Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama?
Perjalanan di dalam mobil milik Arjuna berlangsung dalam keheningan yang mencekam. Arjuna fokus menyetir membelah kepadatan arus lalu lintas kota, sementara Laila duduk di kursi penumpang samping kemudi, memalingkan wajahnya sepenuhnya ke arah jendela luar. Di atas pangkuannya, kotak kado cokelat dari Devan terus ia genggam erat, seolah benda mati itu adalah satu-satunya pelindung dirinya dari realitas baru di dalam mobil ini.
Arjuna sesekali melirik ke arah kiri. Ia melihat bagaimana jemari ramping Laila memutih karena mencengkeram kotak itu terlalu kencang. Ia tahu Laila sedang tenggelam dalam dunianya sendiri bersama Devan.
Untuk memecah keheningan yang kaku, Arjuna menjulurkan tangan kirinya, memutar kenop radio tape mobil. Suara lagu pop instrumental beraliran santai mulai mengalun, mengisi ruang kosong di antara mereka.
"Dek, nanti sampai hotel mau langsung makan malam atau mau mandi dulu?" tanya Arjuna santai, memecah kesunyian dengan panggilan 'Dek' yang terdengar semakin luwes di lidahnya.
"Mas tadi sudah pesankan menu khusus lewat layanan kamar, tahu sendiri makanan di hotel bintang lima itu porsinya estetis banget, dikit tapi harganya selangit. Kalau kamu masih lapar, nanti Mas go-food-in mie ayam Pak Man saja."
Laila mendengus pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela. "Gue nggak laper. Dan stop manggil gue 'Dek' kalau kita lagi berdua aja. Di sini gak ada Papi, gak ada kamera, gak ada siapa-siapa. Gak perlu akting."
Arjuna tersenyum simpul, sama sekali tidak terpancing oleh ucapan ketus Laila. Ia memutar kemudi dengan satu tangan, berbelok memasuki area lobi megah hotel bintang lima yang menjadi tujuan mereka.
"Justru karena lagi berdua, Mas harus membiasakan diri, Dek," sahut Arjuna dengan nada tengilnya yang khas.
"Kalau latihan panggilannya cuma pas ada Papi, nanti Mas bisa typo pas ketemu Papi. Kan gak lucu," sambung Arjuna.
Saat mobil berhenti dengan sempurna di depan lobi, seorang doorman dengan seragam rapi langsung bergegas membukakan pintu mobil untuk mereka.
Laila hanya memutar bola matanya jengah, segera keluar dari mobil sambil tetap mendekap erat kado cokelatnya, membiarkan Arjuna mengurus kunci mobil kepada petugas valet parking.
Begitu mereka tiba di dalam kamar executive suite di lantai dua puluh, kemewahan ruangan itu sama sekali tidak berbekas di mata Laila. Padahal kamar itu luar biasa megah. Lantainya dilapisi karpet bulu tebal sewarna krem, pencahayaannya hangat dan romantis dengan pendar lampu kuning temaram. Jendela kaca besar menampilkan pemandangan kota dari ketinggian, serta kamar mandi mewah berpintu kaca buram.
Di tengah ruangan terdapat sebuah ranjang berukuran super king size dengan sprei putih bersih yang tampak sangat empuk. Di atas kasur, handuk putih yang dilipat membentuk sepasang angsa saling bertautan paruh mempertegas status kamar itu adalah kamar bulan madu.
Bagi Laila, sepasang angsa itu tidak terlihat romantis, melainkan seperti dua ekor unggas yang siap mematok ketenangannya sampai mati.
Begitu koper pakaiannya diletakkan oleh petugas hotel yang kemudian pamit undur diri, Laila langsung melempar tas tangan kecilnya ke atas sofa panjang. Ia berbalik, bersedekap dada, dan menatap ranjang itu dengan pandangan horor, seolah kasur tersebut adalah medan ranjau aktif.
"Lo tidur di kasur, gue tidur di sofa. Atau kalau enggak, lo telepon resepsionis aja deh, pesen satu kamar lagi di lantai yang berbeda buat gue," tuntut Laila langsung tanpa basa-basi. Suaranya ketus, matanya yang masih agak sembap setelah menangis di ruang transit pangkalan tadi kini mendelik tajam ke arah Arjuna.
