Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005: Kios Kecil, Nafas Baru
Ayu menjerit saat melihat Sari membuka rolling door kios.
"Ya Allah! Bu Sari!"
Sari baru mengangkat kunci setengah jalan. Tangannya berhenti di udara.
Ayu, pegawai kios yang sudah bekerja dengannya hampir delapan tahun, berdiri di depan rak minuman dengan satu kardus susu UHT di tangan. Wajahnya pucat, matanya melebar, dan kardus itu hampir jatuh.
"Jangan teriak," kata Sari.
Ayu menutup mulut. "Ibu... Ibu beneran?"
"Menurutmu?"
Ayu meletakkan kardus dengan sangat pelan, lalu berjalan mendekat seperti mendekati kucing sakit. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lengan Sari, lalu langsung menangis.
"Hangat. Ibu hangat. Ya Allah, saya kira..."
"Semua orang kira begitu."
"Saya dengar kabar dari grup wali murid. Katanya Ibu meninggal. Terus katanya Pak Hendra..." Ayu tidak meneruskan.
Sari menatapnya.
"Menikah?"
Ayu menunduk. "Maaf, Bu."
"Kenapa kamu minta maaf? Yang menikah bukan kamu."
Ayu menangis makin keras. Nadia yang berdiri di belakang ibunya ikut mengusap mata.
Kios kecil itu belum buka penuh, tapi beberapa anak sekolah sudah berkumpul di depan. Mereka menatap Sari dengan rasa ingin tahu yang polos. Salah satu anak laki-laki berbisik terlalu keras pada temannya, "Itu tante yang hidup lagi?"
Sari menoleh. Anak itu langsung bersembunyi di balik tas.
"Kalau mau beli pensil, masuk. Kalau mau lihat hantu, bayar tiket."
Anak-anak tertawa gugup. Ketegangan pecah. Dalam lima menit, kios kembali ramai oleh suara bungkus jajanan, pintu kulkas terbuka, dan anak-anak memilih pulpen.
Ayu mengelap air mata, lalu berdiri di kasir.
"Bu, Ibu duduk saja. Biar saya urus."
"Aku masih bisa hitung uang."
"Tapi Ibu baru..."
"Baru batal dikubur. Bukan batal hidup."
Ayu tidak berani membantah.
Sari duduk di kursi plastik dekat kasir. Kursi itu sudah lama, salah satu kakinya pernah retak dan ia ikat dengan lakban hitam. Anehnya, duduk di sana membuat dadanya lebih tenang daripada duduk di ruang tamu rumah Prasetyo.
Kios ini sempit.
Rak kanan berisi buku tulis, pensil, penghapus, penggaris, sampul plastik. Rak kiri berisi jajanan anak-anak, minuman botol, roti, pembalut, sabun kecil, dan kebutuhan warga sekitar. Di belakang ada gudang mungil yang sekaligus tempat ia sering tidur siang saat dulu pulang dari kebun terlalu lelah.
Kios ini bau kardus, plastik, dan kopi sachet.
Bukan bau parfum Ratna.
Bukan bau rokok Hendra.
Bukan bau kamar yang sudah direbut orang.
Sari menarik napas.
Untuk pertama kalinya sejak bangun dari kain kafan, napas itu masuk tanpa terasa seperti pisau.
Nadia menyusun dokumen di meja kecil belakang. "Bu, sertifikat kios ada. Kontrak kebun ada. Buku rekening ada. Catatan pesanan pabrik ada. Tapi ponsel lama belum ketemu."
"Nanti kita cari cara."
"Mungkin Ayah ambil."
"Kalau dia ambil, dia akan takut sendiri setelah tahu isinya."
Ayu pura-pura tidak mendengar, tapi telinganya jelas berdiri.
Sari meliriknya. "Kalau mau dengar, dengar saja. Nanti juga satu komplek tahu."
Ayu tersenyum malu. "Saya di pihak Ibu."
"Jangan di pihak siapa-siapa. Di pihak kerjaan. Anak-anak mau beli minum."
"Siap, Bu."
Menjelang siang, Sari meminta Nadia mengantarnya ke bank. Nadia awalnya menolak karena ibunya harus istirahat, tetapi Sari hanya menunjuk map.
"Kalau rekening lama masih terhubung dengan nomor yang hilang, kita harus amankan."
Di bank, satpam dan teller memperlakukan Sari dengan campuran sopan dan ingin tahu. Wajahnya mungkin sudah tersebar di beberapa grup. Perempuan yang hidup lagi dan membubarkan resepsi suami bukan berita kecil.
Sari tidak peduli.
Ia menutup beberapa akses lama, mengganti nomor, membuka rekening usaha baru, dan memindahkan sebagian dana pribadi ke rekening yang hanya ia pegang. Jumlahnya tidak sebesar konglomerat, tapi cukup untuk membuatnya tidak perlu menunduk pada Hendra.
Empat ratus juta rupiah.
Uang yang terkumpul dari kios, kebun, sisa hasil jualan, dan tabungan yang dulu selalu ia tahan agar keluarga aman. Dulu ia melihat angka itu sebagai cadangan untuk anak-anak, cucu, atau pabrik Hendra kalau tiba-tiba butuh.
Sekarang ia melihatnya sebagai oksigen.
Nadia menatap slip transaksi. "Ibu selama ini punya uang sebanyak ini?"
"Sedikit demi sedikit."
"Kenapa Ibu dulu tidak pernah beli apa-apa untuk diri sendiri?"
Sari tidak langsung menjawab.
Di luar kaca bank, orang-orang berjalan terburu-buru. Seorang ibu muda menggendong anak sambil memegang ponsel. Dua mahasiswa tertawa membawa kopi.
"Karena Ibu pikir kalau semua orang cukup, Ibu juga akan merasa cukup."
