Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUNIA HANTU
"Kamu Salsa?" tanya seorang mahasiswi tiba-tiba duduk di depan Salsa saat dia, Rindu, dan Devita serta Imam, mengerjakan tugas kelompok di lobi jurusannya.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Salsa ramah, teman-temannya melihat interaksi Salsa dengan dua temannya itu, Rindu melirik tak suka, sok banget wajahnya.
"Kamu kemarin ngapain mencari pacar aku?" tanyanya dengan sewot, bahkan pakai tunjuk-tunjuk wajah lagi. Rindu langsung menyindir.
"Tamu sopan dikit bisa kali," ceplos Rindu sembari menulis tugas kelompok, dan dilirik tajam oleh perempuan itu.
"Ouh, Kak Syailendra? Maaf, Mbak. Saya cuma mau tanya soal Pak Amar, kata teman saya Kak Syailendra asisten dosen beliau," ujar Salsa tak mau membalas kesewotan cewek itu.
"Lain kali langsung ke ruangannya Pak Amar saja, gak usah caper sama cowok orang," ujarnya ketus kemudian beranjak pergi.
"Dih, gak ada sopan-sopannya sih, siapa sih tuh orang!" baru deh saat cewek tersebut pergi, Salsa mulai jutek dan menatap tajam. Rindu langsung menelepon temannya yang bertemu di lobi jurusan kemarin.
"Sal, Kak Syailendra punya pacar?" tanya Rindu to the point, tak suka saja sama cara bertanya cewek tadi pada Salsa.
"Gak punya."
"Yakin lo? Atau lo yang gak tahu?"
"Dibilangin gak punya, kenapa? Naksir? Emang ganteng dan pinter sih, wajar banyak yang naksir dan ngaku pacar dia."
"Teman gue yang kemarin aku ajak ke jurusan lo habis disamperin cewek, ngakunya pacar si asdos itu. Dih sombong amat, gak tahu sopan santun masuk jurusan orang," protes Rindu dan dibalas tawa oleh Faisal.
"Sandrina mungkin, mahasiswi semester 8 itu, dari dulu ngaku pacar Syailendra memang, cuma kata si laki cewek itu hanya obsesi padanya. Kasihan dong teman lo!" masih saja Faisal tertawa, karena kasihan juga pada korban labrak Sandrina.
Dari kejadian ini, Salsa gak bakal mau bertemu dengan Syailendra, kalau Karin memaksa biar dia suruh menunjukkan wajahnya ke Syailendra saja sekalian. Dipikir Salsa perempuan caper ke cowok apa, baru sekali bertemu saja sudah dilabrak, apalagi kalau sampai Salsa ngobrol, duh repot amat pacar orang.
Lagian dia tahu dari mana coba Salsa mencari Syailendra, terbesit tuduhan pada gadis yang Salsa temui di lab itu. Ya ngapain coba langsung lapor, menyebalkan.
Sedangkan Karin sendiri duduk termenung sendiri di tangga lantai 3, menunggu Pak Amar masuk ke ruangan. Nyatanya ia malah tak bertemu sama siapa-siapa, hanya makhluk sealam dengannya.
"Penghuni baru?" tanya si Mbak rambut panjang dengan mata hitam dan baju putihnya, duduk di angin-angin jendela.
"Enggak, aku mau mencari seorang dosen?" ucap Karin sembari mengayunkan kakinya.
"Siapa? Penghuni ruangan itu?" tanya si Mbak kepo. Karin mengangguk. Kemudian si Mbak terkikik geli dengan suara nyaring.
"Percuma datang sepagi ini, orang itu hanya masuk ke ruangan ini hari rabu dan jumat sore aja, menjelang maghrib deh kamu nongkrong di sini lagi," ujar si Mbak sudah hafal dengan penghuni ruangan itu.
"Kamu berkuasa di area ini?" tanya Karin lagi.
"Enggak, mereka sedang berkeliaran di ruang lain. Kenapa kamu mau gabung dengan kita?" tanya si Mbak, sepertinya ramah. Karin menggeleng.
"Aku ingin kembali ke alam yang semestinya," ujar Karin sendu, namun si Mbak kembali tertawa dengan nyaring.
"Kamu masih ada dendam yang menghalangi kamu kembali ke duniamu sekarang. Gara-gara dosen itu?" tebak si Mbak, dan Karin mengangguk. Sesama hantu pasti tahu kenapa arwah tak tenang, dan berkeliaran di area manusia.
