NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Keluarga Wijaya

"Pulang. Kita perlu bicara."

Raymond Wijaya memutus telepon setelah kalimat itu, meninggalkan ruang tamu penthouse dalam sunyi yang terlalu cepat berubah dari hangat menjadi tegang.

Tiffany menaruh gelas jusnya pelan. "Nada papamu itu seperti orang mau audit hidup."

Jason meringis. "Raymond Wijaya memang begitu. Kalau dia bilang bicara, biasanya orang lain yang disidang."

Darren memasukkan ponsel ke saku. "Kita pergi besok pagi."

Naomi menatapnya. "Kita?"

"Kamu istriku."

"Aku tahu. Tapi kalau ini tentang keluargamu, mungkin kamu perlu bicara dulu."

Darren langsung menggeleng. "Tidak ada keluarga aku dan kamu yang terpisah lagi. Kalau mereka mau membicarakan pernikahan kita, mereka bicara di depan kita berdua."

Naomi tidak menjawab. Setelah semua yang baru mereka lalui, kata keluarga masih terasa asing di lidahnya. Ia pernah punya keluarga. Lalu satu per satu hilang, meninggalkan kalung kecil di leher dan nama Liem yang ia pertahankan sendirian.

Keesokan paginya, mereka terbang ke Jakarta dengan penerbangan paling pagi.

Darren tidak banyak bicara di pesawat. Tangannya tetap menggenggam tangan Naomi, tetapi matanya sesekali menatap awan di luar jendela dengan ekspresi yang sulit dibaca. Naomi tahu ia sedang menahan marah, bukan pada dirinya, melainkan pada pertemuan yang menunggu.

Rumah keluarga inti Darren di Jakarta berada di kawasan elite yang tenang, jauh dari keramaian. Gerbang hitam tinggi terbuka saat mobil mereka mendekat. Di baliknya, rumah besar bergaya modern-klasik berdiri dengan halaman rapi, kolam kecil, dan deretan pohon kamboja yang dipangkas sempurna.

Naomi pernah masuk hotel mewah, ballroom mahal, dan boutique klien konglomerat. Namun rumah ini punya tekanan berbeda. Ini bukan tempat orang memamerkan uang. Ini tempat uang sudah terlalu lama tinggal sampai tidak perlu berteriak.

Darren turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Naomi.

"Kalau mereka membuatmu tidak nyaman, kita pulang," katanya.

"Itu rumahmu."

"Rumah yang membuat istriku tidak nyaman bukan rumah."

Naomi menatapnya. "Kamu selalu bicara begitu mudah."

"Karena pilihanku mudah."

Sebelum Naomi sempat menjawab, pintu utama terbuka.

Olivia Halim berdiri di sana.

Perempuan itu lebih cantik daripada foto yang pernah Naomi lihat di artikel lama. Wajahnya lembut, rambutnya disanggul rendah, dan gaun rumah berwarna ivory membuatnya tampak seperti lukisan yang tidak ingin mengganggu siapa pun. Namun matanya, ketika melihat Darren menggenggam tangan Naomi, langsung basah oleh kelegaan.

"Darren," panggilnya.

Untuk pertama kalinya sejak telepon Raymond, ekspresi Darren melunak. "Ma."

Olivia memeluk putranya sebentar, lalu beralih pada Naomi. Naomi refleks menunduk sopan.

"Tante Olivia."

Olivia memegang kedua tangan Naomi. Sentuhannya hangat. "Kalau kamu sudah menikah dengan Darren, panggil aku Mama."

Naomi tertegun.

"Aku..."

"Tidak perlu buru-buru," kata Olivia lembut. "Tapi pintunya sudah terbuka."

Kalimat sederhana itu membuat tenggorokan Naomi tiba-tiba penuh. Ia mengangguk kecil. "Terima kasih... Mama."

Senyum Olivia bergetar.

Namun kehangatan itu tidak bertahan lama. Dari ruang tengah, suara pria terdengar rendah.

"Drama sambutan sudah selesai?"

Darren menggenggam tangan Naomi lebih erat.

Raymond Wijaya duduk di sofa utama dengan kemeja putih dan celana gelap, posturnya tegak, wajahnya tajam. Di usia yang tidak lagi muda, ia masih terlihat seperti seseorang yang terbiasa memutuskan nasib banyak orang sebelum sarapan. Di meja depannya ada secangkir kopi hitam yang belum disentuh.

Naomi masuk bersama Darren dan Olivia.

"Pa," kata Darren.

Raymond tidak menjawab putranya. Matanya langsung menilai Naomi dari kepala sampai kaki. Bukan tatapan vulgar, melainkan lebih buruk: tatapan seperti auditor memeriksa angka yang tidak cocok.

"Naomi Liem," ucap Raymond.

Naomi menahan punggungnya tetap lurus. "Papa."

Alis Raymond bergerak sedikit. "Cepat sekali memakai panggilan keluarga."

Darren bersuara dingin. "Dia istriku."

"Istri yang kamu nikahi tanpa memberi tahu keluargamu."

"Aku memberi tahu setelah resmi."