Nadia terdiam.
"Ternyata tidak begitu."
Setelah dari bank, Sari minta berhenti di toko ponsel. Nadia mengira ibunya hanya ingin mengganti kartu. Ternyata Sari menunjuk ponsel keluaran baru di etalase.
"Yang itu."
Penjaga toko, anak muda dengan rambut klimis, sempat melihat pakaian sederhana Sari dari atas sampai bawah.
"Bu, yang ini harganya lumayan."
"Lumayan berapa?"
Ia menyebut angka.
Nadia refleks berkata, "Bu, tidak harus yang paling mahal."
Sari menatap ponsel itu. Terbayang ponsel bekas Hendra yang dulu ia pakai sampai layar retak. Terbayang Raka, Bayu, Nadia, semua memakai ponsel bagus yang ia belikan, sementara dirinya menunggu barang lungsuran.
"Aku mau kamera yang bagus," kata Sari. "Untuk kebun. Untuk kios. Untuk bukti."
Penjaga toko langsung lebih ramah saat Sari mengeluarkan kartu.
Nadia tidak membantah lagi.
Sore hari, mereka menuju kontrakan yang sudah dipesan lewat agen. Rumah petak dua kamar itu berada tidak jauh dari kios, cukup bersih, cat putih, lantai keramik, dapur kecil, dan jendela menghadap gang.
Tidak besar.
Tapi pintunya bisa dikunci dari dalam, dan tidak ada suara Hendra di sana.
Pemilik rumah, Bu Rini, menyerahkan kunci sambil menatap Sari dengan hati-hati.
"Maaf, Bu, saya dengar sedikit cerita dari agen. Kalau butuh apa-apa, bilang saja. Di sini tetangga lumayan ramai, tapi tidak suka ikut campur."
Sari hampir tertawa. "Tidak suka ikut campur itu kualitas langka."
Bu Rini tersenyum. "Semoga betah."
Setelah Bu Rini pergi, Nadia membuka jendela. Angin sore masuk, membawa bau gorengan dari ujung gang dan suara anak-anak mengaji dari musala kecil.
Sari berdiri di tengah ruang tamu.
Satu koper.
Dua kardus.
Satu map dokumen.
Itulah hidupnya setelah tiga puluh tahun menikah.
Nadia mungkin memikirkan hal yang sama, karena matanya kembali merah.
"Bu..."
"Jangan menangis."
"Aku marah."
"Bagus. Marah lebih berguna daripada kasihan."
Nadia menghapus air mata. "Ibu mau makan apa? Aku pesan."
Sari duduk di lantai, bersandar ke dinding. Tubuhnya akhirnya menagih semua tenaga yang ia pakai sejak kemarin.
"Apa saja."
"Nasi padang?"
"Terlalu berat."
"Soto?"
"Boleh."
Nadia memesan lewat aplikasi. Sambil menunggu, ia merapikan obat-obatan, menaruh air mineral di dekat ibu, lalu mulai menyusun pakaian ke lemari plastik kecil yang tadi dibeli di minimarket.
Sari memperhatikan anaknya bergerak.
"Nadia."
"Iya?"
"Kamu tidak perlu menginap kalau Dimas menunggu."
Gerakan Nadia berhenti sepersekian detik.
"Dia jaga malam."
"Bu Marni?"
"Di rumah."
Sari menatap punggung putrinya.
Ada jeda yang terlalu panjang.
"Kamu baik-baik saja?"
Nadia menutup lemari. "Ibu baru hampir dimakamkan. Jangan bahas aku dulu."
"Justru karena Ibu baru hampir dimakamkan, Ibu tidak mau menunggu sampai kamu jadi kain kafan berikutnya."
Nadia menoleh. Wajahnya pucat.
"Bu..."
"Ibu tidak akan memaksamu bercerai. Tapi mulai hari ini, jangan minum jamu apa pun yang tidak jelas. Jangan serahkan pekerjaanmu hanya karena orang lain ingin kamu hamil. Dan jangan biarkan siapa pun mengambil barangmu lalu menyebutnya urusan keluarga."
Nadia menatap ibunya lama, lalu duduk di lantai di depannya.
"Ibu berubah."
"Iya."
"Aku belum terbiasa."
"Ibu juga."
Mereka saling menatap, lalu sama-sama tertawa kecil. Tawa itu pendek, lelah, tapi nyata.
Makanan datang setengah jam kemudian. Soto ayam dalam plastik, nasi, sambal, jeruk nipis, kerupuk. Sari makan pelan. Rasanya biasa saja, tapi ia menikmati setiap suapan karena tidak perlu menunggu Hendra pulang, tidak perlu menyisihkan lauk terbaik untuk anak-anak, tidak perlu mendengar komentar siapa pun.
Setelah makan, Nadia tertidur di tikar ruang tamu, ponselnya masih di tangan.
Sari belum bisa tidur.
Ia membuka ponsel baru, menyalakan kamera, lalu memotret ruang kecil itu. Dinding putih, koper, map, tikar, sisa soto di meja.
Ia mengirim foto itu ke nomor pengacara.
Pesan singkat menyusul.
Saya sudah keluar dari rumah lama. Besok kita mulai.
Beberapa menit kemudian, Pak Surya membalas.
Baik, Bu. Besok saya datang ke kios.
Sari meletakkan ponsel.
Dari luar terdengar suara motor lewat. Gang kecil itu tidak sunyi, tapi tidak menyesakkan.
Ia menyentuh gelang tipis peninggalan ibunya di pergelangan tangan.
"Bu," bisiknya pelan, entah pada siapa. "Aku mulai lagi."
Tidak ada jawaban.
Hanya angin dari jendela.
Tapi kali ini, Sari tidak merasa sendirian.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??