Helena berjuang untuk mendapat hati Edgar, tetangganya. Mencuri perhatian saat pria itu menjadi dosen tamu di kampus, bertingkah lucu saat weekend, atau mencoba melakukan segala cara agar bisa berbicara dengan pria itu.
Apakah Edgar akan luluh?,
Tapi, kenyataan pahit harus diterima Helena. Saat mengetahui bahwa Edgar adalah mantan ibunya.
Bagaimanakah Helena menata Hati saat merelakan Edgar menikahi ibunya.
Helena memilih kuliah di luar negeri, sampai suatu saat kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweet and dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
suhu dingin AC, kini tak membuat Helena kedinginan dibanding tadi subuh. Helena dipindahkan ke Rumah sakit yang lebih besar.
"Helena, kata dokter kondisi kamu udah lumayan baik. Kita sebentar lagi rujuk ke rumah sakit yang lebih bagus ya"
Helena drop karena tugas jurnal, dll yang menumpuk. Tugasnya di organisasi juga tak kalah sibuknya karena menjadi bendahara Dies Natalis yang sudah berakhir kemarin. Berat badannya sampai turun 5 kg, karena tak memperhatikan pola makan dan tidur.
Edgar lalu menghampiri mereka di ruangan itu, matanya nampak menghitam, wajahnya memucat, dan bibirnya kering. Terlihat lebih sakit dari yang sakit. Bagaimana tidak, baru tidur 2 jam sudah bangun tadi subuh oleh suara Sandra lalu mengantar mereka.
Paginya, Sekretaris Sandra datang untuk membantu proses pemindahan Helena ke rumah sakit yang lebih besar. Edgar pamit pulang, menaiki taksi online. Meski awalnya Sandra keberatan , ia bermaksud mengantar Edgar sebagai balas budi.
"Saya pulang, Helena semoga kamu segera sembuh ya. Panggil saja Om Edgar" ucap Edgar
"Iya Om" dibalas senyuman oleh Helena
Sekretaris itu menemani Helena. Sementara di luar ruang Edgar dan Sandra berbicara sebentar.
"Edgar terimakasih, bolehkah lain kali mengajakmu makan mal dirumah sebagai ucapan terima kasih" ucap Sandra
Dia bersiap menerima kemungkinan penolakkan oleh Edgar. Laki-laki yang pernah menjadi pacarnya di masa lalu. Namun ia terkejut mendengar jawaban Edgar
"Berikan nomor ponselmu" perintah Edgar
Sepertii ada angin segar, wajah Sandra yang tadinya mengira di tolak justru dikagetkan oleh permintaan Edgar yang berhasil membuatnya tersenyum merekah. Dia malu mengakui bahwa ia masih ingin berbicara dengan Edgar lebih lama, sungguh rasanya ingin menghentikann waktu.
"Hubungi saya jika ada keperluan mendesak, atau ada apa-apa" ucap Edgar.
Perempuan mana, yang tidak merasa diberi harapan. Jika lelaki memberi kan tawaran ke amanah, merasa dilindungi.
"terimakasih" wajah Sandra agak memerah
"maaf" ucap Sandra, entah untuk apa. Apakah karena telah menyakitinya di masa lalu atau karena tadi malam yang membuat Edgar takk bisa tidur.
"untuk? " tanya Edgar memastikan. Sebab dulu saat mereka berpisah bahkan Sandra tak pernah mengucapkan hal itu.
"bukan apa-apa. maaf membuatmu kelelahan" jawab Sandra
POV Helena
"aku Malam kemarin begitu kedinginan hingga subuh. mamanya datang mengecek suhu tubuhnya yang tinggi, berbanding terbalik dengan rasa dingin yang dialami. Demam.
Setelah di tinggal sebentar oleh mama, Mama datang dengan Pria yang kemarin. Pria itu yang menjadi pemateri talkshow, aku sungguh malu. Tapi di posisiku yang sedang sekarat seperti ini bisa apa. Aku sudah tak sempat mengontrol wajahku yang sudah kemerahhan mungkin, ditambah dia menggendongku.
Ya Tuhan, aku seperti menjadi princess. Dia gendong oleh pangeran menuruni tangga. Tapi sayangnya ini bukan adegan romantis, bukannya menggunakan gaun kerajaan atau menaiki kereta emas lalu berdansa di Ballroom istana. kenyataannya, aku digendong ke mobil menuju puskesmas. Dan pangeranku meninggalkan saat pagi. Sungguh kisah apa ini"
Beberapa kerabat, teman kampus dan tetangga menjenguk Helena.
