Sequel dari OH MY JENY
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
" Kau selalu bilang padaku, apa yang harus kau lakukan untuk membalas semuanya Dean?"
" Aku akan melakukan apapun untukmu Tuan!"
" Kalau begitu menikahlah dengan putriku!"
Deg
Tubuh Dean menegang seketika
Kebohongan yang dilakukan Bulan membuat sang ayah murka. Hingga Ken memaksa putrinya untuk menikah bersama pria pilihannya yaitu Dean sebastian. Seorang pengusaha sukses yang sangat cerdas dari Paris
"Aku sungguh tidak menyukainya, dia terlalu pendiam dia bukan tipeku sama sekali Dad"
Baca selanjutnya ➡➡➡
Selalu tinggalkan Jejak, Like dan Vote 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku pria dewasa dan normal
-
-
Suara dering ponsel menyadarkan Bulan dari keterpakuannya dengan ucapan Dean. Bulan segera bergerak berangsur mengambil ponsel yang masih berada didalam tasnya
" James. " gumamnya
Bulan langsung turun dari ranjang dan berlari keluar dari kamar. Ia menuju balkon dan menerima panggilan dari James disana
" James. " panggil Bulan menatap layar dimana wajah tampan kekasihnya tersenyum begitu lebar
" Sayang kau kemana saja, aku sangat khawatir kau tidak menghubungiku sejak datang ke Paris." suara James terdengar panik ditelinga Bulan membuat gadis itu merasa bersalah, ia melupakan James dan sibuk dengan Dean
" Maafkan aku James, aku sangat lelah sejak datang kesini. " bohong Bulan
" Kau baik-baik saja kan? pria itu tidak macam-macam padamu?".
" I'm oke, dia tidak melakukan apapun padaku Sepertinya dia seorang g*y ." kikik Bulan tiba-tiba meledek Dean
" Baguslah kalau tidak menyukai perempuan. Itu artinya dia tidak akan menyentuhmu. "
" Hmm iya sayang. Jangan khawatir aku akan memegang janjiku padamu." saut Bulan
" Terima kasih sayang. I love you. "
" I love you too James. " saut Bulan
" Aku rindu kamu Bulan. "
" Aku juga merindukanmu. " saut Bulan memaksakan senyumnya. Nyatanya ia tak mengingat James sama sekali saat bersama Dean
Tak lama panggilan video itu berakhir dan wajah James menghilang dari layar ponselnya. Bulan menghela nafasnya memandang sejenak keramaian kota Paris dimalam hari. Lalu ia kembali kedalam menuju kamar
Bulan tersenyum melihat Dean yang sudah meringkuk di atas kasur. Namun pandangan Bulan sedikit tak nyaman karena Dean hanya menggunakan celana boxer dan kaos tanpa lengan saja untuk tidur malam ini
Bulan segera menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Seperti biasa wanita itu selalu memakai piyama pink untuk pakaian tidurnya. Lalu ia kembali pada Dean, merangkak naik ke atas ranjang
" Apa tidak ada warna lain?" tanya Dean memperhatikan Bulan
" Semua baju tidurku berwarna pink. " ujar Bulan membaringkan tubuhnya membelakangi Dean. Sontak Dean langsung mendekat dan menyusupkan kedua tangan untuk mendekap Bulan
" Lepaskan Dean. " ucap Bulan yang tak nyaman Dean menempel seperti ini, terlebih ia merasa sesuatu yang mengganjal pada bagian bokongnya membuat Bulan meneguk ludahnya susah payah
" Apa dia sedang on, kenapa ini terasa besar. " batin Bulan
" Nanti aku belikan yang warna hitam. Kau tahu warna itu sangat kekanak-kanakan. " ucap Dean. Bulan menggeliyatkan tubuhnya saat terpaan nafas hangat itu menggelitik kulit lehernya
" Kenapa kau tidak bisa diam. " ucap Dean lagi semakin mengeratkan pelukannya
" Dean .. Dean kau mau membunuhku. "
" Kenapa? kau tidak bisa bernafas?"
" Sudah tahu masih bertanya. " gerutu Bulan
" Kalau begitu kau saja yang memelukku. "
" Kenapa kau senang sekali aku peluk?"
" Aku hanya ingin tidur nyenyak. " saut Dean melonggorkan dekapannya dan langsung menarik tubuh Bulan agar menghadapnya
" Kau selalu bermimpi buruk?"