"Waduh, Dek Laila." Arjuna menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah yang dibuat seolah-olah sedang menghadapi krisis.
"Pesan kamar lain? Di hotel bintang lima ini? Dek, uang saku Kapten itu ada anggarannya. Kalau Mas pakai buat sewa dua kamar mewah dalam satu malam cuma karena kita perang dingin, besok Mas bisa-bisa disidang sama Komandan Satuan karena pemborosan anggaran rumah tangga."
"Gue gak peduli! Pakai uang gue aja kalau gitu!" balas Laila jengkel, wajahnya memerah karena kesal. "Gue gak mau tidur satu kasur sama lo, Arjuna!"
Arjuna berjalan santai mendekati ranjang, lalu menjatuhkan dirinya duduk di tepi kasur yang membal dengan empuk. Ia menatap Laila dengan binar kejenakaan yang berkilat di mata elangnya.
"Nggak bisa begitu, Dek. Ini bukan soal uangnya siapa. Tapi coba bayangkan, besok pagi pas housekeeping hotel datang mau bersihin kamar, mereka lihat pengantin baru ternyata pisah kamar, terus ada laporan nanti ke pangkalan. Gosipnya bisa nyebar sampai ke kantin pangkalan, Dek. Nanti Mas dikira aparat yang tidak bertenaga. Jatuh harga diri korps, Dek," ujar Arjuna dengan nada serius yang sengaja dibuat-buat.
"Arjuna, lo bisa gak sih gak usah bawa-bawa korps, pangkalan, atau Komandan dalam urusan tidur?!" pekik Laila frustrasi, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
"Cowok ini bener-bener punya seribu satu alasan absurd yang terdengar logis," batin Laila ngamuk.
"Lho, Mas kan cuma realistis, Dek," Arjuna terkekeh renyah, suara tawanya yang berat bergaung pelan di kamar yang sunyi itu. Ia berdiri lagi, berjalan menuju meja sudut ruangan tempat menu layanan kamar berada.
"Lagian, kamu dari pagi belum makan kan? Mas tahu kamu tadi cuma akting senyum-senyum pas salaman sama tamu. Perut gengsi kamu itu pasti sudah demo. Gimana kalau kita makan dulu? Mas punya cara jitu buat mutusin ketegangan ini."
Arjuna mengambil telepon kamar, menekan tombol layanan pelanggan dengan gaya yang sangat santai. "Halo, selamat malam. Tolong tambahkan dua porsi mie instan kuah rasa soto ayam ke pesanan kamar 2012. Iya, pakai telur setengah matang, cabai rawit potongnya yang banyak. Sama teh manis hangat dua gelas. Iya, terima kasih."
Laila terbelalak mendengar pesanan Arjuna. "Lo gila ya? Ini hotel bintang lima, Arjuna! Dan lo pesen mi instan?!"
"Dek, makanan hotel itu porsinya estetik tapi tidak cukup buat perut yang kelaparan karena begadang," Arjuna mengedipkan sebelah matanya dengan gaya tengil yang membuat Laila rasanya ingin melemparnya dengan sepatu hak tinggi.
"Percaya sama Mas, mie instan soto itu adalah pemecah masalah terbaik di dunia setelah hari yang panjang."
Dua puluh menit kemudian, pesanan mereka sudah tersaji di atas meja kaca kecil di depan sofa. Aroma gurih dari dua mangkuk mie instan soto dan pedasnya cabai rawit langsung memenuhi kamar mewah tersebut, menciptakan pemandangan yang sangat kontras dan kocak di antara interior kamar hotel yang berkelas.
Laila sebenarnya ingin tetap bertahan pada egonya untuk mogok makan, namun sial bagi perutnya, suara keroncongan yang cukup nyaring tiba-tiba lolos dari lambungnya, memecah keheningan.
Arjuna yang sedang mengaduk mienya langsung menoleh, senyum yang melebar. "Nah, kan. Sinyal dari lambung Ibu Kapten sudah terdengar sampai markas. Ayo makan, Dek. Mas gak bakal tega biarkan istri Mas kelaparan, meskipun istrinya galak mirip pelatih fisik taruna."
"Diem gak lo," gerutu Laila. Karena lapar yang sudah tidak tertahankan, ia akhirnya duduk di ujung sofa yang paling jauh dari Arjuna, menyambar mangkuk mienya dan mulai makan dengan kasar, meluapkan seluruh kekesalannya pada helaian mie di dalam mangkuk.
