*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.
Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPILOG
Malam itu hujan deras menyiram atap rumah tua saya. Saya sedang membersihkan lemari kayu yang penuh dengan debu ketika sebuah kotak kecil jatuh dari lantai atas. Saya membukanya dengan hati-hati, dan di dalamnya ada sehelai kain hitam yang masih berbau darah dan bunga kamboja. Saat saya menyentuh kain itu, lampu di dalam kamar padam total. Dari arah belakang rumah terdengar suara nyanyian – suara yang saya kenal karena pernah dengarnya dari bibir ibu saya saat dia sedang sekarat.
Saya berbalik, dan melihatnya berdiri di pintu: wanita berjubah hitam dengan wajah yang terbakar oleh api yang tak pernah padam. Matanya penuh dengan air mata, dan dia mengulurkan tangan ke arah saya. 'Sevira,' katanya dengan suara yang seperti gesekan batu, 'waktunya telah tiba. Kamu harus datang dengan kami. Atau semua orang yang kamu cintai akan mati dengan cara yang paling menyakitkan.'
Saat dia mendekat, saya melihat wajah-wajah lain di baliknya – wajah anak-anak yang matanya kosong, wajah pria yang lehernya terbuka lebar, dan wajah wanita yang tersenyum dengan bibir yang penuh dengan darah. Itu adalah malam pertama saya menyadari bahwa saya tidak pernah sendirian di rumah ini. Dan bahwa ketakutan yang akan datang tidak akan pernah berakhir."*
BAB 1
RUMAH DI JALAN PANGGUNG KEMATIAN
Hujan deras menyiram jalanan aspal yang licin di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip. Saya menarik erat jas hujan yang sudah aus, menatap rumah tua yang berdiri di ujung Jalan Panggung Kematian nama yang benar-benar sesuai dengan penampakannya. Pagar besi yang berkarat membungkuk seperti tulang yang patah, dan pagar kayu di sebelahnya sudah roboh sebagian, ditinggalkan begitu saja seperti mayat yang tak ada yang peduli.
Udara terasa berat, bercampur bau tanah basah, kayu lapuk, dan sesuatu yang lain sesuatu yang manis namun menyengat, seperti darah yang sudah mengering tapi masih ada bekasnya. Saya mendengar suara gemeretak dari dalam halaman, bukan dari angin atau pohon yang goyah, melainkan seperti ada orang yang sedang menarik kayu dari dalam rumah.
Tanganku gemetar saat membuka gerbang pagar. Bunyi kresek yang menusuk telinga membuat saya terkejut mundur. Dari balik rerumputan yang tinggi, saya melihat bayangan panjang menyilang teras rumah bentuknya seperti wanita yang berjubah panjang, tapi ketika saya menggosok mata dan melihat lagi, tidak ada yang ada di sana. Hanya tirai jendela yang bergoyang perlahan-lahan, padahal tidak ada angin yang bisa masuk ke dalam.
“Sevira… kamu pasti bisa melakukannya,” bisik saya sendiri, menyentuh liontin perak yang selalu saya kenakan – hadiah terakhir dari ibu sebelum dia pergi. Saat ujung jariku menyentuh logam yang dingin, aku merasakan getaran kecil yang mengalir dari liontin ke seluruh tubuhku, seperti listrik yang lemah tapi membuat kulitku berdiri ria.
Pak Darmo, agen sewa rumah yang menjemputku di depan gerbang, menghela napas berat saat melihatku masih berdiri di tengah hujan. “Kamu yakin, Bu Sevira? Rumah ini sudah kosong lebih dari lima tahun. Tidak ada yang mau menyewanya setelah kejadian dulu.”
“Apa kejadiannya?” tanyaku, mencoba menutupi rasa takut dengan suara yang tegas.
Dia menggelengkan kepala, wajahnya tampak sedih dan sedikit takut. “Seseorang ditemukan di dalam kamar paling dalam. Wanita juga. Ditemukan dengan posisi duduk melingkari sesuatu yang digali di lantai. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, tapi wajahnya… seperti melihat sesuatu yang sangat mengerikan.” Dia menggaruk lehernya, mata melihat ke arah rumah seolah khawatir sesuatu akan keluar dari sana. “Kamu dokter kan? Seharusnya tidak takut sama hal-hal gini kan?”
Saya hanya tersenyum lemah. Sebenarnya saya sangat takut. Tapi saya tidak punya pilihan lain. Rumah ini satu-satunya yang bisa saya bayar dengan gaji dokter di klinik masyarakat yang baru saya tempati. Selain itu, ada sesuatu yang menarikku ke sini rasa akrab yang tidak bisa saya jelaskan, seperti pernah tinggal di sini dulu kala.
