Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17 - Kemoterapi
Keiko mulai punya dua jadwal.
Jadwal pertama adalah jadwal yang bisa dilihat semua orang. Sekolah, kelas tambahan, kelompok belajar di meja belakang, tugas kimia, latihan matematika untuk Kelvin, Bagas, dan kadang Dimas yang sebenarnya tidak terlalu membutuhkan bantuan tetapi tetap duduk di sana agar Bagas tidak menyerah pada soal pertama.
Jadwal kedua ada di ponselnya, disembunyikan di kalender dengan judul sangat biasa.
`Les tambahan.`
Tidak ada yang mencurigai judul itu.
Murid pintar ikut les tambahan adalah hal paling masuk akal di dunia.
Hari Kamis, setelah bel terakhir, Bagas sudah menarik kursi terbalik seperti biasa. "Nona Guru, hari ini kita menaklukkan apa? Matematika? Kimia? Atau ego Bang Kel?"
Kelvin melempar tatapan malas. "Nilai lu lebih butuh ditolong daripada ego gue."
"Betul juga." Bagas langsung menoleh ke Keiko. "Selamatkan saya."
Keiko membuka tas, tetapi bukan untuk mengeluarkan latihan. Dia merapikan buku-bukunya, lalu tersenyum kecil.
"Hari ini aku tidak bisa ikut. Ada les tambahan."
Kelvin berhenti memutar pulpen.
"Les apa?"
"Materi tambahan."
"Di mana?"
Keiko memasukkan botol air hangat ke tas. "Dekat Pasteur."
Bagas bersiul. "Jauh amat. Anak pintar memang levelnya beda."
Dimas menatap Keiko lebih lama dari yang lain. Matanya turun sebentar ke wajah Keiko yang sedikit lebih pucat hari itu, lalu kembali ke buku. "Pulangnya dijemput?"
"Iya," jawab Keiko.
Itu tidak sepenuhnya benar.
Grab yang dia pesan bukan jemputan.
Kelvin masih menatapnya. "Mau diantar?"
Keiko menggeleng terlalu cepat. "Tidak perlu. Tempatnya dekat rumah guru les."
"Tadi bilang Pasteur."
"Maksudku dekat dari sana."
Bagas mengerutkan kening, tampak bingung, tetapi sebelum dia sempat bertanya, Keiko sudah berdiri.
"Besok aku bawakan latihan baru. Hari ini kerjakan halaman yang kemarin, ya."
Kelvin tidak menjawab.
Keiko mengambil tas, berjalan keluar kelas dengan langkah yang dibuat stabil. Baru ketika sudah sampai di ujung koridor, dia berani mengeluarkan napas.
Ponselnya bergetar.
**Kak Sari**: Mau aku temani?
Keiko membalas sambil berjalan ke gerbang belakang.
**Keiko**: Tidak usah. Cuma sebentar.
**Kak Sari**: Jangan bohong soal rasa sakit.
Keiko menatap kalimat itu beberapa detik.
Lalu mengetik:
**Keiko**: Aku akan pulang kalau selesai.
Kak Sari tidak membalas dengan kata-kata. Dia hanya mengirim satu stiker wajah marah.
Keiko tersenyum tipis, lalu masuk ke mobil Grab yang sudah menunggu.
Rumah sakit swasta di daerah Pasteur sudah terlalu akrab baginya. Lantai yang mengilap, bau antiseptik, suara roda ranjang yang lewat sesekali, lift yang selalu terasa terlalu lambat. Semua itu menyambut Keiko seperti rutinitas yang tidak pernah dia minta.
Di meja administrasi, perawat mengenal wajahnya.
"Sendiri lagi, Keiko?"
Keiko mengangguk sopan. "Iya, Kak."
"Bu Tuti tidak ikut?"
"Ada urusan rumah. Nanti dijemput."
Perawat itu tidak memaksa, tetapi matanya melunak. "Kalau pusing setelah tindakan, jangan langsung pulang. Duduk dulu di ruang observasi."
"Iya."
Kata itu keluar otomatis.
Di ruang kemoterapi, kursi-kursi tersusun dengan jarak rapi. Beberapa pasien dewasa duduk dengan selimut di pangkuan. Ada yang ditemani keluarga, ada yang tidur, ada yang menonton drama dari ponsel dengan volume sangat kecil.
Keiko memilih kursi dekat jendela.
Dari sana, dia bisa melihat langit Bandung yang pelan-pelan berubah mendung. Jika dia memiringkan kepala sedikit, dia bisa membayangkan dirinya sedang duduk di kelas, bukan di ruangan dengan tiang infus dan selang bening.