"Itu bukan pemberitahuan. Itu laporan kerusakan."

Olivia menatap Raymond. "Raymond."

Raymond mengabaikannya. "Kamu tahu apa artinya menjadi istri pewaris Wijaya Group?"

Naomi menjawab sebelum Darren. "Saya tahu saya perlu belajar."

"Belajar tidak cukup. Keluarga ini bukan toko kecil yang bisa kamu tutup kalau lelah."

Naomi merasakan kalimat itu menusuk, tetapi ia tidak menunduk. Selama bertahun-tahun, orang-orang mengira Maison de Belle hanya toko kecil karena tidak lahir dari modal keluarga besar. Mereka tidak melihat malam-malam ia menjahit sendiri, negosiasi sewa, klien yang menawar kasar, atau gaji pegawai yang harus tetap dibayar bahkan saat ia hanya makan roti tawar.

"Maison de Belle memang kecil dibanding Wijaya Group," kata Naomi. "Tapi saya membangunnya tanpa mengambil milik siapa pun. Saya tahu rasanya bertanggung jawab atas nama yang saya pakai, meski nama itu hanya tertulis di papan toko."

Raymond menatapnya lebih tajam.

"Saya tidak sedang menyamakan diri dengan keluarga Wijaya," lanjut Naomi. "Saya hanya ingin Papa tahu, saya tidak datang ke sini dengan tangan kosong. Saya membawa hidup yang sudah saya pertahankan sendiri."

Darren menoleh padanya. Di matanya ada bangga yang terlalu jelas.

Olivia tersenyum sangat tipis, lalu meletakkan secangkir teh di depan Naomi. "Minum dulu, Nak."

Panggilan Nak itu membuat rahang Raymond bergerak, tetapi Olivia tidak menariknya kembali.

Darren berdiri. "Cukup."

Raymond menatapnya. "Duduk."

"Papa yang harus berhenti bicara pada istriku seperti itu."

Udara di ruangan menegang.

Naomi menyentuh tangan Darren. "Dar."

"Tidak." Darren menatap ayahnya. "Papa boleh marah karena aku menikah tanpa izin. Papa boleh menegurku. Tapi jangan merendahkan Naomi."

Raymond tertawa pendek tanpa humor. "Kamu bahkan belum bisa memisahkan perasaan dari tanggung jawab."

"Tanggung jawab pertamaku sekarang adalah istriku."

"Tanggung jawab pertamamu adalah nama Wijaya."

"Kalau nama Wijaya hanya bisa berdiri dengan menginjak istriku, berarti nama itu tidak sekuat yang Papa banggakan."

Olivia menutup mata sebentar. Naomi merasakan tangannya sendiri dingin. Ia tidak ingin menjadi alasan ayah dan anak saling melukai, tetapi ia juga tidak bisa menyangkal rasa hangat pahit saat Darren berdiri tanpa ragu di sisinya.

Raymond bangkit dari sofa. "Kamu berubah karena dia."

"Aku memang harus berubah," jawab Darren. "Aku hampir kehilangan dia karena semua orang merasa berhak memutuskan hidupku."

Kalimat itu mengenai Raymond. Untuk sesaat, wajah pria itu mengeras dengan cara berbeda.

Olivia akhirnya melangkah maju. Suaranya tetap lembut, tetapi tidak lagi lunak.

"Naomi bukan masalah yang harus kamu selesaikan, Raymond. Dia menantu kita."

Raymond menoleh padanya.

Olivia menggenggam tangan Naomi lagi. "Aku sudah membaca semua yang terjadi. Tentang Vanessa, tentang empat tahun lalu, tentang bagaimana Darren mencarinya. Kalau setelah semua itu kamu masih hanya melihat asal-usulnya, yang sempit bukan latar belakang Naomi."

Ruangan hening.

Naomi hampir tidak percaya Olivia mengatakan itu untuknya.

Raymond menatap istrinya lama. Ada sesuatu di antara mereka yang Naomi belum mengerti. Jarak. Luka. Kebiasaan saling menahan kalimat sampai menjadi dingin.

Akhirnya Raymond mengalihkan pandangan.

"Aku tidak mengatakan aku menerima."

Darren tersenyum tipis. "Tidak ada yang meminta izin Papa lagi."

"Darren," tegur Olivia pelan.

Raymond mengangkat tangan, menghentikan perdebatan. "Tapi karena pernikahan sudah terjadi, aku tidak akan membuat skandal baru."

Naomi tahu itu bukan penerimaan. Itu gencatan senjata.

Raymond menatapnya. "Kalau kamu ingin berdiri di samping Darren, kamu harus tahu keluarga macam apa yang kamu masuki."

"Saya siap belajar," kata Naomi.

"Kita lihat." Raymond mengambil cangkir kopinya, lalu meletakkannya lagi tanpa minum. "Akhir pekan ini, kalian pergi ke Kota Purnama."

Darren menyipit. "Untuk apa?"

"Rumah Besar." Suara Raymond kembali menjadi perintah. "Bawa dia ke Wijaya Estate. Biar keluarga menilai."

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!