Kita masuk ke dalam rumah melalui pintu utama yang sudah lapuk. Bau kayu busuk dan debu menyengat hidungku. Lampu yang saya nyalakan dengan senter hanya menerangi sebagian kecil ruangan, sisanya tertutup kegelapan yang dalam. Lantai kayu berderak setiap kali kita menginjaknya, dan di sudut ruangan tamu, saya melihat kain hitam tebal yang tergantung di atas kursi tua. Kain itu terlihat berbeda dari barang-barang lainnya tidak ada debu di atasnya, seolah baru saja ditempatkan di sana kemarin.
“Kain itu sudah ada sejak saya pertama kali datang ke rumah ini,” ujar Pak Darmo, seperti membaca pikiranku. “Saya pernah mencoba membuangnya, tapi selalu muncul lagi di tempat yang sama. Kadang di kursi, kadang di atas meja, bahkan pernah ada di atas tempat tidur kamar utama.”
Saya mendekat untuk menyentuhnya. Saat jariku hampir menyentuh kain, aku merasakan sentuhan dingin menyentuh leherku seperti tangan yang tidak memiliki tubuh menyentuh kulitku. Aku menjerit kecil dan menjatuhkan senterku. Cahaya padam total, dan di kegelapan itu aku mendengar suara nyanyian yang lemah nada yang pelan tapi menusuk hati, seperti lagu pengantar tidur yang dibawakan dengan penuh kesedihan.
Pak Darmo menyalakan korek api, menerangi wajahnya yang pucat. “Kita harus pergi sekarang, Bu Sevira. Sudah larut malam, dan rumah ini… tidak baik untuk ditempati saat malam datang.”
Saya mengangguk, tapi mata saya tetap terpaku pada kain hitam yang kini tampak lebih gelap dari sebelumnya. Di permukaannya, ada pola yang samar-samar terlihat saat api korek api bergoyang seperti lingkaran dengan simbol-simbol aneh di dalamnya.
Sebelum keluar, aku melihat sebuah amplop kecil di bawah alas kursi. Kertasnya sudah kuning dan sobek di sudutnya. Aku diam-diam menyimpannya ke dalam kantong jas hujan sebelum Pak Darmo melihatnya.
Setelah Pak Darmo pergi, aku kembali ke depan rumah dengan payung yang saya pinjam darinya. Hujan sudah mulai reda, tapi kabut tebal sudah mulai menyelimuti jalanan. Aku berdiri di depan gerbang, menatap kamar yang memiliki cahaya samar dari dalam padahal aku yakin semua lampu sudah mati dan tidak ada listrik yang terhubung ke rumah ini.
Aku mengambil amplop dari kantong dan membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya ada sehelai kertas dengan tulisan tangan yang goyah:
“Jangan sentuh kain itu. Jangan masuk ke kamar paling dalam. Jangan pernah merenungkan lingkaran yang kamu lihat. Jika kamu tetap tinggal di sini, mereka akan datang untukmu. Mereka akan memanggil namamu di malam hari. Dan kamu tidak akan bisa menolak panggilan itu.”
Di bagian bawah kertas, ada nama yang ditulis dengan cat merah yang tampak seperti darah: “Sri Maharani Ibumu.”
Aku merasa dada terasa sesak dan mata mulai berkaca-kaca. Itu tulisan tangan ibu yang aku kenal dengan baik dia selalu menulis dengan gaya huruf yang unik di setiap suratnya padaku. Tapi mengapa surat ini ada di rumah yang baru aku sewa? Bukankah ibu tidak pernah tinggal di Manado selama hidupnya?
Saat aku mengangkat kepala, aku melihat mereka berdiri di teras rumah sekelompok wanita berjubah hitam yang bentuknya sama dengan bayangan yang kudengar tadi malam. Mereka tidak bergerak, hanya berdiri melingkari pintu kamar utama, dan di tengah mereka ada sesuatu yang bersinar dengan warna emas terang pola yang sama seperti yang kudengar di kain hitam dan ditulis di surat itu.
Salah satu dari mereka mengangkat tangan, menunjukkan telapak tangannya yang putih seperti tulang. Dia kemudian membuka mulutnya, dan meskipun tidak ada suara yang keluar, aku bisa membaca bibirnya yang bergerak: “Sevira… Kamu sudah datang.”
Aku merasa kaki aku tidak bisa bergerak. Payungku jatuh ke tanah dan hujan mulai menyiram wajahku lagi. Tapi aku tidak merasakan dinginnya hanya rasa takut yang menusuk hingga ke tulang, dan rasa rindu yang membuat hatiku sakit parah.
Mereka sudah tahu nama ku. Dan sepertinya aku sudah menjadi bagian dari cerita rumah ini jauh sebelum aku memutuskan untuk datang ke sini.