Perawat memasang akses infus dengan hati-hati.
"Tarik napas, ya."
Keiko menarik napas.
Jarum masuk.
Dia tidak menangis.
Rasa sakit jarum bukan yang paling buruk. Yang paling buruk adalah sensasi setelah obat mulai mengalir. Dingin yang tidak seperti air es. Lebih dalam. Seolah sesuatu memasuki pembuluh darahnya, membawa lelah yang belum terjadi tetapi sudah menunggu di ujung tubuh.
Keiko menggenggam lengan kursi.
Ponselnya menyala.
**Kelvin**: Sampai?
Keiko menatap pesan itu.
Di layar atas, pantulan wajahnya tampak pucat. Bibirnya kering. Rambutnya diikat rapi, tetapi beberapa helai menempel di pelipis karena keringat dingin.
Dia mengetik:
**Keiko**: Sudah.
Balasan datang cepat.
**Kelvin**: Jangan lupa makan.
Keiko hampir tertawa.
Di hadapannya, ada biskuit tawar yang disiapkan perawat, tetapi hanya melihatnya saja membuat perutnya berputar.
**Keiko**: Iya.
**Kelvin**: Iya doang biasanya bohong.
Jari Keiko berhenti di atas layar.
Kelvin terlalu cepat belajar.
Dia mengetik:
**Keiko**: Kamu kerjakan soal.
**Kelvin**: Sedang.
Beberapa detik kemudian, foto kertas latihan masuk. Tulisan Kelvin masih berantakan, tetapi langkahnya lebih lengkap daripada minggu lalu.
Keiko menatap foto itu lama.
Di tengah ruangan kemoterapi, dengan obat mengalir ke tubuhnya dan rasa mual mulai naik dari perut, foto soal matematika itu terasa seperti tali kecil yang mengikatnya ke dunia luar.
Dia memperbesar gambar, lalu mengetik koreksi singkat.
**Keiko**: Baris ketiga, tandanya salah.
**Kelvin**: Nona Guru tetap galak waktu les.
Keiko membalas:
**Keiko**: Salah tetap salah.
**Kelvin**: Iya.
Dia menatap kata `iya` dari Kelvin dan tiba-tiba ingin menangis.
Prosedur selesai hampir dua jam kemudian.
Keiko berdiri terlalu cepat dan dunia langsung bergeser. Perawat menahannya.
"Duduk dulu."
"Saya tidak apa-apa."
Perawat itu menatapnya dengan wajah yang jelas tidak percaya, tetapi membantunya duduk kembali.
"Mau saya telepon pendamping kamu?"
Keiko langsung menggeleng. "Tidak usah."
"Keiko."
Nada perawat itu bukan marah, hanya lelah karena sudah terlalu sering melihat pasien muda berpura-pura kuat.
Keiko menunduk pada punggung tangannya yang masih ditempeli plester kecil. "Bu Tuti nanti panik. Kak Sari juga sedang kerja. Saya duduk sebentar, lalu pesan Grab."
Perawat itu menghela napas, lalu meletakkan satu gelas air hangat di meja kecil samping kursi. "Sepuluh menit lagi. Kalau masih gemetar, kamu tidak boleh pulang sendiri."
Setelah lima belas menit, Keiko memaksa dirinya berjalan ke kamar mandi.
Dia baru sempat mengunci pintu ketika rasa mual itu menghantam.
Tubuhnya membungkuk di depan wastafel. Semua yang tadi tidak bisa dimakan tetap terasa ingin keluar. Perutnya berkontraksi, tenggorokannya terbakar, mata berair tanpa izin. Suara keran yang dia nyalakan tidak cukup menutup suara napasnya yang patah-patah.
Keiko mencengkeram tepi wastafel sampai buku jarinya memutih.
Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa.
Sebentar lagi selesai.
Setelah gelombang itu lewat, dia membasuh mulut, menepuk wajah dengan tisu, lalu menatap cermin.
Gadis di sana terlihat seperti kertas yang terlalu lama terkena hujan.
Keiko merapikan rambutnya.
Mencubit pipinya pelan agar tidak terlalu pucat.
Lalu ponselnya bergetar lagi.
**Kelvin**: Udah selesai les?
Keiko menatap layar.
Di cermin, matanya masih merah.
Dia mengangkat ponsel, memilih emoji jempol, lalu mengetik dengan jari yang masih sedikit gemetar.
**Keiko**: Sudah. Aku baik-baik saja.
Pesan terkirim.
Keiko menutup mata, masih berdiri sendirian di kamar mandi rumah sakit, sementara di layar kecilnya, kebohongan itu terlihat begitu rapi.