Bi Inah sedang merapikan rambutnya. "Simpan air matamu untuk hari pemakaman tuanmu nanti."

Bi Inah tersentak hingga menyisir rambut Nadia terlalu keras. Ia menatap Nadia dari cermin dengan ketakutan yang amat sangat.

Nadia hanya tersenyum dingin menatap pantulannya sendiri. Ia mengambil liontin gembok di lehernya, yang kini terasa seperti medali kehancuran. Ia tidak mencoba melepasnya lagi. Ia justru merapikannya. Gembok itu akan menjadi pengingatnya setiap hari—pengingat bahwa ia harus menjadi lebih kejam daripada pria yang mengurungnya.

Mansion Mahendra tetap berdiri megah, namun di dalamnya, angin perubahan mulai bertiup. Bramantya Mahendra mengira ia telah menjinakkan Nadia dengan kekerasan, tanpa menyadari bahwa ia baru saja menciptakan musuh paling mematikan yang pernah ia hadapi—musuh yang tidak takut mati, karena ia merasa jiwanya sudah diambil.

Pagi itu, kebencian Nadia bersemi dengan indahnya, sehitam mawar yang layu, dan setajam belati yang siap menghujam jantung sang pemilik mansion.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!