" Iya, aku tidak tahu itu mimpi apa, tapi itu sangat menakutkan. Peluklah aku. " ucap Dean manja memelaskan wajahnya
" Kau selalu mengataiku anak kecil, tetapi lihatlah sekarang kau yang seperti anak kecil. " ejek Bulan tapi ia melakukan apa yang Dean perintahkan. Ia memeluk Dean dengan erat dan mengusap-usap rambut belakang Dean
" Aku sangat nyaman seperti ini, jangan berhenti. " Dean membalas pelukan Bulan dan menyusupkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma tubuh yang membuatnya merasa tenang dan terlindungi
" Dean, kau tidak kedinginan. " ucap Bulan
Dean menarik selimut dengan kakinya tanpa menjauhkan tubuhnya dari Bulan kemudian ia selimuti tubuh dirinya dan Bulan
" Apa masih dingin?" tanya Dean
" Aku tidak kedinginan. Aku bertanya padamu karena kau memakai baju yang terbuka. "
" Kau membuatku hangat. Pelukanmu. " saut Dean lembut
Bulan tertawa kecil dan itu membuat Dean menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Bulan untuk melihat wajah imut gadis itu
" Tidurlah, ini sudah malam. "
" Besok aku bebas dan bisa tidur seharian. " saut Bulan menyengir
" Siapa bilang? kau harus membereskan rumah dan memasak untukku mulai sekarang. "
" Yang benar memangnya kau tidak punya pembantu?"
" Tidak mulai besok. Aku sudah punya seorang istri yang akan mengurus rumahku. " Dean memberikan senyuman manisnya hingga Bulan terkesima untuk beberapa saat
" Kau tega sekali aku bahkan tidak pernah melakukannya saat di rumah. "
" Kau harus belajar, jadilah istri yang baik. " ucap Dean lalu menyusupkan kembali wajahnya
" Dean, kau membawaku kesini hanya untuk menjadi pembantu?"
" Tidak ada yang gratis didunia ini, aku memberimu makan dan memenuhi semua kebutuhanmu. "
" Dasar pria gila. " umpat Bulan kesal memukul-mukul gemas kepala Dean
" Tidurlah atau aku akan berubah pikiran, aku juga pria dewasa dan normal, aku bisa saja menerkammu malam ini. " ucap Dean
Bulan meneguk ludahnya susah payah langsung memejamkan mata dan membungkam bibirnya, nafasnya memburu ketakutan membuat Dean tersenyum karenanya
Keesokan paginya Bulan merasa tubuhnya pegal karena Dean tak melepaskan pelukannya sedikitpun tadi malam. Bahkan pria itu tak mengubah posisinya sejak semalam. Ia bergerak menjauhkan wajah Dean dari lehernya dan terkejut ternyata Dean sudah bangun
" Kau sudah bangun?"
Dean hanya mengangguk dan memberikan senyuman padanya. Tangan kekar itu juga memberikan usapan lembut pada pipinya
" Kenapa kau diam saja, kau tahu tubuhku pegal semua karenamu. "
" Ini sangat nyaman. Pelukanmu. " saut Dean manja
" Apa wanita itu juga sering memelukmu?"
" Iva juga sering memelukku. " saut Dean. Mendadak raut wajah Bulan kesal seketika dan kedua tangan itu menjauh dari tubuh Dean. Ia beringus bangun duduk membelakangi Dean diikuti Dean yang merasa heran. Pria itu langsung mendekapnya dari belakang
" Iva memang sering memelukku namun pelukannya tak seperti pelukan Mama. " ucap Dean
" Lalu siapa yang seperti Mamamu?. "
" Kau. " saut Dean cepat membuat Bulan tersenyum begitu lebar
" Aku mau mandi lepaskan aku. "
" Mandilah dan buat sarapan untuk suamimu. " ucap Dean tiba-tiba mengecup pipi Bulan hingga Bulan mematung dan wajah itu merona tiba-tiba
" Apa yang kau tunggu kau bila-" bahkan Dean belum selesai bicara gadis itu sudah berlari terbirit ke kamar mandi
Bulan menutup pintu rapat dan berdiri mematung disana. Ia memegangi dadanya yang terus berdebar karena kecupan manis Dean dipipinya
" Dean kau sangat lancang. " gumam Bulan
-
-