"semoga segera sembuh ya sayang tante" ucap Ibunya Dila.
Dila dan keluarganya langsung menjenguk begitu mendengar kabar dari Sandra saat kembali ke rumah untuk mengambil beberapa keperluan untuk dibawa ke rumah sakit.
orang tua Dila dan Sandra berbicara di luar ruangan, sekretaris Sandra ditugaskan untuk menghandle urusan bisnisnya beberapa hari ke depan.
"aku denger cerita dari mama, kamu digendong sama uncle penghuni rumah baru sebelah rumah kamu. Maaf ya aku ketiduran gak denger pas mama kamu panggil-panggil kita" ucap Dila
"Dil, itu uncle Edgar" jawab Helena
"wait the minute.. " ucap Dila
"ini kuping aku yg salah denger atau emang nama nya gak asing di telinga aku. Ini kekny pernah denger tapi di mana ya? " Dila dengan raut wajah curious nya
"You can't believe this. Sini.... aku bisikin" ucap Helena.
"oke' jawab Dila mendekatkan telinga ke Helena. Dila mendengarkan saksama
"itu Edgar, pemateri talkshow kemarin" suara pelan Helena membisikkan ke Dila
"OMG, For real? Rill kah?" Dila terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Helena
"Ya kali Dil, aku bercanda pas kondisi kayak gini. Mana ada tenaga buat boong' ucap Helena memutar bola matanya
" Ini takdir gak sih? " ucap Dila
"gak tau ah, tapi kan dia belum nikah. Kesempatan kamu tuh, udah gak usah gengsi. Aku tuh udah kenal kamu, mana tatapan biasa aja sama tatapan kamu kalau nge crush. " Jelas Dila yang tak bisa Helena elak.
Tapi, Helena tetap tak mau mengakui, bahwa sejak pertemuan pertama di saat dia jogging, lalu saat talkshow dan saat Uncle Edgar membantunya tadi subuh, dia mulai merasakan hal aneh yang mungkin bisa disebut rasa suka, rasa aman.
" Jangan bilang lho mulai suka sama si uncle Edgar itu" selidik Dila
"Apa an sih Dil" balas Helena
"Btw, Dion kemarin upload story. Kayak beli coklat sama ada snack gitu. Apa buat pacarnya" ucap Dila curhat
"kan udah Aku bilang sama kamu Dila, terus-terusan mendem perasaan tuh gak enak. Kamu tembak aja" dibalas candaan oleh Helena
"Kamu sih... " ucap Dila dengan mengerucutksn bibirnya
Lalu Mama Dila memanggil Dila untuk pulang bersama
"Helena, Tante sama om pamit pulang ya. Dila mau di sini nemenin Helena atau ikut ibu pulang? " tanya mama Dila.
Karena itu sudah sore, Dila memutuskan untuk pulang. Sungguh setelah pulang kuliah, dan mendengar ibunya mengabarkan kondisi Helena. Dila langsung ikut mobil ibu dan ayahnya. Belum sempat mandi atau meletakkan tas kuliahnya
"Helena, aku balik ya. Belum mandi nich, but nanti malem aku temenin nginep di sini. Boleh kan tante? " tanya Dila
"Boleh dong" jawab Sandra
"kamu mau nitip apa, nanti aku beliin.. makanan, minuman hehe. Mumpung lagi baik nich" tanya Dila
"Pengen Dorayaki indo *****, sama.... " Ucap Helena tergantung
"Sama bawain novel romance punya kamu dong yang dibeli di mall kemarin, katanya kamu mau minjemin aku. Bosen Dil" lanjut Helena
" Okedeh, siaap. Apa aku bawa snack ya kita nobar drama wkwk" ucap Dila
"Hush Dil, Inget rumah sakit ketawanya. Malah mau nobar pula Dil Dil" ucap ibunya menggeleng kepala sambil tersenyum, begitu pun dengan Sandra yang tak habiss pikir dengan kerandoman Dila
"See u nanti malem ya sayang hehe" ucap Dila, lalu Ketiganya keluar dari ruangan tersebut.
"Mama udah ngasih tau papa kalau Helena sakit? " tanya Dila
"Udah sayang" Sandra menoleh ke arah lain dengan raut sedih.
"Ma.. " panggil Helena
"Mama nangis? are you okay ma? " tanya Helena lagi
🤭
Bintang lima untuk mu. Semangat