Arjuna memperhatikan Laila dalam diam saat gadis itu makan. Keheningan malam itu perlahan menggantikan atmosfer konyol yang sengaja diciptakan Arjuna tadi.
Di bawah pendar lampu temaram, Arjuna bisa melihat sisa-sisa bedak yang mulai luntur di wajah Laila, memperlihatkan gurat kelelahan yang amat sangat. Ia juga tidak buta, ia tahu persis di dalam tas Laila di pojok sofa, ada sebuah kotak kado cokelat dari Devan yang tadi diam-diam diselipkan Laila setelah pertemuan rahasia mereka.
Arjuna tahu Laila sedang terluka. Dia tahu Laila merasa bersalah pada kekasihnya. Dan sebagai suami yang baru disahkan, ada bagian dari ego Arjuna yang berdenyut nyeri mengetahui fakta itu. Namun, alih-alih menggunakan kekerasan atau otoritasnya untuk menekan Laila, Arjuna memilih jalan yang berbeda. Jalan sabar yang dibungkus dengan banyolan.
Setelah menyelesaikan makanannya, Arjuna meletakkan mangkuknya. Ia bergeser sedikit mendekati Laila. Merasa ada pergerakan, Laila langsung menatapnya waspada dengan mulut yang masih mengunyah.
"Mau ngapain kamu?" tanya Laila defensif.
Arjuna tidak menjawab dengan kata-kata tengil. Gerakannya mendadak berubah menjadi sangat lembut dan penuh perhitungan. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, bergerak perlahan menuju kepala Laila. Laila sempat menegang dan hendak menghindar, namun gerakan Arjuna yang tenang mengunci posisinya.
Jemari Arjuna yang sedikit kapalan karena latihan militer menyusup ke sela-sela rambut Laila yang masih terikat di bagian belakang leher. Dengan sangat hati-hati, Arjuna menarik lepas beberapa aksesoris dan jepit lidi yang masih tertinggal dan menusuk kulit kepala Laila sejak pagi tadi.
"Aduh, pelan-pelan," keluh Laila lirih, rasa perih di kulit kepalanya mendadak mereda seiring terlepasnya jepitan-jepitan logam itu.
"Ini makanya Mas mendekat, Dek. Dari tadi Mas lihat kamu garuk-garuk kepala terus. Jarum sebanyak ini ditahan dari pagi, pantesan bawaannya mau ngajak perang terus sama suaminya," bisik Arjuna lembut.
Suaranya malam itu terdengar sangat lembut dan tanpa nada ejekan sama sekali. Sentuhan tangannya di kepala Laila terasa begitu menenangkan, seperti usapan seorang pelindung yang sesungguhnya.
Untuk beberapa detik, Laila terpaku. Ia menatap wajah Arjuna dari jarak dekat. Mata elang pria itu tidak lagi memancarkan kejenakaan yang menyebalkan, melainkan sebuah ketulusan dan keteduhan yang begitu pekat, seolah-olah Arjuna sedang berkata bahwa ia siap menjadi benteng untuk menampung seluruh amarah dan kesedihan Laila.
Kedekatan fisik yang mendadak romantis ini membuat jantung Laila berdegup dengan ritme yang berbeda bukan karena kesal, melainkan karena getaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Saat tersadar, Laila buru-buru menepis tangan Arjuna dengan canggung, memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas. "U-udah! Selesai. Gak usah pegang-pegang lagi."
Arjuna menarik kembali tangannya, senyum tengilnya langsung kembali aktif dalam hitungan detik seolah momen romantis tadi hanyalah ilusi singkat. "Siap, perintah dilaksanakan! Lagian rambutmu gak ketombean kan, Dek? Mas takut ketularan aja nih."
"ARJUNA!! GUE GAK KETOMBEAN YA!!" teriak Laila, bantal sofa langsung melayang telak menghantam dada bidang Arjuna yang tertawa terbahak-bahak.
Setelah drama mie instan dan cabut jarum selesai, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Laila sudah mandi dan memakaikan skincare ke wajahnya, ia juga mengganti pakaiannya dengan baju tidur satin panjang berwarna navy. Sementara Arjuna juga sudah siap dengan baju tidur panjang serupa dengan Laila.