"Dendam sama dosen itu?" tanya si Mbak lagi, dan Karin mengangguk. "Ganjen sih kamu," semprot si Mbak. Karin langsung menatap tak suka, meski yang diucapkan si Mbak benar.
"Namanya juga khilaf dan keenakan," ujar Karin tak suka kalau seseorang menghakimi kenakalannya waktu masih hidup.
"Dosen itu memang sedikit nakal, tapi tidak semua mahasiswa bisa ditawar sih. Kalau sampai ditawar dia pasti dianggap sesuai kriterianya, apalagi kamu pakai seragam SMA begini, mati saat SMA?" tanya si Mbak lagi. Karin kembali mengangguk.
"Perawan?" tanya si Mbak, dan Karin mengangguk. "Ya itu sesuai kriteria dia."
"Tapi dia jahat gak mau tanggung jawab saat aku hamil," curhat Karin, si Mbak malah turun, dan dia malah bermain perosotan pada pegangan tangga.
"Kamu jadi perempuan kok bodoh, ya kalau digasak sama dia, bakal hamil lah. Kamu gak minum pil?" Karin mengangguk, dan kembali dibilang bodoh.
"Kamu sendiri kenapa gak tenang dan berkeliaran di sini?" tanya Karin, ia yakin si Mbak juga ada dendam yang belum tuntas.
"Aku dulu dikurung sama seorang mahasiswi di kamar mandi situ," ujar si Mbak sembari menunjuk lorong pojok di depan lab. "Sedangkan gedung ini jarang dilewati mahasiswa atau dosen lain, kecuali anak penelitian. Aku terkurung sampai tiga hari, aku kehabisan oksigen, lapar, aku teriak gak ada yang dengar!" ujar si Mbak sendu.
"Terus pelakunya?"
"Dia katanya pindah ke luar negeri, anak orang berada jadi bisalah bayar buat tutup kasus!" ujar si Mbak. Karin paham sekarang, si Mbak juga ingin menuntut balas, namun orangnya sudah tidak akan pernah menginjakkan kaki di sini. Oleh sebab itu, si Mbak betah menjadi penghuni di sini.
"Kamu berkeliaran di mana sebelum ke mari?" tanya si Mbak, masih dengan perosotan di pegangan tangga. Karin pun menceritakan soal Salsa, dia memilih gadis itu membantu Karin menemui Pak Amar, karena Salsa adalah gadis terakhir yang membantunya, memberi minuman di saat ia lelah mengunjungi apartemen Pak Amar.
"Dia bisa lihat kita?" tanya si Mbak, namun Karin menggeleng.
"Hanya aku yang bisa ia lihat!" jawab Karin.
"Baguslah, kasihan kalau dia bisa lihat yang lain, karena pasti banyak yang minta tolong sama dia buat menuntaskan dendam." Karin mengangguk, ia saja kasihan pada Salsa yang harus dicueki oleh Syailendra kemarin.
"Dosen itu katanya punya asisten, kamu tahu?" tanya Karin. Si Mbak menggeleng.
"Apa itu asisten?" hah Karin sendiri juga gak tahu apa itu asisten, dia mendengar istilah itu dari pembicaraan antara Salsa dan temannya.
Dua hantu berpikir soal asisten, Syailendra naik tangga sembari menggunakan earphone. Karin langsung menunjuk asisten Pak Amar itu pada si Mbak.
"Oh mas ganteng ini, ini mah gak pernah kita ganggu, karena dia baik!" ujar si Mbak dengan kesemsem, Karin mengerutkan dahi.
"Kamu naksir?" tanya Karin. Si Mbak mengangguk kemudian terkikik nyaring, Karin hanya menggelengkan kepala, sudah jadi hantu masih bisa ganjen. Kemudian Karin dan si Mbak mengikuti Syailendra masuk ke lab.
"Dia biasanya sampai malam di sini, garap penelitian," ujar si Mbak yang sudah tahu jadwal Syailendra masuk lab, bahkan dia mempunyai kunci lab, diberi akses oleh sang laboran.
"Dia mahasiswa kesayangan dosen yang kamu cari," ujar si Mbak.
"Kenapa?" tanya Karin.
"Ya karena dia pintar lah!" jawab si Mbak ketus.