Saat melihat baju Arjuna Laila heran. "Itu baju dikasih Papi gue ya?" tanya Laila.
Arjuna mengangguk.
"Oh pantesan, ceritanya couple-an ceunah, bisa aja si Papi," gumam Laila.
Laila berdiri di depan kasur besar dengan wajah yang kembali ditekuk. "Pokoknya, kesepakatan tadi. Gue di sofa."
"Dek Laila, Mas ini perwira yang taat hukum tentang hak asasi manusia. Mas tidak akan membiarkan istri Mas tidur di sofa yang sempit itu sampai badannya encok besok pagi," kata Arjuna sambil berjalan menuju kasur.
Dengan gerakan cepat yang tak terduga, Arjuna meraih tiga buah guling besar yang ada di atas tempat tidur. Ia menyusun guling-guling itu secara vertikal di bagian tengah kasur, membelah tempat tidur mewah itu menjadi dua bagian yang sama persis ukurannya.
"Nah, lihat ini," Arjuna menepuk susunan guling tersebut dengan bangga, menatap Laila dengan gaya menantang yang sangat menyebalkan. "Ini namanya garis perbatasan. Wilayah sebelah kanan adalah kedaulatan penuh milik Kapten Arjuna. Wilayah sebelah kiri adalah wilayah otoritas penuh milik Dek Laila."
Laila mengernyitkan alisnya, menatap susunan guling itu dengan ragu. "Maksud lo?"
"Maksud Mas, kita tidur satu kasur, tapi dibatasi sama benteng guling ini, Dek. Kamu aman di sebelah sana, Mas aman di sebelah sini," jelas Arjuna, melipat kedua lengannya di dada dengan senyum sok bijaksana.
"Tapi ada aturannya, siapa pun yang pas tidur kakinya atau tangannya nyeberang melewati batas guling ini tanpa izin tertulis, maka dia bakal kena sanksi."
"Sanksi apa?" tanya Laila curiga.
Arjuna memajukan tubuhnya sedikit, memasang wajah super tengil yang membuat Laila ingin mencubit lengan berototnya sampai biru. "Sanksinya bakal Mas peluk semalaman penuh tanpa ampun sebagai denda pelanggaran batas wilayah. Gimana? Adil dan menantang, kan?"
"Lo bener-bener mesum ya, Arjuna!" teriak Laila, wajahnya merah padam antara kesal setengah mati dan malu yang luar biasa.
"Lho, Mas kan cuma menegakkan disiplin di dalam rumah tangga, Dek. Makanya, kalau tidur jangan lasak, biar gak kena denda," sahut Arjuna santai.
Tanpa memedulikan omelan Laila lagi, Arjuna langsung merebahkan tubuh tegapnya di kasur sebelah kanan, menarik selimut sampai sebatas dada, lalu memejamkan matanya dengan senyum kemenangan yang terukir jelas di wajahnya.
"Selamat tidur, Dek Laila. Mas tunggu pelanggaran wilayahnya malam ini, ya."
Laila menggeram kesal di tempatnya berdiri, menghentakkan kakinya ke lantai dengan gemas. Ingin rasanya ia keluar dari kamar itu, namun mengingat ia tidak punya kunci cadangan dan badannya sudah teramat lelah, ia akhirnya terpaksa merangkak naik ke atas kasur sebelah kiri dengan gerakan sekaku mungkin.
Laila menarik selimutnya sendiri, memunggungi susunan guling pembatas dan memunggungi Arjuna. Ia memejamkan matanya dengan rapat, mencoba mengusir segala kekesalan, rasa bersalah pada Devan, dan debaran aneh akibat sentuhan Arjuna tadi dari pikirannya.
Kamar hotel mewah itu akhirnya kembali diselimuti kesunyian malam. Di balik benteng guling yang memisahkan mereka, Arjuna perlahan membuka matanya kembali di dalam kegelapan. Senyum tengilnya memudar, berganti dengan tatapan mata yang dalam dan penuh tekad yang tulus menatap punggung Laila yang memunggunginya.
Arjuna tahu, memenangkan hati Laila akan menjadi misi terlama dan tersulit dalam hidupnya. Namun, mendengarkan napas teratur Laila yang mulai tertidur di sampingnya malam ini, Arjuna tahu ia tidak akan pernah menyerah pada misi ini.
...Bersambung......